THE GLOBAL NEXUS
Christianto Wibisono
Dialog imajiner Rendra - Sarwo Edie berlanjut di Paradiso Kahyangan, Senin dini hari .
WR: Mas Sarwo, sekarang sedang berlangsung pertarungan antara kekuatan global yang menginspirasi remaja menjadi pengantin bom dan bangsa Indonesia yang menjadi mangsa, dengan Noordin M Top dari Malaysia sebagai predator. Bagaimana Anda, sebagai mantan Komandan RPKAD yang membasmi habis PKI, mengatasi ancaman teror global ini?
SE: Bung Rendra, dulu Soeharto membubarkan PKI dan melarang ideologi komunisme, karena dianggap menghasut rakyat untuk melakukan "teror" terhadap "kapitalisme dan Dewan Jenderal". Penulis wanita Mesir Farag Fouda yang mengungkap suksesi berdarah kilafah Islam dalam buku "Kebenaran yang Hilang" telah dibunuh pada 8/6/1992. Goenawan Mohamad menyambut terjemahan oleh Departemen Agama RI dengan Caping Tempo 3/3/2008. Kita semua harus sadar bahwa yang dilakukan Osama bin Laden dan Al Qaeda, serta Noordin Top dan JI, amat sadis dan patut dilawan. Mereka menghasut orang jadi pengantin bom bunuh diri, Sedang dirinya sendiri selamat terus, mengkloning teroris baru terus-menerus. Osama dan Noordin Top adalah pengecut yang membajak nama Allah untuk sakit jiwa kebencian mereka yang penuh hawa nafsu iblis ingin membinasakan makhluk Tuhan lain, karena cemburu. Ini yang disorot oleh Dominique Moisi sebagai geopolitik kebencian yang sadis. Minggu malam Fareed Zakaria bertanya kepada Michel Odren, Dubes baru Israel untuk AS: "Apa bedanya bom di tangan Stalin, Mao, dan Ahmadinejad. Jawab Odren, keduanya sekuler yang takut mati dan masih punya naluri kemanusiaan untuk tidak membiarkan rakyat Rusia dan Tiongkok mati dibalas nuklir AS. Sebaliknya, Ahmadinejad berani mati karena dogma pengantin masuk surga.
WR: Sabar Mas Sarwo, peringatan Anda itu memvonis sepihak rakyat Iran, padahal setiap manusia dan bangsa tentu punya naluri untuk membela diri dan menopang martabat Iran.
SE: Kita harus belajar dari sejarah, memahami betul motivasi dan ambisi subjektif dari masing-masing nation state. Iran atau Persia tidak pernah akan rela jadi second class terhadap Arab. Sebab Islam terpecah dalam Shiah dan Sunni yang mirip lawan bebuyutan zaman Roma Katolik melawan Reformasi yang melahirkan perang 100 tahun di Eropa Barat. Persia sudah lebih dulu jadi imperium hebat ketika Arab masih Badui. Persia adalah kekuatan yang nyaris mengalahkan Yunani dan peradaban Eropa. Persia adalah kekuatan yang mengalahkan Babilonia, yang menurut legenda Mesopotamia adalah Eden dan suku bangsa Nabi Ibrahim. Jadi, di Timur Tengah itu kita berhadapan bukan dengan Islam yang monolit, tapi mempunyai akar sejarah yang rumit. Nabi Ibrahim adalah cikal-bakal dan nenek moyang Saddam Hussein, karena itu Saddam tidak rela kowtow kepada Bush. Saddam merasa Irak, Babilonia, Mesopotamia adalah rahim peradaban, kenapa mesti tunduk sama kafir AS. Begitu juga Dewan Ayatullah Iran merasa pernah jadi Persia yang menaklukkan seluruh Timur Tengah, bahkan mengancam Yunani. Kenapa harus tunduk pada si cabai rawit Israel yang didukung "kafir besar AS". Ada lagi Hosni Mobarak yang merasa bahwa Mesir adalah pencipta piramida, kenapa mesti jadi kelas dua terhadap mantan pesaing masa lalu Asiria, Babylonia dan Persia. Mesir punya kebanggaan sendiri, seperti Turki juga pernah mendapat mandat dari Allah menjadi imperium Islam. Sampai Mustafa Kemal Pasha, memodernisasi Turki sebagai negara sekuler menggusur kalifah Ottoman terakhir. Negara-negara Timur Tengah yang sekarang kebetulan memperoleh rezeki minyak, sebetulnya mewarisi dendam kesumat sejarah saling mendominasi satu sama lain. Semuanya pernah jadi mandataris Tuhan Allah menurut agama yang dianut waktu itu, Zoroaster Persia, Babilonia, Mesir, Asiria. Yang semuanya berbeda dari Yahwe-nya Yahudi.
Kita sendiri sejak tahun 820 sudah mampu membangun Borobudur. Jadi, buat apa harus merasa minder sama Sheikh Arab atau jadi antek Ahmedinejad. Borobudur membuktikan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia yang beragama Buddha mampu membangun keajaiban dunia sekelas piramida Mesir. Kenapa sekarang keturunan Syailendra, harus jadi anteknya Taliban, setelah pulang dicekoki oleh Taliban Afghanistan. Kenapa anak cucu Syailendra malah bingung, jadi anteknya Teheran, Ryadh, Kairo, Damaskus, Baghdad, Kabul atau Istanbul. Kenapa anak cucu Syailendra tidak berani bilang, go to hell sama segala macam teroris Noordin Top kelahiran Kuala Lumpur yang berlumuran darah orang tak berdosa. Anak cucu Syailendra harus berani punya misi dan visi mandiri bahwa Indonesia adalah Indonesia, Jakarta adalah Jakarta dan Pancasila adalah Pancasila.Yang tidak boleh dibajak oleh mummi Mesir, Babilonia, Persia atau Turki dengan kepentingan sempit ala Taliban yang menghancurkan patung Buddha di Afghanistan 6 bulan sebelum merobohkan WTC New York City.
Plural
WR: Mas Sarwo, Anda terlalu bersemangat. Awas jadi chauvinis, Indonesia ueber alles, seperti Hitler kemudian melancarkan holocaust yang dibantah oleh Ahmadinejad.
SE: Setuju 100 persen bahwa kita tidak boleh jadi Indonesia ueber alles, sebab Indonesia sendiri adalah plural yang harus mengakui hikmah pluralisme. Kita semua berasal dari Indochina, Kita berawal dari Buddhisme Syailendra, dan Sriwijaya, serta Hinduisme Majapahit, kemudian ke-Islam-an pesisir Banten, Demak, Bugis serta pengaruh modernisasi Barat. Sekarang ini tidak ada lagi era dominasi suatu bangsa untuk jadi Asiria, Babilonia, Persia, Mesir, Turki, Romawi, Mongolia, Tiongkok atau Rusia dan barisan imperium masa lalu.. Pada masa lima abad terakhir, Spanyol pernah merajai, karena harta karun di Amerika Selatan. Tapi, malah inflasi, malas, dan dikalahkan oleh Belanda, yang memonopoli perdagangan Nusantara melalui VOC. Walaupun VOC bangkrut karena korupsi, Belanda tetap menegakkan Pax Neerlandica, imperium modern kedua setelah Spanyol dan menjadi negara terkaya sedunia pada abad 18. Pada abad ke-19, Inggris menggeser Belanda dengan Pax Britannica, karena revolusi industri, reformasi agama, dan renaisans kebudayaan. Walaupun menghadapi tantangan dari Prancis yang kurang sukses, karena konsolidasi demokrasi di Inggris lebih substansial ketimbang: Prancis yang sempat mengalami era teror dan fragmentasi sistem parlementer yang terlalu menguras energi nasional. Abad ke-20 sering disebut era Pax Americana walaupun fasisme poros Roma-Berlin-Tokyo pernah mengancam mendominasi dunia. AS juga menghadapi Pax Sovietica dan Pax Communista, yang gagal karena kebobrokan sistem diktator komunisme di Uni Soviet, RRT, dan negara-negara komunis Eropa Timur. Komunisme bangkrut bukan karena bom AS, tapi karena kaum buruh Polandia dan seluruh negara komunis merasa dikhianati dan malah ditindas dan dijajah oleh diktaror proletariat komunis. Indonesia sudah bertobat duluan melarang komunisme, tapi, jatuh ke tangan fasisme Orde Baru dan sekarang sedang menghadapi ancaman Mullahisme, Talibanisme, Syariahisme yang berasal dari Afghanistan, Qum, Teheran dan jelas tidak sinkron dengan kepentingan nasional Indonesia. Visi Indonesia 2025 yang dicanangkan pada pidato kenegaraan SBY mengingatkan kita semua bahwa Indonesia harus berkiblat kepada Indonesia dan Pancasila. Tidak boleh terbajak oleh JI dan mad di Tempo 17/8 , bagi JI dan AQ: "Indonesia" tak berarti apa apa!
WR: Kalau ingin misi dan visi Indonesia 2025 sukses, kita harus berani membentak teroris JI. Hanya ada satu kata, lawan! Agar Indonesia tidak jadi failed state- nya JI.
Penulis adalah pengamat masalah nasional dan internasional.
Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
__._,_.___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar