Jumat, 21 Agustus 2009

Hal: [bali-bali] Mewajibkan Bahasa Daerah

Heran ya, kenapa setiap ada ide selalu ada yang serta merta menolak tanpa memberi permakluman. Wajib bukan berarti melanggarnya adalah dosa atau dihukum mati kan. Wajib disini tentunya himbauan yang diprioritaskan. Bukannya bahasa jawa sudah sego jangan di Jogja, menjadi wajib sehari dalam seminggu adalah ide bagus utk merefresh bahasa jawa. Toh juga para pegawai gak goblog2 amat, tentunya mereka bisa memberi permakluman jika lawan bicara mengalami kesulitan.

Semangat nasionalisme bukan berarti segala hal dinasionalkan/dibuat satu warna. Tapi adalah mengembalikan semangat persatuan seperti saat kemerdekaan ini diperjuangkan, dengan tetap memelihara, mencintai dan menghormati keberagaman yang ada.


Saya jadi inget kisah lucu kakak waktu satu angkot dengan seorang bule. Waktu naik angkot bersama temennya, ada seorang bule cowok menghalangi pintu masuk karena gak mau geser dan badannya gede. Setelah pake bahasa isyarat, akhirnya sang bule paham dan bersedia mengisi kursi kosong disebelahnya.
Masuklah kakak sambil ngomel sendiri : ..pancene kethek putih ra ngerti aturan..(dasar monyet putih gak tau aturan).

Tak lama, si bule menyetop angkot hendak turun, sambil melewati kakak dia ngomong : ..nuwun sewu.., kethek putih badhe lewat..(permisi, monyet putih mau lewat) ..

---- Pesan asli ----
Dari: Sugi Lanús <sugilanus@gmail.com>
Terkirim: 21 Agt 2009 16:58 +00:00
Ke: bali-bali <bali-bali@yahoogroups.com>
Perihal: [bali-bali] Mewajibkan Bahasa Daerah

KOMPAS, Jumat, 21 Agustus 2009 | 03:14 WIB

Mewajibkan Bahasa Daerah
oleh ANDRE MOLLER

Seperti diberitakan sejumlah media massa belum lama ini, Sultan
Hamengku Buwono X bertekad mewajibkan setiap pegawai di lingkungan
Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta serta kabupaten/kota
berbahasa Jawa saban Sabtu dalam aktivitas kerja. Alasannya tak lain
selain mencoba melestarikan bahasa dan budaya Jawa yang dinilai banyak
dipengaruhi bahasa dan budaya nir-Jawa. Niat ini barangkali patut
diacungi jempol, tetapi tak susah juga melihat awan gelap yang
mengancam kecerahan langit sehubungan dengannya.

Perbolehkan saya mengajukan beberapa renungan berhubungan dengan
gagasan itu. Pada tahun 1998, saya termasuk mahasiswa yang menduduki
kantor gubernur di Yogyakarta guna memperlancar jalan Sultan kepada
jabatan yang beliau pegang sampai sekarang. Maka, renungan saya ini
sekadar renungan belaka.

Pertama, sehatkah bila bahasa daerah dipaksakan kepada pegawai
pemerintahan dari atas? Bukankah keinginan berbicara dalam bahasa
tertentu harus muncul dari keinginan si penutur sendiri?

Kedua, bagaimana peluang orang asal luar Jawa (atau malah dari luar
Yogya saja) bekerja di lingkungan pemerintahan DIY? Bukankah
seharusnya jabatan pemerintahan terbuka bagi setiap warga negara
Indonesia, meski tak bisa bertutur dalam bahasa Jawa? Benarkah
kemampuan dalam bahasa daerah tertentu akan menentukan siapa yang
layak mendapatkan pekerjaan?

Ketiga, tidakkah orang yang tak bisa berbahasa Jawa akan kesulitan
jika hendak mengurus sesuatu di sebuah kantor pemerintahan pada hari
Sabtu? Niscaya, para pegawai tak wajib berbahasa Jawa jika kelihatan
lawan bicaranya tak bisa memahaminya, tetapi tetap akan meninggalkan
perasaan tak sedap kepada si pendatang.

Keempat, mengapa ketentuan baru ini hanya berlaku untuk bahasa lisan?
Apakah tulisan yang menggunakan aksara Jawa dinilai terlampau sulit,
repot, dan menyusahkan? Kalau ya, pasti perasaan si pendatang yang tak
bisa berbahasa Jawa secara lisan bisa dimengerti.

Kelima, mengapa bahasa yang dijadikan patokan kebudayaan Jawa yang
harus dilestarikan? Untuk memperluas program pelestarian ini, saya
mengusulkan Senin sebagai hari wajib makan gudeg, Selasa hari wajib
pakai blangkon, Rabu hari wajib pakai nada dering karawitan, Kamis
hari wajib naik andong ke kantor, dan Jumat hari wajib mengenakan kaos
dagadu (kalau ini tidak dinilai kurang njowo).

Keenam, daripada satu hari per minggu menggunakan bahasa Jawa,
bukankah lebih baik berniat menerapkan pemakaian bahasa Indonesia yang
baik dan benar pada setiap hari kerja? Ini tentu termasuk pidato dan
lain sebagainya yang berasal dari para petinggi, termasuk gubernur.

Saya tak bisa mendukung gagasan Sultan dengan sepenuhnya. Meski
begitu, saya memahami kekhawatirannya dan menjunjung tinggi niatnya.
Di satu sisi, Yogyakarta merupakan jantung budaya dan bahasa Jawa
(maaf, Solo). Namun, di sisi lain, kota pelajar ini juga merupakan
semacam Indonesia mini dengan pendatang dari setiap penjuru nusantara.
Keseimbangan ini jelas tak mudah dijaga, tetapi saya kira yang paling
baik mengemban tugas ini adalah masyarakat (termasuk para pendatang)
Yogya.

Andre Moller Penyusun Kamus Swedia-Indonesia

-----
 Dikirim menggunakan telepon selular Sony Ericsson

------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:bali-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:bali-bali-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
bali-bali-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: