Salam Indonesia! Teman2 semua, Saya belajar mengapresiasi semua agama. Bagi saya semua agama itu sama sekaligus tidak sama. Sebagai jalan untuk mencapai tujuan semua agama itu mempunyai tujuan yang sama yaitu sama-sama menuju Keberadaan(Sang Pencipta), apapun sebutan yang diberikan kepadaNYA. Perbedaannya adalah masing-masing jalan memiliki kondisi yang berbeda-beda. Karena perbedaan di masing2 jalan itu maka pengalaman berjalan di jalan yan berbeda itu pas juga berbeda. Yang jadi masalah adalah ketika ada yang mengklaim bahwa jalan dan pengalamannya yang paling paling valid dan memaksakannya kepada orang lain. Kritik terhadap agama manapun sah-sah saja selama kritik dan saran itu dilakukan secara berbudaya, bermartabat, sesuai dengan budaya kita, budaya Indonesia, budaya Nusantara. Namun kritik atau saran yang dilakukan tanpa apreasiasi biasanya cenderung negatif, cenderung hanya melihat sisi negatifnya saja. Kritik atau saran jika dilakukan dengan apresiatif maka yang akan kita sampaikan sebagai kritik atau saran adalah pemahaman kita (bukan pemahaman orang lalin) untuk ditanggapi oleh teman-teman semilis dengan semangat yang sama. Dalam milis ini kalau tidak salah saya pernah menyampaikan bahwa pemahaman kita atas agama(apapun) adalah berdasarkan kitab suci atau pelajaran dari pemuka2 agama. Kitab suci maupun pemahaman dari pemuka-pemuka agama tentang agama, tentang Keberadaan sangatlah terbatas. Kitab suci atau pemahaman tidak lebih dari sebuah peta dari sebuah wilayah. Pernahkah kita menemukan peta yang mampu menggambarkan dengan tepat keadaan suatu wilayah? Tidak pernah dan tidak mungkin. Apalagi peta tentang Kebenaran yang di luar jangkauan pikiran manusia. Oleh karena itu adalah sangat berbahaya jika kita menerima mentah-mentah terjemahan dari sebuah kitab suci. Terjemahan tersebut tidak lebih dari gambaran pikiran penerjemah tentang isi kitab suci yang sesungguhnya sudah tidak mampu menggambarkan kebenaran mutlak tersebut. Kembali kepada tujuan milis ini yang disampaikan oleh Bli Sanat, yaitu untuk menumbuhkan kepedualian kita kepada Bali. Yang perlu kita perdulikan itu apaunya dari Bali? Bagi saya kepedulian kita adalah akan keluhuran budaya Bali yang merupakan miniatur dari budaya Nusantara. Dimana letak keluhuran budaya Bali itu? Bagi saya salah keluhuran budaya Bali/Nusantara itu adalah kesiapan untuk menerima yang baik dari manapun datangnya dan membuang yang tidak baik. Bagi saya, keluhuran budaya Bali/Nusantara itu adalah bahwa semua agama yang ada di Nusantara ini adalah tamu dan selama para pengikut semua agama itu hidup sesuai dengan kepribadian Nusantara maka itulah yang kita inginkan. Dan ketika ada kepribadian yang tidak sesuai dengan kepribadian Nusantara itu mau dipaksakan maka sebagai orang Indonesia(Nusantara), kita(apapun agamanya) wajib untuk mengingatkan bahwa kepribadian itu jika dipaksakan akan membawa masalah karena tidak sesuai dengan budaya kita. Tentu kita tidak harus membenci kepribadian itu yang barangkali cocok di tempat lain namun tidak cocok di Nusantara. Dunia mengakui bahwa Bali itu unik karena budayanya. Apakah kita sepakat dengan hal itu? Jika sepakat maka apapun agama kita adalah merupakan kewajiban bagi kita untuk menjaga budaya itu. Siapkah kita(apapun agama kita)? Jika kita jawaban kita YA terhadap pertanyaan2 diatas maka kita harus siap untuk bahu membahu dalam hidup bermasyarkat sesuai dengan budaya Bali tidak lagi memandang orang Bali berdasarkan kotak2 agama atau suku. Jadi berat kita pikul bersama, ringgan kita jinjing bersama. Semua penghuni Bali harus mengikuti aturan-aturan yang ada selama aturan itu sesuai dengan budaya Bali(mohon dibedakan antara adat/kebiasaan dengan budaya). Jika dalam kegiatan sehari-hari dari masing2 kalompok menimbulkan gangguan terhadap kelompok lain maka yang harus menegur adalah orang dari kelompok yang dianggap kegiatannya menimbulkan masalah. Ini penting untuk menghindari agar jangan sampai diprovokasi menjadi masalah SARA. Disnilah diperlukan empati, dan sayangnya empati yang sesungguhnya hanya bisa timbul dari orang2 yang telah mengenal "cinta". Melebar sedikit, saya pernah ke Puri Gede Karangasem dalam rangka mempersiapkan sebuah acara. Penglingsir Puri Gede bercerita bahwa pernah ada suatu kejadian dimana ketika Puri mau mempersiapkan sebuah acara yang biasanya masyarakat sekitarnya akan "ngaturan ayah" untuk mempersiapkan acara tersebut. Namun pada saat itu agak sedikit luar biasa. Yang terjadi adalah ada dari salah satu kampung muslim yang biasanya hampir semuanya ngayah, cuma datang segelintir saja. Setelah diselidiki oleh Penglingsir Puri kenapa hal itu terjadi ternya penyebabnya di kampung tersebut kedatangan ustadz baru yang mengajarkan untuk tidak lagi nyayak ke Puri karena itu adalah feodalisme. Akhirnya Penglingsir Puri menanyakan kepada yang hadir saat itu apa yang mereka ketahui tentang feodalisme, namun tidak ada yg bisa menjawab. Selanjutnya Pengelingsir Puri menanyakan kapada yang hadir, apa kekurangan para ustadz yang ada di Karangasem sehingga harus mendatangkan ustadz baru? Juga tidak ada yang bisa menjawab. Akhirnya Penglisir Puri minta kepada warga yang hadir tersebut bahwa jika mereka tidak bisa menjawab maka pertanyaan terakhir maka ustadz baru itu sebaiknya tidak ada di kampung itu. Akhirnya ustadz tersebut memang meninggalkan Amlapura dalam waktu seminggu. Mengenai keinginan Biang Bulan untuk membangun soundscape seperti yang dicita-ciata itu masih sangat jauh. Tanda-tandanya adalah apa yang kita lihat setiap ada perayaan, entah tahun baru atau galungan. Semakin banyak anak-anak muda memamerkan sound sistemnya di jalanan dengan suara yang memekakan telinga. Musiknyapun adalah musik2 metal. Mereka jelas tidak tahu dengan berjoget mengikuti irama musik metal tersebut dapat merusak saraf mereka. Perubahan akan perilaku anak2 muda ini kanya akan terjadi jika sistem pendidikan kita diperbaiki. Sistem pendidikan kitalah yang saat ini bermasalah besar di tenggah2 kebanggaan akan sekolah2 yang katanya bertaraf international. Kembali kepada kita yang perduli akan keadaan ini mari kita salurkan kepedulian kita kepada institusi2 terkait. Keadaan memang tidak akan bisa terjadi seperti membalik telapak tangan, but at least kita sudah memulai jika telah melakukan hal itu. Diatas segalanya mari kita percayai hukum alam atau hukum aksi reaksi dimana setiap aksi/perbuatan pasti akan menghasilkan reaksi/hasil. Jadi jangan pernah pesimis atas apa yang kita lakukan, sekecil apapun, pasti akan ada hasilnya. Avignamastu, Insya Allah, Haleluya, Namo Budaya... Salam Indonesia! P.Kesuma --- On Mon, 5/1/09, Bulantrisna Djelantik <btrisna@gmail.com> wrote: From: Bulantrisna Djelantik <btrisna@gmail.com> |
New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does! __._,_.___
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar