__._,_.___----- Original Message -----From: Nengah SumertaSent: Saturday, November 15, 2008 11:46 AMSubject: Re: [bali-bali] Gepeng Makin Meresahkan - demikian Judul berita di Bali PostSwastyastu Bli Oka lansemeton sareng sami
Suksma pisan tanggapane,
raos bebotoh menang?, ehm...gak ngerti deh tiang,
Saya mencoba manjelaskan bahwa saya tidak bilang mereka harus struggle di daerah mereka untuk tetap survive, ada banyak cara, ada banyak celah yang mereka bisa kembangkan, tiang pernah ke munti gunung bli oka, waktu kuliah tiang aktif di kegiatan bakti sosial dan lain sebagainya, memang secara geografis daerah itu tidak productive, tapi saya juga banyak bertemu warga masyarakat sana yang merantau ke jembrana menjadi buruh tani dan tukang panen dan tukang suwun coklat. Jika sebagain dari kelompok tersebut mau menyambung hidup dengan cara yang lebih terhormat, kenapa sebagian lainya memeilih cara yang,maaf, kurang terpuji.
Bli juga lupa menyatakan kalau di munti juga bahwa sebagian besar rumahsudah ada antenna tv.
Maafkan kalau saya hanya bisa melihat kulitnya saja, tapi bagi saya pribadi, mengemis bukanlah sebuah keharusan, tapi lebih menjadi pilihan mereka pribadi. Bli oka mungkin dengan jelas bisa melihat tukang bangunan yang bertebaran di denpasar atau daerah lainya sebagain besar berasal dari daerah luar bali, trus mengapa kita boleh beranggapan bahwa kita kekurangan lapangan kerja?
Mengenai sikap yang diambil pemerintah, bagi saya, kita sudah sewajarnya mencoba melupakan bahwa kita masih punya pemerintah...
mereka hanya sibuk mengurus kepentingan mereka pribadi, itu saja, jangan pernah berharap mereka meakukan sesuatu yang kita inginkan.
Satu lagi hal yang sangat menyayat hati saya adalah, tidak satupun dari anakk-anak yang saya temukan dijalan mau diajak untuk tinggal di panti asuhan! saya sama sekali tidak mengerti, mereka memilih tebal muka dijalanan, daripada hidup layak di panti asuhan, dan mendapat pendidikan.
saya tidak mengerti hal ini, yang saya dengar, mereka ditakut-takuti oleh "management" mereka, bahwa panti asuhan seperti ini, seperti itu dll....
percaya tidak percaya, ketidakberuntungan mereka sudah dijadikan komoditi bisnis oleh sekelompok orang, percaya tidak percaya, mereka memiliki struktur jaringan dngan sistem bagi hasil yang jelas....
disini saya sendiri bingung, kita memberikan sedekah pada siapa??
kalau mereka memang mau makan, saya bis angasi mereka kerjaan, kalau memang tidak bisa sekolah, saya bisa mencarikan mereka orang tua asuh, atau at least memasukkan mereka ke panti asuhan. tapi bukan itu tujuan mereka, bukan itu.
bingung pedidi...
nengah
2008/11/14 oka.wira <oka.wira@bagus-discovery. >com
Dear Pak Nengah miwah semeton sareng sinamian,Ampura titiang nyawis akidik...Apa yang di paparkan pak Nengah memang benar adanya dan tiyang setuju tapi maaf kelihatannya seperti "raos bebotoh menang". Tat kala menang semua sepertinya karena kehebatan dia sendiri.Saya nggak tahu apakah pak Nengah pernah ke desa di Munti, Kedampal dll disekitarnya dan cobalah sejenak bayangkan disana seandainya kalo pak Nengah sendiri terlahir disana? Setandus -tandusnya daerah di Klungkung tempat kelahiran pak Nengah bandingkan dengan keadaan disana.Sifat pemalas (pingin hidup enak-enak dengan nggak ada usaha atau dengan hanya seminim usaha) adalah sifat yang sangat manusiawi - saya kira semua orang kalo bisa dan kalo ada jalan pasti akan memilih cara itu. Lihatlah para tukang palak, debt collector, penjual togel, sampai ke para pejabat kita yang sampai dibilang D4. Semuanya meniru cara mereka dan itu juga lebih meresahkan tapi kenapa para penggepeng itu terlalu diekspose berlebihan dan sepertinya diperlakukan seperti orang2 yang tidak berharga.? Sementara si tukang palak, bandar togel, koruptor dll tidak diekspose sekeji para gepeng? malah mereka ditakuti...he heee...SUNGGUH PERLAKUAN YANG SANGAT TIDAK ADIL.Kalo saya lebih terasa nikmat dan ikhlas hati saya kalo kasi uang recehan rp 500 kepada penggepeng dari pada ketika saya bayar segala macam kewajiban yang dengan terpaksa saya harus lakukan. Saya yakin sebagian dari uang itu akan hangus entah kemana??????? kalo dipikirin akan sakit hati..... Kalo berani menolak di ancam pasal2 megenep. Pemerintah patut dipersalahkan biar mereka semakin tahu tugas dan kewajiban mereka untuk mensejahterakan masyarakatnya daripada uang rakyat dihambur - hambur dipake melali dsb. Disisi lain pun kita memang perlu mempunyai moralitas dalam bentuk tindakan ato kegiatan seperti yang dilakukan ibu Vieb agar terjadi keseimbangan - saya sendiri juga sangat salut dengan langkah2 beliau dari informasi2 dalam milis ini. SUNGGUH SANGAT MULIA. Wish I can give even just a little spot to this life.Bu Vieb salam kenal - semoga tidak pernah bosan mengabdi untuk kebaikan orang lain.Oka----- Original Message -----From: Nengah SumertaSent: Friday, November 14, 2008 9:31 AMSubject: Re: [bali-bali] Gepeng Makin Meresahkan - demikian Judul berita di Bali PostDear Semeton!
Sesungguhnya tidak ada yang terpaksa menjadi gepeng Bli Ketut
Beberapa kali saya ajak mereka makan, saya ajak mereka ngobrol panjang lebar tentang hidup,
dari cara mereka merespond, saya sama sekali tidak melihat ada keterpaksaan dalam hal mengemis.
Sederhana saja, ibu saya usianya 60 tahun bli ketut, beliau jauh lebih renta dari para pengemis itu, tapi beliau sama sekali tidak maumenggantungkan hidupnya pada kami anak-anaknya, bukan karena sok atau gimana, tapi karena beliau memiliki keyakinan, segala macam usahapasti akan memberikan hasil.
Jujur saya merasa iba dan tidak tega mengantar beliau ke tetangga desa untuk berjualan sokasi (sok wadah nasi) yang beliau anyam selama seminggu, sungguh saya tidak tega melihat beliau ngunuh (mencari sisa padi di jerami yang sudah dibuang saat panen padi)
Tapi saya tidak bisa menghentikan beliau melakukanya, karena beliau menganggap berdosa jika harus bermalas-malasan saat kita masih bisa melakukan sesuatu.
Jika Bli ketut jeli melihat para gepeng itu, 95% diantaranya adalah mereka yang dikategorikan usia produktiv. sangat disayangkan. Saya tidakakan pernah ikhlas memberikan Rp500 kepada seorang gadis montok yang berdiri denagn tatapan memelas dihadapan saya. Karena jika di bandingkan denganwarga masyarakat kami, penampilan merkea jauh lebih terawat dan sehat.
Tapi masyarakat kami memilih untuk ngutang dulu ke orang lain, dan mengembalikanya kalau sudahpunya, bukan ngidih, saya juga bisa pinjam gabah selama setahun ke bangli (tiang dari klungkung) itu normal, sepanjang kita berusaha, saya pasti tuhan tidak mungkin membiarkan kita menderita.
Kalau mereka yang menggepeng karena sudah terlalu tua, saya rasa kita punya panti werdha sebagai solusi,m dan untuk merke yang masih dibawah umur, saya rasa bejibunya yayasan dan panti asuhan, akan bisa membantu mereka.
Ini lebih pada masalah mereka pribadi, mereka tidak mau berjuang untuk mencari hidup yang lebih baik.
Saya pernah bicara sama salah seorang dari pengemis itu yang saya temui di depan bank bca ubud, usianya sekitar 14 tahun, saya ajak makan shiomay, ngobrol panjang lebar, saya bisa merasakan seperti apa penderitaan mereka, saya bisa memahami bagaimana rasanya tidakbisa memenuhi kebutuhan hidup, saya pernah melewati keadaan itu, jadisaya denagn mudah bisa masuk kealam pikiran mereka, anak ini akhirnya menangis, meratapi masa depanya, dengan sangat eiger saya tawari dia untuk tinggal di panti asuhan yang di kelola teman saya, agar bisa melanjutkan sekolah dll... dia bilang mau minta ijin dulu ke keluarganya dimunti, tapi tidak punya uang, saya beri dia uang RP.100.000 untuk pulang dan balik lagi, saya beri dia kartu namasaya, dan berjanji akan menunggunya seminggu lagi ditempat yang sama, untuk saya antarkan ke panti asuhan...
selama beberapa hari berselang saya tidak melihat anak ini lagi, adasecercah harapan kalau anak ini akan menepati janjinya untuk datang minggu depan. Tapi sehari sebelum waktu satu minggu itu habis, saya kebetulan adaurusan ke BII denpasar, dan betapa kagetnya saya ketika saya "menemukan" anak tersebut masih mengemis disana.....ketika saya hampiri dia malah lari....
seperti itulah keadanya, bukan karena "terpaksa" tapi lebih karena mereka tidak mau berubah.
Memang akan sangat mudah menyalahkan pemerintah dalam hal ini, tapi bagi saya pribadi itu sama sekali tidak akn ada gunanya.
Kitas bisa melakukan sesuatu untuk menghentikan hal ini misalnya denagn mensupport Programnya Mbok Vieb atau rekan lain, meskipun hanya dengan beberapa ribu perka per bulan, itu sudah cukup, dibandingkan hanya sibuk menyalahkan orang lain.
Suksma
Nengah
2008/11/13 Ketut Santrawan <K_Santrawan@yahoo.com >
Judul di atas sungguh tidak adil bagi mereka yang terpaksa menjadi gepeng karena tidak ada pilihan lain. Menurut saya, yang lebih tepat adalah Kemiskian di Bali semakin meresahkan. Wartawan mestinya lebih peka dalam menulis berita... jangan mendudukan gepeng sebagai penyakit masyarakat...menurut saya, mereka ada korban dari kegagalan pembangunan di Bali... salamGepeng Makin MeresahkanTabanan (Bali Post) -
Satpol PP Tabanan Kamis (13/11) kemarin, melakukan operasi gelandangan dan pengemis (gepeng) di Tabanan. Sebelas gepeng orang dewasa dan anak-anak serta bayi berhasil diciduk dalam operasi di Pasar Tabanan dan Pasar Kediri. Selama ini, banyak pembeli yang mengaku terganggu karena ulah gepeng yang kerap memaksa para pembeli di dalam pasar.
Dalam operasi yang digelar di Pasar Tabanan pukul 07.00 wita, tujuh gepeng berhasil diamankan yakni seorang ibu yang masih berumur remaja, Rama (15) asal Pedahan, Karangsem, menggendong Komang Bayu berusia lima bulan yang diakui sebagai anaknya, Komang Manis (7), Ketut Mani (8), Wayan Ani (20), Made Jana (3), dan Wayan Sari (9). Mereka ditangkap terpencar dan langsung digiring ke Kantor Satpol PP Tabanan.
Dalam operasi yang digelar di Pasar Kediri pukul 12.30 wita, empat gepeng yang juga mengaku asal Karangasem diamankan aparat. Mereka adalah Kadek Sumi (40) menggendong anak I Wayan Putu berusia 9 bulan, serta Ketut Ariani (25) bersama I Komang Jualiarti berusia 1,5 tahun. Balita dan anak-anak tersebut sempat menangis ketika diperiksa di kantor Satpol PP. Mereka kompak mengaku baru beberapa hari berada di Tabanan.
Kepala Satpol PP Tabanan I Nyoman Gede Gunawan mengungkapkan para gepeng itu selanjutnya diserahkan ke Dinas Kesejahteraan Sosial untuk dibina dan dikembalikan ke daerah asalnya. (kmb14)--
I Nengah Sumerta
Production and Product Development Manager
PT Sari Rambut
Tas Merah Division
Desa Abuan Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, Bali Indonesia
80661
Phone (0366) 92222
Fax (0366) 93333
Cell (0361)9104467
Di
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.549 / Virus Database: 270.9.3/1786 - Release Date: 11/13/2008 6:01 PM
--
I Nengah Sumerta
Production and Product Development Manager
PT Sari Rambut
Tas Merah Division
Desa Abuan Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, Bali Indonesia
80661
Phone (0366) 92222
Fax (0366) 93333
Cell (0361)9104467
Di
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.549 / Virus Database: 270.9.4/1789 - Release Date: 11/14/2008 7:32 PM
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar