Kamis, 08 Januari 2009

[bali-bali] Ngomongin Bali.

Suatu masyarakat akan maju bila didirikan di atas dasar yang kokoh, yaitu suatu sistem nilai yang sehat dan teruji oleh waktu. Di atas sistem nilai apakah Bali telah bergerak maju selama ini?  Sistem nilai Hindu! Salah satu dari sistem nilai itu adalah penghargaan terhadap pluralisme. Bali sejak abad 15 telah menerima keberadaan masyarakat Islam di berbagai kerajaan yang ada Bali (sekarang Kabupaten), misalnya pegayaman di Buleleng, Loloan di Negara, Kepaon di Badung, Gegel di Klungkung, Nyuh Kuning di Karangasem. Orang-orang Islam ini ada yang didatangkan  dari Jawa (Pegayaman, Kepaon, Gelgel) Pelarian dari Bugis karena tekanan Belanda (Loloan), dan Lombok (Karangasem). Mereka umumnya adalah pegawai kerajaan.

Semua kampung-kampung Islam ini masih utuh sampai sekarang. Kenapa? Karena mereka tidak ditekan oleh raja untuk masuk Hindu. Sebaliknya para keluarga puri ini memberikan mereka tempat tinggal, tanah untuk masjid dan pesantren, membantu mereka kalau naik haji. Mereka juga tidak dibujuk atau ditekan oleh masyarakat Hindu di sekitarnya agar mereka beralih agama. Masyarakat Hindu malah menyebut mereka sebagai Nyame Selam, sebagai saudara yang dilindungi.  

Berbeda dengan kampung Bali di Jakarta, yang tinggal nama, karena penghuni yang berasal dari Bali semua sudah beralih agama menjadi Islam

Sampai sekarang pun umat beragama lain relatif mudah, membangun tampat ibadah di Bali. Berbeda dengan orang-orang Hindu asal Bali ketika mendirikan Pura di luar Bali, khususnya di daerah mayoritas Islam.

Bila suatu masyarakat sudah dapat menerima kehadiran masyarakat dengan keyakinan yang berbeda,  masalah yang sangat fundamental, maka lebih mudah baginya untuk menerima ide-ide baru dari ilmu pengetahuan serta inovasi teknologi. Program pemerintah seperti KB dan intensifikasi pertanian berjalan dengan baik di Bali.

Pariwisata internasional telah masuk ke Bali sejak tahun 1930an, dan memberi manfaat bagi Bali, tanpa merusak tatanan nilainya.  

Jadi dengan melihat tanda-tanda ini, Bali sudah menjadi masyarakat terbuka sejak abad 15.  Bila kita serius membangun Bali ke depan, sistem nilai yang sudah dimiliki Bali  harus dipelihara dan dikembangkan. Konsep tentang masyarakat terbuka (open society) dari luar tentu saja perlu untuk menambah perspektif.

Membangun Bali hanya dengan pertimbangan manfaat sosio-ekonomi-teknologi, dengan mengabaikan sistem nilai itu, hanya akan merupakan pembangunan superfisial. Akan membuat Bali mudah hancur menghadapi tantangan. Seperti ilalang yang dicabut dari akarnya, sedikit saja disulut akan terbakar habis. (Karena itu saya agak heran ketika ada beberapa teman di sini yang seolah-olah alergi mendiskusikan hal-hal yang menyangkut atau yang membahayakan sistem nilai ini).  

LGS

                


 

__._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: