Hari menjelang senja saat pesawat yang seharunya terbang siang hari dari Jakarta, mendarat di bandara Ngurah Rai. Penerbangan tersebut delay hampir 2 jam dari jadwal semula. Kegembiraanpun segera terasa saat keluarga di Bali menjemput dengan senyum. Namun perut tak mau kompromi, jarak rumah yang cukup jauh agaknya tidak setara dengan kekuatan untuk menahan lapar. Akhirnya rombongan yang semuanya keluarga mampir ke rumah makan siap saji dengan ciri khas badut hidung besar yang konon perusahaan dari Amerika. Untunglah tidak perlu antri untuk mendapatkan makanan di tempat itu. Karena rasa lapar yang sangat, salah satu saudara pun bergurau bahwa saya ndak makan sudah berminggu-minggu. Tentu saja tidak dipedulikan.
Mungkin empat kali gigitan lagi dada ayam renyah tersebut akan habis, namun beberapa saudara bersikras untuk segera meninggalkan tempat tersebut, makanan mereka pun nampak lebih banyak yang belum dimakan. Karena di paksa, akhirnya ayampun dipaksa masuk mulut sambil beranjak pergi menuju mobil. Dalam perjalanan saya bertanya ke salah satu saudara mengapa harus terburu-buru meninggalkan tempat makan tadi. Dan jawabanya cukup mengejutkan, bahwa ada dua orang pengunjung pria yang berbusana seperti rok panjang wanita, berjenggot dan terdapat seperti tato hitam di dahi. Saya mentertawakan mereka seraya menjelaskan bahwa saya banyak punya teman yang berbusana dan bergaya demikian, dan tidak perlu di takuti karena mereka bukan orang jahat. Ucapan sayapun mengherankan para saudara, salah satu orang yang duduk di bangku belakang mengatakan bahwa mungkin saat ini bisa bilang begitu, namun bila terjadi hal yang buruk barulah muncul penyesalan. Ia pun menasehati agar menghindari kondisi demikian, karena kita tidak terkait dengan mereka namun para penjahat tidak pilih-pilih dalam beraksi. Dan sedikit bernada mengajek, sang supir yang merupakan saudara sepupu dari ibu berkata bahwa akan sangat tidak lucu jika kami sekeluarga menjadi korban. Seperti bertaruh nyawa saat berada disekitar mereka. Wow mengerikan!
Pun demikian saat hampir semua media menyajikan pelaku bom Bali sebagai sajian utama, kami memang tidak begitu tertarik dengan sajian tersebut namun tetap mengikutinya. Demikian jika ditanya apakah penting kematian para pelaku bom Bali, mungkin saya akan menjawab tidak terlalu penting, karena memang saya tidak ada kaitan dengan para pelaku ataupun para korban. Berbeda halnya jika pertanyaan tersebut saat saya merupakan salah satu keluarga korban bahkan korban, tentu kematian pelaku merupakan hal yang mutlak. Dimana banyak korban yang tubuhnya tidak utuhlagi, kehilangan nyawa, kehilangan keluarga bahkan kehilangan masa depan dan hidup diantara hidup namun mati tanpa ada yang peduli. Para korbanpun tidak pernah diberi pilihan untuk mati dengan jalan apa seperti para pelaku, atau para korban tidak pernah dianggap memiliki hak hidup seperti para pelaku yang terus mendapat dukungan untuk tetap hidup bahkan eksekusi terhadap pelaku adalah penggaran HAM. Siapapun di posisi korban kemungkinan besar akan mengatakan pentingnya kematian pelaku bahkan kematian bak binatang seperti para korban. Dilain kejap muncul opini bahwa para korban sebagai balasan kekejaman negara tertentu di suatu wilayah, jika demikian apakah mereka layak dijadikan korban balas dendam? Jika merasa dendam dengan negara tertentu mengapa bom justru di ledakkan di negeri sendiri, apakah para pelaku tidak punya yali untuk melakukannya langsung di negara yang ia maksud? Mari bertanya pada rumput yang bergoyang.
Begitupun jika saya ada di pihak para pelaku, tentu pengobaran semangat pembebasan para pelaku adalah mutlak, bahkan kematian para pelaku berarti penghinaan dan pelanggaran HAM. Saat itu tidak akan terjadi pemikiran terbalik, yaitu seandainya saya ada di pihak seberang. Merupakan keberhasilan pembentukan opini oleh para pelaku dimana perbuatan menghilangkan nyawa orang dikaitkan dengan agama, meskipun agama yang dikaitkan belum tentu mengisyaratkan pembunuhan yang begitu kejam. Namun bila benar ada agama yang demikian, wow...sebuah agama yang mengerikan karena berisi perintah membunuh orang lain yang tidak seagama dengannya. Saya juga tidak yakin jika salah satu orang yang menyuarakan pembelaan para pelaku akan bersuara lantang meminta pembebasan para pelaku jika salah satu keluarganya menjadi korban bom Bali. Jika hal ini terjadi merupaka hal yang luar biasa.
Peran media sebagai kontrol sosial pun turut menjadi penyokong salah satu pihak dalam sebuah perkara, kebetulan dalam kasus bom Bali media lebih banyak menampilkan tentang pelaku, dari proses penangkapan, upaya hukum hingga proses eksekusi. Wacana publik pun terbangun, banyak pihak yang mendukung pihak yang banyak menjadi buah bibir media bahkan bukan hal yang mustahil untuk pemberian gelar pahlawan bagi pelaku dan mejadi inspirasi bagi yang lainnya. Jika menengok para korban, mereka minim pemberitaan sehingga bagai jatuh tertipa tangga, dimana mereka menjadi korban dan tiada yang memberi bantuan meskipun mereka kehilangan keceriaan dan harapan hindup. Sampai disini nampak kematian para pelaku bukanlah hal yang penting, penderitaan para korban juga tidak penting, karena berita yang menjual adalah yang terpenting. Mungkin saja lebih banyak kejadian, lebih banyak berita akan lebih banyak uang yang diperoleh.
Bak pisau bermata dua, pemberitaan para korban kemungkinan membuka luka lama. Namun, apakah pemberitaan yang tidak berimbang tidak menimbulkan kepiluan pihak yang tidak tersentuh wartawan? Apakah lantangnya pekik kubu pelaku lebih baik dari pengungkapan derita para korban? Jika begitu, media diposisi yang tepat. Sayangnya hanya korban yang merasakannya, dan saya sekeluarga tidak ingin menjadi korban atau pelaku. Jadi, saya tidak akan berjingkrak akan kematian para pelaku. Biasa aja kaleee....!!!
__._,_.___
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar