Selasa, 11 Agustus 2009

[bali-bali] Rendra: Going Against The Tide Terjemahan



Rendra: Going Against The Tide Terjemahan

0leh: Anand Krishna

Terjemahan Nugroho Angkasa

http://www.thejakartapost.com/news/2009/08/08/rendra-going-against-tide.html

http://www.aumkar.org/ind/

Pertemuan pertama dan terakhir saya dengan W.S Rendra terjadi tak lama setelah The Jakarta Post menyelenggarakan wawancara ekslusif dengan sastrawan besar itu pada tanggal 12 November 2005. Saya kemudian diundang oleh seorang teman untuk berbicara tentang integrasi nasional dan Pancasila, ideologi negara.

Rendra duduk dengan peserta lainnya, dan mendengarkan saya dengan penuh perhatian. Setelah saya selesai berbicara, tuan rumah memperkenalkan kami. Rendra sangat informal, "Bung," berarti "saudara", kamu bergerak melawan arus. Tak ada orang yang peduli tentang Pancasila lagi. Apa yang bisa kamu lakukan?

Saya menjawab, "Saya belajar seni "bergerak melawan norma" darimu."

Ia terdiam beberapa saat, dan kemudian mengangguk, "Ya, ya, ya, kita harus terus bergerak. Bukankah kita begitu?"

Kami mendiskusikan banyak hal, dan saya bisa merasakan kegelisahannya. Pada saat yang sama ia juga secara mengejutkan tetap penuh harapan. Sungguh manusia hebat! Ia merupakan racikan sempurna antara puisi yang tragis dan aktivis yang dinamis, resah tapi juga penuh harapan.

Saya sangat terkesan.

Ialah seorang yang berani bergerak melawan arus. Ia menghidupi kehidupan dengan gayanya sendiri. Ia tak malu atas nafsu dan hasratnya, pada saat yang sama ia tidak berhenti di situ. Ia secara jelas mencoba untuk mentransendensinya.

"Ketika saya mendengar orang bicara tentang kepemilikan, saya katakan pada mereka saya juga punya tapi itu sekedar amanah."

Dalam beberapa baris, ia menulis semua kepemilikannya, yang bergerak dan tak bergerak.

"Tapi, kenapa saya dipasrahi semua hal itu? Apa yang harus saya lakukan dengan mereka? Kenapa saya berkabung ketika sesuatu yang diberikan kepada saya diambil kembali dengan tepat oleh pemiliknya?"

Rendra, yang terlahir sebagai seorang Kristiani di Surakarta (Jawa Tengah) pada 7 November 1935, meninggal dunia sebagai seorang Muslim di Depok (Jawa Barat), pada tanggal 6 Agustus 2009. Ia hidup untuk menjadi manusiawi sejauh itu mungkin.

Ketika saya mendengar tentang kematiannya dari seorang teman, saya menarik nafas panjang. "Satu lagi pergi."

Dua hari sebelumnya, kita juga kehilangan Mbah Surip, artis hebat lainnya dan seorang yang rendah hati, manusia yang membumi.

Sebelumnya Mbah Surip dan sekarang Mas Rendra, kemudian saya ingat sebaris puisi.

"Kenapa saya berkabung ketika sesuatu yang dipercayakan pada saya diambil kembali oleh pemilik yang sebenarnya?"

Saya nyaris dapat mendengar Mas Rendra melanjutkan baris puisi berikutnya. "Kenapa saya menganggapnya sebagai petaka? Kenapa saya menyebutnya sebuah ujian?"

Rendra ialah seorang satrawan, seorang jenius pada bidangnya, tapi lebih dari sekedar sastrawan, ia ia juga manusia yang berintegritas. Ia manusia yang berani.

Rendra mengkomplain sistem pemerintahan, yang ia yakini sebagai perpanjangan dari sistem kolonial Belanda. "Lewat puisi saya mengkritisi pembangunan yang tak menguntungkan rakyat dan mengabaikan isu sosial dan kultural.

"Wajar bagi penguasa kolonial untuk mengabaikan aspek-aspek tersebut, tapi setelah kemerdekaan kita harus menggarap aspek sosial dan kultural."

Satu keyakinan utama Rendra ialah bahwa ketika sebuah bangsa melupakan nilai sosial dan kultural, kemerosotan moral tak bisa dihindarkan.

"Saya harus mencerahkan rakyat. Setiap kali terjadi kemerosotan moral, satrawan harus bertindak."

"Kalau ada pengrusakan alam, sastrawan harus bereaksi. Jika ada kegagalan dalam pemerintahan, banyak sastrawan berkata itu bukan urusan mereka. Saya tak setuju.

Di sini Rendra bukan sekedar pembaca puisi, tapi Rendra sebagai aktivis.

Selama Presiden Soeharto berkuasa, Rendra sering diancam dan dibatasi untuk mengekspresikan pikirannya seputar pemerintah lewat puisi dan dramanya. Tak tergoyahkan, ia terus menyebarluaskan keyakinannya lewat karya-karya, dan di samping itu juga kerja keras.

Ketika Rendra ditanya tentang dukungannya terhadap Nurmahmudi, Walikota Depok dan anggota Partai Keadilan Sejahtera (PKS), ia berkata:

Saya mendukung Nurmahmudi bukan karena saya anggota PKS. Tak mungkin saya bergabung di PKS, PKS ialah sebuah partai tanpa platform yang jelas."

PKS bukan satu-satunya partai politik yang dibidik oleh Rendra, yang menyesalkan kenapa tak ada satu partai pun yang bereaksi ketika muncul tuntutan kenaikan gaji para politisi padahal sebagian besar rakyat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan.

Nurmahmudi terkenal karena membatalkan ijin pembangunan sebuah gereja yang didirikan di Depok. Saya tak yakin apakah Rendra pernah membahas isu ini dengan walikota Depok.

Rendra begitu peduli pada hak kelompok minoritas.

"Ada keluarga Kristiani yang diusir dari rumahnya karena mempersiapkan pertemuan doa. Saya sering mengorganisasikan doa di rumah secara damai. Apa ini berarti bahwa seorang Muslim diijinkan mengadakan doa sedangkan yang lainnya tak diijinkan?" ia bertanya.

Mas Rendra, sebentar lagi kita akan merayakan hari kemerdekaan kita, tanpamu, tanpa Mbah Surip tahun ini. Kita akan merindukanmu. Tapi saat kita mengibarkan bendera nasional kita, kita akan selalu mengingat kata-katamu.

"Ada harapan. Ini bukan karena kualitas pemerintahan atau partai politik. Ini karena generasi muda yang mulai memahami pengetahuan sosial, psikologi, bahasa dan antropologi. Ada harapan."

Penulis ialah seorang aktivis spiritual dan pengarang lebih dari 130 buku (www.anandkrishna.org)

Terjemahan oleh Nugroho Angkasa dari

http://www.aumkar.org/eng/?p=166#more-166



New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!

__._,_.___


Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: