| --- On Thu, 9/10/08, Deden Kung <dedenkungs@yahoo. com> wrote: From: Deden Kung <dedenkungs@yahoo. com> Subject: Re: [bali-bali] Pure Gabung dengan mesdjid dibali To: bali-bali@yahoogrou ps.com Date: Thursday, 9 October, 2008, 3:44 PM Petikan email Biyang sangat dalam makna damai di sana ...petikan Pak Putu Kusuma mohon maaf agak sedikit memanas manasi yah he he he..sabar saja Bli Putu ngak usah terprovokasi oleh aliran wahabi, arabi, bonjovy, gun n roses dll..toh yang Pak Putu dan kita semua idam idamkan adalah sebuah kedamaian dan kerukunan umat beragama bukan? Biarkan saja yg jelek dan jahat nantinya akan musnah sendiri..... .justru kalau kita bisa berfikir dan cari solusi terus untuk supaya gimana caranya kerukunan itu tetap terjaga..karena kalau udah hidup rukun dan damai mau ngapain saja jadi tenang dan tentram..tidak usah ada saling curiga dan berfikir jelek akan sesama:) Om Canti3x Wassalam Deden Kung ----- Original Message ---- From: Putu Kesuma <putukesuma@yahoo. com> To: bali-bali@yahoogrou ps.com Sent: Tuesday, October 7, 2008 10:29:15 PM Subject: Re: [bali-bali] Pure Gabung dengan mesdjid dibali Teman-teman semua, Ini cerita beneran. Terjadi di Denpasar. Sepasang suami-istri yang berbeda agama memiliki seorang anak tk. Bapaknya muslim dan ibunya kristiani. Suatu ketika pulang dari sekolah tiba2 si anak gak mau lagi makan masakan ibunya. Tentu ibunya seperti disambar petir mendapati anaknya yang tiba-tiba berubah. Setelah ditanya oleh ibunya kenapa gak mau makan masakan ibunya, anaknya menjawab bahwa di sekolah tk(tk Islam) diberi tahu oleh gurunya bahwa dia gak boleh makan masakan yang tidak dimasak oleh orang Islam. Karena ibunya kristiani maka dia tidak mau makan. Ini bukan isapan jempol teman-teman. Ini baru contoh kecil bagaimana anak-anak kita dikotak2an berdasarkan agama. Belum lagi contoh lain dimana seorang guru agama non Islam yang tidak diperbolehkan mengajar padahal sudah mendapat SK dari Diknas dan Bupati. Tapi dikalahkan oleh Komite Sekolah bahwa jika guru non Islam diijinkan mengajar agama non Islam maka dikhawatirkan anak2 muslim tidak mau sekolah. Tentu teman-teman semua sudah mendengar bahwa DOA BERSAMA sudah diharamkan oleh MUI. Inilah gerilya yang dilakukan oleh para penganut Wahabi di Indonesia. Dan virus ini sedang disebarkan diseluruh Indonesia. Saya sudah sering menyarankan kepada Desa Adat agar para penduduk pendatang jangan dibiarkan mengelompok. Harus dibaurkan dan diberi kewajiban seperti penduduk lokal, paling tidak harus turut bertanggung jawab untuk keamanan dan kebersihaan lingkungan. Tapi rupanya Desa Adat cukup puas menerima recehan-recehan rupiah dan membiarkan para pendatang tidak ambil tanggung jawab sosial. Tapi saya dapatkan seperti berbicara sama tembok. Kades, dan Kadus di mana saya tinggal cuek-cuek saja. Yang penting mereka bayar. Selama mereka dibiarkan hidup exclusive maka tidak dapat dihindarkan disintegrasi sosial pasti terjadi. Apalagi mulai dari tk sudah dimasukan ke dalam kotak. Saya tidak mengadatakan semuanya begitu. Masih banyak saudara-saurada yang beragama Islam memiliki wiweka dan tidak tepengaruh oleh virus itu, tapi sampai kapan? Jika mereka terus diteror, akhirnya akan cari selamat bukan? Solusinya? PENDIDIKAN. Pendidikan kita ini sudah mencabut anak-anak kita dari akar ke Indonesiaanya. Sistim pendidikan kita telah mematikan budhi pekerti yang ada dalam jiwa anak-anak kita. Pendidikan tidak harus di sekolah, di banjar, di pura, di mesjid, di gereja dll. Pendidikan untuk menyadarkan bahwa jika kita terus-terusan bagini maka kita tidak ubahnya dengan keadaan " HAPPY PASSANGERS ON A SHINKING SHIP", para penumpang yang bahagia dalam kapal yang sedang tenggelam. Jangan dipikir RUU Pornografi ini ide baru. Ini bagian dari strategi untuk memberlakukan syariat Islam di Indonesia. Orang bijak bilang bahwa "HANYA DIBUTUHKAN SATU KONDISI UNTUK KEJAHATAN MERAJALELA YAITU KETIKA ORANG BAIK DIAM". Selama ini, inilah yang terjadi. Kita menikmati banget berada di comfort zone, dan berpikir, ngapain ribut2, toh saya tidak kena. Ya benar saat ini belum kena, tapi adakah jaminan tidak akan kena? Salam, pkesuma --- On Tue, 7/10/08, Bulantrisna Djelantik <btrisna@gmail. com> wrote: From: Bulantrisna Djelantik <btrisna@gmail. com> Subject: Re: [bali-bali] Re: [peradahdki] Pure Gabung dengan mesdjid dibali To: bali-bali@yahoogrou ps.com Date: Tuesday, 7 October, 2008, 11:48 AM Saya justru senang kalau ada praktek kerja sama seperti itu antar agama, yang ramah damai, tanpa saling mengganggu. Di Puri Cakranegara Lombok katanya juga ada langgar kecil karena salah satu selir Raja ada yang muslim. Di Bali kan banyak contohnya. Di Karangasem, kakekku selalu membina hubungan baik dengan kaum muslim yang keturunan pasukan selam dari Sasak. Aku ingat waktu G Agung meletus, kakek ikut acara korban kambing di Kampung Selam lalu daerah itu selamat dari lahar.. Di sekitar Ujung, warga Hindu Islam 50-50, dari dulu acara prosesi Hindu didahului oleh Bedug yang dipukul orang selam. Masing2 teguh dengan ajarannya, tapi saling membantu dan menghargai,, Dalam buku Beryl de Zoete / Walter Spies, pernah ada ""Legong Amad Muhamad".. tapi jalan ceritanya sangat Bali.. Bali Hindu yang majoritas, tetap menghargai orang Bali Kristen, orang Bali Buda, orang Bali Islam dan orang Bali apa saja, yang minoritas.. kita pernah bisa. Apakah ini mimpi saja sekarang?? Karena setelah saya bertanya-tanya pada penduduk setempat di Ujung, rupanya kaum mudanya tidak saling sapa lagi. Begitu pula di Kintamani. Nah ini yang menurut saya mengkhawatirkan. . dan perlu antisipasi seperti yang diceritakan oleh Vieb, mulai dari Banjar harusnya kegiatan kedamaian antar umat juga bisa dimulai... . Salam, Shanti, Biyang |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar