Selasa, 10 Maret 2009

[bali-bali] Fwd: [jejaringantariman-indonesia] sekolah teori multikulturalisme (angkatan III)



---------- Forwarded message ----------
From: Impulse <office@impulse.or.id>
Date: 2009/3/11
Subject: [jejaringantariman-indonesia] sekolah teori multikulturalisme (angkatan III)
To: jejaringantariman-indonesia@yahoogroups.com, mediacare <mediacare@cbn.net.id>, multikultur@yahoogroups.com


Sekolah Teori Multikulturalisme (angkatan III)

-menjelajah epistemologi multikulturalisme-

Abstrak

Serpih-serpih kultur yang terserak akan tersusun menjadi mozaik multikulturalisme yang khas, yang membentuk harmoni, warna-warni, yang menjaga eksistensi atas privatnya 'home', namun tidak gagap saat bertindak di zona publik. Pertemuan antar kultur, sistem ide, keyakinan, hingga kebiasaan ini tentu memerlukan manajerial diri maupun kelompok. Otokritik atas kemapanan sebuah kultur harus terus berjalan sembari berelasi dengan kultur lain yang juga melakukan otokritik atas kulturnya. Namun tidak hanya 'hidup bersama' dan 'hidup berdampingan,' kita juga perlu memahami epistemologi multikulturalisme secara mendasar agar terhubung tataran konsep dan dunia praksis.

Sekolah teori multikulturalisme merupakan media yang mengupas teori multikulturalisme dan kasus-kasus multikultur ketika bersinggungan di berbagai negara, mulai dari multikultur dalam agama-agama hingga budaya populer. Sekolah ini akan membawa kita dalam memahami multikulturalisme yang tidak akan (pernah) tuntas.

Tujuan

  1.       Mencari dan mengelaborasi akar teori multikulturalisme dan mengaitkannya dengan                              konteks  dunia

2.     Mendiskusikan problem multikulturalitas dan mengaitkannya dalam strategi penanganannya.

Hasil

Dialog konstruktif dan penyadaran atas multikulturalisme

Materi sekolah

  • Pengantar teori multikulturalisme dan multikultur ala Indonesia
  • Belajar dari multikulturalisme di Amerika
  • Mencari epistemologi multikulturalisme
  • Masyarakat dan kebijakan multikultur
  • Multikulturalisme dalam agama-agama
  • Multikulturalisme tautan kearifan lokal dan budaya populer

Narasumber

  • Djoko Murdianto, MA (American Studies UGM)
  • Dr. St. Sunardi (Ilmu Religi Budaya Universitas Sanata Dharma)
  • Dr. Hari Susanto, SJ (Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma)
  • Gutomo Priyatmono, M.Hum (IMPULSE)
  • Prof. Dr. Sudiarja, SJ (Fakultas teologi Universitas Sanata Dharma)
  • Diah Kusumaningrum, MA (Pusat Studi Perdamaian dan Keamanan UGM)

Kegiatan Pembelajaran :

Pembelajaran dilaksanakan setiap Senin sore, mulai pada 16 Maret 2009, jam 15.00 – 17.00 WIB, bertempat di kantor Impulse.

Metode pembelajaran: ceramah, sharing, diskusi interaktif – partisipatif

Peserta Sekolah

  • Mahasiswa, guru, dosen
  • Wartawan
  • Pimpinan Ormas dan Orsospol, Aktivis politik
  • Aktivis LSM dan komunitas
  • Masyarakat umum yang tertarik mempelajari multikulturalisme

Peserta sekolah dibatasi maksimal 15 peserta, minimal 7 peserta.

Biaya dan Fasilitas

Biaya sekolah keseluruhan Rp. 400.000,00  dengan fasilitas diskusi kelompok intensif dengan pembicara, makalah, sertifikat, ruang sekolah sejuk dan nyaman, perpustakaan, dan  snack.  (diskon 20% untuk 5 pendaftar pertama: Rp 280.000,00)

Informasi sekolah :

Institute for Multiculturalism and Pluralism Studies (IMPULSE)

Jl. Cempaka 9, Deresan, Yogyakarta, 55281

Telp. (0274) 588783 ext. 245 atau Hani  (0274 – 7101997,7808135)

fax: (0274) 563349, office@impulse.or.id




--
'The greatest event of our age is the meeting of cultures, meeting of civilizations, meeting of different points of view, making us understand that we should not adhere to any one kind of single faith, but respect diversity of belief. That is what we should attempt to do. The iron curtain, so to say, which divided one culture from another, has broken down. It is good that we recognize and emphasize the need of man to regard other people, their cultures, their beliefs etc. to be more or less on the same level as our own cultures and our own civilizations. It is not a sign of weakening faith; it is a sign of increasing maturity. If man is unable to look upon other people's cultures with sympathy and if he is not able to co-operate with them, then it only shows immaturity on the part of the human individual. We need co-operation, not conflict. It requires great courage in such difficult days as the present to speak of peace and co-operation. It is more easy to talk of enemies, of conflict and war. We should try to resist that temptation. Our attempt should always be to co-operate, to bring together people, to establish friendship and have some kind of a right world in which we can live together in happiness, harmony and friendship. Let us therefore realize that this increasing maturity should express itself in this capacity to understand what other points of view are'.

-Professor Sarvepalli Radhakrishnan, philosopher, President of India, his speech for the inauguration of the The Indian Institute of Advanced Study on 20 October 1965. http://www.iias.org/


__._,_.___


Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: