Selasa, 04 November 2008

Re: [bali-bali] Bls: Pengamat Desak Dihentikannya Akses Amrozi Cs Kepada Media

Saya sering merenung, apakah para wartawan ini masih memiliki rasa empati atau tidak. Pernahkan para wartawan ini membayangkan jika salah satu korban bom itu adalah temannya, saudaranya, anaknya, istrinya, suaminya, atau orang tuanya. Bagaimana perasaannya? Perlu dipertanyakan apakah mereka masih memiliki sense of human atau sudah menjadi media industry instrumen.


--- On Wed, 5/11/08, Luh De Suriyani <lodegen@yahoo.com> wrote:
From: Luh De Suriyani <lodegen@yahoo.com>
Subject: [bali-bali] Bls: Pengamat Desak Dihentikannya Akses Amrozi Cs Kepada Media
To: ajisaja@yahoogroups.com, bali-bali@yahoogroups.com
Date: Wednesday, 5 November, 2008, 11:20 AM

SEPAKAT!!! Mutu berita wartawan dari nusa kambangan sudah sangat buruk. Mereka berlomba-lomba klaim mendapat pesan terakhir amrozy, mukhlas ato imam. Norak sekali. Ini sudah media mengesploitasi teroris untuk mengejar sensasi saja. Saya kasian sama keluarga ketika napi itu juga.

Sejumlah teman yang ada di nusa kambangan sekarang mengatakan wartwan (terutama TV) berlomba-lomba "menculik" keluarga terpidana untuk wawancara eksklusif (??) dengan memberikan iming-iming akomodasi mewah, dsb dsb. Katanya ini tuntutan produser/pejabat medianya.

Saya tidak mengerti, apakah kutipan amrozy langsung menaikkan belanja iklan???

Tolong cek ke lapangan bagaimana pedihnya korban dan keluarga korban melihat akses berlebihan yang didapat napi itu di penjara "high alert?". Malah nampak di media, penjara ini lebih buruk kualitas keamanannya dari pada rutan saja.

saya rasa ini ekses media "yang berkorban banyak" untuk mendapat secuil quote-nya.

--
Luh De Suriyani
Freelance Journalist
Email lodegen@yahoo. com
Blog http://lodegen. wordpress. com

--- Pada Sel, 4/11/08, Anton Muhajir <antonemus@gmail. com> menulis:

> Dari: Anton Muhajir <antonemus@gmail. com>
> Topik: [ajisaja] Pengamat Desak Dihentikannya Akses Amrozi Cs Kepada Media
> Kepada: "bali-bali" <bali-bali@yahoogrou ps.com>, "baliblogger" <baliblogger@ yahoogroups. com>, "jurnalisme" <jurnalisme@yahoogro ups.com>, pantau-komunitas@ yahoogroups. com, kotakudenpasar@ yahoogroups. com, "forum-pembaca- kompas" <Forum-Pembaca- Kompas@yahoogrou ps.com>, "ajidenpasar" <ajidenpasar@ yahoogroups. com>, "ajisaja ajisaja" <ajisaja@yahoogroups .com>
> Tanggal: Selasa, 4 November, 2008, 7:56 PM
> Dear all,
>
> Berita ini agak telat. Tapi tetap konteksual. Media memang
> terlalu
> banyak memberikan tempat pada para terpidana kasus
> terorisme. Sadar
> atau tidak, media telah menebarkan kebencian yang
> dihembuskan Amrozi
> CS. Bahkan tak sedikit yang menempatkan para teroris itu
> sebagai
> pahlawan.
>
> Jarang sekali yang memberi tempat pada para korban.
>
> Salam,
>
> --
>
> 28/10/08 12:40
>
> Pengamat Desak Dihentikannya Akses Amrozi Cs Kepada Media
>
> http://www.antara. co.id/arc/ 2008/10/28/ pengamat- desak-dihentikan nya-akses- amrozi-cs- kepada-media/
>
> Brisbane (ANTARA News) - Pemberian akses yang besar kepada
> Amrozi, Ali
> Ghufron, dan Imam Samudera, tiga pelaku bom Bali 12 Oktober
> 2002 yang
> menewaskan 202 orang, kepada para pekerja media dalam dan
> luar negeri
> selama ini merupakan kesalahan fatal pemerintah Indonesia
> dalam
> menangani kasus hukuman mati.
>
> "Kalau pernyataan Amrozi cs terus keluar ke ruang
> publik, maka
> dampaknya akan terus memberatkan Indonesia," kata
> pengamat pariwisata
> Bali, I Nyoman Darma Putra, di Brisbane, Selasa, menanggapi
> rencana
> eksekusi Amrozi cs dan dampaknya pada industri pariwisata
> Bali.
>
> Penulis buku "Tourism, Development and Terrorism in
> Bali" (London,
> Ashgate 2007) itu mengatakan, salah satu bentuk dari
> kekeliruan
> pemerintah itu adalah adanya "open house" di
> penjara Nusa Kambangan
> saat Lebaran. Pemerintah sebaiknya menyudahi akses para
> pelaku bom
> Bali kepada pers.
>
> Selama ini, kalangan pers cenderung tidak tertarik
> mewawancarai
> terpidana mati secara berulang-ulang, kecuali terhadap
> ketiga pelaku
> bom Bali 12 Oktober 2002 ini. Di Australia, akses terpidana
> kasus
> terorisme kepada pers seperti yang diperoleh Amrozi cs
> merupakan
> sesuatu yang mustahil, katanya.
>
> Menjelang eksekusi ketiga pelaku bom Bali yang menewaskan
> 202 orang,
> termasuk 88 orang warga Australia awal November mendatang,
> Kementerian
> Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Australia kembali
> menegaskan
> pemberlakuan peringatan perjalanan level empat bagi
> Indonesia kepada
> para warganya.
>
> Makna di balik peringatan perjalanan level empat itu adalah
> setiap
> warga Australia yang berniat berkunjung ke berbagai daerah
> di
> Indonesia diminta untuk "mempertimbangkan
> kembali" rencana mereka itu
> karena alasan keamanan (ancaman terorisme).
>
> Darma Putra mengatakan, peringatan perjalanan kepada
> Indonesia itu
> belum tentu diindahkan oleh semua warga Australia.
>
> Bahkan banyak pelajar Australia yang bersikukuh untuk
> menikmati
> liburan sekolah mereka di Bali, karena mereka sudah
> melakukan
> "booking" jauh sebelum munculnya ribut-ribut soal
> eksekusi Amrozi cs
> yang mendorong pemerintah Australia kembali menegaskan
> level empat
> peringatan perjalanan bagi Indonesia, katanya.
>
> Terbelah
> Sehubungan dengan pelaksanaan hukuman mati terhadap Amrozi
> cs, sikap
> rakyat Australia sendiri terbelah.
>
> Menurut Indonesianis Universitas Nasional Australia (ANU),
> George
> Quinn, ada kelompok masyarakat yang berpendapat bahwa
> perbuatan Amrozi
> cs tidak perlu dibalas, tetapi ada pula yang berpendapat
> sebaliknya.
>
> Bagi kelompok pertama, mereka melihat hukuman mati sebagai
> perbuatan
> yang tak berprikemanusiaan dan melanggar hak azasi manusia
> terlepas
> dari aksi Amrozi cs enam tahun lalu. "Jadi kalau
> hukuman mati jadi
> dilaksanakan pasti banyak juga suara yang
> menentangnya, " kata Quinn.
>
> Namun ia pribadi masuk ke dalam kelompok masyarakat yang
> pro-hukuman
> mati bagi Amrozi, Ali Ghufron dan Imam Samudera sebagai
> konsekuensi
> atas tindakan mereka enam tahun lalu, kata kepala Pusat
> Asia Tenggara
> Fakultas Studi-Studi Asia ANU itu.
>
> Ketegasan pemerintah dan otoritas hukum Indonesia atas
> eksekusi para
> pelaku Bom Bali 2002 akan meningkatkan "citra
> Indonesia" di Australia,
> kata penulis Buku "The Novel in Javanese (Leiden,
> 1992) dan "The
> Learner`s Dictionary of Today`s Indonesian" (Sydney,
> 2001) ini.
>
> Bagi pemerintah Australia, eksekusi bagi Amrozi Cs adalah
> masalah yang
> tidak perlu dicampuri walaupun Australia masuk dalam
> kelompok negara
> yang menolak hukuman mati.
>
> Sikap pemerintahan Perdana Menteri Kevin Rudd dari Partai
> Buruh dalam
> masalah eksekusi Amrozi cs ini sejalan dengan sikap
> pemerintahan John
> Howard yang digantikannya. (*)
>
> COPYRIGHT (c) 2008
>
> --
> Anton Muhajir | http://rumahtulisan .com

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/


Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does! __._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: