---------- Forwarded message ----------
From: Kristy Nelwan <kristy_nelwan@yahoo.com>
Date: Aug 20, 2009 5:23 PM
Subject: Fw: [radioppidunia] OOT: Malaysia Klaim Tari Pendet Bali
To: Bulantrisna Djelantik <btrisna@gmail.com>
| Dear Tante Bulan, apa kabar?Semoga sehat dan baik2 saja ya...Ini aku baru menerima fwd an e-mail ttg tari pendet dan ingin meminta pendapat tante Bulan sebagai 'orang dalam' di kebudayaan Bali... hugs, Kristy From: Aki Baihaki <abaihaki@gmail.com> Subject: [radioppidunia] OOT: Malaysia Klaim Tari Pendet Bali To: Date: Thursday, August 20, 2009, 1:16 AM
Asikkkkk rameh lagi....
Malaysia Klaim Tari Pendet Bali By Republika Newsroom Rabu, 19 Agustus 2009 pukul 19:09:00
ILOVEBLUE.COM TARI PENDET: Seorang nenek yang mendet saat "Usaba Sambah" di Pura Puseh, Sengkidu Karangasem. JAKARTA--Malaysia kembali mengklaim budaya Indonesia -- tarian pendet, Bali -- menjadi budaya mereka yang dicantumkan dalam iklan visit year mereka. Sebelumnya, mereka telah mengklaim angklung, reog Ponorogo, batik, Hombo Batu, dan Tari Folaya. Budayawan, Radhar Panca Dahana, mengatakan pengklaiman budaya Indonesia oleh Malaysia untuk kesekian kalinya merupakan kesalahan pemerintah Indonesia sendiri. "Ya tidak apa-apa lah, kita juga suka mengambil budaya lain untuk untuk promosi," katanya kepada Republika, Rabu (19/8). Ia menilai kecolongan budaya tersebut sebenarnya sebuah cermin atau refleksi. Ia menilai kita terluka dan malu, karena kita sadar sebagai pemilik kebudayaan itu kita tidak memperhatikannya. "Selama ini kebudayaan dipinggirkan, pemerintah dan masyarakat tak lagi peduli," ujarnya. Sedangkan negara lain, seperti Malaysia, kata Radhar, membutuhkan ekstensi kebudayaan, karena kebudayaan adalah senjata terbaik untuk diplomasi internasional. Potensi bisnisnya bagus. "Malaysia tahu mereka kekurangan budaya, mereka pintar melihat kebudayaan negara tetangganya, dan mereka menghargai budaya untuk mencari keuntungan, sedangkan pemerintah kita tidak peduli. Hanya peduli pada olahraga dan program lainnya," katanya. Untuk itu, kata Radhar, kedepannya agar Indonesia tidak kecolongan lagi, pemerintah harus perhatikan kebudayaan itu. "Kita majukan budaya kita supaya kita ada di depan, munculkan budaya kita dalam upacara-upacara, acara-acara, jangan lagu-lagu masa kini yang dinyanyikan oleh Presiden kita," tandasnya. she/kpo
|
__._,_.___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar