Jumat, 06 Maret 2009

[bali-bali] Re: Mencari Tempat Diskusi di Denpasar

Tapi pak... kan lebih keren kalau ada diskusi sambil duduk-duduk di starbucks.... Ya, kayak pseudo-intellectuals...

--- In bali-bali@yahoogroups.com, "IGusti Agung" <agungpindha@...> wrote:
>
>
> mahap ya.. ikut nyeletuk ,
> sangat jarang orang Bali discusi art , setahu saya kami di Bali is
> the living art itself.
> Saya teringat ketika pembuatan film 'leyak' plus minus 30 th yang
> lalu di Art centre , kebetulan ada salah satu actrees yang nyeletuk,
> koq orang Bali nggak ada yang nyambut ada actor datang dari Jkt sih?
> hehehe... as far as i am concern ,Balinese artist far out class
> actor and actrees Indonesia , seperti Pak Kakul or Cokot dll.
>
> Why should we discuss arts when we already living it in everyday life
> as Balinese.
> Semasih muda dulu , waktu masih nari topeng , biasanya sehabis
> sembahyang , sudah nyaluk penganggo , kami berbinacang bincang
> sebentar , untuk mensepakati lakon , than off we go , no script , ne
> reherseal , just do it...( Nike).
>
> Mungkin disana bedanya , art for the sake of art , than there's art
> for commercial and art as a part of ritual.
> For Balinese , last night you are in centre stage , entertaining ,
> tomorrow morning , ambil cangkul bertani lagi..
> Personaly for me , that's the real artist.
> Live it , breath it , drink it , eat it , make it...
>
> Bali art performance , you only have chance to get it right , one
> take for one scene.
> In movie production you can have 10 or 15 take , maybe more..
> plus Mr. Editor will fix it , not to mention SFX computerise.
> I know this for a fact , coz i have worked in several movie
> production here in the Gold Coast.
> So, what is there to discuss about?
> Every person in Bali is an artist , paling tidak bisa buat kuwangen,
> porosan atau tipat bantal , ( kalau saya hanya bisa buat tipat
> taluh).
> Jadi ,jangan merendahkan Bali dalam soal seni.
> Kenapa Bali harus mencontoh seni Jkt? seharusnya sebaliknya donk?
> Kalau mau contoh berfilmria , langsung aja contoh Hollywood ( kalau
> punya 100 M US nganggur).
> Enough said .
>
> shanti is geleng geleng kepala.
>
>
>
> --- In bali-bali@yahoogroups.com, Anton Muhajir <antonemus@>
> wrote:
> >
> > berbagi informasi ini. mungkin ada yg mau menambahkan..
> >
> > tengs
> >
> > --
> > http://www.balebengong.net/opini/2009/03/03/mencari-tempat-diskusi-
> di-denpasar.html
> >
> > Mencari Tempat Diskusi di Denpasar
> >
> > Pekan lalu, Ana, teman yang baru tinggal di Bali mengeluh tentang
> > ketertinggalannya soal wacana film. Teman itu lahir dan besar di
> Jakarta.
> > Dia pernah bekerja di Timor Leste sebelum bekerja di Bali sejak
> sekitar
> > Oktober lalu. Obrolan kami terjadi ketika kami diskusi kecil soal
> Slumdog
> > Millionare, film pemenang delapan kategori di Oscar tahun ini.
> >
> > Ketertinggalan wacana itu, kata Ana, karena kurangnya tempat
> diskusi di
> > Denpasar. Dia sih membandingkan kondisi Bali dengan Jakarta. Kalau
> di
> > Jakarta, ceritanya, mau diskusi soal seni misalnya bisa di Taman
> Ismail
> > Marzuki (TIM). Atau, contoh lain, soal peluncuran buku bisa di
> Aksara,
> > Kemang. Dan seterusnya..
> >
> > Pendapat Ana ada benarnya. Salah satu yang membuat saya iri dengan
> kota
> > seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta memang banyaknya tempat
> diskusi di
> > kota-kota itu. Di tiap kota itu setahu saya banyak tempat untuk
> diskusi apa
> > saja. Tema diskusinya juga bisa apa saja mulai dari yang paling
> kiri sampai
> > paling kanan. Dari yang paling metal sampai paling alim.
> >
> > Nah, di Bali memang kurang tempat diskusi. Saya pernah berpikiran
> bahwa itu
> > semua karena tidak adanya orang yang membuat. Kurang lebih semua
> hanya mau
> > terima ada diskusi tapi tidak ada yang memulai. Maka, saya pernah
> > mencobanya. Membuat sebuah tempat ngobro di daerah Renon. Saya dan
> tiga
> > teman lain pernah urunan menyewa rumah Rp 11 juta per tahun di
> kawasan
> > tengah kota ini agar ada tempat untuk kumpul. Kami membuat
> beberapa agenda:
> > diskusi, nonton film, juga warung kecil di sana.
> >
> > Tapi memang tidak bertahan lama. Setahun berdiri, tempat itu kami
> tutup.
> > Mahalnya biaya sewa dan kurangnya antusias orang untuk datang –
> juga mungkin
> > karena kami kurang bisa promosi- membuat kami akhirnya menyerah
> untuk
> > sementara. Menciptakan komunitas itu lebih banyak kami lakukan
> lewat dunia
> > maya.
> >
> > Pengalaman gagal membuat tempat diskusi itu sekaligus memberikan
> pelajaran:
> > memang tidak mudah menciptakan kultur diskusi di Bali.
> >
> > Meski demikian, bukan berarti tidak ada tempat diskusi di Bali.
> Ada kok.
> > Tapi memang tak sebanyak di Jakarta, Jogja, atau Bandung. Inilah
> sebagian
> > tempat itu.
> >
> > *Taman 65* <http://taman65.wordpress.com/>
> > Alamatnya di Jl WR Supratman, Kesiman, denpasar Timur. Tempat
> diskusi ini
> > berupa kompleks rumah keluarga besar Bali. Di bagian tengah
> beberapa rumah
> > itu ada halaman luas, sekitar 10 x 8 meter persegi. Lapangan
> rumput ini yang
> > selalu jadi tempat diskusi. Pembicara dan peserta selalu lesehan,
> duduk di
> > tikar atau malah di atas rumput.
> >
> > Diskusi terakhir yang saya ikuti adalah Jumat ( 27/2) lalu.
> Diskusi dari
> > pukul 8 malam ini membahas soal Politik Jajak Pendapat dengan
> narasumber
> > Bodrek Arsana, yang sering melakukan jajak pendapat dan quick
> count dengan
> > Lembaga Survey Indonesia (LSI).
> >
> > Diskusi di Taman 65 itu dilakukan lesehan. Sangat santai meski
> temanya
> > termasuk berat bagi banyak orang. Mungkin karena latar belakang
> keluarga
> > besar di sini memang pemikir. Salah satunya adalah Degung
> Santikarma,
> > Antropolog Indonesia yang sekarang mengajar di salah satu kampus
> di Amerika
> > Serikat.
> >
> > Tema diskusi di Taman 65 sangat beragam meski sebagian besar soal
> sosial
> > politik budaya. Tapi pernah juga diskusi soal kesehatan reproduksi
> atau HIV
> > dan AIDS, nonton film bersama, juga konser musik mini.
> Pembicaranya juga
> > beragam. Marie Alkatiri, mantan perdana menteri Timor Leste,
> pernah jadi
> > pembicara di sini juga. Pernah juga ada orang dengan HIV/AIDS
> (ODHA). Juga
> > mantan tahanan politik di Pulau Buru.
> >
> > Oh ya nama Taman 65 memang diambil dari peristiwa kekerasan pada
> tahun 1965.
> > Beberapa anggota keluarga besar ini adalah korban kekerasan pada
> saat itu
> > karena dianggap berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
> Nama
> > Taman 65, kata Gung Alit, salah satu tetua di sini dalam satu kali
> obrolan
> > santai, diambil untuk mengingat bahwa kekerasan itu memang ada dan
> harus
> > diingat sebagai pelajaran agar tidak terjadi lagi. Rekonsiliasi,
> kata Gung
> > Alit, tidaklah berarti melupakan apa yang pernah terjadi. Kurang
> lebih
> > begitulah..
> >
> > *Museum Sidik Jari*
> > Tempat diskusi ini ada di Jl Hayam Wuruk, Tanjung Bungkak,
> Denpasar Timur.
> > Sebenarnya tempat ini adalah museum lukisan-lukisan yang dibuat
> menggunakan
> > sidik jari. Selain ruang pamer, ada pula wantilan. Nah, diskusi
> digelar di
> > wantilan belakang museum ini. Peserta lesehan di lantai, begitu
> pula
> > pembicaranya.
> >
> > Tema diskusi umumnya soal budaya, khususnya sastra. Bisa jadi
> karena salah
> > satu penggagas diskusi ini adalah komunitas Sahaja, komunitas anak-
> anak muda
> > –sebagian masih sekolah di SMU dan mahasiswa semester baru- yang
> bergiat di
> > bidang sastra dan budaya.
> >
> > Warih Wisatsana, penyair di Bali, salah satu orang yang intens
> mengadakan
> > diskusi bersama anak-anak didiknya di Komunitas Sahaja ini. Dia
> sering jadi
> > moderator pula dalam diskusi-diskusi di sini.
> >
> > Seperti penggagasanya, peserta diskusi juga rata-rata pelajar dan
> mahasiswa.
> > Diskusi terakhir yang saya ikut di sini adalah soal buku karya
> Christine
> > Jordis, penulis dari Perancis. Diskusi pada pertengahan Desember
> lalu itu
> > dihadiri penulisnya langsung dengan moderator Darma Putra, dosen
> Fakultas
> > Sastra Universitas Udayana Bali. Karena Pak Darma, begitu saya
> biasa
> > menyebut dia, ini pula saya ikut diskusi itu.
> >
> > Penyelenggara diskusi di sini macam-macam. Selain Komunitas
> Sahaja, kadang
> > juga Yayasan Lembaga Indonesia Perancis atau Alliance Française
> Denpasar
> > yang mengadakan diskusi ini. Toko buku Toga Mas, yang berada di
> bagian depan
> > dari museum ini juga sering menjadi penyelenggara diskusi tersebut.
> >
> > Selain tempat diskusi di Taman 65 dan Museum Sidik Jari, ada juga
> beberapa
> > komunitas diskusi di Denpasar. Dua di antaranya adalah Soup Chat
> dan aliansi
> > lembaga swadaya masyarakat (Alase) Bali.
> >
> > *Soup Chat*
> > Komunitas ini salah satu dari banyak komunitas di Bali yang rajin
> menggelar
> > diskusi. Dan ajeg. Maksudnya bisa berjalan secara konsisten sejak
> pertama
> > kali diadakan pada November 2006. Tiap bulan komunitas ini
> menggelar diskusi
> > dengan tempat yang berpindah-pindah.
> >
> > Menurut website mereka <http://www.soupchat.org/about.htm>,
> komunitas ini
> > berangkat dari semangat berbagi dan keinginan untuk mengenal serta
> > menghargai berbagai macam manusia dengan latar belakang cinta
> profesi dan
> > hidup yang berbeda. "Sungguh pada masa itu kami rindu dengan
> suasana
> > komunitas. Suatu suasana di mana sekumpulan manusia saling
> mengenal dan
> > peduli satu sama lain. Komunitas yang heterogen dan saling
> berinteraksi pada
> > suatu lingkungan," tulis mereka di websitenya.
> >
> > Seperti namanya, Soup Chat memang berdiskusi sambil nyeruput
> semangkuk sup.
> > Untuk bisa menyantap semangkuk sup nikmat ini, peserta cukup
> membayar Rp 10
> > ribu. Namun sup hanya jadi menu pembuka. Menu utama mereka adalah
> tema
> > diskusi itu sendiri. Ada kisah jalan-jalan, karya arsitektur,
> pengamatan
> > kota tua, dan lain-lain. Ini sebagian yang sudah penah
> didiskusikan: sulap,
> > logika ilusi, kefir, kehidupan koral Indonesia, feng shui,
> Tejakula, demo
> > sushi, belajar origami, ilustrasi komik, soup market, demo
> menyambung
> > adenium, nonton film bersama, dan dongeng untuk anak.
> >
> > Intinya tema diskusi sangat beragam. Saya hanya pernah satu kali
> ikut
> > diskusi ini. Itu pun sebagai cheerleader untuk Arief Budiman alias
> > Kang Ayip<http://www.ayipbali.com/>,
> > pencetus Bali Creative
> Community<http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/>,
> > yang menyajikan tema tentang potensi industri kreatif Bali.
> Diskusi pada
> > Agustus tahun lalu ini juga menghadirkan tema paragliding. Metode
> diskusi
> > sangat santai. Ada yang bisa lesehan, berdiri, nungging –Hehe-, dan
> > lain-lain. Pokoknya suka-suka peserta.
> >
> > Oh ya, diskusi ini terbuka untuk umum. Siapa saja boleh ikut.
> Selain punya
> > website, mereka juga punya mailing list, yang sayangnya kurang
> aktif. Kalau
> > mau ikut agenda diskusi, silakan gabung di sana.
> >
> > *Alase Bali*
> > Aliansi LSM se-Bali (Alase Bali) memang baru terbentuk sekitar
> tiga bulan
> > lalu. Namun cikal bakalnya sudah lama. LSM sering kali mengadakan
> diskusi
> > bersama di Bali. Atau setidaknya diskusi oleh satu LSM tapi
> dihadiri LSM
> > lain. LSM di Bali yang ikut pun tak jauh dari yang itu-itu juga:
> Walhi Bali,
> > Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) Bali, Lembaga Bantuan
> Hukum (LBH)
> > Bali, Kalimajari, Yayasan Wisnu, Mitra Bali, dan seterusnya.
> >
> > Sebenarnya aliansi LSM ini pernah punya satu tempat nongkrong
> sekalian untuk
> > diskusi. Tempatnya di –dulu disebut- JIKA, singkatan dari Jaringan
> Informasi
> > Kerja Alternatif dengan Ngurah Karyadi sebagai tukang kompornya.
> Lokasinya
> > di Jl Tjok Agung Tresna, Renon. Kantor ini pada awalnya sekalian
> jadi
> > semacam sekretariat bersama beberapa LSM seperti Walhi, PBHI,
> Linmas, dan
> > Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar. Tapi kini tempat itu
> sudah
> > jarang dipakai diskusi karena ruangan tempat diskusi sudah jadi
> kantor
> > pengacara.
> >
> > Tema diskusi tidak jauh dari tema lingkungan dan politik. Sangat
> serius.
> > Misalnya tentang kerusakan lingkungan, pelanggaran hak asasi
> manusia (HAM),
> > dan seterusnya. Salah satu tema diskusi yang saya ikut terakhir
> kali, Jumat
> > (20/2) lalu, adalah soal dinamika politik dalam perspektif HAM di
> Hotel Inna
> > Jalan Veteran Denpasar. Tema diskusi ini menarik tapi sayang
> sedikit yang
> > hadir. Dari sekitar 50 peserta yang hadir ya sebagian besar
> kalangan aktivis
> > LSM yang itu-itu saja. Ibaratnya 4L, lu lagi lu lagi..
> >
> > Selain tempat dan komunitas diskusi di atas, ada juga beberapa
> diskusi yang
> > digelar secara insidentil. Tempatnya tidak pasti. Begitu juga
> temanya. Bali
> > Blogger Community <http://baliblogger.org/> (BBC), di mana saya
> jadi salah
> > satu anggotanya, beberapa kali bikin diskusi juga. Bahkan kini kami
> > berencana membuat diskusi rutin tiap bulan sekali. Silakan tunggu
> saja
> > undangan selanjutnya. [#]
> >
> >
> > --
> > Anton Muhajir
> > www.rumahtulisan.com - Personal Blog
> > www.balebengong.net - Balibased Citizen Journalism
> >
>


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:bali-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:bali-bali-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
bali-bali-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: