Surga Sumber Terorisme.
"Saya mohon agar pemerintah membasmi terorisme sampai ke akar-akarnya" (Chusnul Khotimah, korban Bom Bali I)*
Bila pemerintah, atau bangsa ini ingin membasmi terorisme sampai ke akar-akarnya, satu pertanyaan mendasar yang harus diajukan: mengapa Amrozy dkk, ustad (guru) pesantren, orang-orang yang begitu saleh dalam agama mampu membunuh ratusan orang dengan cara keji dan hati nuraninya sama sekali tidak terganggu? Amrozi terus tersenyum-senyum, dan mereka sama sekali tidak menyatakan penyesalan, kecuali terhadap korban Muslim yang katanya juga akan masuk surga. Hermawan Sulistiyo (Kiki), dari LIPI, dalam disksusi di TVOne Senin Malam, dengan Komaruddin Hidayat, Rektor UIN, mempertanyakan, kalau betul orang Muslim yang mati itu akan mendapat surga, seperti kata Imam dan juga didukung para ulama dan pimpinan partai politik Islam, bagaimana dengan anak-anak mereka yang ditinggalkan di dunia ini? Kiki juga menyebut Putu Purnama, umur 7 tahun yang ibunya meninggal dalam tragedi Kuta itu. Dan bagaimana dengan korban non-muslim – ini pertanyaan saya. Orang-orang non-muslim, apakah mereka mati kena bom teroris, karena kesruduk dokar, sakit atau usia tua, menurut Islam nasibnya sama saja: masuk neraka, karena meraka kafir yang menolak Allah dan Rasulnya.
Andaikata mereka pastor atau bhiksu.
Para pemimpin agama menjelaskan sebab terorisme adalah kemiskinan dan ketidak adilan. Alasan ini dapat diargumenasi. Kemiskinan dan ketidak adilan ada di mana-mana di seluruh muka bumi ini, menimpa orang dari berbagai agama. Tapi mengapa sebagian besar, menurut Irshad Manji dalam bukunya Beriman Tanpa Rasa Takut, hampir 99% - dari teroris itu adalah orang Islam?
Orang Timor Leste yang beragama Katolik hidup sangat miskin dan telah "diperlakuan tidak adil" oleh
Nuansa agama tampak semakin jelas menjelang eksekusi mati dan selama pemakamannya. Pernyataan keluarga, kehadiran massa yang demikian banyak, serta dukukngan pernyataan dari banyak ulama serta pemimpin partai politik Islam, yang memperlakukan mereka sebagai mujahid yang mati syahid semakin menegaskan motivasi agama di balik tindakan mereka.. Ustad Abu Bakar Ba'ayir, dalam sambutannya waktu penguburan Amrozi dan Muklas di Tenggulun, menyatakan bangga atas perjuangan mereka. Dan dia mendorong jihad diteruskan. Andaikata ada orang Hindu yang ikut-ikutan menyatakan bahwa Amrozi dan kawan-kawannya para teroris telah "membajak" Islam yang sejatinya agama damai dipersilahkan mengaca diri dulu ke Tukad Badung.
Jadi, di samping penjelasan politik dan ekonomi, penjelasan dari segi agama justru sangat penting, kalau bukan yang paling penting untuk memahami terorisme ini.
Dalam debat di TVOne pada hari Rabu tanggal 5 Nopember 2008, mengenai Jihad dan Terorisme, antara FPI, FUI, Forum Betawi Rempug di satu pihat dengan Aliansi Kebebasan Beragama dan Mahasiswa anti kekerasan, terungkap bahwa di samping kedamaian di dalam doktrin dan sejarah Islam juga banyak kekerasan, ini diakui oleh juru bicara kedua belah pihak (Anick dari NU, dan M Khathat dari FUI).
Siapapun yang membaca Quran, Hadis, Sunnah atau Sirah Nabi, dan sejarah Islam akan mengakui hal ini.
Periode damai yang dimaksudkan adalah 13 tahun penyebaran Islam di Mekkah oleh Muhammad. Tetapi selama 13 itu, dia hanya berhasil mendapat pengikut tidak lebih dari 75 orang. Setelah Muhammad menyingkir ke Medinah, dalam jangka 10 tahun dia sudah mengislamkan seluruh jazirah Arabia, dengan strategi dan taktik yang sama sekali berbeda dengan priode Mekkah. Di Madinah, dia menggunakan politik (siasah) dan perang yang disebut jihad.
Dengan cara Medinah, dengan jihad, dengan pedang, Islam disebarkan ke luar Arabia. 100 tahun sejak kelahirannya, Islam telah menguasai wilayah yang sangat luas, dari Maroko sampai India. (Istilah masyarakat Madani yang berasal dari kata Medinah, sebagai padanan civil society, terasa ironis kalau bukan tipu-tipu).
Surga sebagai hadiah Jihad.
Dalam satu wawancara dengan majalah Tempo tak lama setelah Iman Samudera dijatuhi hukum mati oleh PN Denpasar dia mengatakan, dia sama sekali tidak takut dengan hukuman itu, karena sebelum darahnya menyentuh bumi dia sudah dijemput oleh para bidadari.
Seperti apa gambaran surga yang dijanjikan kepada para mujahid yang mati syahid ini?
Para penghuni surga akan duduk bertelekan pada bangku-bangku pendek. Mereka akan mengenakan pakaian dari sutra. Buah-buahan mengikuti kemanapun mereka pergi. Anggur dan minuman keras (khamar) tinggal mengalir bak sungai di Janat (taman surga), mereka tinggal menyenduk dan menenggaknya dan itu tidak memabukkan. Di samping itu ada zanzabil, air jahe yang juga nikmat. Tetapi yang paling utama adalah 72 houris, bidadari yang terus perawan, sekalipun terus mereka setubuhi. Mereka bertiga akan mendapat "kekuatan" 100 kali kekuatannya di dunia. Sekalipun makan dan minum mereka tidak buang air besar maupun kecil. Sekalipun terus-menerus sanggama para istri mereka tidak hamil. Bau keringat mereka sebagai harum kasturi.
Donald Trump atau Hugh Hefner mungkin iri dengan kehidupan Amrozi dkk. Donald Trump harus bekerja keras untuk dapat tinggal di apartemen mewah, mempunyai 3 istri, itupun hanya satu istri setiap masa, karena di AS poligami dilarang, Amrozi dkk, cukup meledakkan bom di tempat ramai. Maka itu tidak heran banyak teman seiman Amrozi di seluruh dunia yang siap melakukan hal yang sama, bahkan sambil meledakkan dirinya sendiri.
Gambaran surga dalam Quran dan Hadis yang begitu grafis dapat digolongkan pornografi, tulisan porno, karena tulisan tentang surga ini nyata-nyata menimbulkan hasrat seksual yang menyala-nyala bagi banyak anak-anak muda seperti Amrozi di seluruh dunia. KH Abdurahman Wahid dalam satu diskusi di radio pernah mengatakan Quran sebagai kitab pornografi. Ini menyebabkan kehebohan di antara para ulama, ada yang mengamcam menuntut Gus Dur pengadilan.
Surga: persetubuhan abadi?
"Apakah surga ada?" seharusnya lebih dulu ditanyakan. Karena tulisan ini ditujukan kepada orang-orang beragama, maka pertanyaan pertama saya lewati. Setiap agama memiliki tujuan tertinggi, dan tujuan tertinggi itu terletak di dunia setelah kematian. Tujuan ini membedakan agama dengan ideologi-ideologi lain, dan juga membedakan taraf kesadaran etis, moral dan spiritual yang dimiliki oleh masing-masing agama.
Agama Kristen percaya dengan surga di mana setiap orang Kristen akan hidup abadi dengan Bapa melalui Yesus Kristus. Orang Buddha akan abadi dalam Nirvana. Bagi orang Hindu sorga hanya tujuan sementara dan sama sekali tidak menyebut-nyebut soal seks, tujuan tertinggi adalah moksha, persatuan jiwa (atman) dengan Tuhan (Brahman) yang dianalogikan seperti sungai-sungai yang lebur dalam samudera.
Hindu, Buddha, dan Kristen percaya dengan kehidupan abadi setelah kematian, dalam Tuhan, dalam Kesunyataan, bersama Bapa di sorga. Islam percaya dengan persetubuhan abadi di sisi Allah.
Apakah orang-orang Muslim dewasa ini masih percaya dengan surga semacam itu? Kalau pertanyaan ini ditujukan kepada Imam Samudera, Amrozi dkk, jawabannya pasti "ya"! Tapi bagaimana pandangan orang Islam "moderat" tentang hal ini? Ini yang ingin saya ketahui. Saya baru bisa bertanya kepada dua orang, seorang berpendidikan tinggi dan pernah menjabat eksekutif menengah di sebuah perusahaan asing. Satu lagi seorang tamatan SD, tukang yang sering memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil di rumah atau memotong rumput di halaman.
Yang pertama, kira-kira 2 bulan yang lalu menanyakan pendapat saya tentang hukuman mati Amromzi dkk yang tidak jelas. Saya jawab, "sebenarnya lebih cepat lebih baik," jawab saya. "Kenapa?" dia agak heran. "karena," kata saya, "mereka segera dapat – saya memasukkan ibu jari saya di antara jari telunjuk dan jari tenggah yang saya gerak-gerakkan - dengan 72 bidadari" Dia tertawa mesem-mesem. Saya balik bertanya: "anda percaya surga semacam itu?" Sambil menarik dagunya ke dalam, dengan malu-malu dia menjawab: "katanya sih begituuu."
Dengan yang kedua saya langsung bertanya: "Lu percaya surga semacam itu?" Dia tertawa, dan agak lama baru menjawab "kata ustad sih begitu pak."
Saya mendapat kesan, rasa kepantasan, susila, sopan santun, dan moralitas mereka tidak mendukung keberadaan surga semacam itu, tetapi mereka bagaimanapun harus menjunjung keyakinan mereka, kecuali kalau mereka berani murtad, dan itu hukumannya neraka jahanam. Saya ingin bertanya kepada lebih banyak teman-teman Muslim, tetapi rasanya kurang enak. Saya akan senang kalau ada yang sukarela memberi jawaban atas pertanyaan saya ini.
Sekarang kita tanya common sense (agama juga memiliki common sensenya sendiri). Bila Tuhan adalah kebaikan tertinggi, kesucian tertinggi, apakah mungkin dia menciptakan surga seperti "amusement centre" di mana orang-orang saleh melakukan orgi seks? Coba bayangkan di taman surganya yang indah, Tuhan menyaksikan jutaan orang beriman saleh terus-terus melakukan hubungan seks? Tidakkah Dia kelihatan sebagai muncikari dari sebuah "cosmic bordil"? Kasihan Tuhan.
Di dalam konsep Hindu tentang cakra (pusat kesadaran) tujuan terakhir, berupa surga tempat nafsu dipuaskan tanpa batas, adalah pada cakra paling bawah (muladhara cakra) yang letaknya sejajar dengan alat produksi dan pembuangan. Sedangkan tujuan tertinggi berupa moksa atau nirvana, ada pada cakra tertinggi sahasrara, yang terletak di atas ubun-ubun. Dikatakan dalam bahasa terang tujuan tertinggi manusia berupa pemuasan hasrat seksual tanpa batas terletak di bawah puser.. Sebuah tujuan tertinggi yang sangat rendah.
Pesan apa yang disampaikan oleh surga tubuh itu? Plato mengatakan, nafsu mengundang kekerasan; semakin tak terkendali nafsu, semakin hebat kekerasan yang ditimbulkannya. Cukup dengan membunuh orang lain (kafir) kalau perlu sambil meledakkan diri sendiri, maka kenikmatan tanpa batas, sexual indulgences, akan diperoleh. Sebuah pesan yang sangat berbahaya. Siapapun yang menciptakan (gambaran) surga semacam itu, apakah dia "tuhan" atau – lebih mungkin – manusia, perlu diperiksa kepantasan, kepatutan dan kesehatan mentalnya.
Amrozy meragukan surga itu.
Sekarang kita lihat pernyataan Imam Samudera, yang dengan lantang menyatakan bahwa sebelum darahnya mencapai tanah, ia sudah dijemput oleh para bidadari yang akan menjadi istri-sirinya di surga. (Ingat, para calon pelaku bom bunuh diri juga disebut "pengantin"). Tetapi mengapa ia, atau mereka, membiarkan pangacaranya melakukan berbagai upaya untuk mencegah hukuman mati itu? Bukankah dengan demikian para pengacara muslim itu, menghalangi mereka, para mujahid itu untuk menerima hadiah dari jihadnya di jalan Allah?
Dekat menjelang eksekusi, Ali Gufron alias Muklas, dengan nada keras mengatakan, bila dia dibunuh oleh pemerintah, maka pemerintah itu juga akan dibunuh. Selama tiga hari setelah menerima pemberitahuan akan dieksekusi, ketiga terpidana tidak dapat menguasai diri, wajahnya tegang, lehernya mengeras. Dan dengan histeris berteriak-teriak "Allahu Akbar! Allah Akbar! Kafir! Kafir! (Tempo 10-16 Nopember 2008). (Saya teringat cerita mantan jaksa, yang waktu muda memeriksa SM Kartosuwiryo, Presiden dan Panglima DII/TII. Pak jaksa ini menduga Kartosuwiryo orangnya keras, galak dan tangguh. Tetapi ketika diperiksa, ia terus menangis minta bertemu istrinya).
Kalau hukuman mati itu membuat meraka menjadi syuhada dengan imbalan surga, lalu mengapa dia begitu marah dan dendam terhadap orang yang mengantarkan dia untuk mendapat surga yang nikmat itu? Ibaratnya, kalau pemerintah memberi mereka hak untuk menghuni apartemennya Hugh Hefner dengan para buniesnya yang cantik-cantik dan terus perawan kembali, setelah sanggama, mengapa dia harus menghukum mati pemerintah? Bukankah seharusnya mereka berterima kasih? Apakah itu berarti para mujahid itu ragu-ragu dengan janji surga itu?
Jelaslah Amrozy lebih memilih hidup di dunia ini,walaupun hanya dengan 3 istri, dalam penjara lagi, dari pada hidup di surga dengan 72 bidadari.
Dari segi ilmu kalam (teologi), pernyataan Iman Samudera juga tidak logis. Untuk dapat menikmati segala hidangan surga, terutama setubuh abadi dengan para houris, mereka harus memiliki tubuh seperti di bumi. Di dalam keyakinan Islam (juga Kristen) tubuh itu baru dibangkitkan kembali dari kuburnya setelah hari kiamat. Kita saksikan, jazad Imam Samudera dkk masih ada di bumi beberapa jam sampai dikuburkan. Bahkan bila kuburnya digali sepuluh tahun kemudian, kemungkinan besar tubuh itu juga masih ada. Jadi bagaimana mereka dapat menikmati khamar, air jahe, seks, bila tubuhnya masih ada di kuburan di bumi?
Apakah mereka betul-betul mendapat surga semacam itu, atau malah jatuh ke tempat lain, sesuai karmanya, saya merasa prihatin: bagaimana sebuah keyakinan dapat merusak mental dan hati nurani manusia demikian parahnya.
"Dimana-mana orang baik berbuat baik; orang jahat berbuat jahat. Tetapi agama dapat membuat orang baik berbuat jahat." (Blaise Pascal, Filsuf Perancis).
Dekonstruksi surga.
Banyak intelektual Muslim "moderat" mencoba memberi makna baru tentang jihad, dengan bermain semantik. Katanya arti jihad adalah upaya sungguh-sungguh, dalam ekonomi dan pendidikan. Mereka bedakan jihad dengan gazwah, qittal, and what not. Tetapi mereka tidak pernah menyentuh substansinya: ayat-ayat kekerasan yang demikian banyak dalam Quran dan Hadis, dan bagaimana Muhammad melaksanakannya semasa hidupnya. Dalam waktu 10 tahun di Medinah, lebih dari 70 kali ia mengirim pasukan ke target yang hendak diserang dan dijarah, sekitar 20 kali (ada yang bilang 35) dia pimpin sendiri jihad itu. Para ahli Islam menyebut serangan ini bela diri. Semua istilah mereka buat definisinya sendiri: para militan Islam mendatangi satu wilayah, mengajak penduduk wilayah itu masuk Islam. Bila mereka menolak langsung diperangi.
Dalam hal ini Abu Bakar Ba'asyir lebih jujur. Jihad pendidikan dan ekonomi itu, hanya bagian 10%, sedangkan yang 90% adalah jihad dalam artinya yang asli, perang suci untuk menjadikan Allah satu-satu Tuhan yang disembah di atas bumi ini. Jihad ekonomi, pendidikan bahkan jihad spirutal, - what a name- tidak akan membuat orang mati (syahid), syarat untuk mendapat surga. Quran dan hadis sama sekali tidak bicara soal ini. Bahkan ketika Allah dalam satu ayat Quran memerintahkan orang-orang beriman untuk memberikan pinjaman kepadanya, itu bukan modal untuk berbisnis, seperti yang dikatakan oleh Komaruddin Hidayat, dalam diskusi di atas. Memangnya Allah mau bisnis apa dengan siapa? Pinjaman itu adalah untuk modal biaya jihad dengan imbalan Surga.
Bila Islam ingin dibebaskan dari tuduhan sebagai agama kekerasan yang melahirkan terorisme, beranikah orang-orang Muslim melakukan dekonstruksi terhadap konsep-konsep dasar mereka tentang jihad dan surga pemuas tubuh sebagai hadiah jihad? Misalnya yang bangkit setelah hari kiamat hanyalah jiwa bukan badan; kenikmatan surga adalah kebahagiaan rohani, bukan kesenangan badan. Gambaran surga yang ada dalam Quran dan Hadis hanyalah alegori? Prof Dr Quraish Shihab, mantan menag/rektor UIN dan ahli tafsir Quran, menyatakan, gambaran surga dalam Quran dan Hadis yang demikian rinci dan grafis tidak mungkin ditafsirkan. Membongkar makna jihad yang tercantum dalam teks-teks Quran, Hadis dan Sunnah (apa dilaksanakan oleh Muhammad) selama di Medinah dan para pengikutnya kemudian, dan dalam kaitan ini juga makna surga berarti menolak teks dan menyalahkan Muhammad. Ini adalah suatu yang tidak mungkin.
Bila demikian dapatkah pemerintah Indonesia membasmi terorisme sampai ke akar-akarnya, sebagaimana diminta oleh Ibu Chusnul Khotimah? Apakah pemerintah berani menyentuh akar-akar itu, yang tertanam dalam Quran, Hadis dan Sunnah Nabi? Tampaknya sulit. Lihat saja kasus pedofil Syekh Puji, yang jelas-jelas melanggar UU Perkawinan dan Undang-Undang Perlindungan Anak, dengan sanksi hukum 5 tahun penjara, tapi penangannya tidak jelas.
*(Chusnul Khotimah, korban Bom Bali I, yang mukanya rusak dan karena itu sampai kini tidak memiliki pekerjaan. Namanya yang berarti Berakhir Baik kontras dengan kenyataan hidup yang dijalaninya, karena ada manusia-manusia penggila surga. Pengobatannya sampai kini dibantu oleh seorang Tionghwa yang tinggal di Jerman, kemungkinan besar kafir).
Ki Lanang Singadapa.
__._,_.___
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar