Mba Dwi Yani,
Lama tak bersua di dunia maya. Tapi seperti biasa, mba Dwi selalu pasang teropong.
Ketika awal membaca posting bahwa akan ada sweeping, dari mas Anton kalau tidak salah, saya sempat tersentak. Apa lagi ini?!
Saya setuju bahwa tertib hukum adalah utama, tapi permasalahan sapu-menyapu ini sepertinya hanya membersihkan debu! Sementara sampah besarnya masih berserakan.
Kenapa hanya debu yang dibersihkan? Apa karena belum punya keberanian atau alat yang cukup untuk membersihkan sampah yang besar?
Atau mungkin karena mereka lebih alergi terhadap debu yang menyebabkan asma?
Mungkin itu sebabnya, mereka sekarang sedang asma. Napas serasa berat dan terengah-engah. Mereka asma tidak hanya karena krisis ekonomi global, tapi juga karena debu-debu ini.
Belum lagi ditambah sakit akibat LIMBAH yang Mba Dwi sebutkan. Makin parahlah sudah! Ampunn...ampunn...puyeng!
Saya merasa bahwa semakin hari penyakit kita semakin parah. Alergi kita menggila. Parah. Kronis dan sensitif! Alergi bersaing. Ah! Gatal seluruh tubuh.
Dunia memang sedang terbalik mba Dwi! Tapi arah rotasi dan revolusi bumi masih sama. Matahari masih selalu terbit dari timur dan terbenam di barat. Hanya utara dan selatan yang membingungkan, terutama untuk orang Singaraja.
utaranya di selatan dan selatannya di utara

.
Silahkan tertibkan dan jika memang benar ingin maju, maka bersainglah dengan mereka. Itu satu-satunya cara menunjukkan kualitas sebenarnya.
Mba Dwi. Kalau gatal atau alergi, yang terpenting adalah awasi makanan yang mungkin menyebabkan alergi. Jangan bersikap reaktif dengan sekedar
garuk-garuk. Lama kelamaan bisa jadi luka loh!

Saya setuju dengan pemikiran Mba Dwi.
shanti,
ngurah beni setiawan
P Save a tree...please don't print this e-mail unless you really need to
Dari: d.yani.sm <d.yani.sm@lycos.com>
Kepada: bali-bali@yahoogroups.com
Cc: baliblogger <baliblogger@yahoogroups.com>; bali-bali <bali-bali@yahoogroups.com>
Terkirim: Jumat, 12 Desember, 2008 06:33:59
Topik: [RE][bali-bali] ALERT: bersiaplah blogger bali disweeping
Bener2 dah kebalik- balik dunia ini. Kok ributnya dengan pengguna on- line dalam negeri. Sweeping on-line services yang jual Bali di luar Indonesia donk. Group- group datang melalui negara tetangga kita lengkap bawa TL dan guide. Bali cuman kebagian LIMBAH dan sedikit fee untuk sewa kendaraan. Soalnya urusan hotel, kudapan mereka sudah punya jaringan hotel dan catering dari negaranya. Ayo donk ASITA, lebih cerdas melihat SESUATU.
dwi
---------[ Received Mail Content ]----------
Subject : [bali-bali] ALERT: bersiaplah blogger bali disweeping
Date : Wed, 10 Dec 2008 16:14:07 +0800
From : "Anton Muhajir" <antonemus@gm! ail.com>
To : baliblogger <baliblogger@ yahoogroups. com>, bali-bali <bali-bali@yahoogrou ps.com>
dear all,
berbagi berita soal ini. menurutku BBC harus memfasilitasi diskusi soal ini.
blogger kan jg turut mempromosikan bali. masak malah mau dsweeping. yg bener
dong.
*menyalakan kompor. :D
--
http://www.balebeng ong.net/kabar- anyar/2008/ 12/10/asita- akan-tertibkan- online-tour. html
ASITA Akan Tertibkan Online Tour
Oleh Luh De Suriyani
Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies (Asita) Bali tengah
membuat daftar penyedia jasa tour and travel online yang tidak memiliki ijin
sebagai Biro Perjalanan Wisata (BPW).
Ketua Asita Bali Al Purwa menggolongkan usaha travel online itu illegal dan
akan dilaporkan ke kepolisian untuk ditindak. "Kami sedang menyusun daftar
usaha! travel online yang tanpa ijin BPW untuk dilaporkan ke Dinas
Pa riwisata," kata Al Purwa pada The Jakarta Post.
Saat ini, jasa penyedia layanan wisata online sangat marak. Ada yang
berbentuk perusahaan maupun dijalankan individu.
Menurut Al Purwa, usaha penertiban online travel tanpa ijin BPW ini
dilakukan karena meresahkan sejumlah pengusaha BPW resmi. "Mereka kan
bekerja mendapat komisi dari penjualan tur, hotel, transport, dan sebagainya
tapi tidak membayar pajak. Ini kan illegal," tukasnya.
Ia sendiri tak merinci berapa online travel yang masuk kategori illegal ini.
"Asita sedang melakukan pengecekan. Ini kan cukup mudah dilakukan," ujar
Purwa yang memiliki usaha KCBJ Tour ini.
Sementara untuk mendapat ijin BPW, usaha travel harus berstatus PT,
mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), punya kantor dan tenaga kerja.
Ia juga menghimbau travel agent yang berijin masuk anggota Asita walau tak
mewajibkan. "Le! bih dari 100 travel di Bali belum ikut Asita. Anggota Asita
sekarang sekitar 340 perusahaan," jelasnya.
Sanat Kumara, salah seorang pengusaha online travel yang telah berizin BPW
ini mengaku mendukung rencana penertiban, namun mendorong travel agent untuk
bisa berkompetisi dengan online travel ilegal sekalipun.
"Internet is free world. Siapa yang terbaik dalam pelayanan dan harga akan
memenangkan kompetisi bisnis ini," ujarnya.
Usaha e-travel yang dirintisnya sejak 1997, baliwww.com diakuinya makin
berkembang dan banyak yang meniru. Walau demikian ia tak resah dengan makin
banyaknya e-travel lain yang dikelola perusahaan maupun individu. "Banyak
yang baru, tapi banyak juga yang mati suri," tambah Sanat.
Tak hanya travel agent, kini makin banyak yang menawarkan jasa pariwisata
lain secara online. Misalnya supir, kendaraan, guide, dan lainnya. "Inilah
ciri internet, tidak memandang perusahaan kaya miskin, sama saja, yan g
penting mereka tahu teknologinya, bisa buat content menarik, mampunyai
clients yang sudah tahu dan terpercaya," kata Sanat yang mengaku pernah
menghasilkan omzet milyaran rupiah lewat e-travel sebelum peristiwa bom Bali
Oktober 2002.
Hampir semua travel agent kini menggunakan jaringan online, hanya menurut
Sanat, tak banyak yang lihai memanfaatkan information technology untuk
memaksimalkan usaha travel agentnya.
Malah, sejumlah travel agent online kini mendominasi seperti
Baliparadise. com atau Balidiscovery. com.
Tak hanya travel agent berbasis perusahaan, yang di-organize perseorangan
lewat website atau blog juga makin ramai. Personal travel online ini malah
mampu memberikan pilihan tour alternatif, selain harga yang lebih murah.
Misalnya yang digagas Kadek Didi Suprapta bersama teman-temannya. "Tour yang
kami tawarkan sangat flexibel dan person! al. Ini tergantung permintaan klien,
sangat berbeda dengan travel agent besar," katanya.
Karena dengan cara intim seperti ini, menurut Didi, usaha online travel
laris dan makin diminati. Ia sendiri heran dengan rencana penertiban Asita.
"Setiap warga kan berhak berusaha, apalagi untuk kami yang bermodal kecil,"
ujarnya. Usaha online travel-nya telah berijin CV dengan kategori tourist
service.
Al Purwa juga mengakui, salah satu kelemahan travel agent di Bali adalah
penguasaan IT dan keterampilan sumber daya manusia yang rendah. "Bahkan
sekitar 30 persen dari total travel agent resmi tidak familiar dengan email
atau internet," katanya.
Inilah, menurut Purwa yang menghambat service pada klien yang mengaharuskan
konfirmasi secepatnya. Selain itu, persoalan pengurusan ijin BPW juga masih
rancu. "Harusnya ijin BPW dikeluarkan satu instansi, yakni Dinas Pariwi! sata.
Sekarang Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) juga men geluarkan ijin. Ini
kan rancu," sesalnya.
Selain masalah online travel ilegal, Al Purwa mengakui masih banyak
tantangan di industri tourist service ini.
Misalnya maraknya brosur atau iklan penawaran wisata tidak terakreditasi di
bandara Ngurah Rai. "Kami masih sulit berkoordinasi dengan otoritas bandara
untuk mengontrol brosur atau iklan wisata yang bisa jadi menipu wisatawan
itu," katanya. [b]
Versi bahasa Inggris artikel ini dipublikasikan di
http://www.thejakar tapost.com/ news/2008/ 12/10/union- fight-unlicensed -travel-agencies .html
--
Anton Muhajir http://rumahtulisan .com
|
Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat.Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang!
__._,_.___
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar