Kamis, 15 Januari 2009

[bali-bali] Surat balasan untuk Mr Muhammad (Open Letter from Mahathir to Barack Obama

Surat balasan kepada Mr Mahathir Mohammad.

 

Mr Mahathir Mohammad, surat anda telah saya baca, tetapi karena kesibukan mempersiapkan acara pelantikan, baru sekarang saya dapat membalas surat anda. Maafkan saya, harus saya katakan, surat anda terasa arogan, banyak menuntut, dan kurang tahu diri.   

Tapi itu bukan salah anda. Rupanya anda memang tidak diajarkan perilaku  mulatsarire (introspeksi) dan rendah hati (humble). Justru sebaliknya yang diajarkan: bahwa agama anda adalah agama yang terbaik. Bahwa anda  adalah umat yang paling dimuliakan.. Cukup dengan hanya meyakini dan takut terhadap Tuhan anda beserta utusannya, serta apa yang diajarkannya, anda sudah dijamin masuk surga, di mana anda dapat memuaskan nafsu anda, teruma seks, tanpa batas.

Mr Mohammad, mulat sarire adalah jalan penaklukan musuh di dalam diri. Sementara anda diajarkan   jihad penaklukkan musuh di luar diri dan kelompok anda.  

Orang-orang yang di luar keyakinan anda, adalah kafir yang najis (kotor dan menjijikkan) yang harus ditaklukkan untuk dimasukkan secara paksa ke dalam  keyakinan anda, atau membayar zisyah (pajak perlindungan) sebagai zimmi,  atau mati.

Kisah tentang nabi terbang menunggang kuda bersayap, bahwa bumi ini datar seperti hamparan tikar, bintang-bintang adalah peluru untuk melempar jin yang mengintip pembicaraan para penghuni surga, matahari   beristirahat sore hari di kolam lupur di kaki Allah, tidak perlu saya tanggapi secara serius, karena tidak berbahaya, paling-paling hanya menunjukkan kebodohan.  Tetapi ajaran tentang dikotomi manusia antara orang beriman versus orang kafir, sangat berbahaya.  Ia tidak saja menimbulkan arogansi kosong dan ideologi yang berbahaya, yang melahirkan kekerasan dan kehancuran yang nyata. Sejarah baik yang lama maupun yang baru saja terjadi adalah buktinya.

Mr Mohammad, bagaimana caranya menghilangkan arogansi kosong tapi sangat berbaya ini? Ayat-ayat atau  teks-teks tentang kebencian dan kekerasan itu telah bicara dengan bahasa yang sangat jelas, oleh karena itu harus diekspose agar racunya berkurang.

Harus ditunjukkan dengan bahasa terang benderang (hardtalk) fundamental defects, kesalahan mendasar dari doktrin keyakinan anda, serta moral defects dari pendirinya. Ini yang saya lakukan, untuk membantu anda (dan teman-teman sekepercayaan anda)  belajar mulatsarire dan humble. (Kritik terhadap panggilan sembahyang (azan) yang terlalu keras,  juga perlu, tapi tidak penting. Teriakan suara azan ini memang mengganggu ketenangan, terasa sangat bising, terutama bagi wilayah, di mana sebelumnya tidak ada masjid, tetapi ini juga tidak berbahaya. Seperti raungan keras motor anak yang baru puber untuk menarik perhatian). 

Mr Mohammad, saya sadar reaksi anda dkk adalah penolakan, caci maki (lewat japri), atau ngambek. Karena banyak dari teman-teman anda yang tidak tahu, atau kaget ada orang lain yang tahu. Ini adalah reaksi pertama. Bila sudah ada yang merasa telingganya gatal-gatal, ini tanda mereka sudah siap masuk ke reaksi tahap kedua: bertanya. Benarkah apa yang saya katakan? Anda dan  teman-teman dapat mengeceknya pada teks-teks yang sudah saya sampaikan dalam posting saya tentang "Wahabi tidak menciptakan doktrin kekerasan dan kebencian"   Atau anda dapat mengecek langsung ke teks aslinya.

 

Setelah itu anda bisa maju ke pertanyaan-pertanyaan sbb:

  1. Apakah membunuh orang hanya karena ia berkeyakinan lain, memuja Tuhan dengan cara lain, bahkan orang yang tidak beragama, atau tidak percaya pada Tuhan, benar secara moral?     
  2. Apakah mengawini anak perempuan di bawah umur, mengawini menantu, meniduri tawanan, benar secara moral?
  3. Apakah hidup dari barang jarahan, adalah model kehidupan yang baik dan benar secara moral, dan perlu anda tiru?
  4. Apakah sorga di mana anda dapat memuaskan nafsu badani tanpa batas, yang dicapai melalui ibadah yang ketat, benar merupakan tujuan hidup anda yang tertinggi?  Dengan kata lain apakah pemuasan nafsu (khususnya seks) merupakan tujuan hidup anda yang tertinggi? 

 

Mr Mohammad, sebelum  anda menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, silahkan baca hal-hal di bawah ini.  

Pertama, jangan  kaitkan pertanyaan-pertanyaan itu dengan agama tertentu atau orang tertentu. Tapi bisa juga  anda kaitkan  dengan semua orang dan semua agama..  Saya menyusun pertanyaan ini secara normatif, jadi sifatnya netral.  Maksudnya, untuk mengatasi ketakutan anda terancam oleh kemurtadan, jika pertanyaan-pertanyaan itu anda kaitkan dengan agama anda. 

Kedua, ajukan pertanyaan-pertanyaan itu kepada diri anda sendiri.  Jangan diajukan kepada tuhan anda, karena tuhan anda, sejak wafatnya nabi anda, sudah tidak bicara lagi kepada manusia.  Sejak abad ke 6 M dia sudah melakukan tapa mauna, pantang bicara.

Ketiga, ini peringatan. Bila anda menjawab secara jujur pastilah jawaban anda akan sesuai dengan etika atau moral universal kemanusiaan, tetapi kemungkinan pula akan bertentangan dengan iman anda.

Pertimbangkanlah, apakah anda akan menjawab pertanyaan itu atau tidak.

Mulatsarire bukan pekerjaan ringan. Anda harus siap menerima jawaban-jawaban yang mungkin menyakitkan hati anda. Tetapi, seperti pil pahit, itu akan menyembuhkan, membuat anda menjadi manusia kembali. Anda akan menjadi lebih rendah hati, anda akan memandang semua manusia adalah sederajat, teman sejajar di dalam pencarian hidup, kedamaian dan kebahagiaan. Bukan saingan dalam memperebutkan surga (tempat pemuasan nafsu tubuh – tidak semua agama menjanjikan sorga yang menjijikkan semacam itu). Mereka bukan kafir yang kotor yang harus anda hancurkan. Lihatlah negeri mereka.. Mereka jauh lebih maju dari negeri anda, dalam segala bidang,  ekonomi, teknologi, ilmu pengetahuan, dan juga di bidang moral dan spritual. Negeri anda cukup makmur, juga karena etnis China yang anda anggap kafir.    

Mr Mohammad, Selamat belajar mulatsarire.      

 

Tabik

Gusti L. Sobama

Kepala Desa terpilih Singapadu.

Akan dilantik pada tanggal 20 Januari 2009.        

 

 




From: Bali Sunshine <bali_sunshine@indo.net.id>
To: bali-bali@yahoogroups.com
Sent: Friday, January 9, 2009 10:29:36 AM
Subject: [bali-bali] Open Letter from Mahathir to Barack Obama

Dear All,
 
Dalam ajaran Catur Guru ada 4 yang harus dihormati, salah satunya adalah Guru Wisesa. Wisesa bisa diartikan sebagai orang atau dalam hal ini Bangsa yang punya lebih banyak kuasa (power) atau yang lebih pintar. Sesananing orang yang lebih bodoh patut  menghormati yang lebih pintar. Tidak ada logika kalau yang lebih bodoh menasihati orang yang lebih pintar. Nuansa menasehati bahkan menggurui sangat kental dalam surat terbuka ini. Ini sudah termasuk  langgiana - congkak (ungkapan orang Bali seperti untuk anak yang tidak hormat pada orang tua atau yang lebih senior).. Lebih2  bersikap offensive dan menantang seperti yang terjadai di medan laga saat ini. Salah2 siapa yang akan terkubur di tanahnya sendiri. Seperti yang sudah terjadi disebelahnya. 
 
Kalau kita menyadari bahwa kita lebih bodoh daripada mereka, bersikaplah rendah hati, dan belajarlah dari mereka agar kita mendapat sedikit kepintaran dari mereka. Mana mungkin orang yang lebih bodoh bisa mengalahkan orang yang lebih pintar. Agar bisa bebas dari ketergantungan mereka maka bersikaplah lebih humble, belajar dan bekerjalah lebih giat agar mudah2an suatu hari kita bisa menyamai mereka.(saya jadi ingat dengan ungkapan Bp.Wiratha Ketua Kadin Bali : Sudah bodoh/miskin, belagu pula. Ini dilontarkan ketika menyarankan untuk pembatalan VoA yang dasar pertimbangannya asas resiprocal kepada negara2 yang nota bene pemasok wisatawan ke negara kita)
 
Bagi saya yang bodoh ini, ada begitu banyak ukuran yang semestinya sudah kita sadari (mulat sarira) bahwa kita memang (jauh) lebih bodoh dari mereka. Listrik, TV, Mobil, Motor, Telpon, Komputer, dll, dst, dlsb, semua dari mereka. Kita bisa seperti sekarang ini (yang hanya bisa mengandalkan kekayaan alam dari bumi kita) juga berkat bantuan teknologi mereka dalam melakukan explorasi dan ekspoitasi minyak bumi, tambang, dll.
 
Kita sering berkeyakinan bahwa kita memiliki kebijaksanaan yang lebih dari mereka. Padahal ini sangat subyektif. Keyakinan ini tidak lebih dari mungain jit, misalnya melalui ungkapan2 : bangsa yang agamais, berbudaya tinggi, sopan santun, berbudi perkerti luhu, dll. Tapi kenyataannya tidak lebih dari pepesan kosong atau slogan2 yang menina-bobokkan kita sebagai bangsa, di tengah kenyataan korupsi yang meraja-lela, rendahnya disiplin, meraja-lelanya materialisme & konsumerisme, rendahnya kesadaran untuk menjaga kelestarian alam, (seperti deforestasi besar2an yang mengakibatkan bencana banjir menjadi agenda rutin setiap musim hujan, dan kebakaran & polusi asap di musim kemarau sampai ekspor ke negara tetangga), dll.
Dan yang lebih mengerikan adalah keyakinan yang subyektif (Agama) begitu dibela mati2an dengan darah dan nyawa. Sehingga menjadi sia2lah Tuhan menganugrahkan kehidupan bagi mahluk terurama Manusia yang nota bene dikaruniai paling lengkap dengan Bayu, Sabda, dan Idepnya (ini menurut keyakinan subyektif saya). Apa yang diyakini telah memisahkan secara tegas antara kelompok dan bukan kelompoknya, sehingga jauh dari kebijaksanaan yang universalist.
 
Dari segi kadar kebijaksanaan, tidak mungkinlah mereka (Barat) yang lebih rendah dari kita. Suatu contoh : mereka  duluan yang telah pergi ke Bulan dan melihat Bumi ini sebagai lonely planet. Merekalah yang lebih dulu melihat bahwa planet ini adalah satu yang melahirkan kebijaksanaan yang universalist. Dan ini nampak lebih nyata dengan tumbuhnya kesadaran mereka yang lebih tinggi dari pada kita dalam usaha2 menjaga ekosistemnya di planet ini, terutama hutan tropis paru paru dunia. Yang langgiana adalah kita yang justru menuntut mereka untuk mendanai/mendonor penyelamatan hutan tropis. Padahal kitalah yang sewajibnya menjaganya karena kita yang pertama-tama akan kena dampak bencananya seperti yang telah rutin sekarang dirasakan (banjir dan kebakaran rutin). Kalau mau minta bantuan kepada mereka ya mbok yang sopan, dan lebih humble-lah, jangan menuntut (demanding). Karena sekali lagi, kita bangsa yang lebih bodoh dari mereka dan kita sepatutnya menghormati orang yang lebih pintar dari kita. Wong ini untuk kepentingan kita sendiri. Dari sisi ini saya setuju 100% dengan WALHI,  untuk gagasan Moratorium Penebangan Hutan-nya, dan salut untuk Provinsi Aceh yang telah melakukannya lebih dahulu karena hak otonominya (bagaimana dengan daerah lain yang tidak punya hak yang sama ?). Please jangan katakan bahwa deforestasi ini dilakukan lebih banyak oleh daerah dan perambah hutan (yang hanya barefoot), sedangkan hanya pemegang ijin HPH (dari pusat) yang bisa memobilisasi buldoser secara massive melakukan deforestasi. Juga please stop mengkambing- hitamkan oknum bagi orang2 yang sebenarnya mempunyai kuasa dan diback-up.
 
Contoh lain dari kebijaksanaan mereka yang lebih tinggi adalah, mereka lebih bisa menghargai warisan budaya dunia yang bahkan sangat primitif seperti Bali, Toraja, Asmat, dll, tercermin dari gemarnya mereka mengunjungi daerah2 serupa sebagai tujuan wisatanya. Beda jauh dengan kita, yang sebaliknya karena keyakinan akibat pengaruh budaya tertentu justru rajin melakukan penghancuran terhadap situs situs kuno warisan leluhur kita sendiri.
Jangankan budaya manusia, budaya hewan juga mereka hargai seperti terlihat dari tayangan2 Animal Planet, Discovery Channel. Merekalah yang lebih dulu sibuk menyelamatkan habitat Orang Hutang di Borneo, dengan tindakan nyata dan sokongan2 dananya. Yang kita lakukan malah hanya menuntut.  Ya Leluhur2 hamba, Ya Tuhan, dari mana kami memperoleh budaya negatif seperti ini ?
 
Pernah termuat dalam koran, pejabat kita mewajarkan Singapura dan Malaysia menikmati asap kiriman dari terbakarnya hutan kita. Alasan mereka ; Singapura menampung dana2 dalam negeri yang rajin di transfer ke negara itu. Malaysia : juga ikut mengkonversi hutan untuk kebun sawit dan perambah hutan mereka ikut mengapalkan kayu2 hutan tropis ke negara mereka. Logika apa ini yang mereka pakai ? Kalau Malaysia melakukan Investasi kebun disini siapa yang telah memberi izin ? Kalau mereka yang melakukan pembalakan liar, sudah tidak berdayakah aparat kita untuk menjaga wilayah bangsanya ? Sekarang denga sikap menuntut kita mengharapkan negara tetangga untuk ikut menanggulangi masalah ini. Dengan sikap seperti inikah  kita menyebut diri sebagai bangsa yang besar ?
Setahu saya sikap budaya asli Nusantara itu selalu menjaga kerukunan dengan tetangga, mengedepankan gotong royong, dll. Kalau mau minta tolong yang sopanlah. Loh ini koq malah kita sebagai tetangga bersikap kurang ajar dan menuntut tidak pada tempatnya.
 
Message dari The Excelency Mr. President sangat jelas : For those who seek the peace we will fully support them, and for those who always seek war, we will beat them.
Pilihan telah diberikan, semestinya ditanggapi dengan positif dan dijadikan mementum. Saya sangat setuju 100% dengan Bli Putu Kusuma, mari kita kembali kepada jati diri sifat2 asli budaya nusantara, mulat sarira, santun, berbudi perkerti, gotong royong, ulet, rajin dan bekerja keras. Mungkin dengan cara ini kita bisa lebih konsisten ikut menjaga ketertiban, kedamaian, dan keamanan dunia sperti amanat UUD '45.
 
Salam,
KS



No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - http://www.avg. com
Version: 8.0.176 / Virus Database: 270.10.2/1872 - Release Date: 1/2/2009 1:10 PM

__._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: