Rabu, 18 Maret 2009

Re: Hal: [bali-bali] Kita tidak se-primitif itu lagi

Kalau makai analogi cermin ini, masalahanya di indonesia kan, sebagian islamist ya memaksakan cermin mereka itu (syariah) ke segenap warga indonesia. Itu yang bikin saya antipati ama islam (politik). Apalagi dengan image arab (identik dengan islam) yang: brangasan, blood-thirsty, gak berbudaya (cari di youtube: saudi dance -- ha ha ha ha), munafik, child molester, womanizer, etc, etc.

Ngomong-ngomong soal islam politik, dengan representasinya: PKS, ada bacaan ini: http://www.heritage.org/research/AsiaandthePacific/wm1902.cfm - Playing with Fire.

Setuju banget gw, political opportunism yang (bisa) membuat indonesia jatuh ke tangan arab (islamists).

"Conclusion

Indonesia is not on the cusp of a sudden turn to extremism. Its wellspring of tolerance is deep, and there are a great many good people prepared to fight for its preservation. The real danger is that complacency and political opportunism will facilitate a slower-burning Islamist threat that is on them before they fully recognize its implications. Political posturing and maneuvering today could well end in disaster for Indonesia tomorrow."

-Raka-

--- In bali-bali@yahoogroups.com, "Laraslia" <laraslia@...> wrote:
>
>
> Biar gak sepi karena semeton bali sedang sibuk bikin penjor, saya ikuti saran pak surya, memanfaatkan hak menyampaikan pendapat biarpun gak ditanggapi.
>
> Sebagai makhluk yang berpikir dan bersosial, dimanapun mereka berada pasti ada aturan yang dibuat, entah apalah istilahnya disebut. Dalam islam disebut syariah, di jawa disebut tatakrama/unggahungguh, di barat sana mungkin disebut manner (entah wong saya tidak tau bahasa mereka). Bagi orang non muslim syariah mungkin dibilang primitif, bagi orang barat unggah ungguh mungkin dibilang out of date, bagi orang jawa prilaku orang barat mungkin dibilang gak ilok/gak jowo (karena tidak sesuai etika masing2). Ya sah sah aja mereka mau bilang apa tentang satu sama lain. Yang salah adalah kita yang meminta mereka untuk menilai kita. Kok sepertinya gak pede sama cermin sendiri, sampai meminjam cermin orang barat untuk menilai kita (ya tentu saja nyaplir).
> Pendeknya, kalau biasanya makan nasi, trus biar dibilang modern saya harus ganti roti, saya tidak peduli mau dibilang ndeso ato primitif sekalipun. Yang penting kebahagian dan kepuasan saya tidak berkurang.
Satu hal yang saya syukuri, bahwa aturan di islam dan di jawa hampir bersesuaian. Satu hal dimana islam berbeda dan lebih menyempurnakan aturan di jawa, dihapuskannya KASTA.
>
> ---- Pesan asli ----
> Dari: <leonardo_rimba@...>
> Terkirim: 16 Mar 2009 21:11 +00:00
> Ke: <spiritual-indonesia@yahoogroups.com>
> Perihal: [bali-bali] Kita tidak se-primitif itu lagi
>
>
>
> T = Bung Leo, seorang filsuf Perancis menyatakan saya berpikir
> maka saya ada (memang berbeda, sebab Rene Descartes mengatakan saya
> berpikir, dan Bung Leo mengatakan saya sadar), ini yang Bung Leo pilih
> dalam konteks penciptaan untuk menghindari diskursus mengenai realitas
> bendawi seperti raga, batu serta pepohonan.
>
>
>
> J = Filsuf Perancis dari abad ke-17, Rene Descartes (1596-1650), juga
> dianggap sebagai bapak filsafat modern. Descartes seorang filsuf yg
> juga seorang ilmuwan fisika dan matematikawan. Ucapannya yg terkenal
> "Cogito Ergo Sum", artinya: aku berpikir maka aku ada.
>
>
>
> Yg jarang diketahui oleh orang banyak adalah penemuan Descartes tentang
> apa yg disebutnya sebagai God Spot. God Spot adalah kelenjar pineal yg
> letaknya persis di tengah batok kepala kita, dan saya
> mengidentifikasinya sebagai Cakra Mata Ketiga.
>
>
>
> So, Descartes adalah seorang filsuf yg bermeditasi. Meditasinya dimana
> kalau bukan di God Spot itu, di kelenjar pineal, which is none other
> than Cakra Mata Ketiga seperti dikenal oleh kebudayaan India. Terkadang
> God Spot itu disebut juga sebagai Mata Siwa.
>
>
>
> Tetapi menyadari bahwa kesadaran kita itu ada karena memang ada tidak
> berarti lalu kita menghindari diskursus tentang benda-benda fisik.
> Descartes itu seorang ilmuwan fisika, penemuannya masih dipakai sampai
> saat ini, ingat istilah "cartesian"?
>
>
>
> T = Bagi saya kemudian ini adalah salah satu contoh dari domain pribadi
> yang anda singgung beberapa waktu lalu. Pada satu sisi manusia adalah
> makhluk social yang tentunya juga kemudian sebagai implikasinya
> memiliki kesadaran kolektif dan kebenaran kolektif.
>
>
>
> J = Mungkin maksud anda adalah keterkaitan antara domain pribadi dan
> domain publik. Di domain pribadi kita bisa kultivasi God Spot itu, yg
> tidak lain dan tidak bukan cuma merasakan bahwa kita ada karena kita
> ada.
>
>
>
> Lalu kita bisa memilih filsafat pribadi apa yg akan kita adopsi dan
> jadikan panutan kita sendiri. Kita buat sendiri dan kita pakai sendiri.
> Lalu kita akan hubungkan domain pribadi itu dengan domain publik,
> kehidupan kemasyarakatan.
>
>
> -----
 Dikirim menggunakan telepon selular Sony Ericsson
>


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:bali-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:bali-bali-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
bali-bali-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: