Nonton Drama Gong, Helm Amblas ALUR cerita drama gong multimedia berlakon Ki Bhima Rampak, pada Sabtu (14/3) malam lalu di panggung terbuka Ardha Candra Art Center Denpasar memang sekilas terkesan biasa dan lumrah, seperti drama gong selama ini. Namun, menjadi menarik dan memukau penonton adalah karena melibatkan penari dan penabuh sekitar 500 seniman, mulai akademik hingga sebunan/alam (non akademik) baik lawas maupun pendatang baru. Selain itu, juga menggunakan dua barungan gambelan gong kebyar dan baleganjur ditambah alat musik modern, drum sebagai iringan. Ironisnya, suguhan seni kontemporer bernuansa magis spiritual yang disambut antusias penonton itu malahan berbuah petaka terhadap wartawan koran ini, Radar Bali (Jawa Pos Group). Pasalnya, ketika hendak pulang usai menjepret pementasan drama gong yang tercatat Museum Rekor Indonesia (MURI) itu memakai kamera digital dan sekilas juga menikmati suguhan ceritanya sebagai bahan tulisan tak dinyana helm wartawan koran ini malah amblas alias hilang diparkiran pintu masuk selatan, Art Center Denpasar. Yakni: Helm vario warna biru langit. Anehnya lagi, sejumlah polisi yang bertugas disekitar lokasi malahan tak tahu ada helm yang hilang. Selain itu, tukang parkir dadakan, yang seringkali muncul memungut ongkos parkir setiap ada even di kawasan Art Center Denpasar sontak menghilang. "Maaf, kita tidak tahu kalau ada helm yang hilang, karena kita baru saja berada disini dan sebelumnya sempat bertugas di pintu sebelah utara," kilah seorang polisi sembari berujar bahwa tugasnya hanya mengamankan penonton saja bukan barang (sepeda motor, helm, dan mobil,-red). Sungguh memprihatinkan dan juga sangat memalukan sekali. Karena helm amblas nyaris di depan pengawasan polisi. Kembali ke pementasan hampir selama empat jam lebih, para seniman drama gong yang dimotori oleh Ngurah Harta, pinisepuh perguruan Sandhi Murti, mengocok perut penonton dengan banyolan dan guyonan atau joke-joke liar dan nakal, tapi sarat pesan dan makna dari pelawak Sangar-Senger, Dadab, Cedil, Botak, Tapak, Luh Belong, dan lainnya. Seperti masalah rebutan kursi calon legislatif, dan juga kenakalan remaja, dan masalah sosial lainnya. Suasana pun terkesan cukup unik dan menggelitik, karena disela-sela pementasan diselingi dengan pemutaran pesan sponsor lewat dua layar berukuran jumbo sekitar 5x7 meter, layaknya sedang nonton sinetron di layar lebar. Cerita drama gong multimedia ini bernuansa calonarang itu dalam pementasannya dibagi dalam tiga babak. Diangkat dari kisah nyata pertarungan antara Raja Puri Kesiman dengan Ratu Leak, Rangda Jero Agung Sanur, yang menguraikan tentang cikal bakal lahirnya Pura Tanah Kilap, yang merupakan tempat Rangda Jero Agung Sanur Moksa, yang oleh masyarakat umat Hindu Bali, sering dikenal dengan sebutan Ratu Niang Lingsir. Menurut Wayan Suanda alias Cedil, pelawak Bali, yang juga laris manis sebagai presenter ini mengatakan proses latihan sudah berlangsung sekitar sepekan untuk masing-masing peran, dan dua kali latihan gabungan termasuk gladi bersih. Sisanya, suasananya dibangun sesuai dengan improvisasi pemain dan kondisi penonton. "Kita ini kan sudah biasa tampil, jadi tak terlalu ribet soal latihan," tegasnya sambil tertawa. |
__._,_.___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar