Rakyat sudah pinter semua,anda masih bicara neolib,wong cilik nggak ngerti apa itu neolib..lihat kenyataannya yang koar koar ngakunya pro rakyat / wong cilik and nentang neolib suaranya keok..mereka rakyat pada ngerti and pinter siapapun pemimpin yang mereka pilih yang pasti pro rakyat.Semua capres pasti pro rakyat,wong dia dipilih oleh rakyat.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
From: "Laraslia"
Date: 11 Jul 2009 09:48:39 +0800
To: <bali-bali@yahoogroups.com>
Subject: [bali-bali] Hal: Fwd: Dari Ubud/Bali: SENYUM
Minimal, dengan tidak menerima ktp tanpa kk, mereka bisa berbesar hati mengakui kelemahan sistem pemerintah itu sendiri, bahwa sangat mudah menduplikasi ktp.
Mari bersiap menghadapi era suharto jilid 2. Dalam jangka pendek dan secara permukaan, negri kita akan terlihat tentram dan damai seperti jaman mbah to dulu. Tapi entah jaman anak cucu kita nanti.
Neolib ilustrasi singkatnya seperti mendaftarkan negara kita di bursa saham. Bukan begitu ? Cmiiw..
Do a single step that we can do (beneh keto ?). Minimal, terus memupuk nasionalisme dalam diri dan anak2, buat saya, cukup dgn berhemat dalam berbelanja. Ajak anak mencintai pasar sukawati dan peken badung.
Tapi tidak ada salahnya jika ada yg bisa mengambil keuntungan di pasar bebas dengan cara yang benar, dan meneruskan sebagian keuntungan kepada mereka yang memerlukan disekitar kita. Karena meskipun kita tidak melakukannya, orang lain akan tetap melakukannya bahkan dengan menghalalkan segala cara. Nah lho..!!
Salam (mulai buduh),
Nb. Heran, kenapa hasil quick count mega lebih baik timbang jk ya..
---- Pesan asli ----
--- In bali-bali@yahoogrou
S E N Y U M
Catatan bakda pilpres 8 Juli
Dear all;
Siapa pun yang terpilih sebagai presiden lewat pilpres ini, perlu terus kita kritisi, dengan sikap yang jujur, terbuka, indipenden dan berani. Siapapun yang terpilih, janganlah sampai negeri kita ini diporak-poranda kayak yang terjadi di Iran bakda pilpres mereka di sana. Jangan ada yang luka, apalagi sampai kehilangan nyawa. Mari kita mulai dengan senym!
Bagaimana halnya dengan pilpres kedua yang berlansung pada 8 Juli kemarin ini? Hasil resminya belum ada, karena KPU Pusat masih terus menghitungnya. Yang ada barulah kesimpulan yang belum resmi yang disiarkan media cetak dan elektronik saja.
Saya berkesimpulan, bahwa hasil pilpres ini nanti tidaklah berbeda dengan hasil pileg yang lalu, sama-sama dikotori oleh berbagai kecurangan.
Mungkin saja petinggi di lingkaran terdekat Capres-Cawapres dan KPU di tingkat pusat tidak melakukan kecurangan itu, tetapi pelaksana di lapangan (birokrat, pendukung daerah, relawan, dll) telah kembali melakukan kecurangan-kecurang
Itulah yang aku dapatkan dari pengakuan banyak fihak di berbagai daerah bahkan sebelum pilpres dilangsungkan pada 8 Juli kemarin. Nah, karena aku mendapatkan pengakuan tersebutlah, maka aku yang sudah sempat menimbang-nimbang untuk memilih salah satu pasangan, akhirnya membatalkan untuk ikut dalam pilpres langsung kedua ini. Ketika itu aku sedang berada di Ubud, Bali, untuk urusan kesenianku (film dan teater). Aku tidak datang ke TPS. Tapi, meskipun seandainya aku datang ke TPS, pastilah aku tidak akan diberi hak ikut memilih karena aku hanya punya KTP saja. Siapa sih yang bepergian di dalam negeri kita yang bawa Kartu Keluarga?
Aku harapkan dalam pilpres ketiga nanti jenjang-jenjang struktural birokrasi pentabulasian jumlah suara itu dihapus, agar suara setiap pemilih bisa langsung masuk tabulasi nasional secara transparan. Juga DPT dibuang saja, biarlah rakyat menggunakan KTP-nya masing-masing sebagai tanda bukti hak untuk memilih. Bukankah KTP sudah dikomputerisasi pembuatannya? Kalau perlu, siapa memilih pasangan siapa itu juga transparan. Nah, kalau sistem yang tertutup dari kemungkinan untuk dicurangi seperti diberlakukan dalam pilpres yad seperti itu, maka barulah aku akan ikut memilih salah satu pasangan.
Di kalangan seniman, maka sikap kritis terhadap kiprah petinggi negeri kita akan tetap dipertahankan, antara lain lewat karya-karyanya. Keberanian para seniman yang tampil di panggung Pusat Kesenian jakarta TIM ketika di Era Soeharto dalam mengkritisi pemerintah, itulah modal utama para seniman! Apalagi sekarang ini Demokrasi Politik sebagai buah dari Gerakan Reformasi 1998 sudah tegak.
Nah, target selanjutnya Gerakan Reformasi adalah menegakkan Demokrasi Ekonomi yang sejiwa dengan Keadilan Sosial (Pancasila) dan UUD Psl 33. Hal ini sangat penting, karena petinggi yang akan memegang kemudi perekonomian nasional dan internasional kita sudah dikenal penganut Neolib. Memang, janji-janji dan pengakuannya selama kampanye Piplres dia menolak c
-----
Dikirim menggunakan telepon selular Sony Ericsson
__._,_.___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar