Banyaknya orang menganggap AMIS pahlawan adalah refleksi kemunduran mental bangsa kita yang mayoritas lemah dan munafik. Jika AMIS tidak membawa-bawa agama dalam perbuatannya, dijamin Indonesia akan serentak menunjuk mereka sebagai penjahat sadis yang tak layak diberi simpati sepeserpun! jrx
--- On Thu, 11/13/08, darma putra <idarmaputra@yahoo.com> wrote:
From: darma putra <idarmaputra@yahoo.com> Subject: [bali-bali] Opini TEMPO atas liputan eksekusi si AMIS To: bali-bali@yahoogroups.com Date: Thursday, November 13, 2008, 6:14 PM
Lega rasanya membaca ulasan TEMPO tentang sikapnya terhadap pemeritaan media massa atas eksekusi si AMIS (amrosi, muklas, imam samudra). Jelas dan tegas bhw si AMIS bukan seleb apalagi pahlawan. darma ----------- Bukan 'Seleb' dari Tenggulun Pemberitaan tak proporsional membuat tiga terpidana mati bom Bali menjadi "pahlawan". Sisi korban tragedi Kuta harus dimunculkan. MESTINYA tiga lelaki itu tak diperlakukan bagai selebritas. Mereka orang yang paling bertanggung jawab atas pengeboman kawasan Kuta, Bali, Oktober 2002—peristiwa yang menyebabkan 202 orang tewas dan 209 lainnya terluka. Lagi pula ketiganya—Imam Samudra, Mukhlas, dan Amrozi—telah dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati. Aparat sedang bersiap melakukan eksekusi. Yang kita lihat di media massa sungguh aneh. Ketiganya tidak hanya diberitakan lebih dari sekadar orang terkenal, tapi juga ditampilkan sebagai korban atau malah pahlawan. Takbir yang dipekikkan ketiganya dari penjara Nusakambangan muncul di layar televisi dan ditulis di media cetak. Istri-istri terpidana diwawancarai dengan pertanyaan yang mengundang haru: "Bagaimana Ibu menghadapi musibah ini?" Media memang punya alasan menyajikan berita semacam itu—meskipun alasannya bisa diperdebatkan. Harus diakui liputan tentang terpidana mati dan keluarganya secara jurnalistik memang menarik. Dengan liputan-liputan mendalam dan penuh "haru biru", rasa ingin tahu pembaca dan penonton terpenuhi. Ini alasan pertama. Alasan kedua sebenarnya salah kaprah. Ada media yang menganggap memberitakan sisi kemanusiaan dari para terpidana dapat menjadi penyeimbang atas liputan terhadap kekerasan yang telah Amrozi cs lakukan. Prinsip meliput dua sisi (cover both sides) tidak bisa dikatakan sudah terpenuhi dengan cara seperti itu. Ketiga, media menganggap liputan yang simpatik tentang ketiga terpidana adalah cara yang jitu untuk menentang penerapan hukum mati di Indonesia—yang bertahun-tahun jadi polemik. Terpidana kemudian ditempatkan sebagai "korban" dari penerapan hukum yang ditentang itu. Ketiga alasan itu tentu sah-sah saja dikemukakan. Tapi patut dicamkan bahwa kejahatan yang telah dilakukan oleh trio asal Tenggulun itu telah merenggut banyak nyawa. Penerapan prinsip cover both sides mestinya mengharuskan media juga menampilkan sisi korban tragedi bom Bali, misalnya dengan mewawancarai keluarga korban. Mungkin, bagi keluarga terpidana, eksekusi trio Tenggulun itu merupakan musibah. Tapi, bagi ratusan keluarga yang sanak familinya tewas terpanggang di Bali enam tahun lalu, eksekusi mati adalah hukuman yang dianggap setimpal. Artinya, media mesti mengambil jarak. Kata "musibah" sangat terasa berpihak pada para terpidana. Dunia jurnalistik Indonesia bukan tak punya preseden tentang pemberitaan berimbang terhadap terpidana mati. Satu di antaranya kasus eksekusi terhadap Sumiasih dan Sugeng, Juli lalu. Bersama tiga terpidana lain, keduanya terbukti membunuh keluarga Letnan Kolonel Marinir Purwanto di Surabaya, 20 tahun silam. Menjelang eksekusi, media menulis tentang Sumiasih, perempuan tua dengan rambut beruban, yang menanti ajal di depan regu tembak. Tapi simpati itu dilengkapi dengan sejumlah catatan tentang sadisnya Sumiasih cs membunuh para korban. Syahdan, Purwanto dan keluarganya dihantam dengan martil sebelum dimasukkan ke mobil, dibakar, dan diterjunkan ke jurang. Jenazah mereka sulit dikeluarkan karena terperosok ke dalam lubang yang dalam. Tubuh korban gosong, bahkan tercecer dalam beberapa bagian. Dalam liputan tentang eksekusi Sumiasih, umumnya media bisa menghindari sikap partisan. Amrozi, Imam Samudra, dan Mukhlas tak ubahnya Sumiasih. Mereka melakukan kesalahan dan pengadilan telah menjatuhkan hukuman. Ketiganya bukan selebritas, apalagi pahlawan. Search 1000's of available singles in your area at the new Yahoo!7 Dating. Get Started.
|
__._,_.___
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar