Rabu, 14 Januari 2009

[bali-bali] Catatan Tirtayatra

 
 
 

PURA WIRA BUWANA, CANDI SUKUH, CANDI CETO

dan

PETILASAN KYAYI I GUSTI AGENG PEMACEKAN

(Catatan tirtayatra, Tempek Rempoa - Tanggerang, 6 - 8 Desember 2008)

 

Pada tanggal 6 Desember 2008, sekitar jam 09.15 satu bus Pariwisata full AC penuh penumpang warga Tempek Rempoa meluncur meninggalkan kawasan Perumahan Bintaro - Jaya. Rombongan yang di lepas oleh seksi Pembinaan Umat, bpk IB Alit Wiratmaja dan dipimpin oleh ketua rombongan bp Mangku Wyn Gede Bawa akan melakukan Tirtayatra ke pura Wira Buwana - Magelang, Candi Sukuh, Candi Ceto dan Petilasan Kiyayi I Gusti Ageng Pemacekan.
 
Penjelasan Ketua Rombongan, bpk Mangku Wayan Gede Bawa
 
Didalamrombongan yg berjumlah 35 orang ikut serta Ketua Tempek, bpk Nyoman Sudiarta dan Ibu, Wkl Ketua Tempek Wyn Ardana beserta Ibu, Mangku Ibu Wyn Metra dan DW Putu Suradana & Ibu serta pengurus tempek lainnya. Suasana kebersamaan dan berbagi sangat kental terasa di dalam perjalanan ini, "tat twam asi"  sudah sangat mendarah daging didalam diri semua peserta. Canda dan tawa, karaoke, pembacaan cerita humor, teka-teki silang dan saling "ledek" terjadi tiada henti membuat suasana meriah dan terasa sangat akrab. Makanan sepertinya tidak ada hentinya baik yg di siapkan oleh panitia maupun makanan yang di bawa peserta untuk dibagikan kepada peserta lainnya. Perjalanan in ihauh dari kesan perjalanan tirtayatra yang serius dan religius, layaknya seperti piknik keluarga di liburan saja. Kegembiraan dan keceriaan terpancar dari kakek2, nenek2. bpk2, ibu2, maupun teruna-terunanya peserta tirtayatra ini. Keadaan sunyi hanya beberapa saat saja, yaitu setelah mata mengantuk tak tertahankan, ini terjadi sekitar menjelang subuh. Untuk mengoptimalkan waktu, selama perjalanan bus hanya berhenti untuk istirahat dan makan siang saja. Salah satu tempat peristirahatan yang di singgahi adalah SPBU MURI yang masuk dalam catatan MURI karena memiliki 67 buah toilet bersih, SPBU dengan toilet terbanyak.
 
PURA WIRA BUWANA - MAGELANG
 
Candi Bentar Pura Wira Buwana - Magelang
 
Menjelang tengah malam tanggal 6 Desember rombongan tiba di Magelang dan langsung menuju Pura Wira Buwana, yang berada di area Akademi Militer. Rombongan di terima oleh bpk Mayor Wyn Pipil sebagai penanggung jawab Pura. Peserta Tirtayatra langsung menurunkan barang bawaan & membersihkan badan, sebagian besar langsung mandi dan beberapa peserta hanya cuci muka. Sekitar jam 00.00 dilakukan persembahyangan bersama di pimpin oleh bpk Mangku Wayan Ardana. Wajah lesu dan kelelahan tidak terlihat sedikitpun seolah-olah semuanya itu sirna, yang tinggal hanya keinginan untuk menghadap Ida Sang Hyang Widi Wasa untuk menghaturkan rasa syukur atas semua wara nugrahaNYA. Semua peserta larut dan menyatu dengan keheningan tengah malam. Selesai persembahyangan beberapa orang melanjutkan dengan meditasi dan ngobrol, yang lainnya langsung tergeletak istirahat.
 
Foto bersama setelah Sembahyang bersama
 
Sekitar jam 5 pagi sebagian sudah mulai bangun untuk mandi dan bersiap-siap menghadapNYA. Persembahyangan pagi di lakukan sekitar 06.30 dan berakhir sekitar jam 07.00. Selesai sembahyang, rombongan bertemu dengan teruna-teruni SMA Nusantara dan AKMIL yang berdatangan untuk melakukan persembahyangan. Beberapa peserta tirtayatra berfoto bersama para teruna-teruni, dengan nada becanda ada peserta melontarkan keinginannya untuk menjodohkan anaknya dengan teruna-teruni yang kelihatan gagah dan cantik2 ini. Setelah selesai sembahyang semua peserta merapikan barang bawaannya untuk dinaikkan kedalam bus. Selanjutnya sekitar jam 08.15 rombongan mepamit untuk meneruskan perjalanan ke Candi Sukuh.
 
CANDI SUKUH
 
Persiapan Sembahyang
 
Perjalanan ke Candi Sukuh menempuh waktu kurang lebih 2 jam. Bus singgah dibeberapa tempat untuk memberikan kesempatan kepada rombongan membeli oleh-oleh khas Magelang dan SOlo seperti ulekan dari batu, salak dan juga oleh-oleh jajajan Solo berupa bak pia pathok, "entip", ikan crispy, dan lain-lain. Semua oleh-oleh yang di beli ini sebenarnya mudah di peroleh di Jakarta, namun karena ada perasaan berbeda jika di beli di tempat asalnya dan juga karena menerima titipan maka jadilah mobil bebannya di tambah dengan hasil belanjaan.
 
Di terminal Karanganyar rombongan harus berganti kendaraan dari Bus menjadi ELF (bus kecil, kapasitas 16 penumpang), karena jalan menuju Candi Sukuh dan Candi Ceto kecil, penuh belokan dan menanjak yang tidak mungkin di lalui oleh Bus. Memanfaatkan waktu menunggu panitia mencari negosiasi ongkos ELF,  didalam bus seksi konsumsi menggelar makanan untuk santapan makan siang berupa ketupat, ayam, telor dan saur serta sambal. Semua peserta melahap semua makanan yang sudah di siapkan panitia di bawah komandan ibu Ketua Tempek.
 
Selesai makan peserta pindah kedalam 2 buah ELF dan langsung menuju Candi Sukuh. Jalan yang sempit dan penuh belokan serta pemandangan yang sangat indah seperti suasana di Bali, membangkitkan kenangan kepada alam ditanah kelahiran. Tiba di Candi Sukug gerimis kecil dan kemudian panas terik menyambut kedatangan pertisentana dari tempek Rempoa ini. Pemangku dan beberapa ibu-ibu mempersiapkan sarana persembahyangan yang kemudian di lanjutkan dengan persembahyangan bersama dalam cuaca terik matahari. Pengunjung lain, di luar rombongan yang sedang dan akan melihat-lihat Candi Sukuh untuk sementara menepi dan memberikan waktu kepada rombongan tirtayatra yang akan melakukan persembahyangan.
 
Salah satu ornamen Candi Sukuh
 
Selesai Sembahyang kabut mulai berdatangan dan udara menjadi sejuk dan sedikit dingin. Menurut pemandu, bagi pengunjung yang mengalami tiga cuaca alam - gerimis,  panas dan kabut seperti ini berarti memperoleh berkah dari yang maha kuasa. Setelah Sembahyang rombongan melihat berbagai patung yang terkesan vulgar. Pikiran apabila tidak di kendalikan dengan baik bisa langsung "ngeres" jika melihat dan memperhatikan patung-patung yang ada di kawasan ini. Selain menampilkan ornamen orang bersenggama secara vulgar, di lantai pelantaran Candi juga terpampang kelas relief yang menggambarkan secara utuh alat kelamin pria yang sedang ereksi, berhadap-hadapan langsung dengan vagina. Lantaran situasinya seperti itu, masyarakat setempat kadang menyebut Candi Sukuh sebagai Candi Rusuh (Saru atau Tabu). "Informasi lebih lebih lengkap dan gambar-gambar yang menggoda dapat di cari lebih lanjut di Internet.
 
CANDI CETO
 
Candi Bentar Candi Ceto
 
perjalanan di lanjutkan ke Candi Ceto yang memakan waktu kurang lebih 45 menit, tidak kalah menantang dan indah panoramanya di bandingkan dengan perjalanan ke Candi Sukuh, jalan menuju Candi Ceto penuh liku dan tanjakan serta hamparan kebun teh. Selama perjalanan sampai tiba di tujuan di warnai dengan hujan lebat. Menjelang mencapai lokasi candi banyak rumah-rumah yang berornamen Bali, hal ini dikarenakan kurang lebih 80% penduduknya beragama Hindu. Rombongan sampai di Candi Ceto kira-kira jam 14.25 dalam guyuran air hujan yang sangat lebat. Dengan penutup kepala dan badan seadanya dan pakaian semua basah kuyup peserta tirtayatra naik ke candi. Undakannya cukup banyak dan ada beberapa Candi Bentar yang harus di lalui, terkesan seperti kalau kita tangkil ke Pura Besakih.  Setelah beberapa saat menunggu, pemangku Candi Ceto datang untuk memimpin persembahyangan. Beberapa orang peserta sembahyang di jeroan candi dan sisanya sembahyang di luar. Persembahyangan berjalan dengan khidmat dalam kondisi hujan lebat, badan basah namun tidak di rasakan sebagai halangan justru membuat bathin dan raga terasa tenang dan tentram.
 
Di balik Candi ceto, berdiri Candi Saraswati yang karena hujan lebat tidak sempat di datangi. Candi ini merupakan pemberian dari Bupati Gianyar (AA Gd Bharata) kepada Bupati Karanganyar sebagai tanda hubungan pertemanan yang sangat baik.
 
PETILASAN KYAYI I GUSTI AGENG PEMACEKAN dan
PARAHYANGAN SAPTA PANDITA
 
Pemedal Agung Petilesan
 
Sebagai tujuan akhir dari tirtayatra adalah Petilasan Kyayi I Gusti Ageng Pemacekan dan Parahyangan Sapta Pandita yang ada di Dusun Pasekan, Karangpandan - karanganyar. Rombongan di sambut oleh bpk Nyoman Nasa, dosen Universitas Sebelas Maret - Solo yang berasal dari desa Kemoning, Klungkung sebagai pengurus / pengempon Petilasan ini. ornamen dari petilasan ini di dominasi oleh warna merah - kuning dan bentuk gapuranya ramping dan menjulang tinggi. Persembahyangan di pimpin oleh pemangku Pasek yang di besarkan di Lampung. Selesai sembahyang dilakukan dharmawacana khususnya mengenai sejarah keberadaan dari Petilasan ini yang di percayai sebagai sumbernya warga pasek. Selanjutnya di teruskan dengan makan malam yang telah di sediakan oleh ibu-ibu dari Petilasan. beberapa peserta penghobi tanaman sempat melihat tanaman hias anturium yang sangat prestisius karena harganya yang menjulang. Karanganyar terkenal sebagai sebagai salah satu daerah penghasil anturium, banyak warganya yang kaya karena menjual anturium. Perjalanan kembali ke Jakarta di lakukan setelah selesai makan malam yaitu sekitar jam 20.15 peserta mepamit dari area Petilasan.
 
KEMBALI KE JAKARTA
 
Senam Peristirahatan di tol Cikampek
 
Perjalanankembali ke Jakarta berjalan dengan sangat lancar, karena pada tanggal 8 Desember adalah hari raya kurban bagi umat muslim, jalanan menjadi sangat sepi. Perjalanan pulang ini di warnai dengan pembacaan puisi yang dibuat dan dilakukan oleh Ibu Sinar dengan sangat memukau. Kesan-kesan tirtayatra di rangkai menjadi uraian kata-kata yang sangat indah dan sangat menyentuh kalbu para peserta. Aplaus dan tepuk tanganpun meramaikan suasana di pagi hari ini. Disalah satu tempat peristirahatan beberapa peserta juga sempat melakukan senam jari dengan instruktur Ibu SInar. Perjalanan yang demikian lancar mendapat hambatan dan macet di penghujung perjalanan yaitu didalam komplek perumahan Bintaro Jaya, karena banyaknya mobil parkir di jalanan dekat mesjid Bintaro. Rombongan tirtayatra sampai kembali di Pura Rempoa sekitar jam 08.30 dan di akhiri dengan persembahyangan bersama sebagai rasa syukur atas kelancaran dan keselamatan yang di peroleh selama tirtayatra ini.
 
Akhir Tirtayatra, sembahyang di Pura Mertasari Rempoa
 
Selesai sembahyang sarapan sudah terhidang, semua peserta dan penjemput menyantap sarapan yang telah di siapkan oleh Ibu2.
 
Sarapan Bersama
 
Matur Suksme kepada Panitia dan pengurus tempek atas semua persiapan dan pelaksanaan tirtayatra yang sangat baik yang menjadikan tirtayatra ini memberikan pengalaman spiritual untuk lebih mendekatkan diri kepada sang Pencipta, Pemelihara dan Pemralina - Ida Sang Hyang Widi Wasa.
 
(tra/120109)

__._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: