Jumat, 21 Agustus 2009

[bali-bali] Mewajibkan Bahasa Daerah

KOMPAS, Jumat, 21 Agustus 2009 | 03:14 WIB

Mewajibkan Bahasa Daerah
oleh ANDRE MOLLER

Seperti diberitakan sejumlah media massa belum lama ini, Sultan
Hamengku Buwono X bertekad mewajibkan setiap pegawai di lingkungan
Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta serta kabupaten/kota
berbahasa Jawa saban Sabtu dalam aktivitas kerja. Alasannya tak lain
selain mencoba melestarikan bahasa dan budaya Jawa yang dinilai banyak
dipengaruhi bahasa dan budaya nir-Jawa. Niat ini barangkali patut
diacungi jempol, tetapi tak susah juga melihat awan gelap yang
mengancam kecerahan langit sehubungan dengannya.

Perbolehkan saya mengajukan beberapa renungan berhubungan dengan
gagasan itu. Pada tahun 1998, saya termasuk mahasiswa yang menduduki
kantor gubernur di Yogyakarta guna memperlancar jalan Sultan kepada
jabatan yang beliau pegang sampai sekarang. Maka, renungan saya ini
sekadar renungan belaka.

Pertama, sehatkah bila bahasa daerah dipaksakan kepada pegawai
pemerintahan dari atas? Bukankah keinginan berbicara dalam bahasa
tertentu harus muncul dari keinginan si penutur sendiri?

Kedua, bagaimana peluang orang asal luar Jawa (atau malah dari luar
Yogya saja) bekerja di lingkungan pemerintahan DIY? Bukankah
seharusnya jabatan pemerintahan terbuka bagi setiap warga negara
Indonesia, meski tak bisa bertutur dalam bahasa Jawa? Benarkah
kemampuan dalam bahasa daerah tertentu akan menentukan siapa yang
layak mendapatkan pekerjaan?

Ketiga, tidakkah orang yang tak bisa berbahasa Jawa akan kesulitan
jika hendak mengurus sesuatu di sebuah kantor pemerintahan pada hari
Sabtu? Niscaya, para pegawai tak wajib berbahasa Jawa jika kelihatan
lawan bicaranya tak bisa memahaminya, tetapi tetap akan meninggalkan
perasaan tak sedap kepada si pendatang.

Keempat, mengapa ketentuan baru ini hanya berlaku untuk bahasa lisan?
Apakah tulisan yang menggunakan aksara Jawa dinilai terlampau sulit,
repot, dan menyusahkan? Kalau ya, pasti perasaan si pendatang yang tak
bisa berbahasa Jawa secara lisan bisa dimengerti.

Kelima, mengapa bahasa yang dijadikan patokan kebudayaan Jawa yang
harus dilestarikan? Untuk memperluas program pelestarian ini, saya
mengusulkan Senin sebagai hari wajib makan gudeg, Selasa hari wajib
pakai blangkon, Rabu hari wajib pakai nada dering karawitan, Kamis
hari wajib naik andong ke kantor, dan Jumat hari wajib mengenakan kaos
dagadu (kalau ini tidak dinilai kurang njowo).

Keenam, daripada satu hari per minggu menggunakan bahasa Jawa,
bukankah lebih baik berniat menerapkan pemakaian bahasa Indonesia yang
baik dan benar pada setiap hari kerja? Ini tentu termasuk pidato dan
lain sebagainya yang berasal dari para petinggi, termasuk gubernur.

Saya tak bisa mendukung gagasan Sultan dengan sepenuhnya. Meski
begitu, saya memahami kekhawatirannya dan menjunjung tinggi niatnya.
Di satu sisi, Yogyakarta merupakan jantung budaya dan bahasa Jawa
(maaf, Solo). Namun, di sisi lain, kota pelajar ini juga merupakan
semacam Indonesia mini dengan pendatang dari setiap penjuru nusantara.
Keseimbangan ini jelas tak mudah dijaga, tetapi saya kira yang paling
baik mengemban tugas ini adalah masyarakat (termasuk para pendatang)
Yogya.

Andre Moller Penyusun Kamus Swedia-Indonesia


--
'The greatest event of our age is the meeting of cultures, meeting of
civilizations, meeting of different points of view, making us
understand that we should not adhere to any one kind of single faith,
but respect diversity of belief. That is what we should attempt to do.
The iron curtain, so to say, which divided one culture from another,
has broken down. It is good that we recognize and emphasize the need
of man to regard other people, their cultures, their beliefs etc. to
be more or less on the same level as our own cultures and our own
civilizations. It is not a sign of weakening faith; it is a sign of
increasing maturity. If man is unable to look upon other people's
cultures with sympathy and if he is not able to co-operate with them,
then it only shows immaturity on the part of the human individual. We
need co-operation, not conflict. It requires great courage in such
difficult days as the present to speak of peace and co-operation. It
is more easy to talk of enemies, of conflict and war. We should try to
resist that temptation. Our attempt should always be to co-operate, to
bring together people, to establish friendship and have some kind of a
right world in which we can live together in happiness, harmony and
friendship. Let us therefore realize that this increasing maturity
should express itself in this capacity to understand what other points
of view are'.

-Professor Sarvepalli Radhakrishnan, philosopher, President of India,
his speech for the inauguration of the The Indian Institute of
Advanced Study on 20 October 1965. http://www.iias.org/


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:bali-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:bali-bali-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
bali-bali-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: