Jumat, 12 Desember 2008

[bali-bali] RE: [baliblogger] Krematorium, Alternatif Tempat Ngaben Sederhana

sebuah langkah bijak. setuju.

Okanegara
just simple human being.
interested in study of sexual health, sexuality,
reproductive health, youth health+rights
and the meaningful of life.

www.okanegara.com (in bahasa)




To: baliblogger@yahoogroups.com; bali-bali@yahoogroups.com
From: antonemus@gmail.com
Date: Sat, 13 Dec 2008 09:54:56 +0800
Subject: [baliblogger] Krematorium, Alternatif Tempat Ngaben Sederhana

http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2008/12/13/krematorium-alternatif-tempat-ngaben-sederhana.html

Krematorium, Alternatif Tempat Ngaben Sederhana

Oleh Luh De Suriyani

I Wayan Sukanada, 45, mengaku gembira akhirnya krematorium jadi
dibangun. "Krematorium ini bisa jadi solusi bagi warga yang kesulitan
biaya dan tenaga untuk upacara ngaben," ujarnya. Ia sendiri mengaku
belum membutuhkan krematorium karena selama ini setiap pengabenan
dilakukan secara kolektif di kampung halamannya, Manggis, Karangasem.

Minggu, 7 Agustus lalu, Sukanada bersama sejumlah warga Tonja Denpasar
Timur lainnya mendatangi lokasi pembangunan krematorium Santha Yana
yang dibangun oleh soroh (klan) Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi
(MGPSSR) di Bali.

MGPSSR adalah nama kelompok bagi warga dengan garis keturunan pasek,
bukan aliran dalam Hindu. Selain warga Pasek yang merupakan mayoritas,
terdapat belasan klan lainnya di Bali.

Setiap hari minggu, sejumlah warga Pasek bergotong royong merampungkan
tempat alternatif ngaben yang digagas kelompok clan terbesar di Bali
ini.

Berlokasi di Desa Kedua, Peguyangan, Denpasar Utara, krematorium ini
direncanakan mulai beroperasi awal tahun 2009. Pembangunan Krematorium
Santhayana telah dimulai sejak Juni 2008 dan diperkirakan akan menelan
biaya total Rp 1 milyar. Saat ini pembangunan tahap I telah selesai
dan di areal itu telah berdiri areal pembakaran jenazah dan pelinggih
(tugu) Prajapati.

Sementara di kantor MGPSSR tempat berlangsungnya Pesamuhan Agung III,
belakang lokasi krematorium ini, Walikota Denpasar IB Dharmawijaya
Mantra meresmikan dengan membuka tabir papan nama Krematorium Santha
Yana.

"Nama Santha Yana diberikan sejumlah sulinggih yang artinya jalan
damai," ujar Prof dr. I Wayan Wita, Ketua MGPSSR.

Ia menjelaskan krematorium ini dicetuskan setahun lalu, saat Pesamuhan
Agung (konferensi) MGPSSR II, yang mendiskusikan perihal konflik warga
memperebutkan hak menggunakan setra (lokasi pemakaman). Hal itu
terjadi di antaranya karena sengketa status warga adat atau persoalan
lain. "Sayang sekali, jika warga tidak bisa melaksanakan upacara
ngaben karena konflik," kata Wita yang mantan rektor Universitas
Udayana Denpasar ini.

Alasan lainnya adalah keresahan warga karena mahalnya biaya ngaben.
"Pembuatan krematorium adalah jalan realistis untuk mengatasi
persoalan ekonomi akibat mahalnya biaya pembakaran jenazah atau
pembuatan bade (wadah jenazah). Jenazah bisa langsung di bawa kesini
dari rumah atau rumah sakit untuk dikremasi," jelas Wita.

Wita menegaskan sarana kremasi ini tidak akan menggantikan desa
pekraman sebagai penyelenggara ngaben atau proses ritual lainnya.
"Krematorium hanya alternatif di tengah banyak masalah yang dihadapi
warga ketika melakukan pengabenan," tambahnya.

"Sudah beroperasi krematorium ini, biayanya juga terjangkau, hanya Rp
1 juta, sedangkan untuk warga kurang mampu tentunya biaya bisa
dirundingkan bersama," ujar Wita.

Krematorium ini terbuka untuk digunakan oleh umum termasuk warga
Hindu perantauan, jenazah tanpa identitas di rumah sakit, serta warga
dari agama lain.

Menurut Wita, krematorium ini diusulkan pula oleh Persatuan Pekerja
Hindu Indonesia, yang anggotanya sekitar 60.000. Kelompok ini, sebut
Wita, berasal dari luar Bali dan kerap kesulitan jika ada kerabatnya
meninggal.

Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, I Gusti Ngurah
Sudiana pada pernyataan yang dipublikasikan MGPSSR, menyampaikan
dukungannya pada krematorium tersebut.

"Ini merupakan jawaban yang intelektual atas masalah umat saat ini.
Jawaban ini akan mendapat sambutan hangat di masa depan," katanya.

Sudiana percaya pendirian krematorium ini akan memicu kontroversi di
kalangan tokoh-tokoh Hindu.

"Kalo ada kontroversi, biasa itu. Di Bali kan memang begitu, kalau ada
saudara berkarya maka orang-orang Bali pasti ribut. Tetapi kalau orang
non-Bali yang membuat sesuatu, yang Bali langsung bungkam," katanya.

Menurut Sudiana, krematorium ini seharusnya dijadikan model oleh
lembaga Hindu lainnya. "Kalau bisa seluruh desa pekraman di Bali
membangun dan memiliki krematorium-nya masing-masing, karena ini akan
membuat upacara ngaben kita menjadi lebih praktis, efisien, serta
lebih aman dari sisi kesehatan," katanya.

Ada sejumlah pilihan yang akan diberikan jasa krematorium ini.
Pertama, menyediakan jasa kremasi saja, yang dibuka untuk semua
masyarakat. Kedua, pelaksanaan ngaben sebelum nyekah, karena nyekah
bisa dilakukan di rumah atau tempat lain. Atau bisa juga ngaben secara
penuh di krematorium ini, dengan sarana upacara yang bisa dibeli atau
disiapkan sendiri termasuk sulinggih (pemimpin upacara).

"Abu jenazah bisa dilarung di Sungai Ayung yang bersisian dengan
krematorium ini. Semoga tidak ada keluhan soal biaya ngaben lagi bagi
umat Hindu," ujar Jero Mangku Dalem Babakan, pemilik lahan lokasi
krematorium yang mengawasi pembangunannya.

Ia mengatakan sekitar 3000 warga Hindu dan agama lain telah mendaftar
untuk menggunakan krematorium ini nanti. "Ada yang membakar jenazah
saja ada juga yang melakukan ngaben secara penuh," ujarnya.

Menurut Jero Mangku Dalem, saatnya warga Hindu untuk lebih
mengutamakan makna upacara dibanding berfoya-foya mengeluarkan biaya
untuk hal yang bersifat duniawi. Ia mencontohkan penggunaan bade
(wadah jenazah) megah yang sebenarnya tidak lumrah digunakan pada masa
lalu.

"Jenazah biasa dibawa dengan pepaga (semacam keranda dari bambu).
Lebih ringan dan sederhana, sukup diangkut empat orang ke setra. Yang
kita bawa mati kan hanya karma (hasil perbuatan semasa hidup). Upakara
hanya sarana saja," tukasnya.

Penggunaan krematorium, menurut Jero Mangku Dalem tidak akan
mengurangi makna ngaben karena proses dan upakaranya diserahkan pada
desa dan keluarganya. "Ini hanya kremasi dengan cara modern, lebih
cepat dan tertutup. Ini juga salah satu solusi jika ada yang tidak
mampu atau akibat konflik adat," tambahnya.

Saat ini, krematorium yang berdiri di atas lahan 600 m2 ini baru
selesai sekitar 30 persen. Jika telah selesai, krematorium ini akan
terdiri dari tempat penyimpanan jenazah, wantilan, bale pemujaan
tempat sulinggih, tungku pembakaran, dan tempat parkir. [b]

Versi Bahasa Inggris artikel ini dimuat di
http://www.thejakartapost.com/news/2008/12/11/newly-opened-crematorium-offers-affordable-039ngaben039.html

--
Anton Muhajir | http://rumahtulisan.com



Always-on security tools provide safer ways to connect and share anywhere. Find out more. Windows Live __._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: