Bu/Mbak LL, saya tidak punya jender. Saya hanya sebatang perdu yang tumbuh liar di pundukan telabah. Orang-orang Bali yang lahir di kampung pasti tahu saya. Saya tidak dapat dimakan sapi, babi, ayam atau itik, apalagi manusia. Bahkan daunku pun tidak dijadikan pupuk, batangku kecil sehingga tidak cocok untuk kayu bakar. Menyadari diriku itu, saya sebenarnya hanya ingin menonton saja dari pundukan telabah. Tetapi kemudian saya membaca ada kekeliruan yang cukup penting dalam posting Pak Putu Kesuma, seolah-olah fanatisme yang diajarkan di TK Islam di Denpasar itu semata-mata inovasi Wahabi. Ini tidak tepat. Kaum Wahabi tidak melakukan inovasi (dalam Islam artinya bidah). Wahabisme hanya ingin melaksanakan Islam secara murni dan konsekuen, menurut Qur'an, Sunnah dan Hadist. (Lihat wawancara KH Sahal Mahfudz, ketua MUI dan Dewan Suro NU di Tempo 2 minggu yang lalu). Dan ada semacam pembentukan opini – gabungan dari prasangka baik dan kecerdikan – untuk memanfaatkan keluguan orang Bali. Maka saya beranikan diri memberi info. Tetapi saya takut lagi ketika saya didamprat dan diancam oleh seorang partner senior dari milis ini. Tapi karena Mbk LL, seorang muslimah yang berpikiran terbuka mengharapkan saya bicara lagi, maka keberanian muncul lagi sedikit. Tapi mohon diingat pendapat itu hanya dari sebatang pohon perdu yang tumbuh liar di pundukan telabah. Bila tidak dapat diterima secara akal, mohon jangan ada yang marah lagi.
Memang tidak jelas apa gunanya saya. Tetapi saya percaya Tuhan tidak salah dalam penciptaan dan tidak membuang waktu, tenaga dan pikirannya untuk menciptakan suatu yang tidak berguna.
Salam dari pundukan telabah.
LGS.
From: laraslia <laraslia@yahoo.com>
To: bali-bali@yahoogroups.com
Sent: Sunday, October 12, 2008 2:41:15 PM
Subject: [bali-bali] Re: Pure Gabung dengan mesjid dibali.
Bukan membahas mana yang benar atau salah untuk komentar semetons
kali ini. Andaikan suatu groups hanya 'dihuni' orang orang hebat
saja, atau orang orang intelektual saja, atau orang bijak saja, atau
orang emosional saja, tentu akan membosankan (menurut saya lho).
Itulah yang membuat milis ini lebih berwarna, lebih indah dan gak
membosankan, bayangkan bila mata kita cuma melihat satu warna saja,
pasti membosankan. Jadi berbeda pendapat itu wajar banget, bahkan
perlu dinikmati, rugi kalau kita malah pura pura tidak melihat, dan
bahkan cenderung menghindar atau memicingkan sebelah mata bila ada
orang yang berdiskusi sesuatu yang menurut mereka gak itelek. Jadi
nikmati saja, sepanjang tetap dalam aturan kesopanan yang
disepakati. Bahkan bila kita pura pura gak liat bisa diartikan gak
peduli lho, padahal menurut sebagian orang kita dianggap intelek.
Dalam kasus Bli NK, saya pasti akan merindukan beliau, seperti
halnya rindu saya untuk postingan Bang Leo atau Bli (Apa Mbok Gek
ne ?) LGS. Tapi saya maklum bila khusus untuk Bli NK di ban, karena
banyak postingan beliau tujuannya bukan hanya sekedar menyampaikan
fakta untuk didiskusikan, seringkali nyaplir dari topik awal
(padahal beberapa hal sudah dijelaskan, alih alih bukannya merespon
penjelasan tersebut, beliau lebih memilih mencari cari kasus baru
yang gak lucu).
Buat saya yang seorang muslim, suatu tantangan tersendiri bahwa saya
harus lebih memahami agama saya, untuk bisa memberi penjelasan
kepada rekans sekalian, kalau saya saja gak jelas, apalagi orang
lain...jadi ya maklum saja, dan khususnya mohon maklum bila
penjelasannya seringkali terlambat karena lagi2 kami harus buka
kamus dulu mengingat keterbatasan ilmu kami. Dan tidak jarang saya
bisa mendapat ilmu lebih dari yang saya cari.
Inti dari topik ini adalah memahami keputusan/latar belakang(dengan
beberapa versi cerita) pemilik pura dalam memberikan ijin membangun
masjid di lingkungan pura. Dan apakah pendirian masjid tersebut
bertentangan apa tidak dengan ketentuan beribadah masing2 umat. Bila
ternyata ada masalah, itulah yang harus dicarikan solusinya, bila
tidak, kenapa kita bersikeras menentang sesuatu yang gak bermasalah.
Dan seharusnya tidak memperkeruh suasana dengan membolakbalikkan dan
menyakutpautkan dengan kasus2 SARA lainnya, dan bahkan dengan
meminta untuk pembuktian terbalik (bila di masjid di didirikan
pura), kami bukan siapa siapa, kami tidak mempunyai wewenang apa
apa, kecuali bila ada kasus serupa dengan latar belakang yang sama,
ya...boleh lah kita debatkan lagi...
Mohon maaf bila penyampaiannya kurang tepat,
LL
--- In bali-bali@yahoogrou ps.com, "I Wayan Warmada" <warmada@... >
wrote:
>
> Katanya orang-orang di sini hebat-hebat, kok diskusi yang beginian
> saja dianggap "kucing" thread? Apa kita anggap uraian yang ditulis
> oleh pak Putu Kesuma bohong belaka? Saya pikir apa yang ditulis pak
> PKesuma itu tidak ada hal2 yang menunjukkan peruncingan masalah.
>
> Yang penting yang merasa terpojok dan kalau memang demikian
> kenyataannya ya harus berani mengakui dan introspeksi, bukan
mencari
> pembenar apalagi menghindari masalah. Apa hebatnya kalau setiap
> masalah yang nyata di Bali, seakan-akan tidak ada? Hanya takut
issue
> sara? Yang terpenting setiap masalah dicari penyelesaiannya yang
baik,
> bukan dianggap sebagai "kucing" thread.
>
> IWW
>
> --- In bali-bali@yahoogrou ps.com, I Nengah Sumerta
> <nengah.sumerta@ > wrote:
> >
> > Bah!
> >
> > macam mana pula ini!
> >
> > Moderator!
> >
> > Close this F**cking thread!
> >
> > I don't want to hear that such of thing discussed among us!
> >
> >
> > Lili Gundi Abut-abut gen!.
> > .
> > nengah
> > Lili Gundi wrote:
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > Pure Gabung dengan mesdjid dibali
> > >
> > >
> > >
> > > Apa yang diajarkan oleh guru TK Islam kepada murid-muridnya,
bukan
> > > pengaruh Wahabi, tetapi murni dari Qur¢an:
> > >
> > > Qur'an 5:51 "Believers, take not Jews and Christians for your
> friends.
> > > They are but friends and protectors to each other.". Qur'an
5:57
> > > "Believers, take not for friends those who take your religion
for a
> > > mockery or sport, a joke, whether among those who received the
> > > Scripture before you (Jews and Christians) or among those who
reject
> > > Faith (non-muslim) ; but fear Allah."
> > >
> > >
> > >
> > > Untuk Pak Dedenkung dan Biyang, bagaimana kalau sekali-sekali
kita
> > > minta orang Muslim membangun pura di halaman masjidnya?
> > >
> > > Salam
> > >
> > > LGS.
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > --- On *Thu, 9/10/08, Deden Kung /<dedenkungs@ yahoo. com>/*
wrote:
> > >
> > > From: Deden Kung <dedenkungs@ yahoo. com>
> > > Subject: Re: [bali-bali] Pure Gabung dengan mesdjid dibali
> > > To: bali-bali@yahoogrou ps.com
> > > Date: Thursday, 9 October, 2008, 3:44 PM
> > >
> > > Petikan email Biyang sangat dalam makna damai di
sana...petikan Pak
> > > Putu Kusuma mohon maaf agak sedikit memanas manasi yah he he
> he...sabar
> > > saja Bli Putu ngak usah terprovokasi oleh aliran wahabi,
arabi,
> > > bonjovy, gun n roses dll..toh yang Pak Putu dan kita semua
idam
> > > idamkan adalah sebuah kedamaian dan kerukunan umat beragama
bukan?
> > > Biarkan saja yg jelek dan jahat nantinya akan musnah
sendiri.....
> > > .justru kalau kita bisa berfikir dan cari solusi terus untuk
supaya
> > > gimana caranya kerukunan itu tetap terjaga..karena kalau udah
hidup
> > > rukun dan damai mau ngapain saja jadi tenang dan
tentram..tidak usah
> > > ada saling curiga dan berfikir jelek akan sesama:)
> > >
> > > Om Canti3x
> > > Wassalam
> > > Deden Kung
> > >
> > >
> > >
> > > ----- Original Message ----
> > > From: Putu Kesuma <putukesuma@ yahoo. com>
> > > To: bali-bali@yahoogrou ps.com
> > > Sent: Tuesday, October 7, 2008 10:29:15 PM
> > > Subject: Re: [bali-bali] Pure Gabung dengan mesdjid dibali
> > >
> > > Teman-teman semua,
> > >
> > > Ini cerita beneran. Terjadi di Denpasar.
> > >
> > > Sepasang suami-istri yang berbeda agama memiliki seorang anak
tk.
> > > Bapaknya muslim dan ibunya kristiani. Suatu ketika pulang dari
> sekolah
> > > tiba2 si anak gak mau lagi makan masakan ibunya. Tentu ibunya
seperti
> > > disambar petir mendapati anaknya yang tiba-tiba berubah.
Setelah
> > > ditanya oleh ibunya kenapa gak mau makan masakan ibunya,
anaknya
> > > menjawab bahwa di sekolah tk(tk Islam) diberi tahu oleh
gurunya bahwa
> > > dia gak boleh makan masakan yang tidak dimasak oleh orang
Islam.
> > > Karena ibunya kristiani maka dia tidak mau makan.
> > >
> > > Ini bukan isapan jempol teman-teman. Ini baru contoh kecil
bagaimana
> > > anak-anak kita dikotak2an berdasarkan agama. Belum lagi contoh
lain
> > > dimana seorang guru agama non Islam yang tidak diperbolehkan
mengajar
> > > padahal sudah mendapat SK dari Diknas dan Bupati. Tapi
dikalahkan
> oleh
> > > Komite Sekolah bahwa jika guru non Islam diijinkan mengajar
agama non
> > > Islam maka dikhawatirkan anak2 muslim tidak mau sekolah.
> > >
> > > Tentu teman-teman semua sudah mendengar bahwa DOA BERSAMA
sudah
> > > diharamkan oleh MUI. Inilah gerilya yang dilakukan oleh para
penganut
> > > Wahabi di Indonesia. Dan virus ini sedang disebarkan diseluruh
> Indonesia.
> > >
> > > Saya sudah sering menyarankan kepada Desa Adat agar para
penduduk
> > > pendatang jangan dibiarkan mengelompok. Harus dibaurkan dan
diberi
> > > kewajiban seperti penduduk lokal, paling tidak harus turut
> bertanggung
> > > jawab untuk keamanan dan kebersihaan lingkungan. Tapi rupanya
Desa
> > > Adat cukup puas menerima recehan-recehan rupiah dan membiarkan
para
> > > pendatang tidak ambil tanggung jawab sosial.
> > >
> > > Tapi saya dapatkan seperti berbicara sama tembok. Kades, dan
Kadus di
> > > mana saya tinggal cuek-cuek saja. Yang penting mereka bayar.
> > >
> > > Selama mereka dibiarkan hidup exclusive maka tidak dapat
dihindarkan
> > > disintegrasi sosial pasti terjadi. Apalagi mulai dari tk sudah
> > > dimasukan ke dalam kotak.
> > >
> > > Saya tidak mengadatakan semuanya begitu. Masih banyak saudara-
saurada
> > > yang beragama Islam memiliki wiweka dan tidak tepengaruh oleh
virus
> > > itu, tapi sampai kapan? Jika mereka terus diteror, akhirnya
akan cari
> > > selamat bukan?
> > >
> > > Solusinya? PENDIDIKAN. Pendidikan kita ini sudah mencabut anak-
anak
> > > kita dari akar ke Indonesiaanya. Sistim pendidikan kita telah
> > > mematikan budhi pekerti yang ada dalam jiwa anak-anak kita.
> Pendidikan
> > > tidak harus di sekolah, di banjar, di pura, di mesjid, di
gereja dll.
> > > Pendidikan untuk menyadarkan bahwa jika kita terus-terusan
bagini
> maka
> > > kita tidak ubahnya dengan keadaan " HAPPY PASSANGERS ON A
SHINKING
> > > SHIP", para penumpang yang bahagia dalam kapal yang sedang
tenggelam.
> > >
> > > Jangan dipikir RUU Pornografi ini ide baru. Ini bagian dari
strategi
> > > untuk memberlakukan syariat Islam di Indonesia.
> > >
> > > Orang bijak bilang bahwa "HANYA DIBUTUHKAN SATU KONDISI UNTUK
> > > KEJAHATAN MERAJALELA YAITU KETIKA ORANG BAIK DIAM". Selama ini,
> inilah
> > > yang terjadi. Kita menikmati banget berada di comfort zone,
dan
> > > berpikir, ngapain ribut2, toh saya tidak kena. Ya benar saat
ini
> belum
> > > kena, tapi adakah jaminan tidak akan kena?
> > >
> > > Salam,
> > > pkesuma
> > >
> > > --- On Tue, 7/10/08, Bulantrisna Djelantik <btrisna@gmail. com
> > >
> <http://id.mc764. mail.yahoo. com/mc/compose? to=btrisna%
40gmail.com> > wrote:
> > >
> > > From: Bulantrisna Djelantik <btrisna@gmail. com
> > > <http://id.mc764. mail..yahoo. com/mc/compose? to=btrisna%
40gmail.com> >
> > > Subject: Re: [bali-bali] Re: [peradahdki] Pure Gabung dengan
mesdjid
> > > dibali
> > > To: bali-bali@yahoogrou ps.com
> > >
> <http://id.mc764. mail.yahoo. com/mc/compose? to=bali-bali%
40yahoogroups. com>
> > > Date: Tuesday, 7 October, 2008, 11:48 AM
> > >
> > > Saya justru senang kalau ada praktek kerja sama seperti itu
antar
> > > agama, yang ramah damai, tanpa saling mengganggu. Di Puri
Cakranegara
> > > Lombok katanya juga ada langgar kecil karena salah satu selir
Raja
> ada
> > > yang muslim. Di Bali kan banyak contohnya. Di Karangasem,
> > > kakekku selalu membina hubungan baik dengan kaum muslim yang
> > > keturunan pasukan selam dari Sasak. Aku ingat waktu G Agung
meletus,
> > > kakek ikut acara korban kambing di Kampung Selam lalu daerah
itu
> > > selamat dari lahar.. Di sekitar Ujung, warga Hindu Islam 50-
50, dari
> > > dulu acara prosesi Hindu didahului oleh Bedug yang dipukul
orang
> > > selam. Masing2 teguh dengan ajarannya, tapi saling membantu
dan
> > > menghargai,,
> > >
> > > Dalam buku Beryl de Zoete / Walter Spies, pernah ada ""Legong
Amad
> > > Muhamad".. tapi jalan ceritanya sangat Bali.. Bali Hindu yang
> > > majoritas, tetap menghargai orang Bali Kristen, orang Bali
Buda,
> orang
> > > Bali Islam dan orang Bali apa saja, yang minoritas.. kita
pernah
> bisa.
> > >
> > > Apakah ini mimpi saja sekarang?? Karena setelah saya bertanya-
tanya
> > > pada penduduk setempat di Ujung, rupanya kaum mudanya tidak
saling
> > > sapa lagi. Begitu pula di Kintamani. Nah ini yang menurut
saya
> > > mengkhawatirkan. . dan perlu antisipasi seperti yang
diceritakan oleh
> > > Vieb, mulai dari Banjar harusnya kegiatan kedamaian antar umat
juga
> > > bisa dimulai... .
> > >
> > > Salam, Shanti, Biyang
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> >
>
__._,_.___
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar