Membaca respon anda dibawah, saya menjadi teringat pada novel tetralogi Pulau Buru-nya Pramoedya. Dimana saat Mingke dan Nyai Ontosoroh mulai sadar dengan penindasan kolonial Belanda dan bangkit melakukan perlawanan. Mereka dicap sebagai orang gila dan pemimpi oleh orang-orang yang beranggapan bahwa Belanda kita butuhkan karena kita kurang 'beradab' jika dibandingkan bangsa barat. Kemudian sejarah membuktikan bahwa perlawanan Mingke, Nyi Ontosoroh, para pendekar Madura dan orang yang cinta kebebasan menyadarkan anak muda bangsa ini seperti Cokroaminoto, Tan Malaka, Soekarno, Hatta hingga Syahrir untuk bangkit menjadikan bangsa ini merdeka.
Memang kesadaran bahwa kita sedang ditindas membutuhkan waktu yang lama karena kita tahu bersama bagaimana kepintaran kolonial untuk melahirkan mistifikasi dan melahirkan komprador-komprador dengan cara memberikan hak-hak istimewa, derajat, pangkat, gelar dan lain-lain. dan kita tahu yang paling terusik dengan gerakan perubahan adalah komprador-komprador tersebut karena mereka takut kehilangan kenyamanan dan hak-hak istimewa nya.
Namun penjajahan hari ini jauh lebih halus karena telah tercangkok dikepala setiap orang yang menerima ilmu sekolahan yang mengajarkan bahwa pembangunan hanya untuk pertumbuhan itu sendiri. investasi asing dibutuhkan sejatinya bukan untuk kesejahteraan rakyat tapi merupakan suatu prasyarat untuk menghitung pertumbuhan ekonomi.
Yang jelas kami tidak antiglobalisasi seperti yang anda maksudkan. Istilah itu lahir dari kontruksi media kapitalis untuk mengecilkan gerakan sosial yang menjadi fenomena global ini (sama dengan istilah anarchist yang juga disempitkan maknanya oleh media kapitalis menjadi chaos-kerusuhan)..kami adalah pendukung globalisasi kemanusiaan dan globalisasi perlawanan! yang kami lawan adalah globalisasi ekonomi (pasar bebas) yang menciptakan ketidakadilan, marjinalisasi, kerusakan lingkungan hingga pelanggaran HAM.
Anda berusaha memistifikasi bahwa globalisasi (ekonomi) adalah sebuah keniscayaan sehingga menutup ruang perdebatan dengan mengatakan bahwa "hari gini bicara anti globalisasi (ekonomi)". Saya minta anda untuk memberikan satu saja alasan yang bisa meyakinkan saya bahwa Globalisasi Ekonomi itu harus saya terima sebagai keniscayaan?
Coba anda yakinkan saya bagaimana perlombaan lari antara difabel melawan atlet terlatih bisa memberikan keuntungan maksimal bagi sang difabel??? karena lomba belum dimulai pun itu sudah sebuah ketidakadilan!
Berkaitan dengan propaganda SBY bahwa telah terbebas dari IMF ya memang betul utang kita telah lunas kepada IMF tapi bayarnya dengan cara utang yang lebih besar dari ADB dan Bank Dunia!
Anda mencap kami sebagai 'kiri', saya malah tambah ingat doktrinasi jaman Orba dulu yang bilang
"Jika anda memberikan nasi kepada orang miskin maka anda adalah seorang dermawan, tetapi jika anda memberi tahu (menyadarkan) mengapa dia miskin, maka anda adalah seorang komunis"
Untungnya saya masih muda jadi doktrin Suharto tersebut tidak begitu kuat mencangko dikepala saya..dan terserah anda menyebut kami apa....kami akan tetap ada untuk menunjukkan bahwa sistem dominan hari ini bukan sebuah keniscayaan!
Another World is Possible!!!
Salam Damai,
Agung Wardana
From: Cokorda Raka Angga Jananuraga <rakabali78@yahoo.com>
To: bali-bali@yahoogroups.com
Sent: Monday, May 4, 2009 11:50:21 PM
Subject: [bali-bali] Re: ADB dan kemiskinan struktural di Asia
Saya bener-bener gak ngerti deh baca "perlawanan" kelompok-kelompok "pembela rakyat kecil" (kiri?) macam ini.
Lantas kalau gak ada / minim investasi, orang mau kerja apa? Gimana kita punya industri-industri besar? Gw sih selalu ngacu negara2 macam cina, dimana semua numplek perusahaan2 multinasional macam google, microsoft, intel, amd, etc, etc. Itu semua kan investasi, kapital, dan mereka (cina) diuntungkan. Gw sih mikirnya itu memicu orang dalam negeri cina sendiri, their "better brains" punya channel untuk menyalurkan bakat dan skill mereka.
Bukannya gw bela IMF. Gara2 IMF, dari yang saya lihat2 di youtube kesannya jews cash-cow, saya juga males. Untung Indonesia (sepertti dalam kampanye SBY) kan dah bebas utang dari IMF. Bener gak?
Tapi ya, gimana dong, masak mau anti investasi? Anti globalisasi? Hari gini? Coba deh ganti tune, kampanye upaya-upaya untuk mengambil keuntungan maksimal dari globalisasi.
-Raka-
--- In bali-bali@yahoogrou ps.com, Ikranagara <ikra_twin@. ..> wrote:
>
> Siaran Pers, Denpasar -Â 02 Mei 2009
>
>
> Menggugat Jepang, Pemilik Saham & Pengambil Keuntungan Terbesar ADB
>
>
> ADB mengklaim selama ini telah memberikan bantuan untuk menyelamatkan orang yang paling miskin di Asia. Klaim tersebut sesungguhnya bertolak belakang dengan kenyataan bahwa operasi proyek dan kebijakan utang ADB telah menyebabkan multi krisis dan meningkatkan jumlah orang miskin di Asia.Â
>
>
> Jepang, negara terbesar kedua pemilik saham ADB memiliki kuota suara sebesar 12,75%Â dari total anggota ADB, dan 19,6%Â total anggota di regional Asia Pasifik. Keputusan ADB sangat dipengaruhi suara Jepang, termasuk keputusan-keputusan yang menguntungkan negaranya, korporasi dan konsultan mereka. Lebih 40 tahun mereka mendapat keuntungan dari proyek-proyek yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan melanggar HAM. Khususnya di sektor infrastruktur, energi dan sumber daya alam.Â
>
>
> Jepang akan paling diuntungkan dari pertemuan Gubernur ADB ke-42 di Bali saat ini. ADB tengah mengajukan proposal mitigasi perubahan iklim dengan mengajukan penawaran membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Padahal, PLTN sangat berbahaya bagi lingkungan, sosial, ekonomi dan akan membuat Indonesia kembali bergantung pada korporasi dan negara-negara pemilik teknologi PLTN, terutama dari Jepang. Sejak lama, PLTN ditentang masyarakat Indonesia, juga dunia internasional karena resiko lingkungan dan kemanusiaan yang ditimbulkan. PLTN juga mahal, karena biaya keseluruhan bahan uranium, pembangunan pembangkit dan penutupan (decommisoning) . Apalagi, terbukti PLTN tak lepas dari berbagai kecelakaan fatal, sebagaimana yang pernah terjadi di Jepang.
>
>
> ADB juga menawarkan teknologi carbon capture and storage (CCS), yang direncanakan diterapkan di Indonesia pada 2020. Teknologi ini menangkap emisi gas rumah kaca dari pembangkit listrik seperti batu bara dan mengirimnya ke tempat penyimpanan limbah karbon. CCS akan berdampak buruk bagi lingkungan karena membutuhkan air 90% lebih banyak dibanding pembangkit tradisionil. Artinya, ADB tak bisa diharapkan menjawab dampak perubahan iklim. CCS hanya alasan ADB meningkatkan permintaan batubara dan abaikan dampak negatif pengerukannya terhadap lingkungan dan lahirnya pelanggaran HAM di sekitar daerah tambang. CCS tak bisa menyimpan sampah karbon selamanya, sehingga beresiko bagi generasi selanjutnya.Â
>
>
> Padahal, dampak perubahan iklim nyata serius, dan telah memakan korban. Pertemuan 2500 ahli dari 80 negara dalam dalam forum HYPERLINK "http://climatecongr ess.ku.dk/" \n _blankInterrnationa l Scientific Congress on Climate Change di Conpenhagen, bulan lalu, menyatakan dunia berada pada jalur skenario terburuk, bahkan lebih parah dari skenario laporan Intergovernmental Panel on Climate Change Fourth Assessment Report, tahun 2007. ADB dan usulan CCS nya, malah beresiko menambah emis gas rumah kaca dan memperburuk perubahan iklim.
>
>
> Wakil-wakil masyarakat dari tujuh negara di Asia yang berdiskusi dalam Asian People’s Movement Against ADB Summit, mengecam solusi-solusi yang ditawarkan ADB AGM, 2 – 5 Mei 2009 di Bali. Mereka dengan keras menyatakan bahwa pertemuan ADB tak akan menjawab krisis yang terjadi saat ini. Mereka justru menunjukkan fakta-fakta ADB lah lembaga keuangan tingkat regional penyebab krisis pangan, krisis iklim, krisis energi, dan krisis keuangan.Â
>
>
> Operasi proyek-proyek dan kebijakan utang ADB di Srilanka, India, Pakistan, Philipina, Thailand, Kamboja, Timor Leste dan Indonesia, menunjukkan terjadinya kerusakan sosial dan ekonomi yang serius bagi rakyat, khususnya kaum perempuan. Dan telah melanggar prinsip-prinsip kedaulatan ekonomi dan politik di Negara-negara Asia.Â
>
>
> Krisis keuangan global tidak dapat menjadi alasan memperkuat peran-peran ADB di tingkat regional, salah satunya dengan memberi tambahan modal bagi ADB, dari USD 55 miliar menjadi USD165 miliar. Harusnya, krisis kapitalisme global menjadi momentum melakukan koreksi total terhadap peran-peran lembaga keuangan seperti ADB.
>
>
> Kami menuntut Jepang, sebagai negara pemilik saham terbesar kedua dalam ADB, agar segera menarik diri dari pembiayaan ADB. Saat ini yang dibutuhkan adalah skema alternatif pembiayaan pembangunan di Asia yang dapat membantu rakyat lepas dari kemiskinan, dan bencana ekologis berkepanjangan. Kami juga menuntut Jepang untuk bertanggung jawab atas proyek-proyek utang yang disalurkan, yang telah menyebabkan kurban sosial dan ekonomi serta menimbulkan kerusakan ekologi yang sangat parah di berbagai negara di Asia.Â
>
>
>
>
> Media Center & Krisis Center Asian People’s Movement Against ADBÂ
> Jl. Kapt. Tjok Agung Tresna No. 49 Renon – Denpasar
> Telp: 0361 256919, CP: Agung Wardana (Koordinator Media Center): 0819 166 06036
>
>
> Kontak Person:
> Dani Setiawan (Koalisi Anti Utang): 0812 967 17 44
> Teguh Surya (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia): 0813 7189 4452
> Muhammad Ikhwan (Serikat Petani Indonesia): 0819 320 99596
> Risma Umar (Solidaritas Perempuan): 0813 1934 561
> Riza Damanik (Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan): 0818 773 515
> Siti Maemunah (Jaringan Advokasi Tambang): 0811 920 462
> Ni Nyoman Sri Widhianti, SH (Koordinator Crisis Center): 0818 5512 97
>
>
>
>
>
>
> Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Serikat Petani Indonesia, Koalisi Anti Utang, Solidaritas Perempuan, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan, Jaringan Advokasi Tambang, Aliansi Petani Indonesia, Wahana Lingkungan Hidup Bali, Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Bali, Lembaga Informasi dan Advokasi Sosial Bali, Friends of the Earth International (FoEI), the Southeast Asia Fish for Justice Network (SEAFISH), La Via Campesina, LRAN, Jubilee South, Gerakan Rakyat Lawan Neokolonialisme – Imperialisme, (Gerak Lawan), NGO Forum on ADB, Asian Pacific Network on Food Sovereignty (APNFS).
>
__._,_.___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar