Jumat, 03 Oktober 2008

Re: [bali-bali] Re: PLTA Bali//windmill project

 
@pak sugi,
 
kalau tidak salah anggota milis ini yaitu pak ketut astawa yang sekarang berdomisili di Leicester UK sedang menekuni S3-Doktor di bidang Green Energy, mungkin menarik di minta pendapatnya untuk menambah pengetahuan kita semua. begitu juga di milis tetangga ada Pak Dr.-Ing Nengah Sudja pakar kelistrikan Indonesia yang lama berkarir di departement Litbang PLN mungkin juga menarik di minta pendapatnya tentang prosedur PLN (dalam hal ini selaku regulator atau pembeli listrik swasta) untuk kemudian di distribusikan kepada masyarakat, dll.
 
animasi berikut menarik untuk di lihat kembali tentang perbedaan dari berbagai pusat pembangkit listrik yang di kelola oleh PLN:
 
bagaimana cara kerja Wind-Energy:
 
perihal Wind Energy atau dalam bahasa indonesianya lebih dikenal dengan nama PLTB pusat listrik tenaga bayu, wacana ini sudah lama di gulirkan dan sesungguhnya kajian lapangannya pun sudah di lakukan dan di putuskan untuk di terapkan di pulau Nusa Penida sebagai proyek percontohan, sepertinya proyeknya sudah di wujudkan. sayangnya belum beroperasi, artikel pendukungnya bisa di baca di link berikut:

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/4/14/b3.htm
 
Ditandatangani, Kesepakatan Jual-Beli Listrik PLTB 

Semarapura (Bali Post) -


Pemkab Klungkung menandatangani kesepakatan jual-beli listrik yang dihasilkan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) yang berada di Bukit Puncak Mundi, Nusa Penida dengan PT PLN Distribusi Bali, Jumat (13/4) kemarin.

 

Penandatanganan yang dilakukan di Kantor PLN Unit Klungkung itu berlangsung antara Bupati Klungkung yang diwakili Kepala Dinas Koperasi dan Pengusaha Kecil Menengah (Diskop dan PKM), Nyoman Sukantra dengan Manajer PT PLN Distribusi Bali, Ngurah Adnyana. Dalam nota perjanjian, PT PLN menghargai listrik PLTB Rp 700/kWh.

 

Menurut Candra dalam sambutannya yang dibacakan Sukantra, energi listrik yang dihasilkan PLTB sangat penting artinya bagi Pemkab Klungkung, khususnya Nusa Penida.

 

Mengingat kebutuhan listrik makin meningkat. Ditambah lagi, makin lancarnya transportasi ke Nusa Penida setelah adanya kapal roro. Oleh karena itu, Candra berharap pengembangan PLTB terus digalakkan di Nusa Penida yang notabene sangat potensial.

Ngurah Adnyana mengatakan banyak manfaat PLTB. Mengurangi ketergantungan BBM yang notabene keberadaannya makin langka dan mahal, menambah kontribusi pasokan listrik dan mengurangi dampak lingkungan akibat BBM. Dikatakan, di Nusa Gede, PLN menjual listrik Rp 573/kWh. Dengan PLTB, subsidi pemerintah untuk listrik ke masyarakat tentunya berkurang. Jika sebelumnya menggunakan BBM solar, pemerintah mensubsidi listrik Rp 1.800/kWh. Karena menggerakkan pembangkit listrik dengan BBM, dihabiskan anggaran Rp 2.300 hingga Rp 2.500/kWH.

 

Isdenta Sinurat, Manajer Aj PLN Bali Timur, mengatakan penandatanganan jual-beli kali ini merupakan tahap pertama untuk satu pembangkit tenaga listrik. Dia memperkirakan PLTB mampu menghasilkan tenaga listrik 80.000 kWh/tahun. ''Jadi, per tahun PLN membeli listrik PLTB dengan harga Rp 56 juta,'' katanya seraya menambahkan pengelolaan hasil penjualan PLTB dikelola Koperasi Surya Sejahtera.

 

Sementara itu, pembangunan PLTB dibiayai murni APBN 2005 sebesar Rp 3,5 milyar. Pemerintah pusat menyerahkan PLTB kepada Pemda Klungkung untuk kemudian dikelola koperasi. Dengan beroperasinya PLTB, setidaknya bisa menghemat anggaran untuk pembelian BBM Rp 402 juta/tahun. Dengan asumsi, rata-rata angin yang dapat dimanfaatkan sebagai penggerak wind turbine 10 jam/hari. (kmb20/*)

 
 
Birokrasi Rumit, PLTB di Nusa Penida Makin Tak Jelas
 
Semarapura (Bali Post)
Rencana pengoperasian dua unit Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Nusa Penida makin tak jelas. Semula dijadwalkan akhir Desember 2007, ternyata sampai saat ini belum beroperasi. Sebelumnya, hal itu disebabkan adanya sejumlah suku cadang yang belum bisa didatangkan dari Jakarta. Kini, pengoperasian kedua PLTB molor gara-gara rumitnya birokrasi.

Kenyataan ini disampaikan seorang petugas PLTB di Nusa Penida, Kadek Suryana, saat ditemui di Nusa Penida belum lama ini. Tak dijelaskan secara detail terkait hambatan birokrasi untuk operasional PLTB tersebut. Kini, keluhan belum beroperasinya PLTB muncul dari masyarakat. "Bagaimanapun, masyarakat sangat mengidam-idamkan operasional PLTB sebagaimana janji pemerintah pusat ketika mencanangkan desa wisata energi di Nusa Penida. Kami khawatir, PLTB tidak akan pernah beroperasi. Kami seolah menjadi kelinci percobaan yang hanya diiming-imingi, tidak pernah ada realisasi," ujar seorang warga, Komang Widana, Senin (25/8) kemarin.

Dia juga mengkhawatirkan janji-janji pusat yang diklaim sebagai bantuan untuk masyarakat malah menjadi beban. Terutama beban psikis dan perasaan. PLTB di Nusa Penida mulai dibangun sejak Desember 2005, satu unit. Bertambah satu unit lagi pada tahun 2006. Masing-masing PLTB berkapasitas 1 x 80 KW di Nusa Penida. Dilanjutkan pembangunan tujuh unit PLTB plus satu unit PLTS pada tahun 2007. Dengan begitu, jumlah PLTB terpasang saat ini senbilan unit dengan kapasitas 735 KW dan satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 30 KW. Hanya, yang baru beroperasi lima unit. Dua PLTB direncanakan beroperasi Desember 2007, tetapi sampai sekarang belum terealisasi. (kmb20)
 
Pertama di Indonesia----
PLTB Nusa Penida Hasilkan Listrik Murah

Pulau Nusa Penida boleh kecil, tetapi ternyata menyimpan sumber daya alam yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Sumber daya alam (SDA) itu adalah tenaga angin di mana pihak PLN Bali memanfaatkannya sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB). Seberapa besar tanaga angin itu, wartawan Bali Post Wira Sanjiwani bersama rombongan wartawan lainnya Selasa (23/5) kemarin meninjau PLTB Nusa Penida. Berikut laporannya.

-------------

 

PLTB yang dikembangkan di Nusa Penida merupakan teknologinya dibawa dari Belanda. Menghabiskan dana sekitar Rp 3 milyar dan merupakan teknologi percontohan pertama di Indonesia. Hal itu dikatakan Ketut Suantra, penangung jawab PLTB, Selasa (23/5) kemarin di Nusa Penida.

 

Belanda memang sangat dikenal dengan listrik kincir anginnya. Listrik ''Belanda'' dicoba diadopsi di Nusa Penida. Walaupun listrik yang dihasilkan tidak konstan, PLTB ini cukup membantu untuk memenuhi pasokan listrik di Nusa Penida, yang dengan kata lain juga menghemat BBM yang digunakan untuk menghasilkan listrik. ''Kecepatan minimum angin yang diperlukan untuk menghasilkan listrik adalah 6-7 Km/detik. Per bulan rata-rata menghasilkan 80 kW,'' ujar Suantra. Bila kecepatan angin sedang bagus, terkadang PLTB ini dapat menghasilkan energi 100 kW sebulan.

 

Dikatakan Suantra, untuk menambah lagi pasokan listrik di Nusa Penida akan dibangun kembali PLTB yang baru. ''Pembangunannya direncanakan tahun 2006 ini dan dioperasikan tahun 2007,'' ujarnya.

 

Ke depan PLTB ini dapat memberikan pasokan listrik yang besar, maka kemungkinan dapat juga digunakan untuk menambah pasokan listrik di Bali. ''Cuma nantinya akan terbentur kesulitan membangun jaringan listrik di bawah lautnya,'' tambah Suantra.

Menurut pengakuan salah satu penduduk, Kadek Suartini (25), sejak PLTB ini beroperasi, listrik menjadi lebih terang. ''Listrik di sini jarang mati. Sekarang jadi lebih terang,'' ujarnya.

 

Ia mengaku memakai listrik hanya untuk penerangan dan menghidupkan televisi. ''Sebulan biasanya bayar listrik Rp 30.000 sampai Rp 32.000,'' imbuhnya.

 

Interkoneksi

 

Selain PLTB, salah satu jaringan listrik yang bisa juga dijadikan tujuan pariwisata ada di Nusa Penida. Jaringan yang berupa Pembangkit Tenaga Listrik Interkoneksi ini menghubungkan listrik dari Nusa Penida ke Pulau Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan.

 

Penghubungnya berupa kawat listrik yang tergantung sekitar 58 meter dari permukaan laut. Bila dilihat dari atas tebing, kawat tersebut seperti menyentuh air. ''Dibuat menggantung seperti itu karena tidak mungkin membuat sambungan di dasar laut karena arus bawahnya deras,'' ujar Supervisor Jaringan PLN Nusa Penida, Made Sukarya.

 

Jaringan interkoneksi, dikatakan Sukarya, memiliki banyak keuntungan. ''Selain bisa menghemat biaya pengangkutan BBM  15 juta/tahun, juga menerangi Nusa Ceningan dan Lembongan selama 24 jam, karena dulunya kedua pulau itu hanya diterangi listrik selama 17 jam,'' jelas Sukarya. Menurutnya, jika pelabuhan feri sudah diaktifkan, maka penghematan biaya transportasi akan bisa dihemat sekitar 63 juta/tahun. Sampai sekarang tinggal 10 KK di Nusa Penida yang belum disentuh listrik. Sukarya menjelaskan hal ini disebabkan dana APBN yang terbatas untuk membangun jaringan listrik yang baru, juga lokasi tempat tinggal penduduk tersebut terlalu jauh dan sukar dijangkau. ''Sedangkan untuk Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, semua penduduknya sudah terjangkau listrik,'' ujar Sukarya.*


__._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: