Tidak ada yang kekal selain perubahan…
(itu yang pernah saya dengar entah dari buku mana atau kata-kata siapa, saya lupa…)
Saya kurang setuju kalau dibilang adat&budaya Bali, kaku dan karatan (apalagi harus ditinggalkan)
Adat & Budaya Bali, flexible dan berubah seiring jaman
Kalau dikatakan pola hidup modern dihambat oleh tradisi & budaya Bali
Saya malah berpikir terbalik, justru kemajuan ekonomi dan pariwisata yang membuat Adat & upacara di Bali semakin besar & meriah.
Dahulu upacara perkawinan sangat sederhana, pakaiannya, upacaranya, pestanya (mungkin dahulu tidak ada pesta-pestaan ya, kecuali keluarga bangsawan tentunya)
Odalan di pura pun tidak pernah nyejer berhari-hari, dan tidak ada pemedek yang beribu-ribu jumlahnya
Saat ini, disaat kemajuan ekonomi dan teknologi makin pesat (dibanding Bali beberapa puluh tahun sebelumnya)
Pesta perkawinan sangat meriah, ngaben sangat besar, odalan berhari hari nyejernya, mobil bertumpuk-tumpuk sampai parkir di pura pun susah
Bahkan ada beberapa pura sampai memakai nomor antrian….. apakah ini kemajuan atau kemunduran…?
Di Bali tidak ada Dogma, tidak ada harga mati untuk urusan Upacara
Kalau Puri di Ubud mampu mengeluarkan milyaran rupiah untuk upacara
Milyaran rupiah untuk upacara perkawinan, mereka puas dan bahagia
Teman saya (orang Bali lho) cukup hanya 500 ribu rupiah untuk upacara perkawinannya dia puas dan bahagia
Tetangga saya cukup 3 juta rupiah untuk ngabenan orang tuanya dia puas dan bahagia
Tidak ada yang dipaksa dan tidak ada yang memaksa (dan tidak ada yang merasa terluka..?)
Seperti Gaya hidup,…
kita sendiri yang menentukan standardnya….
Saya pun menghormati keputusan seseorang untuk memeluk kepercayaan bahkan agama yang berbeda…
Selama mereka nyaman dan bahagia dengan jalan tersebut
Seperti teman saya yang memeluk Sai Baba, atau pak Gede Prama yang memeluk Budha, atau beberapa orang yang menjadi muslim atau kristen
Tidak ada yang salah….,
(yang salah kemudian seperti Noordin M Top, yang nyalahin orang lain trus sibuk ngebom sana sini….)
Makanya saya pun yakin, jika ada orang Bali yang tidak ingin dibebani dengan adat istiadat yang bertele2
Cukup keluar saja dari Banjar atau desa adatnya dahulu, dan hidup seperti yang lainnya, atau bahkan memeluk agama yang lebih spiritual dan masuk akal
Rasanya tidak akan ada yang menghalangi….
(Tinggalkan saja orang2 bodoh yang sibuk dengan ritual dan banten2nya, untuk di tonton turis-turis )
Kalau ada yang khawatir membeli keperluan upacara dari daerah lain
Saya justru bangga, kalau orang Bali bisa menghidupi saudara2 nya di luar Bali
Kalau orang Bali sudah merasa makmur, dan tidak ingin nanem bunga atau ngalih busung
Biar saudara-saudara kita yang di luar Bali yang melakukannya…
Biar mereka juga merasakan manfaat dari upacara- upacara di Bali, walaupun secara tidak langsung.
Analogi cetek saya
Tidak ada upacara= tidak ada banten= tidak ada kesenian Bali= tidak ada nyama braya= tidak ada Budaya Bali=
Tidak ada pariwisata= Hotel tutup semua, lapangan kerja hanya ada di jakarta dan Malaysia
Anak cucu saya mungkin nantinya jadi TKI di Malaysia atau jadi seorang pertapa di India….
(pengertian saya Wisatawan ke Bali bukan karena Agama Hindu nya, tapi karena Adat dan Budaya nya yang dijiwai Hindu, mohon maaf kalau salah)
Saya pernah ngobrol ngalor ngidul dengan teman saya seorang australia di Kuta
Dia bilang, "kamu tidak masuk akal, kerja keras seumur hidup hanya untuk upacara saja…"
Kemudian saya katakan
"Kamu juga lebih tidak masuk akal, kerja keras seumur hidup hanya untuk liburan ke Bali, dan minum Bir di Kuta",
Bayangkan kalau saya tidak kerja keras untuk upacara,
Tentu kamu tidak akan kerja keras untuk bisa berlibur ke pulau Bali
Dan kami berdua jadi tertawa….. ternyata kebahagiaan dia berbeda dengan kebahagiaan saya, tapi punya ikatan sebab akibat
Saya tetap mempercayai kekekalan perubahan
Seperti upacara ngaben kakek buyut saya yang menghabiskan waktu enam bulan
Kemudian ngaben kakek saya yang hanya satu bulan
Bahkan kerabat saya ada yang hanya satu minggu
Mungkin nanti saya diaben hanya perlu waktu satu hari atau malah bisa jadi satu Tahun
Biar lah anak cucu saya seiring waktu yang nanti memutuskannya….
Hormat saya
Panji Astika
From: bali-bali@yahoogroups.com [mailto:bali-bali@yahoogroups.com] On Behalf Of IGusti Agung
Sent: Wednesday, August 19, 2009 7:52 PM
To: bali-bali@yahoogroups.com
Subject: [bali-bali] Re: Adat versus Budaya
Masalah ini pernah saya singgung dulu ,
Antara adat ritual dan agama , seolah olah sudah disuper glue.
Saya kira kekawatiran Bapak Anand Krisna dan rekan Dewa Palguna , sangat masuk akal , bukan karena hubungannya dengan kasepekang itu,
tapi secara besar adat ritual itu sendiri , yang kadang terlalu contraversi dengan ajaran Hindu.
Kita seharusnya mulai memikirkan generasi kita mendatang , apakah mereka akan dapat mempertahankan adat dan ritual seperti sekarang ini?
Mereka , sudah biasa hidup praktis ,kalau kita paksakan dengan adat dan ritual sekarang , tanpa perubahan dan modifikasi , kita akan kehilangan , generasi penerus adat istiadat dan ritual kita.
Adat istiadat dan ritual yang kita wariskan dari leluhur kita memnag sesuai dan harmony ketika itu (mungkin juga sekarang ) dimana populasi dan life style mereka mendukung untuk itu.
Pada kenyataanya sekarang , setengah dari bahan pokok ritual kita datangnya dari luar Bali dan jika kita tidak berubah maka pada era cucu kita ,90% dari bahan ritual akan kita import dari luar Bali.
Tapi bayangkan di era anak kita dan cucu kita , dimana persaingan lapangan kerja akan lebih meningkat , bagaimana mungkin kita menutup peluang bagi mereka untuk bersaing mencari penghidupan.
Sekarang inipun kita sudah banyak mendengar keluhan , kalau hotel hotel menyewa tenaga asing ? Bagaimana tidak , kalau kita sendiri sebentar sebentar minta libur karena kerja adat dan ritual.
Masalah kesepekang itu hanya gambaran kecil saja .
Saya disini sudah membeli ayah , disamping juga ngayah aji pis,
tapi kalau pulang tetap saja saya ngayah setiap kesempatan.
Walaupun saya sudah bertekad dan minta kepada keluarga tidak mau diaben , cukup dibawa ke kremasi tanpa banten.
Itupun hanya untuk sisa sisa badan yang tidak berguna , karena saya
organ donor disini.
Bagi semeton yang sudah pernah melihat iring iringan pemeluk Hare Krsna , mungkin sudah harus mulai bertanya , kenapa koq?
Ketika saya ikutan Hare Krsna di tahun 80 , hanya sedikit penganutnya,sekarang iring iringan itu hampir mencapai 2 km.
Point saya , kekahawatiran itu masuk akal sekali dan kita harus modifikasi adat istiadat dan ritual kita , kalau tidak kita akan kehilangan semuanya pada era cicit kita.
Dengan Era I T pada masa itu , mereka akan lebih condong ke spiritual daripada ritual ( yang berhubungan erat dengan adat istiadat).
Para Sulinggih , Listibya ,PHDI dan dept kebudayaan lainya juga media sudah harus mengambil sikap mulai sekarang .
Seharusnya dari masalah kasepekang yang terlalu sering terjadi , sudah merupakan ciri ciri bagi beliau baliau untuk mengambil sikap.
Shanti , marilah kita bersama mulai mengurangi sarana ritual yang jor jor an , demi generasi penerus kita , no more " nak mule keto"
--- In bali-bali@yahoogroups.com, Putu Kesuma <putukesuma@...> wrote:
>
> Adat versus Budaya
> Â
> Â Anand Krishna*
> (Radar Bali, Rabu 19 Agustus 2009)
>
> Sebagaimana diberitakan oleh Radar Bali (16/08/09), kawan saya Dewa Gede Palguna mengkhawatirkan “penghancuran†Bali oleh dirinya sendiri. Sebabnya adalah “kesatuan-kesatuan hukum adat†yang barangkali membutuhkan peremajaan dan “kesadaran kolektif†yang baru.
> Saya sangat setuju dengan pendapat Palguna. Saya pun mengkhawatirkan hal yang sama. Padahal, semestinya itu tidak terjadi. Semestinya kekhawatiran kita tidak beralasan. Namun, faktanya kita khawatir, pun alasan kita sangat kuat. Yaitu, sebagaimana dijelaskan oleh Dewa Palguna, adanya konflik antara dan antar kesatuan-kesatuan hukum adat.
> Kenapa hal ini mesti terjadi?
> Karena, kita telah menyalahartikan istilah “adatâ€.
> “Adat†sebagaimana telah saya jelaskan berulang kali lewat ulasan-ulasan saya sebelumnya, berasal dari bahasa Persia kuno, yang kemudian diadopsi dalam bahasa Arab. Terjemahan yang terdekat dalam bahasa Indonesia adalah “kebiasaanâ€.
> Masyarakat Arab juga mengenal istilah lain, yaitu “Hadith†atau Hadis, yang berarti “tradisi†atau riwayat-riwayat kuno, biasanya dikaitkan dengan kehidupan dan wejangan para nabi. Dalam tradisi Bali, ini disebut “Puranaâ€, dan Bali memiliki sekian banyak “purana†: Brahma, Vishnu, Shiva, Agni, Garuda dan purana-purana lainnya.
> Hukum di negara-negara Arab menggunakan hadis sebagai referensi, pun pendapat para alim-ulama, yang semuanya dipercayai berkiblat pada kitab suci Al-Qur’an. Nah, pendapat para alim ulama Arab sangat dipengaruhi oleh adat-istiadat Arab dan wilayah Timur Tengah sekitar Jazeera Arab.
> Kenapa saya mesti menjelaskan semuanya ini, karena sesungguhnya di kepulauan Nusantara ini, kita tidak memiliki pemahaman yang sama seperti orang-orang Arab.
> Pemahaman kita disini adalah “budaya sebagai sumber perilaku dan hukumâ€, bukan “adatâ€.  Budaya, sekali lagi, tidak sama dengan adat.
> Budaya adalah adat-istiadat yang baik, bijak, dan relevan dengan zaman. Selain itu, nilai-nilai universal yang tidak pernah kadaluarsa, seperti cinta-kasih, kedamaian, dan kebersamaan â€" nilai-nilai yang mesti dilestarikan â€" adalah bagian dari budaya.
> Hukum dan pedoman perilaku manusia memang semestinya berdasarkan budaya, bukan berdasar adat in wholesale.
> Banyak sekali adat-istiadat yang sudah tidak relevan, sudah tidak sesuai dengan zaman â€" maka mesti ditinggalkan, tidak perlu dibudayakan.
> Misalnya: Ayah saya adalah seorang perokok, ayahnya pun seorang perokok, kakeknya seorang perokok. Merokok telah menjadi kebiasaan dalam keluarga saya. Lantas, apakah saya mesti melestarikan kebiasaan itu, adat itu, dan menjadikannya pedoman bagi perilaku saya? Apakah saya pun mesti mengikuti kebiasaan buruk itu?
> Kebiasaan-kebiasaan buruk, adat-istiadat yang sudah usang mesti ditinggalkan, dibuang jauh-jauh, karena berpotensi merusak tatanan masyarakat. Ini yang dikhawatirkan Dewa Palguna, dan ini pula yang saya khawatirkan.
> Orang-orang yang berkacamata kuda, mereka yang ingin mempertahankan kekuasaan dengan segala macam cara, mereka yang terbiasa menghalalkan apa saja demi kepentingan pribadi â€" adalah orang-orang yang biasanya keuh-keuh mempertahankan adat, seusang apa pun adat itu.
> Mereka adalah orang-orang yang tertutup mata hatinya, jiwanya, dan akal sehatnya. Ketertutupan ini, sebagaimana telah terbukti secara medis, menyebabkan otak kita mengkerut, yang kemudian berlanjut menjadi gangguan jiwa.
> Para penjahat berdarah dingin yang biasa disebut “terorisâ€, adalah bukti nyata akan hal ini. Mereka pun percaya pada adat-istiadat dan kepercayaan yang tidak masuk akal. Mereka menutup diri terhadap perkembangan zaman dan kemajuan peradaban. Maka, mereka menjadi alot, keras, kaku, dan kasar.
> Bali mesti berhati-hati.
> Sebagaimana diperingatkan oleh Dewa Palguna, Bali mesti waspada dan eling. Bila tidak, maka kekhawatiran beliau bisa menjadi kenyataan. Sesungguhnya, dan ini sangat ironis, tanda-tanda kearah itu sudah terlihat jelas.
> Saya bertemu dengan sekian banyak orang Bali di Jakarta yang mengaku muak dengan beberapa hukum adat, khususnya denda bagi warga yang sudah lama merantau dan kemudian dijatuhkan sangsi saat mau mengadakan upacara ngaben dan sebagainya. Bahkan, saya memiliki data-data lengkap dari beberapa orang yang kemudian berpindah agama hanya karena hal itu. Apakah hal ini mesti berlanjut?
> Celakanya, sebagaimana juga dalam umat lain, setiap orang yang meninggalkan agama asalnya dan mengadopsi agama lain, justru menjadi sangat fanatik. Karena, mereka biasanya memiliki beban psikologis untuk membuktikan kepada diri sendiri bila pilihan mereka itu sudah tepat.
> Maka, orang Hindu yang masuk Islam, akan selalu menjelek-jelekkan agama Hindu. Begitu pula orang Islam yang masuk Kristen, menjelek-jelekkan agama Islam. Demikian seterusnya. Bahkan, ketika “pindahan†ini menjadi ulama dalam agama baru yang diadopsinya, tidak jarang malah menebarkan kebencian terhadap agama yang ditinggalkannya.
> Tidak lama yang lalu, seorang ulama seperti itu muncul di layar teve, yang salah seorang pemiliknya adalah “keluarga†seorang pejabat dan dengan gagah berani mengatakan: Setiap agama memiliki kitab suci, tapi semuanya itu sekedar kitab-kitaban, yang betul-betul kitab hanyalah kitab agama kita.
> Ini hanyalah salah satu contoh dari akibat pergeseran nilai-nilai dan pendewaan adat-istiadat yang tidak bijak. Contoh lain yang telah saya ulas sebelumnya adalah bertumbuhnya generasi penjahat yang sering disebut teroris.
> Bali, berpikirlah secara matang. Apa maumu?
> Buktikan saya salah, buktikan kekhawatiran Dewa Palguna tak beralasan. Kita pun (saya yakin kawan saya Dewa Palguna akan setuju) ikut berdoa semoga kekhawatiran kita tidak terbukti, semoga kita salah. Semoga Bali tetap jaya, maju, dan berkembang terus, serta menjadi pembawa berita baik bagi seluruh kepulauan Nusantara.
> *Aktivis Spiritual, penulis hampir 130 buku, belasan diantaranya dalam bahasa Inggeris (www.aumkar.org, www.anandkrishna.org). Untuk mengetahui lebih banyak tentang kegiatannya di Bali, silakan menghubungi Aryana atau Debbie di 0361 7801595, 8477490
>
>
> New Email addresses available on Yahoo!
> Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
> Hurry before someone else does!
> http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
>
__._,_.___
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar