subhanalah...subhanalah....saya juga sepakat, malah dua pakat
dengan kangmas John the Scot.
Jika wahyu datangnya dari Tuhan , akal juga pemberian Tuhan,
Menurut saya , beda antara keduanya , wahyu Tuhan berhenti ketika
diturunkan , dan berlaku ketika jaman wahyu itu diturunkan ,
sedangkan akal , pemberian Tuhan akan terus berkembang sesuai dengan
jaman dan dimana akal itu dipergunakan.
Maka , akal sudah jelas harus diutamakan daripada wahyu , disamping
yang menerima dan menginterprestasikan wahyu itu , adalah akal itu
sendiri.Jika akal sudah meninggalkan badan ( mati) , apakah gunanya
wahyu??
Ap.
--- In bali-bali@yahoogroups.com, "Sugi Lanús" <sugilanus@...> wrote:
>
> Dear biang Vieb,
>
> John The Scot bilang:
>
> "Wahyu dan akal keduanya sumber ilmu. Kalau wahyu dan akal
> bertentangan, maka akal didahulukan."
>
> Saya sepakat dengan John The Scot dalam hal ini. Silahkan bukan
saja
> google kalau mau melihat siapa John The Scot.
>
> Cheers,
> SL
>
>
>
> On 11/7/08, Putiu Kesuma <putukesuma@...> wrote:
> > Makasih Mbok Vieb atas postingan ini.
> >
> > Saya kebetulan pernah bertemu dan ngobrol lama dengan Pak Syafii
pada sebuah
> > kesempatan sebelum acara Simposium yang diadakan di Wantilan
DPRD Bali
> > dimulai. Beliaupun sempat menyatakan kekecewaannya atas
pembangunan yang
> > amburadul di Bali.
> >
> > Pernyataannya pernah dumuat dalam salah satu harian nasional
dimana Pak
> > Syafii menghimbau kepada para radikalis yang ingin membangun
Negara Islam
> > agar mengurungkan niatnya karena menurut beliau pasti gagal,
gagal, dan
> > gagal. Dengan jujur beliau mangaku bahwa dulupun beliau adalah
seorang yang
> > fundamentalis. Perubahan terjadi dalam dirinya berkat tukar-
tukaran bacaan.
> > Maksudnya, jangan hanya baca kitab suci dari agama yang dipeluk
saja, tapi
> > juga kitab suci agama-agama lain.
> >
> > Indonesia membutuhkan lebih banyak lagi tokoh-tokoh seperti Pak
Syafii.
> >
> > Semoga beliau diberkati umur panjang.
> >
> > Salam,
> >
> > Apapun sukumu, apapun agamamu, kau orang Indonesia. Aku cinta
Kau. Whoever
> > you are, wherever you are from, you are human being. I love you ~
> > NIM(National Integration Movment).
> >
> > --- On Thu, 6/11/08, Asana Viebeke Lengkong <asanasw@...> wrote:
> >
> > From: Asana Viebeke Lengkong <asanasw@...>
> > Subject: [bali-bali] Fw: Syafii Maarif :manusia berhak menjadi
ateis
> > sekalipun!
> > To: bali-bali@yahoogroups.com, bali@...
> > Date: Thursday, 6 November, 2008, 1:30 PM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Syafii Maarif
> > Manusia Berhak Menjadi Ateis Sekalipun
> >
> > JAKARTA– Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif
tak bisa
> > berbuka puasa dengan tenang. Ia harus menerima ucapan selamat
yang terus
> > mengalir dari para tamu yang memenuhi aula Gedung PP
Muhammadiyah, Senin
> > (15/9) sore itu.
> >
> > Laki-laki yang akrab dipanggil Buya itu baru saja menerima
penghargaan
> > Magsaysay Award dari The Board of Trustees of the Ramon
Magsaysay Foundation
> > (RMAF) untuk kategori Peace and International Understanding.
Magsaysay
> > sebelumnya juga pernah dianugerahkan kepada Mochtar Lubis,
Soedjatmoko,
> > Pramudya Ananta Toer Abdurrahman Wahid dan Dita Indah Sari.
> > Namun pria kelahiran Sumbar itu justru menanggapi biasa saja
penghargaan
> > itu. "Sebenarnya saya tidak bisa menanggung beban pujian-pujian
itu. Karena
> > tidak sehebat itu. Tanya saja pada istri saya," katanya. Ia malah
> > mengharapkan penghargaan yang diterimanya itu dapat memberi
inspirasi bagi
> > kalangan muda untuk meneruskan perjuangan menegakkan demokrasi,
inklusivitas
> > dan pluralisme dengan serius. Baginya, pluralitas harus
mendapatkan
> > perhatian utama, karena bangsa Indonesia lahir dari banyaknya
suku-suku yang
> > bersatu. Masyarakat di dalam suku tersebut memiliki beragama
kepercayaan
> > yang hidup. Sehingga, pemaksaan atas nama satu keyakinan
tertentu pada
> > masyarakat tersebut tidak boleh dibiarkan karena bisa melahirkan
perpecahan.
> >
> > Bahkan, Sjafii juga menegaskan, di dunia ini, manusia
diperbolehkan untuk
> > tidak beragama ataupun menjadi ateis sekalipun. Asalkan, masing-
masing pihak
> > saling menghormati, tidak memiliki agenda tersembunyi ataupun
saling
> > menghancurkan satu sama lain. Pendapat tersebut didasarkan pada
nilai-nilai
> > toleransi yang terkandung dalam Kitab Suci Al – Quran. "Menurut
saya, Al –
> > Quran itu lebih toleransi dibandingkan dengan orang Islam,"
katanya. Ia
> > mengakui, saat ia memutuskan untuk bicara masalah itu
persoalannya tidak
> > mudah. Ia menuai kemarahan yang hebat dari para ulama dan juga
kaum
> > intelektual. Bahkan, salah satu dari mereka sangat kecewa dan
segera
> > menanyakan posisi teologis Sjafii sebagai seorang muslim. Namun,
setelah
> > dijelaskan pandangannya, pihak-pihak yang marah tersebut hanya
diam hingga
> > sekarang.
> >
> > Menurutnya, beberapa ayat di dalam Al – Quran sangat jelas
menegaskan tidak
> > boleh adanya pemaksaan dalam beragama. Bahkan, katanya, nabi pun
dilarang
> > memaksa. "Jadi, kalau orang mau beriman mari beriman kalau tidak
juga mari.
> > Perkara nanti perkara di depan Tuhan itu urusan mereka. Tapi
tidak ada
> > kekuatan duniawi untuk memaksa orang atau pengadilan untuk
membunuh atau
> > menghukum orang yang tidak beriman. Itu pendapat saya," paparnya.
> >
> > Ia melihat, kemarahan yang ditunjukkan kepadanya, kemungkinan
besar karena
> > terbatasnya pengetahuan mereka tentang pemahaman teologis ayat-
ayat Quran
> > terkait dengan kebebasan untuk berkehendak dan memilih. Dalam
pandangannya,
> > sesuai dengan Al-Quran, Tuhan sejatinya menawarkan kebebasan
terhadap
> > seluruh umat manusia untuk mempercayai ataupun tidak
mempercayai, sedangkan
> > resikonya merupakan urusan pribadi masing-masing dengan
Tuhan. "Dengan kata
> > lain, seseorang yang mengklaim dirinya sebagai seorang ateis
ataupun orang
> > yang ingkar terhadap agama tidak dapat dibawa ke pengadilan
untuk menghadapi
> > hukuman agama sebagaimana pandangan yang dianut muslim klasik,"
katanya.
> >
> > Tak Boleh Monopoli
> > Ia juga menyadari, saat ini tidak banyak ulama yang mau membuka
kembali
> > Quran dan menempatkanya secara kontekstual. Sehingga, untuk
masalah ini ke
> > depan akan sangat tergantung pada kemampuan umat muslim untuk
memberikan
> > respon secara kreatif dalam menghadapi tantangan hari ini.
Pasalnya,
> > interpretasi teks keagamaan harus dilihat dalam kaca mata waktu
saat itu.
> > Karenanya, seorang ahli yang kaliberpun tidak punya hak untuk
memonopoli
> > kebenaran.
> >
> > Al – Quran, katanya, secara tegas melarang umat manusia secara
buta menjadi
> > pengikut para ulama. Bahkan, Al- Quran menegaskan membunuh
seseorang artinya
> > membunuh seluruh kemanusiaan. Dia melihat, kelompok militan dan
radikal yang
> > siap untuk mati umumnya mempertahankan fatwa-fatwa dari
pandangan Islam
> > klasik. Salah satu contohnya adalah peledakan bom di Bali dan JW
Mariot.
> > Terkadang, untuk kelompok seperti ini, membunuh orang lain yang
berbeda
> > secara ideologis dari pandangan agamanya dalam beberapa kasus
sebenarnya
> > justru demi kepentingan uang. Oleh karena itu, yang terjadi
sebenarnya
> > adalah penyalahgunaan agama untuk kepentingan dan tujuan rendah.
> >
> > "Secara adil tidak hanya orang muslim yang melakukan monopoli
praktik bom
> > bunuh diri. Beberapa pengikut agama lain juga sering melakukan
hal yang
> > sama. Ketidakadilan dan penindasan yang dilakukan oleh beberapa
orang harus
> > bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakan yang salah
tersebut," imbuhnya.
> >
> > Namun, bagaimana itu dijalankan di Indonesia, ketika hukum
negarapun
> > ternyata masih mencantumkan pasal tentang penistaan agama? Ia
pun menjawab
> > dengan singkat, "Undang Undangnya harus diubah". (tutut herlina)
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > New Email names for you!
> > Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and
> > @rocketmail.
> > Hurry before someone else does!
> > http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
>
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:bali-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:bali-bali-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
bali-bali-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar