Selasa, 13 Juli 2010

BALI INFO - Lanjutan 3 – ADAKAH PERANCANG DUNIA?

 

LANJUTAN:

 

8. Kata anda: "Semua keberadaan yang nyata memiliki penyebab yang nyata. Dengan demikian yang

     tidak nyata tidak mungkin menghasilkan keberadaan yang nyata."

 

     Benarkah begitu?

     Mengapa anda tidak bisa memberikan "kenyataan" tentang kelahiran dunia ini, melainkan dengan

     jawaban: "Diduga ada Perancangnya?" Mengapa hal yang nyata anda lemparkan ke hal yang

     semu? – Perancang yang tidak diketahui?

    

     Bisakah anda menceritakan bagaimana terjadinya kehidupan manusia?

     Kita mempunyai tubuh yang nyata. Kita juga mempunyai jiwa yang nyata, yaitu pikiran-pikiran

     kita. Tapi bagaimana, atau atas faktor apa tubuh bisa berjiwa?

 

     Kalau menurut Alkitab; Tubuh + Roh = Jiwa. Roh adalah daya penghidup tubuh, sehingga kita

     menjadi makhluk yang hidup. Jika anda memaknai kehidupan itu dari oksigen[O2], bisakah dokter

     membuat kehidupan dengan Oksigen?

 

9. Kata anda: Artinya, Tuhan dalam dunia nyata TIDAKLAH MUNGKIN. Karena tidak mungkin segala

     sesuatu muncul dengan sendirinya/muncul dari ketidaknyataan.

 

     Kalau konsep Alkitab, TUHAN bukannya tidak nyata, melainkan tidak menyatakan DiriNYA.

     Sama seperti sutradara film yang bekerja dibelakang layar. Sama seperti saya dengan anda saat ini

     yang berbicara tanpa berhadapan muka.

 

10. Kata anda: Kesimpulannya, bila Tuhan itu nyata, maka Tuhan pasti memiliki

       penciptanya/penyebabnya. Dalam hal ini lebih cocok bila sang/para perancang tidak diartikan

       sebagai Tuhan.

 

       Kalimat anda ini ruwet untuk dimengerti. Sebab konsep Alkitab, TUHAN itu bukanlah nama, tetapi

       bisa dipakai sebagai kata ganti untuk Sang Perancang. Bisa diartikan pula sebagai faktor "X",

       yang dalam pemahaman anda: "Diduga ada Perancangnya." Jadi, nggak mesti mengenai

       Sesembahan.  Tapi TUHAN akan mempunyai makna Sesembahan, jika kita masuk ke ruang

       agama. Jadi, TUHAN itu luas maknanya.

 

11. Kata anda:

       Daya khayal dihasilkan dari apa? Otak bukan? Mirip dengan daya gerak (forsa) dihasilkan dari otot.

       Jadi tetaplah yang nyata (otak) menghasilkan/menyebabkan hal yang nyata (hasil karya). Coba saja

       anda cabut otak anda sendiri dari kepala anda. Dijamin anda tidak bisa berjualan lagi. Karena itu

       khayalan semata tidak akan bisa menghasilkan/menyebabkan apapun.

       Kalau anda mengerti cara kerja cpu (prosesor komputer), maka anda akan bisa melihat secara fisik

       apa itu daya berpikir. Tidak lain hanya berupa arus listrik yang berjalan pada jutaan transistor yang

        bekerja berdasarkan fungsi (gerbang-gerbang logika) yang dimilikinya.

        Begitupula dengan otak, daya khayal bisa dilihat dalam bentuk fisik berupa sinyal-sinyal listrik yang

        berloncatan di antara neuron otak.

        Anda bilang Allah nyata? Anda mungkin yang berkhayal terlalu banyak!
        Anda mengakui Allah tidak memiliki pencipta. Dari sini saja sudah kelihatan salahnya. Yang tidak   

        nyata tidak mungkin menciptakan yang nyata, jadi bagaimana mungkin Allah tidak memiliki

        pencipta? Muncul dussss begitu saja???

       Kecuali anda tetap simpan allah dalam benak khayalan anda sendiri.

 

       Jawaban saya:

       Bung, khayal itu abstrak, merupakan hasil kerja dari otak. Otak itu adalah "alat" untuk

       menghasilkan khayal/bayangan. Otak kelihatan sedangkan khayal itu tidak mempunyai ujud.

       Nah, terjadinya ALLAH juga dari otak kita.

 

       a. Logika anda sendiri telah menciptakan ALLAH, ketika anda berkata: "Diduga ada Perancang."

           Anda berkata begitu tanpa tuntunan Kitab Suci, lho.

      b. Kalau saya menciptakan ALLAH dari tuntunan Kitab Suci. Alkitab saya pelajari, masuk akal,

           maka saya mempercayainya. Saya cocokkan pula dengan bukti-bukti yang bertebaran di alam

           semesta ini, maka semakin kuatlah keyakinan saya. Dan berdasarkan petunjuk Alkitablah saya

           mengenal nama ALLAH itu YESUS KRISTUS. Kalau saya Islam yang bersumber dari Al Qur'an,

           maka saya mengenal nama ALLAH itu adalah: ALLAH. Dan karena anda tidak dituntun oleh

           kitab suci, maka anda menamai ALLAH itu sebagai: Sang Perancang. Sementara itu orang yang

           lainnya lagi, yang nggak mempunyai pegangan kitab suci dan juga nggak mikir, maka dia

           menamai ALLAH itu sebagai: "Tidak ada ALLAH."

      c. Kalau anda membaca Komik atau Novel, bukankah akan tercipta bayangan di benak anda

          menurut cerita yang anda baca? Sebaliknya, jika anda tidak membacanya, ya nggak akan timbul

          bayangan apapun. Atau, jika anda membaca Alkitab, tapi anda mempunyai logika yang lebih

          baik dari Alkitab, misalnya Teori Evolusi, maka yang akan muncul dalam benak anda ya Teori

          Evolusi itu, nggak mungkin YESUS.

 

          Jadi, hal keberadaan ALLAH ini tergantung dari khayalan kita masing-masing berdasarkan dari

          apa-apa yang kita pelajari dan simpulkan.

 

12. Tentang ilustrasi gajah;

       Anda ini orang yang terlalu tertutup dan sensitive sekali. Wong itu cuma ilustrasi aja sudah bikin

       anda sewot?

 

13. Kata anda: Ketidakberadaan, belum tentu tidak nyata. Ketidakberadaan memiliki kemungkinan

       nyata, HANYA, belum muncul keberadaannya. Dalam hal Tuhan, argumen saya, Tuhan tidak nyata,

       maka dari itu TIDAK MUNGKIN MUNCUL KEBERADAANNYA.

 

       TUHAN tidak nyata? Itu 'kan baru pendapat anda, dikarenakan logika anda masih belum

       mencapai ke sana. Anda 'kan masih belum mendengarkan pendapat saya/orang lain? TUHAN

       bukannya tidak nyata, melainkan masih belum nyata bagi logika anda. Nah, sekarang ini anda

       sedang saya bimbing untuk melihat TUHAN secara nyata. Kapan TUHAN menjadi nyata bagi

          anda? Sampai anda tidak mampu berkutik membantah pemaparan saya. Disaat itulah anda

          saya PAKSA untuk menerima logika saya. Pemaksaan? Benar! Tapi lama-kelamaan, manakala

          pemaparan saya masih berdiri kuat, disaat itulah anda akan mengadopsinya sebagai pemikiran

          anda juga.

 

14. Kebetulan itu bagi Bumi dengan segala isinya?

      Disini ini konyolnya anda. Seumpama undian berhadiah, dalam setiap periodenya hanya

      dimenangkan oleh satu orang saja? Kelihatannya masyarakat secara spontan akan menuding:

      hasil rekayasa itu. Nah, disini anda akan dipertemukan kembali dengan adanya Sang Perekayasa,

      yang tadinya bernama: Sang Perancang. Hua..ha..ha……    Terbelit oleh jalan pikirannya sendiri

      yang nggak beraturan? Maka nggak lama lagi anda pasti akan ketemu dengan kebenaran.

 

      Besok, insyaallah ini akan saya jadikan senjata yang memakan tuannya sendiri.

 

15. Anda koq lucu sekali, ya? Kata-kata anda yang saya bahas di nomor 14 adalah:

      Saya sudah katakan peluang munculnya KEHIDUPAN bumi BESERTA isinya. Kurang jelaskah?

   

       Barusan anda menyatakan seluruhnya kebetulan, tapi sekarang sudah anda katakan:

       Tidak semua disebut sebagai kebetulan.

 

       Lalu anda katakan juga:

 

       ada sebab-akibatnya dan sesuai dengan pengamatan ilmiah. Ini disebut sebagai hukum alam.

       Walaupun hukum alam buatan manusia ini belumlah sempurna.

 

       Setelah dinyatakan adanya hukum alam, hukum alam itu belum sempurna pula. Lha wong belum

       sempurna koq ya sudah dijual? Maksud anda faktor "X" yang selalu menghantui dunia sains?

       Itulah yang agama sebut sebagai KUASA ALLAH. Karena nggak mau mengakui keberadaan

       ALLAH, maka dinamailah: Faktor "X." – Konyol namanya.

 

      Orang agama nggak perlu dibuat botak kepalanya untuk mengotak-atik faktor "X." Dinamai saja

      sebagai KUASA ALLAH, beres. Bukan malas mikir, tapi bagaimana untuk memikirkannya jika

      ujung-pangkal dan rumusan untuk dipakai sebagai bahan pemikirannya nggak ada?

 

      Contohnya, ya soal Roh tadi. Ujud Roh itu seperti apa, datangnya dari mana nggak diketahui,

      bagaimana untuk menyelidikinya? Karena itu diimani saja sebagai sesuatu yang tak terpikirkan

      oleh manusia. Kalau Roh itu nggak ada, dari mana datangnya kehidupan manusia? Kuburan sudah

      menyediakan milyaran tubuh, bangkitkanlah itu kalau bisa.

 

      Saran saya, sempurnakan dulu hukum alam, barulah bisa anda gunakan untuk berdiskusi. Sebab

      namanya diskusi itu harus berjawab. Ketika agama bisa menjawab: KUASA TUHAN, anda

      menjawab: Faktor "X." Lucu 'kan?!

 

16. Anda berusaha menerangkan teori evolusi? Coba anda terangkan mulai dari awalnya hingga 5 –

       10 tahap saja. Pergunakan bahasa yang sederhana sambil berikan ilustrasinya, dan siapkanlah

       jawaban yang ilmiah jika saya menanyakan sesuatu. Okey?

 

       Kira-kira yang akan saya tanyakan adalah:

       Monyet mempunyai kandungan untuk melahirkan anaknya. Manusia[perempuan] juga

       mempunyai kandungan untuk melahirkan anaknya. Sejak kapan terjadinya evolusi kandungan?

       Siapakah nama manusia pertama yang terjadi dari evolusi? Lalu monyet-monyet yang di kebun

       binatang itu kapan gilirannya menjadi manusia? Manusia begitu dilahirkan sudah bisa langsung

       bersuara menangis. Berapa lamakah waktu yang dibutuhkan bagi seekor monyet untuk

       berevolusi dalam suara menangis?
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

JAWABAN BUNG AP:

 

1.       Ujud Perancang belum bisa dibayangkan;
>
>  a.
> Sebuah pernyataan yang mementahkan dugaan anda sendiri, yang sudah mencapai 80%, menjadi tidak ada artinya karena tidak didukung dengan keterangan yang lengkap. Seharusnya dalam Berita Acara hasil penyelidikannya sudah bisa mempunyai bentuk rangkuman yang bisa dipertanggungjawabkan. Tapi rupanya Atheis kurang profesional dan kurang ilmiah, ya?!

ADHI:
Jangan main klaim pendapat orang. Saya tidak pernah mengatakan DUGAAN SAYA mencapai 80 persen. Andalah yang mengatakan sendiri dugaan itu artinya sampai 80 persen. Saya hanya mempertanyakan saja sisa dugaan tersebut 20 persennya.

Saya bahkan tidak mau mempersentasekannya karena tidak ada dasar yang pasti untuk mengeksakan dugaan tersebut.

Bung Hakekat, hasil ciptaan tidaklah tepat menggambarkan si/para penciptanya. Hasil karya tidaklah tepat menggambarkan sang pengkarya. Kita memang bisa MENGINDIKASIKAN adanya pencipta dari setiap hasil cipta. Namun anda pasti pernah mendengar pepatah, telunjuk yang menunjuk bulan bukanlah bulan itu sendiri. Hasil cipta/karya bukanlah pencipta/pengkarya itu sendiri.

Jadi kalau anda merasa tahu wujud sang/para perancang/pencipta dari sekedar melihat hasil-hasil ciptaannya, anda hanya terfokus pada telunjuk yang menunjuk bulan. Saya sendiri tidak ingin berspekulasi apapun.

Lho? Atheis kok profesional? Memang atheis profesi yah? Walah bung Hakekat, sejauh yang saya tahu, saya belum pernah menemukan pendeta Atheis tuh? Kalau anda tentu dituntut untuk profesional karena anda berprofesi sebagai pendeta (sejauh yang saya tahu dari posting-posting anda sebelumnya).
;-------------------------------------------

>
> b.
> Kalau saya sudah mempunyai bayangan seperti apa Sang Perancang Agung itu, meskipun saya tidak sedang membicarakan ujud riilnya. Karena itu saya sekarang dalam posisi sebagai Salesman, sebab productknowledge-nya sudah saya kuasai. Nah, perbincangan ini memang sedang mengarah untuk menerangkannya kepada anda. Tenang aja.

ADHI:
Ya, kalau anda memang berprofesi sebagai pendeta (salesman agama), saya maklum itu.
;--------------------------------

>
> 2. Tingkat kecerdasan Sang Perancang;
>
>  
> a. Anda mengakui manusia masih belum bisa membuat semut dan mengakui
> tingkat kecerdasan Sang Perancang itu sebagai diatas manusia. Pernyataan ini menerangkan bahwa anda seorang yang rasional, bukan orang gila. Bagi saya ini adalah sebuah peluang yang menggiurkan.
> >  
> Ketika saya menunjuk seekor Kucing, anda menjawab: “Kucingâ€, maka kelak jika saya menunjuk seekor Gajah, pasti andapun akan menjawab: itu Gajah.

ADHI:
Terserah. Anda sedang memprospek saya? Hehehe.... Silahkan tunjukkan jualan anda. Kali-kali saya tertarik.
;-------------------------------------------

>
> b.
> Kekurangan anda adalah tidak menunjukkan ukuran “diatas manusia†itu yang sejauh mana? Selisihnya sedikit atau selisihnya jauh, perlu untuk anda terangkan. Jika dalam perlombaan Lari, selisih sedikit dengan selisih jauh ini penting sekali artinya dalam rangka meraih kemenangan. Lawan yang lari mendahului kita itu masih mungkin untuk kita salip atau mustahil. Jika anda profesional anda pasti bisa menggambarkannya.

> Sebagai contoh: menurut logika anda saat ini, mungkinkah seekor Monyet kelak akan mengungguli manusia? ‘Kan bisa diukur?

ADHI:
Monyet jelas hewan yang kecerdasannya bisa diukur. Lha, untuk menilai/mengukur kecerdaasan sang/para perancang, kita hanya bisa mengukur dari hasil karya mereka yang terlihat di bumi. Belum tentu hasil karya mereka cuma di bumi. Sejauh apa sang/para perancang lebih cerdas dari manusia ya saya tidak tahu.

Lagipula saya sudah beri perbandingannya. Manusia belum bisa menciptakan semut. Apakah dari sini saja perbandingannya kurang jelas? Harus pakai persentase lagikah? Sekali lagi saya tidak bisa mengeksakan karena tak ada perbandingan yang pasti seperti kita membandingkan monyet dengan manusia.
;------------------------------------------------

>
> 3. Sikap Atheis terhadap Sang Perancang;
> hanya sebatas mengaguminya saja.
>
> a. Setahu saya setiap hal mempunyai ciri khas sendiri dan menciptakan
> reaksi kita yang khas pula.
>
> Misalnya: Kalau terhadap Kucing, kita pasti berani mendekati dan
> mengelus-elusnya. Kalau terhadap Anjing, kita pasti berhati-hati dan waspada, sebab sifatnya sulit diduga. Tapi manakala kita ketemu Harimau, kelihatannya secara spontan kita akan lari terbirit-birit.
>
> Kalau terhadap tanah, kita berani memegangnya. Terhadap Kopi panas kita pasti berhati-hati.
>
> Tapi kalau terhadap Api, kelihatannya secara spontan kita akan
> menjauhinya.
>
Kalau terhadap Adik, kita berani memeluknya. Terhadap orangtua kita
> pasti akan
>
> menghormatinya. Terhadap Artis kita berani mengelu-elukannya. Tapi kalau ketemu Setan?

ADHI:
Maka dari itu, karena saya belum tahu wujudnya, maka saya tidak ingin berspekulasi dulu.
;-----------------------------------------

>
> Nah, saya kuatir anda nggak bisa konsisten dengan pernyataan anda, bahwa anda hanya akan mengagumi Sang Perancang itu saja. Nggak akan menyembah-nyembahnya. Kuatirnya saya, ketika ketemu dengan Sang Perancang yang berkharisma sangat kuat, lutut anda akan gemetaran dan dispontankan untuk bersembah sujud. Bisa berpikir kesitu?

ADHI:
Bedakan rasa takut dengan niat yang sedari awal ingin menyembah dan tunduk total seperti anda. Bila sang perancang itu begitu berkharismanya dan begitu menakutkan, tentu saya akan takut. Bila sang perancang itu memang baik hati, saya AKAN RESPEK DAN HORMAT (KAGUM) dengannya. Bukan berarti saya ingin jadi BUDAKNYA.

Andalah yang merencanakan sedari awal untuk menjadi jongos/budaknya bahkan sebelum tahu sifat dan wujudnya seperti apa. Benarkah anda sampai berpikir ke sini? Memikirkan untuk jadi jongos/budak? Wah... gak habis pikir saya. Keinginan anda menjadi pelayan/hamba 'tuhan' memang sangat kuat.
;-------------------------------------------------

>
  b.
> Pernyataan anda ini semakin meyakinkan saya bahwa konsep kerja Atheis masih sangat amburadul. Jauh panggang dari api, jika dikatakan bahwa Atheis berpegang pada ilmiah.

ADHI:
Silahkan, saya hargai pendapat anda. Tak ada yang mengatakan Atheis harus berpegang pada ilmiah. Ketidakpercayaan pada Tuhannya agama bisa muncul dari berbagai sebab. Dan penyebab tersebut bisa saja berupa penyebab emosional/irasional.
;---------------------------------------

>
> 4. Apa yang akan dilakukan Atheis jika
> ketemu Sang Perancang?
>
Anda membuat pertanyaan bodoh: bersahabat atau
> bermusuhankah dia?
>
> a. Logika
> Pencipta terhadap hasil ciptaannya adalah logika kasih. Nggak mungkin memusuhi ciptaannya sendiri.

ADHI:
Wah, anda telah berspekulasi kalau begitu. Sang/para perancangnya saja belum datang.
;------------------------------

>
> b. Jika Pencipta itu datang untuk memusuhi
> kita, mengapa nggak sejak dulu kita ini
>
> dimusnahkannya? Masak sulit sih?!
>
> c. Dan jikapun Pencipta itu jahat, bisa apa
> sih kita kecuali merengek-rengek belas kasihannya?
>
> Apa mungkin kita menembakkan rudal atau nuklir untuk melawannya?

ADHI:
Lha, kok anda berani ngatur-ngatur kehendak sang/para perancangnya? Terserah dia mau sayang dengan ciptaannya atau mau dihancurkannya. Terserah dia mau kapan dia menghancurkannya.

Analoginya semisal kita membangun rumah dari mainan LEGO. Tentu terserah kita untuk berapa lama kita memajang hasil karya kita itu. Terserah kita bila ingin menghancurkannya sesegera mungkin ataupun nanti. Tak ada orang yang berhak melarang kita atas hasil karya cipta kita sendiri.

Anda takut sang/para perancang menghancurkan kita semua? Sama saya juga takut. Harapan anda memang baik, selalu mengandaikan sang/para perancang baik hati terhadap kita. Tapi bukan berarti anda berhak mengatur kehendak sang/para perancang tersebut.
;----------------------------------------------

>
>
> Kelihatannya Alkitab masih mempunyai dalil-dalil yang sangat kuat, bila dibandingkan dengan dalil-dalil Atheisme yang masih belum terlalu siap untuk dijual.

ADHI:
Silahkan. Saya hargai pendapat anda.
;------------------------------------

>
> 5. TUHAN menciptakan TUHAN?
>
> a. Mana ada di Alkitab yang menerangkan TUHAN
> menciptakan TUHAN?

ADHI:
Siapa yang sedang nanya Alkitab??? Anda jangan terlalu keasyikan jualan sampai anda mengira saya menanyakan Alkitab.
;---------------------------------------

>
>  
> Berkali-kali sudah saya nyatakan bahwa YESUS itu ciptaan
> ALLAH/BAPA, dan BAPA itu tidak ada yang menciptakanNYA.
> YESUS itu manusia biasa seperti kita. Tapi ALLAH menganugerahiNYA kuasa untuk menciptakan kita, sehingga kitaadalah ciptaan YESUS.

ADHI:
Hahaha..akhirnya anda malah mengotbahi iman Kristen ke saya. Tapi tidak apa-apa. Saya ingin mengambil poin argumen anda pada paragraf ini. Dalam paragraf ini BERARTI ANDA SUDAH SETUJU TUHAN TIDAK MEMILIKI PENCIPTA. Sementara, poin ini sudah cukup. Penjelasan lanjutannya ada di tanggapan saya berikutnya.
;------------------------------------------------

>
>                Masak nggak boleh? Atas dasar
> apa nggak bolehnya? Atas kuasa apa anda hendak
>
>                  mengatur-mengatur ALLAH, untuk
> memenuhi selera anda?
>
>           
> >> Musa juga mempunyai kuasa menciptakan Ular dari tongkatnya.
> Bukankah Musa menjadi
>
>                  Allah dan Pencipta dimata
> ular-ular bikinannya?
>
>          
>  >> Manusia belum tentu
> menghormati ALLAH, tapi secara umum manusia menghormati ayah-
>
>                 ibunya. Apa sebab? Sebab
> merekalah pencipta kita. Mereka adalah allah yang bisa kita lihat.
>
>                 Jika terhadap orangtua saja kita nggak bisa
> hormat, maka bohonglah kalau kita
>
>                 menghormati ALLAH yang nggak
> kelihatan.
>
>          
> >> Kita menanam bijih padi. Lalu kita pula yang menyiraminya. Kita
> memegang kuasa atas
>
>                 tanaman Padi itu. Jika kita
> menginjak-injaknya, maka padi itu akan mati, dan jika kita
>
>                 berniat menghidupkannya, maka
> diapun hidup. Apakah yang demikian itu bukan ciri-ciri
>
>                 ALLAH?
>
>       b. Jika kita hendak menolak KETUHANAN YESUS,
> kelihatannya kita perlu merombak total isi
>
>           
> Alkitab, atau lebih praktisnya kita buang ke tong sampah, kita tukar
> dengan Injil Barnabas dan
>
>           
> Al Qur’an. Maka YESUS nggak bakalan jadi TUHAN. Tapi sayangnya Alkitab
> masih terlampau
>
>           
> tangguh untuk digulingkan oleh kitab-kitab suci manapun.  Jarak antara Alkitab dengan kitab-
>
>           
> kitab yang lainnya masih sejauh langit dari bumi.
>
> 6. Akibat memiliki penyebab;
>
> Saya setuju jika semua akibat memiliki penyebab; kita ada oleh sebab ada Penciptanya. Setuju.
>
> Tapi saya tidak setuju jika sebab harus menimbulkan akibat. Sebab tidak ada kewajiban yang mengikat ALLAH untuk menciptakan. Jika ALLAH ingin disebut Pencipta, maka IA harus menciptakan.
> Tapi jika DIA tidak mengejar sebutan itu, DIA bebas untuk tidak menciptakan apapun.
>
>  
> Saya bisa mencuri tas anda, tidak mesti saya adalah Pencuri,
> bukan?!
>
> Manusia, Kucing, dan bunga Mawar ada karena adanya Sang
> Pencipta. Ini benar. Tapi Sang Pencipta tidak diikat untuk menciptakan manusia, Kucing dan bunga Mawar.
> Sang Pencipta bebas berkreasi membuat apa saja yang diinginkanNYA. Misalnya: membuat kue Tart atau pisang goreng juga boleh-boleh aja, kan?!
>
> Karena itu saya tidak setuju jika terhadap masalah cipta-mencipta ini dikaitkan dengan konsep sebab-akibat. Sebab korelasinya nggak ada.
>
> Ariel Peterpan dihukum karena kasus video porno, ini bisa masuk
> dalam konsep sebab-akibat.
>
> Sebab hubungannya ada antara sebab dengan akibatnya.

ADHI:
Lagi-lagi anda terlalu asyik berjualan sehingga tidak menangkap maksud saya memaparkan konsep sebab-akibat. SAYA TIDAK PEDULI sang/para pencipta mau mencipta atau tidak. Segala argumen anda menjadi tidak ada artinya bagi saya karena anda salah sasaran.

Anda bahkan sudah setuju Tuhan tidak mungkin memiliki penciptanya! Yang saya maksud tepat seperti itu. Konsep sebab akibat mau menerangkan bahwa bila kita runut terus penyebab segala sesuatu, apakah kita akan menemukan PENYEBAB AWAL/PRIMA CAUSA? Hubungkan PRIMA CAUSA dengan TUHAN YANG TIDAK DICIPTAKAN, maka anda bisa melihat maksud saya dengan konsep sebab-akibat tersebut.

Dalam konteks tersebut, jika kita nekat mendefinisikan Tuhan sebagai prima causa/penyebab awal/bukan hasil ciptaan lagi, maka saya akan mudah, mengikuti logika contoh sebelumnya yang saya buat, mengatakan TUHAN+1 dikurang satu adalah pencipta Tuhan. Sehingga atribut TUHAN YANG TIDAK DICIPTAKAN menjadi GUGUR.

Bila kita tarik ke dunia nyata, maka

1. Semua keberadaan yang nyata memiliki penyebab yang nyata.

2. Dengan demikian yang tidak nyata tidak mungkin menghasilkan keberadaan yang nyata.

3. Artinya, Tuhan dalam dunia nyata TIDAKLAH MUNGKIN. Karena tidak mungkin segala sesuatu muncul dengan sendirinya/muncul dari ketidaknyataan.

4. Kesimpulannya, bila Tuhan itu nyata, maka Tuhan pasti memiliki penciptanya/penyebabnya. Dalam hal ini lebih cocok bila sang/para perancang tidak diartikan sebagai Tuhan.

5. Tentu anda akan bertanya. Tidak mungkin menelusuri penyebab sampai tak terhingga. Anda benar. Oleh karena argumen no 1 sampai 4, dan mempertimbangkan argumen no. 5 ini, maka saya sejujurnya mengatakan masih belum menemukan jawabannya atas paradoks ini.

Tuh saya perjelas lagi argumen saya yang sudah saya utarakan pada posting sebelumnya. Mudah-mudahan anda bisa paham.

Kalau belum ngerti juga, anda bisa tanya lagi.

Catatan: Khusus untuk argumen no.5 jika ada anggota milis yang memiliki argumen/jawaban atas hal ini, dipersilahkan berdiskusi/berdebat dengan saya. Saya sungguh ingin menerima masukan dalam hal ini. Terimakasih.

;-----------------------------------

>
> 7. Menjangkau TUHAN dengan khayalan;
>
> a. Benar sekali itu. Apa yang nyata harus
> diselesaikan secara nyata, dan apa yang tidak nyata diselesaikan secara khayal. Good.

ADHI:
Paling tidak di bagian ini anda menangkap maksud saya.
;----------------------------------------

>
> b. Tapi
> apakah daya khayal itu sesuatu yang buruk?
>
> Daya khayal yang buruk adalah daya khayal yang berlebih-lebihan
> atau yang dilebih-lebihkan.
>
> Mobil, sepeda motor, rumah yang megah, komputer, pesawat
> terbang, dan lain-lain, semuanya dibuat dari khayalan. Khayalan itu menciptakan dari apa yang tidak ada menjadi ada. Tanpa khayalan dunia ini akan kosong melompong. Sebab katak yang merindukan Bulan sekarang ini sudah menjadi kenyataan.
>
>
> Orang Idiotlah yang tidak mempunyai khayalan. Adakah Atheis
> mirip orang idiot sehingga selalu gagal melihat ALLAH yang begitu nyata dan begitu terang-terangan?

ADHI:
Daya khayal dihasilkan dari apa? Otak bukan? Mirip dengan daya gerak (forsa) dihasilkan dari otot. Jadi tetaplah yang nyata (otak) menghasilkan/menyebabkan hal yang nyata (hasil karya). Coba saja anda cabut otak anda sendiri dari kepala anda. Dijamin anda tidak bisa berjualan lagi. Karena itu khayalan semata tidak akan bisa menghasilkan/menyebabkan apapun.

Kalau anda mengerti cara kerja cpu (prosesor komputer), maka anda akan bisa melihat secara fisik apa itu daya berpikir. Tidak lain hanya berupa arus listrik yang berjalan pada jutaan transistor yang bekerja berdasarkan fungsi (gerbang-gerbang logika) yang dimilikinya.

Begitupula dengan otak, daya khayal bisa dilihat dalam bentuk fisik berupa sinyal-sinyal listrik yang berloncatan di antara neuron otak.

Anda bilang Allah nyata? Anda mungkin yang berkhayal terlalu banyak!
Anda mengakui Allah tidak memiliki pencipta. Dari sini saja sudah kelihatan salahnya. Yang tidak nyata tidak mungkin menciptakan yang nyata, jadi bagaimana mungkin Allah tidak memiliki pencipta? Muncul dussss begitu saja???

Kecuali anda tetap simpan allah dalam benak khayalan anda sendiri.
;---------------------------------------------------

>  
> Suatu kali bertanyalah bung Greg kepada anda: “Apakah ada gajah?†Maka andapun menjawab:
> > 
> Nggak. Nggak ada gajah. Tapi
> manakala bung Greg datang kepada saya dan bertanya:
>
> Apakah ada Gajah? Maka dengan
> sedikit khayal saya akan menjawab: Ada. Pergilah ke kebun
>
> binatang.Beda kan?!

ADHI:
Walaupun anda maksudkan sebagai ilustrasi, anda main klaim lagi pendapat saya. Apakah ini kebiasaan salesman? Mengira mengetahui apa yang ada dalam benak saya? Ckckckck...

Ilustrasi di atas tentu akan saya jawab dengan mudah, "Iya ada gajah." Beres khan? Anda terlalu berkhayal mengilustrasikan saya seperti itu. Perhatikan dulu dong kebutuhan calon konsumen anda.

Sekarang penjelasannya. Saya definisikan keberadaan dalam dunia nyata. Maka silahkan BEDAKAN antara KETIDAKNYATAAN dengan KETIDAKBERADAAN. Tidak nyata SUDAH PASTI tidak ada. Tidak akan menjadi ada.

Ketidakberadaan, belum tentu tidak nyata. Ketidakberadaan memiliki kemungkinan nyata, HANYA, belum muncul keberadaannya. Dalam hal Tuhan, argumen saya, Tuhan tidak nyata, maka dari itu TIDAK MUNGKIN MUNCUL KEBERADAANNYA.

Gajah yang anda ilustrasikan di atas adalah nyata, maka walaupun tidak sedang berada di depan saya, tapi saya tahu gajah pasti berada di suatu tempat. Kecuali anda menunjuk spesies gajah yang telah punah. Maka spesies gajah yang telah punah tidak akan nyata lagi melainkan telah menjadi sejarah/memori manusia.
;-----------------------------------------------

>
> 8. Tentang undian keberuntungan;
>
> Bisa anda jelaskan keberuntungan terjadinya Bumi ini, yang disebelah mananya? Pada masalah terjadinya Bumi saja atau melingkupi semuanya? Sebab ada berbilyun-bilyun kebetulan di planet Bumi ini, dan itu berlangsung secara terus-menerus hingga detik ini.

ADHI:
Saya sudah katakan peluang munculnya KEHIDUPAN bumi BESERTA isinya. Kurang jelaskah?
;-------------------------------------------

Ada kebetulan minyak, ada kebetulan air, udara, logam, kertas, karet, lalat, nyamuk, tikus, kucing, kerbau, manusia, orang Jawa, orang Sunda, orang Arab, orang Batak, Durian, Mangga, Jambu, Jeruk, Soto, Mie Ayam, dan.. apa lagi, ya?!  Waah, apa saja deh. Semuanya merupakan ciptaan yang luar biasa sekali.
>
>
>   >
> Kebetulan manusia butuh udara[oksigen], koq Bumi kebetulan punya. Ketika manusia butuh beras, koq Bumi juga bisa membikinnya. Yah! Apakah semuanya, semuanya, dan semuanya itu kebetulan?!
> Ketika manusia butuh hujan, koq kebetulan Bumi bisa menyediakannya. Ketika manusia
> tidak tahan dengan sengatan matahari, koq Bumi bisa memberikan ukuran jarak yang tepat terhadap matahari. Apa jadinya jika terlalu jauh atau terlalu dekat dengan matahari?

ADHI:
Tidak semua proses dan hasil yang anda sebutkan di atas tidak diketahui oleh ilmu pengetahuan dewasa ini. Tidak semua disebut sebagai kebetulan. Pelajari saja segala disiplin ilmu tentang hal yang anda sebut tadi, maka anda akan menemukan penjelasan yang masuk akal, ada sebab-akibatnya dan sesuai dengan pengamatan ilmiah. Ini disebut sebagai hukum alam. Walaupun hukum alam buatan manusia ini belumlah sempurna.

Terjadinya kehidupan di planet bumi tidak langsung BLASS jadilah. Melainkan dimulai dari sistem kehidupan yang sangat sederhana (virus?). Di sinilah letak peluang/kebetulannya kalau anda ngotot ingin tahu posisinya.

Kemudian kehidupan sederhana ini berevolosi. Tidak hanya kehidupan yang berevolusi, bumipun, sebagai akibat dari evolusi kehidupan berubah kandungan udaranya secara perlahan-lahan sehingga menjadi komposisi udara seperti yang kita rasakan saat ini.

Kita belum menemukan planet lain yang paling tidak ditemukan entitas kehidupan yang bakal mendukung evolusi kehidupan seperti di bumi. Tidak satu viruspun kita temukan di planet lain yang hidup, begitu kira-kira kasarnya. Atmosfer paling mendekati adalah planet mars. Namun di sana tidak ada kehidupan.

Anda masih berminat terus memprospek saya? Kalau begitu saya tunggu tanggapan anda.

Salam.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

 

JAWABAN SAYA:

       

1. Mengapa saya asumsikan 80%?

    Sebab anda menyatakan: "ada dugaan dunia ini ada Perancangnya." Kalimat ini berbeda dengan:

    "Atheis tidak mempunyai dugaan adanya Perancang."  - Seharusnya inilah yang harus menjadi

     pegangan kaum Atheis, sebagai perlawanan terhadap konsep Theis. Ada beda yang bertolak-

     belakang, baru namanya Atheis itu tidak sehaluan dengan Theis. Tapi dengan pernyataan adanya

     dugaan, maka Atheis mau nggak mau telah memberikan angin terhadap konsep Theis. Karena

     itulah saya buat asumsi 80%. Perhitungannya: modal dari Atheis sendiri harus 60% untuk

     pernyataan: "Ada dugaan" tersebut. Lalu saya tambahkan sebagai sumbangan dari Theis 20%,

     sehingga jumlahnya 80%. Jadi, inilah angka yang logis untuk pernyataan: "Ada dugaan." – Artinya,

     konsep Theis jangan buru-buru disepelekan begitu saja. Patut didengar, donk. Kecuali anda sudah

     berani mengatakan: "Tidak mungkin ada Perancang" maka konsep Theis silahkan anda buang.

  

     Jadi, saya nggak ngawur didalam membuat angka 80% tersebut. Jika anda keberatan, silahkan

     anda cabut pernyataan: "Ada dugaan" tersebut lalu ganti dengan pernyataan: "Tidak ada

     dugaan." Ini baru fair.

2. Perkataan anda: "Saya bahkan tidak mau mempersentasekannya karena tidak ada dasar yang pasti

     untuk mengeksakan dugaan tersebut."

 

      Konsep demikian ini saya nilai sebagai konsep yang tidak bertanggungjawab secara ilmiah.

      Sebab jika ada orang yang tertarik dengan Atheis, lalu dia bertanya: "Sejauh mana Atheis berpikir

      bahwa alam semesta ini tidak ada Perancangnya?" – Nah, anda kesulitan memberikan jawaban

      yang ilmiahnya, bukan? Jika tidak ada Perancangnya, lalu bagaimana kejadian alam semesta ini?

3. Hasil ciptaan tidak harus menunjuk Sang Pencipta.

     Saya tidak pernah membuat pernyataan yang menyiratkan makna seperti itu. Itulah sebabnya

     saya tolak konsep "sebab-akibat." – Ini 'kan konsep Atheis yang ditelan mentah-mentahan oleh

     kaum Muslim dalam rangka menggugurkan ANAK TUHAN, 'kan?!

     Gambaran pemikiran umum saya[bukan pemikiran dari keimanan saya]: Jika saya melihat mobil

     diparkir di pinggir jalan, saya secara otomatis akan berpikir dengan keyakinan yang kuat bahwa

     mobil tersebut pasti ada pemiliknya. Entah siapa Pemiliknya saya nggak tahu. Tapi pasti ada!

     Sedangkan tentang "siapa"-nya, ini memerlukan pencarian.

     Berbeda dengan konsep berpikir anda: "Karena mobil itu nggak ada orangnya, maka mobil itu

     nggak ada pemiliknya." atau "Bisa ada bisa tidak."  - Mengundang tawa orang; Hua..ha..ha…

     Anda pasti diketawain sama Juruparkirnya Alfamart. Kalau nggak percaya bukti'in.

 

     Ngeliat rumah kosong, anda bilang: Nggak ada Pemiliknya. Nggak ada tukang yang membikinnya.

     Terjadi secara kebetulan. Hah?! Siapa yang nggak geli?

       Jangankan rumah atau mobil; sepeda pancal yang paling jelek aja pasti ada yang punya. Lebih-

       lebih lagi dunia yang seluarbiasa gedenya ini? – Aduuh payah deh!

 

       Lukisan Leonardo Da Vinci aja ratusan milyar. Lebih-lebih lagi lukisan alam semesta yang begitu

       indahnya. Masak nggak ada yang punya? Masak Pemiliknya mati? Masak nggak ada Ahli

       Warisnya, sedangkan lukisan Leonardo Da Vinci aja sudah berpindah tangan berapa kali?

       Sedangkan manusia saja bisa membuat lembaga pelestarian seperti museum, sehingga benda-

       benda berharga itu nggak rusak oleh sebab ditinggal mati pemiliknya. Masak Sang Pencipta alam

       semesta ini begitu dungunya? Dan kalaupun IA mati, bagaimana dunia ini masih bisa tetap

       berputar? Siapa yang ngasih Olie Mesran-nya?

4. Anda nggak ngerti maksud saya: Profesional? Profesional itu maksudnya adalah serius dan

    sungguh-sungguh. Atau, apakah Atheis memang didirikan secara iseng?

5. Jongos Sang Pencipta;

     Saya jongos atau budaknya Sang Pencipta? Ya, mengapa tidak? Tapi jika anda katakan saya tidak

     kenal betul dengan DIA, jelas anda salah sangka. Sebab saya tahu dengan pasti kepada siapa saya

     percaya.

     Kalau dulu, agama memang pernah menakut-nakuti saya, memberikan gambaran bahwa ALLAH

     itu diktator. Sehingga ketika itu ibadah saya sama seperti ibadahnya kaum Muslim, yang

     dilandaskan pada kewajiban. Kayak skakelar lampu, kalau dipijit: "On" wajib menyala, kalau

     dipijit: "Off" wajib padam. Tapi setelah saya mempelajari sendiri Alkitab, saya mendapati ALLAH

     saya tidak seperti diktator, melainkan seperti kayak bapak saya.

 

     Sekarang saya bekerja untuk DIA, bukan lagi sebagai kewajiban atau beban, melainkan sebagai

     kelebihan sukacita saya. Saya saking kenyangnya menerima kebajikanNYA, sehingga kelebihannya

     bisa saya bagi-bagikan kepada anda. Supaya anda juga menikmati rasa bahagia sebagaimana

     kebahagiaan saya. Saya menjadi salesman bukan karena saya salesmannya pabrik ALLAH, tetapi

     sebagai penikmat pabrik ALLAH. Kalau salesman pabrik bekerja karena gajian, tetapi saya bekerja

     karena penikmatan.

 

     Setelah saya mencoba makan Sate Buntel, dan sate itu benar-benar enak sekali, maka saya

     beritahukan itu kepada setiap orang. Cobalah sate buntelnya Cak Semprul, enak sekali itu!

     Kalau pendeta itu salesman pabrik. Dia berbicara karena dibayar. Kalau nggak dibayar, ya mana

     mau bicara? Tapi saya? Tanya aja sama Advent, berapa mereka membayar saya?!

6. Kata anda: Sang Perancang itu belum pernah datang ke Bumi ini?

     a. Hari ini saya berkenalan, bertatap muka dengan anda. Bagaimana caranya supaya anak cucu

         saya kelak mengetahui peristiwa ini?  Bukankah harus melalui catatan, seperti Alkitab?

         Nah, Alkitab mempunyai catatan kedatangan Sang Pencipta itu ratusan kali, yang dicatat oleh

         sekitar 40-an orang dalam rentang waktu 1600 tahunan.

     b. Justru nggak logis kalau Sang Pencipta itu nggak pernah nongol, untuk melihat, memperhatikan,

          memelihara dan mengasihi ciptaanNYA. Itulah sebabnya saya mustahil mempercayai Atheis,

          sebab nggak nalar sama sekali. Seburuk-buruknya Alkitab[kata orang], Alkitab masih

          mempunyai cerita yang terstruktur jelas.

7. Kata anda; Sang Perancang itu memiliki kebebasan untuk menghidupkan kita ataupun

     menghancurkan kita. Kita tidak mempunyai hak untuk mengatur DIA. Benar sekali itu. Saya tidak

     pernah berusaha atau berkhayal bahwa Sang Pencipta itu akan berbuat begini atau begitu

     terhadap kita. Tapi Sang Perancang itu sendiri yang menyatakan DiriNYA sangat mengasihi kita.

     DIA tidak mempunyai maksud yang mencelakakan kita, melainkan justru menolong dan

     menyelamatkan kita. Kecuali jika kita menolak kebajikanNYA itu.

       Saya percaya, sebab DIA memang bisa dipercayai. Dan saya bukan mempercayai sesuatu yang

       masih berupa janji saja, melainkan karena saya telah dan masih menikmati kasihNYA itu di

       sepanjang harinya. Sesuatu yang nyata sekali.

 



__._,_.___
Recent Activity:
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: