Jumat, 03 Oktober 2008

Re: Bls: Bls: [bali-bali] THE RISE OF INDIA

Sangat bisa dipahami mengapa Raam Punjabi berkata seperti itu. Tidak lebih dari upaya mengambil hati konsumen untuk bisnisnya disini. (dimana kaki berpijak disana langit dijunjung)
 
Demikian juga begitu maraknya berbagai iklan di TV berkaitan dengan hari raya besar ini, yang seolah-olah berlomba menyemarakkannya.
 
Tapi masih begitu bodohnyakah kita, kalau menelannya mentah-mentah, lebih lebih merasa bangga hati, sedangkan itu tidak lebih dari penggiringan konsumerisme dari masyarakat kita secara besar-besaran. Tidak lebih dari upaya produsen multi national yang secara terus menerus berusaha mencengkramkan bisnis ditengah masyarakat kita ? Duh kang mas !!
 
Salam,
KS
 
----- Original Message -----
Sent: Friday, October 03, 2008 1:57 AM
Subject: Re: Bls: Bls: [bali-bali] THE RISE OF INDIA

--- In bali-bali@yahoogroups.com, madra suta <madra_suta@...> wrote:
>
>
> ### Apa benar Raam
> Punjabi bicara begitu pak?
>

Raam hanya mengatakan kekagumannya pada masyarakat Indonesia yang
lebih bisa menerima kebhinekaan dalam soal tradisi seni dan budaya
dibanding India menurut pandangan dia.

Kemudian dalam pandangan saya, ini berkaitan erat dengan kebudayaan
India yang merupakan hasil dari budaya continent sedangkan Indonesia
merupakan hasil budaya kepulauan.

> Apakah ini tanda India sulit menerima
> kebhinekaan, menurut Raam Punjabi?

Menurut saya Pak, bukan menurut Raam.

> Dan apakah hal semacam itu mungkin di
> Indonesia? Mudah-mudahan?
>

Menurut saya Indonesia lebih bisa menerima kebhinekaan dibanding
India, tanpa mengatakan India tidak bisa menerima kebhinekaan. India
juga bisa dari semua data yang anda berikan.

India punya 21 bahasa tapi tetap memasukkan bahasa Inggris sebagai
bahasa pemersatu. Sedangkan Indonesia punya 300 bahasa daerah tapi tak
perlu menyertakan bhs Inggris/Belanda sebagai bhs pemersatu.

Mungkin Pak Putra agak sedikit salah paham.
Saya tidak mengatakan India tidak bisa menerima kebhinekaan tapi
relatif lebih sulit dibanding Indonesia atau dengan kata lain
Indonesia lebih beragam dan dilihat dari struktur konflik karena
perbedaan dalam tataran komunitas yang ada, Indonesia lebih harmonis
dalam keberagaman dibanding India. Ini menurut saya loh ya.

>
> ### Kalau soal
> mengidolakan bintang  film ya mungkin saja
> karena film mereka cocok dengan selera mereka. Tapi ini bukan ukuran
penolakan
> terhadap kebhinekaan, saya kira.

Menurut saya ini punya hubungan yang sangat erat dengan latar belakang
budayanya. Bicara soal India bicara satu kultur yaitu kultur India
sedangkan bicara Indonesia bicara soal multikultur.

> Mereka mungkin tidak mengagumi tokoh film
> Indonesia, mungkin karena isinya kebanyakan dakwah?
>

Film Indonesia kebanyakan isinya dakwah? tidak juga, kebanyakan film
Indonesia sekarang film komedi yang tidak lucu.

Pak Putra pasti tidak tinggal di Indonesia lagi ya? :-)
BTW saya belum sempat nonton Laskar Pelangi, ini film fenomenal, mirip
film petualangan sherina yang menginspriasi sineas muda untuk berkarya.

Suksma

Wibi



No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - http://www.avg.com
Version: 8.0.173 / Virus Database: 270.7.5/1704 - Release Date: 10/2/2008 9:35 PM
__._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: