| LANSIA DAN BERGESERNYA POLA INTERAKSI KELUARGA Kaki, kaki Dong nguda me bok Di betén cunguhé Kén dijaguté Neked kepipiné bek misi ebok Buin putih buka kapasé Dadong dauh Ngelah siap putih Sube metaluh reko Minab ade limolas taluhné Nanging lacur Ade nak nepukin Anak cerik-cerik (2X) Keliwat lekig ipun Terminologi Dalam sistem religi umat Hindu di Bali, pemujaan leluhur merupakan bagian dari penghoramtan terhadap Catur Guru. Guru Wisesa (Tuhan), Guru Swadyaya (Pemerintah), Guru Rupaka (orang tua), Guru Pengajian (para pendidik, guru ). Hyang-Kompyang di puja di Sanggar Kemulan untuk memuja dan menghormati sejarah asal muasal dari kelahiran keturunan manusia. Bahasa Bali kaya dengan istilah yang diperuntukkan untuk memanggil kakek dan nenek seperti pada dua lagu daerah di atas. Kakek dapat disebut dengan "Pekak dan bisa disingkat dengan sebutan "Kak". Istilah "Kaki" sudah cukup jarang digunakan untuk menyebut ayah dari orang tua kita. Biasanya Kaki akan disandingkan dengan Nini untuk menyebut nenek. Odah (nenek) menjadi pendamping Pekak. Pada beberapa daerah di BERGESERNYA POLA INTERAKSI KELUARGA Para senior, atau penglisir dalam interaksi sosial di dalam keluarga di Namun, ada tendensi interaksi kekerabatan ini bergeser dengan semakin menguatnya pengaruh kekuasaan kapital. Masalah finansial sering dijadikan alasan sehingga keberadaan senior (lansia dalam sebuah keluarga) tersingkirkan dari rumah dan keluarganya. Generasi yang lebih muda secara finasial memiliki uang dan ingin hidup praktis dengan membeli banten, cenderung menjadikan peranan nenek-nenek menjadi berkurang dalam rumah tangga . Faktor lain yang menjadikan para senior terabaikan, seperti : masalah keterbatasan fisik dan akses atas pekerjaan. Mereka dianggap sebagai beban dan tidak produktif. Tidak sedikit anggota masyarakat mengirimkan para senior atau lansia untuk tinggal di Panti Jompo (Panti Wreda). Seperti halnya di Panti Wreda Wana Seraya Denpasar, ada 50 senior menetap di Di masa depan, panti-panti jompo swasta tampaknya akan berkembang jumlahnya dengan semakin berkembangnya kesehatan masyarakat. Usia hidup lansia semakin panjang, dan berkembangnya keluarga batih membuat panti jompo menjadi pilihan yang dirasakan cukup bagus. Panti bisa digunakan sebagai tempat untuk menitipkan orang tua, para senior atau lansia secara temporer jika sang anak harus bepergian keluar HAK-HAK YANG TERCERABUTI Sayangnya, ketika para senior hidup di Panti tidak jarang hak-hak sosial mereka juga tercerabuti. Mereka kehilangan hak politik (misalnya: suara untuk pemilu di desanya), dan ketika mereka meninggal, hak pemakaian kuburanpun tak bisa mereka nikmati. Eksistensi sejarah, jasa dan kontribusi mereka selama bertumbuh dan berkembang dalam sebuah komunitas keluarga, banjar dan desa lambat laun menjadi terhapuskan dalam ingatan. Penanganan lansia berbasis banjar memang sudah seharusnya digaungkan. Sehingga penghormatan kepada luluhur tidak menjadi simbolis semata yang dihaturkan setelah mereka meninggal menjadi roh yang dipuja di merajan atau sanggah. Penyelesaian konflik yang terjadi dalam internal keluarga apalagi melibatkan kaum lansia agar diperhatikan oleh banjar agar mereka tidak ditelantarkan. Penghargaan, dan penghormatan bagi warga senior keluarga, banjar, desa dan negara ini menjadi hal yang esensial untuk diberikan. Setiap orang pasti akan mengalami menjadi tua, jika mereka tidak mati dalam usia yang muda.
|
__._,_.___
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar