Seperti Mbah Surip, seperti para seniman lainnya, seperti nantinya juga saya dan Anda, W.S. Rendra pun akhirnya mati. Namun, lain matinya Rendra dan Mbah Surip, dan barangkali lain pula mati kita.
Rendra, seperti juga Mbah Surip meninggalkan cerita, banyak cerita. Kita belum tentu meninggalkan apa-apa. Hidup kebanyakan orang tanpa cerita yang berarti. Sekolah, pacaran, bekerja, berkeluarga, banyak uang, sedikit uang, keluarga bahagia, keluarga kurang bahagia, cerai, paksa mempertahankan perkawinan, beranak-pinak. Dan, akhirnya mampus.
".....tatkala saya masih muda, saya telah gambarkan negara yang akan datang dan tanah air yang akan datang, tanah air yang kita pijak buminya itu, saya gambarkan sebagai ibu kita. Ibu, oleh karena itu kita berkata Ibu Pertiwi. Ibu, dan kita menyebutkan negara kita pada zaman dahulu Mataram. Ibu..... Dan kita pun sekarang berkata, bukan saja Mataram, tetapi Ibu Pertiwi, Ibu kita. Kita berkewajiban jikalau benar-benar kita mencintai Ibu kita ini, kita harus menyumbang pada Ibu kita. Di dalam ucapan-ucapan saya tatkala saya masih muda, saya berkata, kita semua berkewajiban untuk menyumbangkan bunga, bunga untuk mempercantik konde, sanggulnya Ibu kita ini. Harus, semuanya harus menyumbangkan bunga kepada sanggul kita punya Ibu. Engkau bisa menyumbangkan apa? Engkau bisa sumbangkan melati? Berilah melati! Engkau bisa menyumbangkan apa? Bisa menumbangkan mawar? Berilah mawar! Engkau bisa menyumbangkan apa? Bisa menyumbangkan kenanga? Berilah kenanga! ~Soekarno~
Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com.
__._,_.___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar