Tyang boye je , ngedengin pitutur , sehantuk tyang uning semeton
sami akehan sampun wikan iriki.
sebenarnya tujuan saya hanya satu , untuk semua yang merasa penganut
agama agar jangan terlalu fanatic , apalagi sampai menyerang pribadi.
Yang perlu dianggap pribadi dan yang perlu diperjuangkan bersama
adalah problem kita yang didepan mata sekarang ini , problem
environment dan clean renewable energy , seperti gagasan anda.
Maksud tyang menulis itu agar kita bersama tau prioritas kita ,
tidak akan ada gunanya berkutat , mempertahankan agama kalau
setengah saudara kita kena demam berdarah dan setengahnya lagi
nginap dirumah sakit karena cholera.
Maksud tyang simple begitu saja , tidak ada maksud ngajari ,
paling tyang hanya sedikit frustrasi kepada segelintir rekan
yang terlalu fanatic dengan agama , bagi saya agama tidak akan kemana
mana , tapi environment yang masalah sekarang ini .
Kalau kita mulai tackle masalah prima ini , baru nanti ngitungang
agama , kalau kita tidak prihatin dengan environment sekarang ini,
lebih dari setengah penganut agama akan sakit.
Pilihan prioritas ada pada kita semua , dan saya ada dibelakang anda
dalam mengambil langkah kecil untuk kita di Bali.
semoga bisa diterima bersama.
aP.
--- In bali-bali@yahoogroups.com, Sugi Lanús <sugilanus@...> wrote:
>
> Gung Aji lan semeton sami,
>
> Bagi yg sudah sampai ke tujuan, apa menariknya mempercakapkan
selembar peta penunjuk jalan? Seorang Guru barangkali mengulanginya,
berkali-kali membahas kembali jalan-jalan di lembar peta itu, bukan
untuk dirinya, tapi untuk mereka yg ingin mencari. Di sinilah
pentingnya kehadiran orang-orang yg "telah sampai" (maraga putus),
membagi dan menceritakan pencapaiannya, dengan sabar dan mengayomi.
Terkadang mungkin tak menarik mengulang-ulang membicarakan tanda-
tanda jalan dan tikungan di selembar peta, tapi jika dikerjakan
untuk seseorang yg betul membutuhkannya, itu semua layak dilakukan
dengan penuh kesabaran.
>
> Nawegang,
> sl
>
>
>
>
>
> ----- Original Message -----
> From: IGusti Agung
> To: bali-bali@yahoogroups.com
> Sent: Wednesday, October 08, 2008 8:21 AM
> Subject: [bali-bali] Re: TUHAN YANG DICIPTAKAN dan TUHAN YANG
SEBENARNYA
>
>
>
> suksma Bli PK atas copasnya,
>
> dari dulupun tyang pernah bilang ,seperti para akhli Theology
tsb,
> masalahnya tyang bukan penulis , tidak bisa menulis.
> Menurut tyang sudah jelas pekerjaan sia sia kalu kita
mengconceptkan
> sesuatu yang tidak terconceptkan , waste of time..
> tyang setuju sekali dengan kata Bli Bagus Socrates :
> "kalau Tuhan menciptakan kita dengan Imaginasinya , maka kita
hanya
> membayar hutang dengan menciptakan Tuhan dengan Imaginasi kita".
>
> Bagaimana mungkin kita dapat bentuk atau gambar dari Acintya?
> Juga bagaimana mungkin kita membatasi sesuatu yang wyapi wyapaka?
>
> Mereka yang mengaku mengenal Tuhan , dan berkarya sesuai dengan
> kehendak Tuhan , sudah jelas mengerdilkan Tuhannya sendiri ,
> disamping membodohi diri sendiri. ( Tuhan punya kehendak , dan
> memerintah ? apalagi menghukum ?)
> Dalam Al Quran banyak dicantum " Tuhan "berkata"....
> Dalam Injil ada juga tercantum " perjanjian" dengan Tuhan..??
>
> Seperti yang sering tyang katakan :
> kita sebenarnya satu , aku hanya satu , yang berasal dari satu ,
dan
> akan kembali ke aku yang satu dan akan kembali lagi seperti ke
aku
> yang satu ini.
> Yang membedakan kita hanya kulit dan warna dan yang memisahkan
kita
> hanya ego disamping dikotak kotakkan oleh agama.
> Dan banyak lagi cap dan embel embel serta tembok yang memisahkan
kita
> untuk mengenal bahwa kita sebenarnya satu.
> Sementara ini tyang sejalan dengan jalan pikiran Bapak
Krisnamurti.
>
> Agama bukan tujuan hidup , agama hanya jalan , hanya cermin dari
> manusia untuk melihat dirinya sendiri , bayangan apapun yang
dilihat
> dalam cermin tersebut , itulah tingkatan spiritual manusia saat
itu.
> Bagi saya pribadi , agama hanya pelajaran tahap pertama untuk
kita
> semua mempelajari jati diri kita , untuk mendekati aku dalam AKU
itu.
>
> sekian dulu , karena mungkin sudah ada yang menganggap saya
stress
> atau bingung ,tapi dengan ijin waktu mereka akan mengerti.
> It's fully your choice not to read this , but...by now it's too
late.
> you've read it....
>
> aP.
>
> --- In bali-bali@yahoogroups.com, Putu Kesuma <putukesuma@>
wrote:
> >
> > Teman-teman semua,
> >
> > Pintunya hanya satu, buka atau tutup. Buka semua masuk
termasuk
> yang tidak kita harapkan. Tutup semuanya tidak bisa masuk
termasuk
> yang kita haraplan.
> >
> > Mari kita membuka diri, hanya denga itulah kita bisa
berevolusi
> dengan lebih baik...
> >
> > Salam,
> > pkesuma
> > ---------------------------------------------------
> >
> > From: "Sony Wongso"
> > Date: Sun Oct 5, 2008 3:03 am
> > Subject: Tuhan Yang Diciptakan dan Tuhan Yang Sebenarnya
> >
> > Tuhan Yang Diciptakan dan Tuhan Yang Sebenarnya
> > Oleh Kautsar Azhari Noer Ketua Jurusan Perbandingan Agama,
IAIN
> Jakarta, Pemimpin Redaksi Jurnal Pemikiran Islam Paramadina
> >
> >
> > PADA suatu hari di penghujung 1970an (saya tidak
> > ingat lagi tahun berapa persisnya) di Direktorat Urusan Agama
> Hindu dan Buddha,
> > Departemen Agama Republik Indonesia, yang pada waktu itu
berlokasi
> di Jl. M.H.
> > Thamrin, Jakarta, seorang pegawai Direktorat itu yang menganut
> Buddhisme dan
> > saya sempat berdiskusi secara singkat sekitar konsep tentang
> Tuhan. Saya
> > memulai
> > diskusi itu dengan mengkritik ketidakjelasan konsep Buddhis
> tentang Tuhan. Saya
> > mengatakan kepadanya bahwa konsep Buddhis tentang Tuhan tidak
> jelas. Bukubuku
> > tentang Buddhisme, pada umumnya, tidak memuat uraian dan
> pembahasan tentang
> > Tuhan. Siddharta Gautama tidak memberikan penjelasan dan
doktrin
> tentang Tuhan.
> > Penolakan Gautama terhadap pembicaraan tentang Tuhan
> telah "memiskinkan"
> > Buddhisme dalam pembicaraan tentang Tuhan. Buddisme
> > tidak mempunyai konsep yang jelas tentang Tuhan.Pegawai yang
> cerdas itu
> > berbalik mengkritik konsep Islam (atau orangorang Muslim).
tentang
> Tuhan. Ia
> > mengatakan bahwa orangorang Muslim membuat suatu kesalahan
besar
> dalam memahami
> > Tuhan. Kesalahan itu, menurutnya, terletak pada pemahaman dan
> kepercayaan
> > orangorang Muslim bahwa Tuhan adalah "begini" dan "begitu".
> Orangorang Muslim
> > mengatakan bahwa Tuhan mempunyai 20 sifat, atau mempunyai 99
nama.
> Tuhan adalah
> > Maha Pengasih, Maha Penyayang, Raja, Maha Suci, Pemberi
bentuk,
> Pencipta, Maha
> > Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat, dan banyak lagi
namanama
> atau
> > sifatsifat lain. Ini berarti bahwa orangorang Muslim membuat
> konsep, ide, atau
> > gagasan tentang Tuhan. Mereka mengungkapkan Tuhan yang tidak
> terbatas dengan
> > katakata dan bahasa manusia yang terbatas. Pegawai itu
mengatakan
> bahwa Tuhan
> > dalam konsep, ide, atau gagasan bukanlah Tuhan yang sebenarnya
> karena Tuhan
> > yang
> > sebenarnya di luar konsep, ide, atau gagasan. Tuhan seperti it
> > u adalah Tuhan yang diciptakan oleh manusia, bukan Tuhan yang
> > sebenarnya. Tuhan
> > tidak dapat diungkapkan dengan katakata dan bahasa. Tuhan
adalah
> misteri yang
> > tidak dapat diketahui, tidak dapat dipahami, dan tidak dapat
> dipikirkan oleh
> > akal manusia. Karena itu, Tuhan tidak dapat dikatakan "begini"
dan
> > "begitu".Mendengar kritiknya itu, saya terdiam karena saya
tidak
> dapat
> > membantahnya. Waktu itu saya memang masih menjadi mahasiswa S1
> yang sedang
> > merampungkan penulisan skripsi tentang konsep monoteisme dalam
> agamaagama besar
> > (Yudaisme, Kristen, Islam, Hinduisme, dan Buddhisme), belum
> menjadi sarjana.
> > Tetapi itu tidak boleh menjadi alasan. Pokoknya, saya tidak
> berkutik terhadap
> > "pukulan keras" itu. Saya hanya dapat berharap agar saya dapat
> lebih banyak
> > lagi
> > mempelajari dan memahami persoalan yang saya diskusikan dengan
> orang
> > itu.Tulisan
> > yang Anda baca ini ingin mendiskusikan kembali persoalan
tersebut.
> Maka
> > pertanyaanpertanyaa n yang perlu diajukan di sini adalah;
Sejauh
> mana man
> > usia dapat mengetahui Tuhan yang transenden dan absolut itu?
> Bagaimana
> > pengetahuan manusia yang benar tentang Tuhan? Jika Tuhan tidak
> dapat dinamai,
> > dibicarakan, dan diungkapkan, bagaimana mungkin manusia dapat
> mengetahui dan
> > berhubungan denganNya?A. Tuhan yang Diciptakan Ibn al'Arabi
> (560638/11651240) ,
> > salah seorang Sufi terbesar, mengkritik orang yang
memutlakkan,
> atau, jika
> > boleh, "menuhankan" , kepercayaannya kepada Tuhan, yang
menganggap
> > kepercayaannya
> > itu sebagai satusatunya yang benar dan menyalahkan kepercayaan
> orang lain.
> > Orang
> > seperti itu memandang bahwa Tuhan yang dipercayainya itu
adalah
> Tuhan yang
> > sebenarnya, yang berbeda dengan Tuhan yang dipercayai oleh
orang
> lain yang
> > dianggapnya salah. Ibn al'Arabi menyebut Tuhan yang dipercayai
> manusia"Tuhan
> > kepercayaan" (ilah almu'taqad), "Tuhan yang dipercayai"
(alilah
> almu'taqad),
> > "Tuhan dalam kepercayaan" (alilah fi ali'tiqad), "Tuhan
> kepercayaan" (alhaqq
> > ali'tiqadi), "Tuhan yang dalam kepercayaan" (alhaqq alladzi fi
alm
> > u'taqad), dan "Tuhan yang diciptakan dalam kepercayaan"
(alhaqq
> almakhluq fi
> > ali'tiqad).Kata i'tiqad data mu'taqad, yang dalam tulisan ini
> diterjemahkan
> > dengan "kepercayaan" , berasal dari akar 'qd, yang berarti
> merajut, membuhul,
> > mengikat; mengikatkan dengan sebuah buhul; memasang,
mengumpulkan,
> > menggabungkan, mengunci; mengecilkan, menyempitkan,
mengerutkan;
> mengarahkan,
> > memusatkan; melengkungkan, melekukkan; bertemu, berkumpul;
> mengadakan
> > pertemuan,
> > mengadakan rapat, mengumpulkan; membuat perjanjian, mengikat
> kontrak. Kata
> > i'tiqad sendiri, secara literal (harfiah) atau figuratif
(majazi),
> berarti
> > menjadi terikat atau tersusun dengan kuat. Maka
> i'tiqad, "kepercayaan" , adalah
> > suatu "ikatan" yang diikat dengan kuat dalam kalbu atau
pikiran,
> sebuah
> > keyakinan bahwa sesuatu adalah benar. Bagi Ibn
> al'Arabi, "kepercayaan" adalah
> > sebuah (peng)ikatan (binding) dan (pem)batasan (delimitation)
> Wujud Yang Tak
> > Terbatas, Wujud Absolut (alwujud almuthlaq), yang dilakukan
oleh
> dan berlangs
> > ung dalam subyek manusiawi.Kepercaya an seorang hamba kepada
> Tuhannya
> > ditentukan
> > dan diwarnai oleh kapasitas pengetahuan sang hamba. Kapasitas
> pengetahuan itu
> > tergantung kepada "kesiapan partikular" (alisti'dad aljuz'i)
> masingmasing
> > individu hamba sebagai bentuk penampakan "kesiapan universal"
> (alisti'dad
> > alkulli) atau "kesiapan azali" (alisti'dad alazali) yang telah
ada
> sejak azali
> > dalam "entitasentitas permanen" (ala'yan altsabitah), yang
> merupakan bentuk
> > penampakan diri (tajalli) alHaqq (yaitu Tuhan). Tuhan
menampakkan
> diriNya
> > kepada
> > hambaNya sesuai dengan kesiapan sang hamba untuk mencapai
> pengetahuan tentang
> > Tuhan yang akhirnya "diikat" atau "dibatasi" oleh dan dalam
> kepercayaannya
> > sesuai dengan pengetahuan yang dicapainya. Dengan demikian,
Tuhan
> yang
> > diketahui
> > oleh sang hamba adalah identik dengan Tuhan dalam
kepercayaannya.
> Dapat pula
> > dikatakan bahwa Tuhan yang diketahuinya adalah identik dengan
> > kepercayaannya. Tuhan memberikan kesiapan (alisti'dad) ,
sesuai
> dengan firma
> > nNya, "Dia memberi segala sesuatu ciptaannya" [Q.
s.Thaha/20:50] .
> Maka Dia
> > mengangkat hijab antara Dia dan hambaNya. Sang hamba
melihatNya
> dalam bentuk
> > kepercayaannya; jadi Tuhan adalah identik dengan
kepercayaannya
> sendiri. Baik
> > kalbu maupun mata tidak pernah melihat sesuatu kecuali bentuk
> kepercayaannya
> > tentang Tuhan. Tuhan yang ada dalam kepercayaan itu adalah
Tuhan
> yang bentukNya
> > diliputi oleh kalbu; itulah Tuhan yang menampakkan diriNya
kepada
> kalbu
> > sehingga
> > Dia dikenal. Maka mata tidak melihat selain Tuhan kepercayaan.
> 163 "Tuhan
> > kepercayaan" adalah gambar atau bentuk Tuhan, atau pemikiran,
> konsep, ide, atau
> > gagasan tentang Tuhan yang diciptakan oleh akal manusia atau
> taklidnya. Tuhan
> > seperti itu bukanlah Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya, Tuhan
pada
> diriNya,
> > ZatNya, tetapi adalah Tuhan yang diciptakan oleh manusia
sesuai
> dengan
> > kemampuan, pengetahuan, penangkapan, dan persepsinya. Tuhan
> seperti itu adalah
> > Tuhan yang "ditempatkan" oleh manusia dalam pemikiran, konsep,
id
> > e, atau gagasannya dan "diikat"nya dalam dan dengan
> kepercayaannya. "Bentuk",
> > "gambar", atau "wajah" Tuhan seperti itu ditentukan atau
diwarnai
> oleh
> > pengetahuan, penangkapan, dan persepsi manusia yang mempunyai
> kepercayaan
> > kepadaNya. Apa yang diketahui diwarnai oleh apa yang
mengetahui.
> Dengan
> > mengutip
> > perkataan alJunayd, Ibn al'Arabi berkata: "Warna air adalah
warna
> bejana yang
> > ditempatinya" (Lawn al ma' lawn ina'ihi). Itulah sebabnya
mengapa
> Tuhan melalui
> > sebuah hadits qudsi berkata: "Aku adalah dalam sangkaan
hambaKu
> tentang Aku"
> > (Ana 'inda zhann 'abdi bi).164 Tuhan disangka, bukan
diketahui.
> Dengan kata
> > lain, Tuhan hanya dalam sangkaan manusia, bukan dalam
> pengetahuannya. Tuhan
> > tidak diketahui dan tidak dapat diketahui. Menarik untuk
> memperhatikan lanjutan
> > firman Tuhan dalam hadits qudsi yang dikutip ini, yaitu: "Maka
> hendaklah ia
> > [sang hamba] bersangka baik tentang Aku" (Falyazhunn bi
> khayran).Tuhan menyuruh
> > agar kita bersangka baik tentang Dia dalam setiap keadaan dan m
> > elarang kita bersangka buruk tentang Dia.165 Kita harus
menjadikan
> sangkaan
> > kita sebagai pengetahuan bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih,
Maha
> Penyayang, Maha
> > Penolong, dan Maha Pengampun. Kita tidak boleh bersangka bahwa
> Tuhan adalah
> > "pengawas yang selalu mencari kesalahan", "petugas keamanan
yang
> kasar dan
> > galak", atau "tuan besar yang bengis". Sangkaan baik tentang
Tuhan
> mendorong
> > kita untuk mendekati dan mencintaiNya agar kita mendapat
> rahmatNya. Nabi s.a.w.
> > berkata: "Rahmat Tuhan mendahului (mengalahkan) murkaNya".
> Sangkaan buruk
> > tentang Tuhan membuat kita jauh dariNya, menyalahkanNya, dan
> akhirnya berputus
> > asa. Tuhan tidak menyenangi orangorang yang berputus
asa.Kritik
> Ibn al'Arabi
> > terhadap orang yang memutlakkan Tuhan dalam kepercayaannya,
Tuhan
> yang
> > diciptakannya dalam kepercayaannya, mengikatkan kita kepada
kritik
> Xenophanes
> > (kirakira 570480 SM), seorang filsuf Yunani, terhadap
> antropomorfisme Tuhan,
> > atau tuhantuhan. Kritik tokoh dari Kolophon, Asia Kecil, ini
> berbunyi
> > sebagai berikut: Seandainya sapi, kuda, dan singa mempunyai
tangan
> dan
> > pandai
> > menggambar seperti manusia, tentu kuda akan menggambarkan
> tuhantuhan menyerupai
> > kuda, sapi akan menggambarkan tuhantuhan menyerupai sapi, dan
> dengan demikian
> > mereka akan mengenakan rupa yang sama kepada tuhantuhan
seperti
> terdapat pada
> > mereka sendiri. Orang Etiopia mempunyai tuhantuhan hitam dan
> berhidung pesek,
> > sedangkan orang Trasia mengatakan bahwa tuhantuhan mereka
bermata
> biru dan
> > berambut merah.166 Sebagaimana dikatakan di atas, "Tuhan
> kepercayaan" adalah
> > Tuhan ciptaan manusia. Barangsiapa yang memuji ciptaannya
memuji
> dirinya
> > sendiri. Ibn al'Arabi berkata:Tuhan kepercayaan adalah ciptaan
> bagi yang
> > mempersepsinya. Dia adalah ciptaannya. Karena itu, pujiannya
> kepada apa yang
> > dipercayainya adalah pujiannya kepada dirinya sendiri. Itulah
> sebabnya mengapa
> > ia mencela kepercayaan orang lain. Jika ia menyadari
[persoalan
> yang
> > sebenarnya], tentu ia tidak akan berbuat demikian itu. Tidak
> diragukan ba
> > hwa pemilik obyek penyembahan khusus itu adalah bodoh tentang
itu
> karena
> > penolakannya terhadap apa yang dipercayai oleh orang lain
tentang
> Allah.
> > Jika ia
> > mengetahui apa yang dikatakan oleh alJunayd, "Warna air adalah
> warna bejana
> > yang
> > ditempatinya" , ia akan memperkenankan apa yang dipercayai
setiap
> orang yang
> > mempunyai kepercayaan dan mengakui Tuhan dalam setiap bentuk
dan
> dalam setiap
> > kepercayaan. 167Teori Ibn al'Arabi tentang "Tuhan kepercayaan"
> didasarkan pula
> > kepada sebuah hadits Nabi s.a.w. tentang penampakan diri Tuhan
> (tajalli alhaqq)
> > pada hari kiamat.168 Nabi menceritakan bahwa pada hari kiamat,
> Tuhan akan
> > menampakkan diriNya kepada umat manusia dalam berbagai bentuk,
> yang tiaptiap
> > bentuk akan ditolak oleh setiap orang yang tidak mengenalnya
dan
> akan diterima
> > oleh setiap orang yang mengenalnya. Akhirnya, semua orang atau
> kelompok akan
> > menyadari bahwa sebenarnya Tuhan yang menampakkan diriNya
dalam
> berbagai bentuk
> > itu adalah satu dan sama; itu juga, tidak lain.Pandanga
> > n Ibn al'Arabi ini sesuai dengan larangan Nabi s.a.w. agar
para
> sahabatnya
> > tidak menyalahkan seorang awam yang pernah mengatakan kepada
> beliau di hadapan
> > mereka bahwa Tuhan berada di langit, nun jauh di atas. Para
sahabat
> > mempersoalkan kepercayaan orang awam itu karena Tuhan berada
di
> mana saja,
> > tidak
> > terikat oleh ruang dan waktu, dan tidak berbentuk. Tetapi Nabi
> memandang bahwa
> > "sangkaan" orang awam itu tentang Tuhan sudah memadai baginya.
> Nabi sendiri
> > pernah berkata: "Kasihilah siapa yang di bumi, niscaya engkau
akan
> dikasihi
> > oleh
> > siapa yang di langit" (Irham man fi alardi, yarhamka man fi
> alsama'). Yang
> > dimaksud dengan "siapayang di langit" dalam hadits ini adalah
> Tuhan. Tuhan
> > berada di langit. Dengan alasan ini, dapat dikatakan bahwa
Tuhan
> dalam
> > kepercayaan Islam adalah "Tuhan Langit" ("the Sky
God"), "Tuhan
> Surgawi"
> > [karena
> > surga berada di langit] ("the Heavenly God"), atau "Wujud
> Tertinggi Samawi"
> > ("the Celestial Supreme Being"). Langit adalah simbol
ketinggian,
> keagun
> > gan, keindahan, dan keabadian. Karena itu, langit dijadikan
simbol
> Tuhan.
> > Simbol bukan menunjukkan dirinya sendiri, tetapi menunjukkan
> sesuatu yang lain
> > di luar dirinya. Simbol Tuhan bukanlah Tuhan, tetapi
menunjukkan
> Tuhan.Tuhan
> > dalam kepercayaan Islam adalah seorang "lakilaki", atau, lebih
> tepatnya,
> > disimbolkan dengan seorang "lakilaki". Tuhan dalam kepercayaan
> Islam, seperti
> > Tuhan dalam kepercayaankepercay aan Yahudi dan Kristen, adalah
> Huwa ("He"),
> > bukan
> > Hiya ("She"). Tuhan dalam kepercayaan Islam selalu dipahami
dengan
> katakata
> > maskulin. (Pandangan yang menekankan aspek maskulin Tuhan atau
> memahami Tuhan
> > sebagai "Tuhan LakiLaki" seperti ini ditentang oleh teologi
> feminis radikal
> > yang
> > menekankan aspek feminin Tuhan atau memandang Tuhan
sebagai "Tuhan
> Perempuan").
> > Dengan demikian, Tuhan dalam kepercayaan Islam, sebagaimana
dalam
> > kepercayaankepercay aan Yahudi dan Kristen, adalah
> seorang "person," seorang
> > "pribadi". Itulah sebabnya mengapa dikatakan bahwa Tuhan
> agamaagama mo
> > noteistik atau teistik, termasuk Islam,
> adalah "personal", "berpribadi" .
> > Tuhan
> > dalam arti ini bukan "impersonal" , bukan "takberpribadi" ,
dan,
> karena itu, Dia
> > bukan "Itu" ("It"). Pengaruh kebudayaan terhadap bentuk atau
tipe
> kepercayaan
> > kepada Tuhan, terhadap "Tuhan kepercayaan" , dibuktikan oleh
> sejarah agama
> > agama.Tuhan dalam kepercayaan orangorang yang berkebudayaan
> patriarkal
> > pastoral,
> > yang berkebudayaan perayahan yang hidup dengan menggembala,
> berbeda dengan
> > Tuhan
> > dalam kepercayaan orangorang yang berkebudayaan matriarkal
> agrikultural, yang
> > berkebudayaan peribuan yang hidup dengan bertani. Bapa Samawi
atau
> Bapa Surgawi
> > adalah Tuhan tipikal orangorang nomad yang hidup dari hasil
> kawanan ternak
> > mereka; kawanan ternak itu hidup di padang rumput, dan pada
> gilirannya padang
> > rumput tergantung kepada hujan dari langit. Ibu Bumi atau Ibu
> Pertiwi adalah
> > Tuhan tipikal para petani yang hidup dari hasil tanah atau
> bumi.169 Dalam
> > kebudayaan patriarkal pastoral, biasanya bapa dan langi
> > t dijadikan sebagai simbol Tuhan. Dalam kebudayaan matriarkal
> > agrikultural, ibu
> > dan bumi sering dijadikan sebagai simbol Tuhan. Agamaagama
Semitik
> lebih
> > cenderung kepada kebudayaan tipe pertama. Bukankah agamaagama
> Semitik, karena
> > diturunkan dari langit, sering disebut "agamaagama
> samawi", "agamaagama
> > langit?"
> > Dalam ketiga agama ini, karena "Tuhan berada di langit", maka
> ungkapanungkapan
> > simbolis, seperti "turun dari langit", "naik ke langit",
> dan "berada di
> > langit",
> > lazim digunakan untuk melukiskan peristiwaperistiwa sakral dan
> > pengalamanpengalama n spritual.Sekali lagi, semua deskripsi
dan
> ungkapan ini
> > adalah simbol (yang menunjukkan) Tuhan, bukan Tuhan itu
sendiri.
> Di mata kaum
> > monoteis, kekeliruan kaum politeis terletak pada penuhanan
mereka
> akan
> > simbolsimbol seperti langit, matahari, bulan, dan bumi. Kaum
> politeis tidak
> > lagi
> > sepenuhnya bertuhan kepada Tuhan, tetapi telah bertuhan kepada
> simbolsimbol. Di
> > mata Ibn al'Arabi, orang yang menyalahkan atau mencela
> kepercayaanke
> > percayaan lain tentang Tuhan adalah orang yang bodoh karena
Tuhan
> dalam
> > kepercayaannya sendiri, sebagaimana dalam kepercayaankepercay
aan
> yang
> > disalahkannya itu, bukanlah Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya,
> karena Tuhan
> > sebagaimana Dia sebenarnya tidak dapat diketahui. Orang
seperti
> itu mengakui
> > hanya Tuhan dalam bentuk kepercayaannya atau kepercayaan
> kelompoknya
> > sendiri dan
> > mengingkari Tuhan dalam bentukbentuk berbagai kepercayaan
lain.
> Padahal Tuhan
> > yang menampakkan diriNya dalam semua bentuk
kepercayaankepercay
> aan yang berbeda
> > itu adalah satu dan sama. Kritik Ibn al'Arabi ini, jika harus
> konsisten,
> > tertuju
> > kepada setiap orang yang mencela kepercayaankepercay aan lain
yang
> berbeda
> > dengan
> > kepercayaannya tentang Tuhan, baik dalam lingkungan orangorang
> yang seagama
> > dengannya maupun dalam lingkungan orangorang yang berbeda
> agama.Ibn al'Arabi
> > memperingatkan kita sebagai berikut: Maka berhatihatilah agar
anda
> tidak
> > mengikatkan diri kepada ikatan ('aqd) [yaitu kepercayaan,
doktrin,
> d
> > ogma, atau ajaran] tertentu dan mengingkari ikatan lain yang
mana
> pun,
> > karena
> > dengan demikian itu anda akan kehilangan kebaikan yang banyak;
> sebenarnya anda
> > akan kehilangan pengetahuan yang benar tentang apa itu yang
> sebenarnya. Karena
> > itu, hendaklah anda menerima sepenuhnya semua bentuk
> kepercayaankepercay aan,
> > karena Allah Ta'ala terlalu luas dan terlalu besar untuk
dibatasi
> dalam satu
> > ikatan tanpa ikatan lain, Dia berkata: "Kemana pun kamu
berpaling,
> di situ ada
> > wajah Allah", [Q 2:115] tanpa menyebutkan arah tertentu mana
> pun.170Pengetahuan
> > yang benar tentang Tuhan, menurut Sufi dari Andalusia ini,
adalah
> pengetahuan
> > yang tidak terikat oleh bentuk kepercayaan atau agama
tertentu.
> Inilah
> > pengetahuan yang dimiliki oleh "para gnostik" (al 'arifun).
Karena
> itu, "para
> > gnostik", yaitu para Sufi, tidak pernah menolak Tuhan dalam
> kepercayaan, sekte,
> > aliran, atau agama apa pun. Ini berarti bahwa Tuhan, bagi
mereka,
> dalam semua
> > kepercayaan, sekte, aliran, atau agama, adalah satu dan
> > sama. Kata Ibn al'Arabi, "Barangsiapa yang membebaskanNya
[yaitu
> Tuhan]
> > dari
> > pembatasan tidak akan mengingkariNya dan mengakuiNya dalam
setiap
> bentuk tempat
> > Dia mengubah diriNya."171B. Tuhan Yang Sebenarnya Tuhan
> sebagaimana Dia
> > sebenarnya, Tuhan pada diriNya, Zat Tuhan, tidak diketahui dan
> tidak dapat
> > diketahui oleh akal manusia. Tuhan dalam arti ini oleh Ibn
> al'Arabi disebut
> > "Tuhan Yang Sebenarnya", "the Real God" (alilah alhaqq) "Tuhan
> Yang Absolut",
> > "the Absolute God" (alilah almuthlaq); dan "Tuhan Yang Tidak
> Diketahui", "the
> > Unknown God" (alilah almajhul). Tuhan dalam arti ini adalah
> munazzah (tidak
> > dapat dibandingkan [dengan alam], sama sekali berbeda dengan
alam,
> transenden
> > terhadap alam. "Tidak sesuatu pun serupa denganNya" (Q., s.
> alSyura/42:11) .
> > "Penglihatan tidak dapat mempersepsiNya, tetapi Dia
mempersepsi
> semua
> > penglihatan" (Q., s. alAn'am/6: 103). Itulah Tuhan yang tidak
bisa
> dipahami dan
> > dihampiri secara absolut, yang sering disebut Dzat Tuhan.
Itulah
> Yang Ab
> > solut dalam keabsolutanNya yang terlepas dari semua sifat dan
> relasi
> > yang dapat
> > dipahami manusia. Dia adalah "yang paling tidak tentu dari
semua
> yang tidak
> > tentu", "yang palingtidak diketahui dari semua yang tidak
> diketahui" (ankar
> > alnakirat). Dia adalah selamalamanya suatu misteri, yang oleh
Ibn
> al'Arabi
> > disebut "Misteri Yang Absolut" (alghayb almuthlaq)
atau "Misteri
> Yang Paling
> > Suci" (alghayb alaqdas). Dilihat dari sudut penampakan diri
> (tajalli) Tuhan,
> > dikatakan bahwa Yang Absolut dalam keabsolutanNya adalah pada
> tingkat "keesaan"
> > (ahadiyah).Karena Tuhan, yaitu Dzat Tuhan, tidak dapat
diketahui
> oleh siapa
> > pun,
> > maka Nabi s.a.w. melarang orangorang beriman untuk memikirkan
> Tuhan. Beliau
> > bersabda: "Berpikirlah, tentang ciptaan Allah, tetapi jangan
> berpikir tentang
> > Dzat Allah." Hadits ini cukup terkenal di kalangan orangorang
yang
> mempelajari
> > ilmu tawhid. Larangan ini diperkuat oleh Ibn al'Arabi dengan
> firman Tuhan yang
> > berbunyi: "Allah memperingatkan kamu tentang diriNya" (
> > Q., s. Alu 'Imran/3:28) . Ibn al'Arabi menegaskan sebagai
berikut:
> Berpikir
> > (fikr) tidak mempunyai hukum dan daerah kekuasaan dalam
> [mengetahui, atau
> > memahami] Zat alHaqq, baik secara rasional maupun menurut
Syara'.
> Syara' telah
> > melarang berpikir tentang Zat Allah. Inilah yang disinggung
oleh
> firmanNya,
> > "Allah memperingatkan kamu tentang diriNya," [Q., s.
Alu 'Imran/3:
> 28] yaitu
> > "Jangan kamu berpikir tentangNya [ZatNya)!" Larangan ini
> ditetapkan karena
> > tidak
> > ada hubungan antara Zat alHaqq dan zat alkhalq.172 Dari segi
> diriNya, Zat Tuhan
> > tidak mempunyai nama, karena Dzat itu bukanlah lokus efek dan
> bukan pula
> > diketahui oleh siapa pun. Tidak ada nama yang menunjukkannya
yang
> terlepas dari
> > hubungan dan bukan pula dengan pengukuhan. Namanama berfungsi
untuk
> > pemberitahuan dan pembedaan, tetapi pintu [untuk mengetahui
Zat
> Tuhan] dilarang
> > bagi siapa pun selain Allah, karena tidak ada yang mengetahui
> Allah kecuali
> > Allah.173Ibn al'Arabi mengecam orangorang yang melanggar
larangan
> berp
> > ikir tentang Zat Tuhan dan menuduh mereka telah menambah
kesalahan
> dengan
> > alkhawdl (melakukan upaya spekulasi besarbesaran dan
> serampangan) . Ia memandang
> > bahwa upaya mereka itu adalah siasia.Pandangan bahwa Tuhan
tidak
> dapat
> > diketahui
> > ditemukan pula dalam Bibel. Salah satu bagian Kitab Suci ini
> mengatakan bahwa
> > Tuhan, meskipun hadir dalam alam dan manusia, adalah misteri
yang
> tidak dapat
> > dipahami oleh akal manusia. Ketika Nabi Musa berada di Gunung
> Sinai, ia melihat
> > dan menyaksikan dalam semaksemak yang menyala (tetapi tidak
> dimakan api)
> > Kehadiran Tuhan yang memerintahkannya untuk menghadapi Fir'awn
dan
> membebaskan
> > bangsa Israel dari raja yang zalim itu. Lalu, Musa bertanya
kepada
> Tuhan
> > tentang
> > namaNya untuk mengetahui siapa diriNya, Tuhan menjawab:"Ehyeh
> asyer Ehyeh"
> > (Keluaran 3:14). Terjemahan yang biasa dari ungkapan Ehyeh
asyer
> Ehyeh adalah
> > "Aku adalah Aku" ("I am that I am") atau "Aku akan jadi Aku"
("I
> will be that I
> > will be"). Leo Schaya, seorang sarjana terkemuka ten
> > tang Kabbalisme (mistisisme Yahudi), menafsirkan bahwa
Kehadiran
> Zat
> > yang esa
> > itu menyatakan diriNya kepada Musa sebagai Ehyeh, "Wujud
('Being')
> yang esa dan
> > universal," sebagai "Wujud yang adalah Wujud" ("Being that is
> Being' (Ehyeh
> > asyer Ehyeh), di luar dan di dalam seluruh eksistensi. Tetapi
Ia
> juga
> > menyatakan
> > kepadanya [yaitu Musa] bahwa Ia bukan hanya Zat dan Prinsip
> eksistensi, tetapi
> > secara serentak tetap dalam keadaan pada diriNya, dalam
SupraWujud
> atau
> > BukanWujud Nya yang dalam Kabbalah disebut Ain, "Ketiadaan"
ilahi
> (the divine
> > "Nothingness" ).174Kaum Kabbalis, dalam keinginan besar mereka
> untuk menekankan
> > ketakterpahaman (incomprehensibilty ) Tuhan pergi begitu jauh
> sehingga mereka
> > berbicara tentang Tuhan sebagai 'Ayn "Dia Yang Bukanlah", "Dia
> Yang adalah
> > Bukan" ("He Who is Not") yaitu untuk mengatakan bahwa
sesungguhnya
> orang tidak
> > dapat mengatakan bahwa Tuhan ada [dan tentu pula sebaliknya
tidak
> dapat
> > mengatakan bahwa Tuhan tidak ada], karena mengatakan demikian a
> > dalah juga suatu deskripsi tentang yang tidak dapat
> > dideskripsikan. 175Jawaban
> > Tuhan tersebut, Ehyeh asyer Ehyeh, menunjukkan bahwa diriNya
tidak
> dapat
> > dipahami oleh akal manusia. Karena itu, Musa diperingatkan
oleh
> Tuhan agar
> > tidak
> > bertanya tentang diriNya, DzatNya.Yang diketahui oleh manusia
> adalah
> > perbuatanperbuatan atau karyakarya Tuhan, bukan Tuhan itu
sendiri.
> Ini berarti
> > bahwa Tuhan hanya bisa diketahui melalui perbuatanperbuatanN
ya,
> tidak pernah
> > diketahui sebagai Dia pada diriNya. Ketika Musa memohon kepada
> Tuhan agar
> > memperlihatkan kemuliaanNya, Dia berfirman: "Engkau tidak akan
> bisa memandang
> > wajahKu, karena tidak ada orang yang bisa memandang wajahKu
dan
> bisa hidup."
> > Tuhan berfirman: "Ada suatu tempat dekatKu, tempat engkau
dapat
> berdiri di atas
> > batu. Apabila kemuliaanKu lewat, maka Aku akan menempatkan
engkau
> dalam lekuk
> > batu itu dan Aku akan menutupi engkau dengan tanganKu sehingga
Aku
> lewat. Lalu,
> > Aku akan menarik tanganKu, dan engkau akan melihat belakangKu,
te
> > tapi wajahKu tidak akan terlihat" (Keluaran 33:2023). Dalam
> Perjanjian Baru,
> > tradisi mistis ini, meskipun tidak begitu tegas, mempunyai
akar
> yang dapat
> > tumbuh dengan subur dan kuat. St. Yohanes mengatakan: "Tidak
> seorang pun
> > melihat
> > Tuhan kapan saja" (Yohanes 1:18). Surat Paulus kepada Timotius
> membicarakan
> > Tuhan "yang bersemayam dalam cahaya yang tak terhampiri. Tidak
> seorang pun
> > pernah melihatNya; dan memang tidak seorang pun bisa pernah
> melihatNya" (1
> > Timotius 6:16). Ungkapan Paulus kepada Timotius ini, yang
> ditemukan menjelang
> > akhir periode Perjanjian Baru dan menunjukkan pengaruh
pemikiran
> Yunani,
> > seperti
> > dikatakan Bede Griffiths, menyatakan transendensi absolut
> Ketuhanan (Godhead).
> > Ini telah dikembangkan oleh para bapa Yunani dalam konteks
konsep
> tentang
> > ketakterpahaman (incomprhensibility ) Tuhan.176Pandangan yang
> menekankan
> > penegasian pengetahuan tentang Tuhan dikenal dalam, bahkan
sangat
> akrab dengan,
> > tradisitradisi keagamaan Timur, seperti Hinduisme dan Taoisme.
Upa
> > nisad, Kitab Suci Hindu, mengatakan: Dia yang tidak terlihat
oleh
> mata, yang
> > tidak terucapkan oleh lidah, dan yang tidak tertangkap oleh
> pikiran. Dia yang
> > tidak kita ketahui, juga yang tidak mampu kita ajari.
Berbedalah
> Dia dengan
> > yang
> > diketahui, dan berbedalah Dia dengan yang tidak diketahui.
> Demikian kita
> > ketahui
> > dari sang bijak. Yang tidak dapat diungkapkan dengan katakata
> tetapi denganNya
> > lidah berbicara ketahuilah itu adalah Brahman. Brahman
bukanlah
> wujud yang
> > disembah manusia. Yang tidak dipahami oleh pikiran tetapi
> denganNya pikiran
> > memahami ketahuilah itu adalah Brahman. Brahman bukanlah wujud
> yang disembah
> > manusia. Yang tidak dilihat oleh mata tetapi denganNya mata
> melihat ketahuilah
> > itu adalah Brahman. Brahman bukanlah wujud yang disembah
manusia.
> Yang tidak
> > didengar oleh telinga tetapi denganNya telinga mendengar
> ketahuilah itu adalah
> > Brahman. Brahman bukanlah wujud yang disembah manusia. Yang
tidak
> ditarik oleh
> > nafas tetapi denganNya nafas ditarik ketahuilah itu
> > adalah Brahman. Brahman bukanlah wujud yang disembah manusia.
Jika
> engkau
> > mengira bahwa engkau mengetahui dengan baik kebenaran Brahman,
> ketahuilah bahwa
> > engkau mengetahui [hanya] sedikit. Apa yang anda kira sebagai
> Brahman pada diri
> > anda, atau apa yang anda kira sebagai Brahman dalam tuhantuhan
> [atau dewadewa]
> > itu bukanlah Brahman" (Kena Upanisad). Karena Brahman tidak
dapat
> diungkapkan
> > oleh apa pun dan selalu di luar katakata dan di luar
pemikiran,
> maka
> > Brihadaranyaka Upanisad mengatakan bahwa Brahman mustahil
> dibicarakan. Brahman
> > adalah "bukan ini, bukan ini", "bukan ini, bukan itu" ("neti,
> neti"). Brahman
> > tidak dapat dikatakan bagaimana, tidak bersifat ("nirguna").
> Karena itu,
> > Brahman
> > pada tingkat ini disebut "nirguna Brahman". Pada tingkat ini
Dia
> adalah Yang
> > Absolut dalam keabsolutanNya. Prolog Tao Te Ching, Kitab Suci
> Taois, yang
> > biasanya dianggap ditulis oleh LaoTze, dibuka dengan
> katakata: "Tao yang dapat
> > dibicarakan bukanlah Tao yang sebenarnya atau kekal. Namanama
> > yang dapat disebutkan bukanlah nama yang sebenarnya atau
kekal"
> (Tao Te
> > Ching
> > 1:1). ChuangTze, penulis Cina abad keempat SM, dengan nada
yang
> sama
> > mengatakan:
> > Tao Yang Agung tidak dinamai/dinamakan; Diskriminasidiskrim
inasi
> Yang Agung
> > tidak dibicarakan; Kemurahan Hati Yang Agung bukanlah murah
hati;
> Kerendahan
> > Hati Yang Agung bukanlah rendah hati; Keberanian Yang Agung
> bukanlah menyerang;
> > Jika Tao dijelaskan, itu bukanlah Tao. (ChuangTze, Bab 2)
> Kutipankutipan ini
> > menunjukkan bahwa Tao tidak dapat diungkapkan dan dijelaskan
> dengan
> > katakata; Ia
> > adalah di luar bahasa. Itulah Tao yang sebenarnya, yang
merupakan
> Yang Absolut
> > dalam keabsolutanNya. Yang Absolut itu oleh LaotTze
> disebut "Misteri di
> > belakang
> > segala misteri" ("hsuan chih yu hsuan") dan oleh ChuangTze
disebut
> > "TiadaTiadaTiadaApa apa", "NoNoNothing" ,
atau "BukanBukanBukanWuj
> ud",
> > "NonNonNonBeing" ("wuwuwu"). "TiadaTiadaTiadaApa apa" adalah
Tao
> atau
> > "TiadaApaapa metafisis yang bukan suatu 'tiadaapaapa' yang
> sederhana, tet
> > api suatu TiadaApaapa yang berada di seberang 'wujud'
> dan 'bukanwujud'
> > sebagaimana biasanya dipahami".177 Yang Absolut dalam
> kebsolutanNya seperti ini
> > dalam Sufisme Ibn al'Arabi disebut "Misteri Yang Absolut"
> dan "Misteri Yang
> > Paling Suci", dalam mistisisme Kristen disebut "Ketuhanan",
dan
> dalam tradisi
> > Hindu disebut "nirguna Brahman".C. Teologi Apofatik Dalam
konteks
> ini, salah
> > satu persoalan teologismistis yang selalu menggoda untuk
dijawab
> adalah cara
> > mendekati dan mencintai Tuhan. Bagaimana mungkin kita dapat
> mendekati dan
> > mencintai Tuhan yang tidak diketahui? Bagaimana mungkin Tuhan
yang
> sama sekali
> > berbeda dengan alam dan manusia dapat hadir dalam alam dan
> manusia? Bagimana
> > mungkin Tuhan yang transenden terhadap alam dan manusia adalah
> immanen dalam
> > alam dan manusia?Menurut Thomas Merton (19151968), seorang
teolog
> dan mistikus
> > Katolik Roma berkebangsaan Amerika, para teolog mistis
menghadapi
> persoalan ini
> > sebagai persoalan "mengatakan apa yang sesungguhnya tidak dapat
> > dikatakan" ("saying what cannot really be said").178 Persoalan
ini
> dapat
> > pula
> > dideskripsikan dengan ungkapanungkapan paradoksikal lain,
seperti
> membicarakan
> > yang tidak dapat dibicarakan" ("speaking of the
> unspeakable" ),179 "mengetahui
> > Tuhan Yang Tidak Dapat Diketahui" ("knowing the Unknowable
> God"),180 "menamai
> > yang tidak dapat dinamai," "menamakan apa yang tidak dapat
> dinamakan" ("naming
> > the unnamable"), 181 "mengungkapkan yang tidak dapat
diungkapkan"
> ("expressing
> > the inexpressible" ),182 "memikirkan yang tidak dapat
dipikirkan"
> ("thinking of
> > the unthinkable" ), "memahami yang tidak dapat dipahami"
> ("comprehending the
> > incomprehensible" ), "membayangkan yang tidak dapat
dibayangkan"
> > ("conceiving the
> > unconceivable" ), dan "melukiskan yang tidak dapat dilukiskan"
> ("describing the
> > indescribable" ).Salah satu cara terbaik untuk memecahkan
> persoalan ini adalah
> > dengan suatu teologi yang disebut "teologi apofatik"
("apophatic
> theology"),
> > teologi "tidak mengetahui" (the theology of "unkn
> > owing"), yang melukiskan pengalaman transenden tentang Tuhan
dalam
> cinta
> > sebagai suatu "mengetahui dengan tidak mengetahui" ("knowing
by
> unknowing") dan
> > suatu "melihat yang bukan melihat" ("seeing that is not
> seeing").183Seorang
> > mistikus dan penulis spiritual Inggris abad keempatbelas,
penulis
> anonim The
> > Cloud of Unknowing, adalah salah satu contoh terbaik wakil
teologi
> apofatik
> > karena kecenderungan teologinya itu menekankan bahwa Tuhan
paling
> baik
> > diketahui
> > dengan penegasian: "kita dapat mengetahui lebih banyak tentang
apa
> yang bukan
> > Tuhan ketimbang tentang apa yang adalah Dia" ("we can know
much
> more about what
> > God is not than about what He is").184 Penulis The Cloud of
> Unknowing itu
> > dengan
> > konstan menggunakan tema paradoksikal "mengetahui" dan "tidak
> mengetahui."
> > Menjelang bagian akhir karyanya itu, ia menegaskan intisari
> pandangan
> > apofatiknya dengan mengutip katakata Dionysius orang Areopagus
> (St. Denis),
> > "Dan
> > karena itu St. Denis berkata, 'Mengetahui yang paling saleh [
> > paling tinggi] akan Tuhan adalah [mengetahui] yang dikenal
dengan
> tidak
> > mengetahui'" ("And therefore St. Denis said 'The most godly
> knowing of God is
> > that which is known by unknowing'") .185William Johnston,
seorang
> Yesuit,
> > memberikan sebuah komentar yang menarik tentang tema
paradoksikal
> ini. Ia
> > berkata: "Kita mengetahui Tuhan, namun tidak mengetahuiNya;
kita
> mengetahuiNya
> > dengan tidak mengetahui; kita mengetahuiNya dalam kegelapan;
kita
> mengetahuiNya
> > dengan cinta".186 Bagi penulis The Cloud of the Unknowing,
Tuhan
> dapat
> > dicintai,
> > tetapi tidak dapat dipikirkan. Meskipun jiwa manusia tidak
dapat
> menembus
> > misteri Tuhan dengan pemahaman rasional, ia dapat bersatu
> denganNya dengan
> > cinta. "Karena mengapa, Dia [yaitu Tuhan] dapat dicintai
dengan
> baik, tetapi
> > tidak dapat dipikirkan. Dengan cinta Dia dapat dicapai dan
> dipegang, tetapi
> > dengan pikiran tidak".187 Menurut mistikus Inggris anonim ini,
> jika sang hamba
> > mengosongkan pikirannya dari segala sesuatu dan segala
gambaran,
> akan t
> > umbuh dalam kalbunya "getaran buta dari cinta" ("the blind
> stirring of
> > love")
> > yang menembus "awan tidak mengetahui", "awan ketidaktahuan"
("The
> Cloud of
> > Unknowing"), yang membawa sang hamba kepada suatu pengetahuan
yang
> > suprakonsepsual dan gelap; itulah kebijakan tertinggi.Penulis
The
> Cloud of
> > Unknowing sangat dipengaruhi oleh Diosynisius orang Areopagus,
> yang menurut
> > penelitian belakangan adalah seorang rahib Siria yang hidup
pada
> ujung abad
> > kelima dan permulaan abad keenam Masehi. Dionysius memandang
bahwa
> pengetahuan
> > rasional tentang Tuhan, baik dengan cara afirmatif maupun
dengan
> cara negatif
> > (meskipun yang terakhir ini ditekankannya karena ia menegaskan
> transendensi
> > Tuhan), tidak memadai. Ia memilih pengetahuan mistis, yang
menurut
> pandangannya
> > lebih tinggi dari pengetahuan rasional yang diperoleh melalui
> spekulasi
> > teologis
> > dan filosofis dengan menggunakan akal. Pengetahuan mistis
adalah
> pengetahuan
> > yang diperoleh sebagai anugerah dari Tuhan. Pengetahuan mistis
> seperti
> > ini tidak ditemukan dalam bukubuku, tidak juga diperoleh
dengan
> usaha
> > manusia,
> > karena ia adalah suatu pemberian ilahi. Bagaimana pun, manusia
> dapat
> > mempersiapkan diri menerimanya dengan doa dan penyucian.Karena
> indera dan
> > intelek manusia tidak mampu mencapai Tuhan, indera dan intelek
> harus
> > "dikosongkan" dari semua makhluk dan disucikan supaya Tuhan
dapat
> menuangkan
> > cahayaNya ke dalam indera dan intelek itu. Dalam arti ini,
indera
> dan intelek
> > berada dalam kegelapan sempurna dalam hubungan dengan segala
> ciptaan tetapi
> > pada
> > saat yang sama dipenuhi dengan cahaya dari Tuhan. Karena itu,
> dapat dikatakan
> > bahwa "Kegelapan Ilahi" (the "Divine Darkness') adalah cahaya
yang
> tidak dapat
> > dihampiri yang dikatakan di dalamnya Tuhan bersemayam". Ketika
> semua daya
> > dikosongkan dari semua pengetahuan manusiawi, maka berkuasalah
> dalam jiwa suatu
> > "keheningan mistik" ("mystic silence") yang membawanya kepada
> klimaks, yaitu
> > kesatuan dengan Tuhan dan visi tentang Dia sebagai Dia pada
> diriNya".188 P
> > engetahuan seperti ini adalah pengetahuan ilahi tentang Tuhan
yang
> > berlangsung
> > dengan "tidak mengetahui" ("unknowing" ) atau "ketidaktahuan"
> ("ignorance" ),
> > yang
> > berarti bahwa sang hamba harus mencampakkan pengetahuan
konsepsual
> manusiawi
> > untuk menerima pengetahuan anugerah ilahi.Bagi Dionysius,
> satusatunya jalan
> > mengetahui Tuhan adalah dengan "tidak mengetahui", dengan
> menyeberang di luar
> > konsep, di luar pikiran rasional dan dengan menerima suatu
> sinar "kegelapan
> > ilahi". Mistikus ini menyerukan agar sang pencari Tuhan
melepaskan
> diri dari
> > persepsi, imaginasi, dugaan, nama, pembahasan, pemahaman,
> pemikiran, dan segala
> > sesuatu yang membelenggu dan menjauhkannya dari jalan menuju
> Tuhan, agar sang
> > pencari memasuki "kegelapan ilahi" yang melebihi segala
sesuatu
> dan "mengetahui
> > dengan tidak mengetahui". Teologi apofatik Dionysius ini
menjadi
> dasar
> > mistisisme
> > apofatik Kristen di kemudian hari. Pengaruh mistikus ini dapat
> ditemukan,
> > misalnya, pada Maximus Sang "Confessor", Yohanes Sco
> > tus Erigena, Thomas Aquinas, Bonaventura, Dante, dan Penulis
The
> Cloud of
> > Unknowing.Bagaimana tradisi mistis Yahudi memecahkan persoalan
> teologis yang
> > rumit ini? Kaum Kabbalis, seperti dikemukan di atas, memandang
> bahwa Tuhan
> > adalah rahasia yang tidak dapat dipahami oleh manusia. Namun,
roh
> manusia, atau
> > wujud rohani manusia, mampu membenamkan dirinya dalam jurang
yang
> dalam sekali
> > tanpa alas dari "Ketiadaan" ilahi. Ketika Musa melihat
Kehadiran
> Tuhan di
> > Gunung
> > Sinai, ia mencapai pengalaman rohani seperti itu; "ketika ia
naik
> selangkah
> > demi
> > selangkah sehingga masuk ke dalam kegelapan awan Tuhan".189
Ketika
> itu Musa
> > menutup matanya kepada semua pengetahuan positif,
menyingkirkan
> semua pikiran
> > dan penglihatan, karena ia sepenuhnya milik Dia yang tidak
> terjangkau oleh
> > pikiran dan penglihatan, sehingga ia bersatu dengan Dia yang
tidak
> dapat
> > ditangkap oleh pengetahuan. Itulah yang oleh kaum Kabbalis
disebut
> bittul
> > hayesy, "kemusnahan eksistensi" dalam Ain, "Ketiadaan" ilahi,
yang
> > berarti kemusnahan pikiran manusiawi dan "kontemplasi tentang
> Ketiadaan"190
> > Pengalaman spiritual seperti itu tidak dapat diperoleh melalui
> pikiran, tetapi
> > diperoleh melalui pertolongan Tuhan. Agar pertolongan itu
> diperoleh, seseorang
> > harus memusnahkan pikiran dan pada saat yang sama harus
melakukan
> kontemplasi
> > tentang Ketiadaan.Bahasa apofatisme yang jauh lebih tua dapat
> ditemukan dalam
> > Upanisad. Suatu bagian Kitab Suci ini berbunyi: "Orang yang
dengan
> benar
> > mengetahui Brahman adalah orang yang mengetahuiNya sebagai di
luar
> pengetahuan;
> > orang yang mengira bahwa ia mengetahui[Nya] , tidak
mengetahui.
> Orang bodoh
> > mengira bahwa Brahman diketahui, tetapi orang bijak
mengetahuiNya
> di seberang
> > pengetahuan" (Kena). Ini berarti bahwa pengetahuan yang benar
> tentang Tuhan
> > adalah pengetahuan negatif: "mengetahui Tuhan dengan tidak
> > mengetahuiNya. "Menurut Ibn al'Arabi, pengetahuan tentang
Tuhan
> sebagaimana Dia
> > sebenarnya, Tuhan pada diriNya, Zat Tuhan, harus diperoleh
> dengan "peniadaan p
> > engetahuan". Ini berarti bahwa mengetahui Tuhan dengan tidak
> mengetahuiNya;
> > pengetahuan positif tentang Tuhan adalah mustahil. Ia
> berkata: "Orang yang
> > tidak
> > mempunyai pengetahuan membayangkan bahwa ia mengetahui Tuhan,
itu
> tidak betul",
> > karena "pengetahuan kita tentang Tuhan adalah
mustahil". "Orang
> yang mengetahui
> > Tuhan tidak melampaui batas tingkatnya sendiri. Ia mengetahui
apa
> yang ia
> > ketahui bahwa ia adalah salah seorang di antara orangorang
yang
> tidak
> > mengetahui". 191Dengan berkalikali mengutip perkataan Abu Bakr
> r.a., Ibn
> > al'Arabi
> > berkata: "Ketidakmampuan mencapai persepsi adalah persepsi"
> ["Ketidakmampuan
> > mencapai pengetahuan adalah pengetahuan" ] (Al'ajz 'an dark
> alidrak idrak).192
> > Ungkapan ini melukiskan tingkat tertinggi pengetahuan manusia
> tentang Tuhan dan
> > segala sesuatu yang gaib yang tidak dapat diketahuinya. Orang
yang
> mengetahui
> > bahwa ia tidak dapat mengetahui Tuhan adalah orang yang secara
> benar
> > mengetahuiNya; itulah orang yang bijak. Orang yang menganggap
bah
> > wa ia mengetahui Tuhan adalah orang yang tidak mengetahuiNya;
> itulah
> > orang yang
> > bodoh. Bukankah Tuhan telah berfirman: "Penglihatan tidak
dapat
> mempersepsiNya
> > [yaitu Tuhan], tetapi Dia mempersepsi semua penglihatan" (Q.,
s:
> > alAn'am/6:103) ?D. Catatan Akhir Teologi apofatik menegaskan
> kemustahilan
> > pengetahuan manusia tentang Tuhan sebagaimana Dia pada
diriNya,
> Tuhan yang
> > sebenarnya. Pengetahuan yang benar dan tertinggi tentang Tuhan
> adalah
> > pengetahuan dengan "tidak mengetahui" atau "ketidaktahuan"
karena
> Tuhan di luar
> > jangkauan pengetahuan manusia dan tidak dapat diungkapkan
dengan
> katakata dan
> > bahasa manusia. Pengetahuan seperti ini tidak dapat diperoleh
> dengan pikiran,
> > tetapi adalah pemberian Tuhan kepada hambaNya yang telah
> mempersiapkan diri
> > untuk menerimanya dengan doa dan penyucian. Seperti disebut di
> atas,
> > penulis The
> > Cloud of Unknowing mengatakan bahwa Tuhan dapat dicintai,
tetapi
> tidak dapat
> > dipikirkan. Dengan cinta Tuhan dapat dihampiri dan dipegang,
> tetapi dengan pi
> > kiran tidak. Tuhan bukan untuk dipikirkan dengan akal, tetapi
> untuk dicintai
> > dan "dirasakan" dengan Kalbu (qalb).Semua orang yang percaya
> kepada Tuhan tentu
> > saja ingin mencintai Tuhan. Cinta seorang hamba kepada Tuhan
pasti
> dibalas.
> > Tuhan mencintai hamba yang mencintaiNya. Jika sang hamba
mencintai
> Tuhan, ia
> > harus mengikuti Tuhan dan panutan yang diutusNya. Tuhan
> berfirman: "Katakanlah:
> > 'Jika kamu benarbenar mencintai Allah, ikutilah aku, nicaya
Allah
> mencintaimu
> > dan mengampuni dosadosamu'. Allah adalah Maha Pengampun dan
Maya
> > Penyayang." (Q.
> > s. Alu 'Imran/3:31) . "Aku menunjukkan cintaKu kepada
beriburibu
> generasi, yaitu
> > orangorang yang mencintaiKu dan mematuhi hukumhukumKu. "
(Keluaran
> 20:6). Yesus
> > menyerukan: "Jika kamu menuruti perintahperintahku, kamu akan
> tetap dalam
> > cintaku, seperti aku menuruti perintahperintah Bapaku dan
tetap
> dalam cintaNya"
> > (Yohanes 15:10).Cinta vertikal antara sang hamba dan Tuhannya
> tidak akan
> > terwujud jika tidak disertai dengan cinta horisontal a
> > ntara sang hamba dan sesamanya. Seperti disebutkan di atas,
Nabi
> berkata:
> > "Kasihilah siapa yang di bumi, niscaya engkau akan dikasihi
oleh
> siapa yang di
> > langit". Pada kesempatan lain beliau berkata: "Tidaklah
beriman
> salah
> > seorang di
> > antara kamu hingga dia mencintai saudaranya seperti mencintai
> dirinya sendiri".
> > Yesus membenarkan perkataan seorang ahli Taurat: "Cintailah
> tetanggamu seperti
> > mencintai dirimu sendiri." (Lukas 10: 27).Teologi apofatik,
atau
> mistisisme
> > apofatik, adalah suatu cara berpikir atau aktivitas mental
yang
> digunakan oleh
> > banyak mistikus atau Sufi untuk menempuh perjalanan menuju
Tuhan
> dan sekaligus
> > untuk menyuarakan protes keras terhadap kelancangan dan
keangkuhan
> para teolog
> > dan para filsuf yang menganggap bahwa mereka mempunyai konsep,
> ide, atau
> > gagasan
> > tentang Tuhan sebagaimana Dia pada diriNya. Teologi apofatik
> adalah peringatan
> > bagi orang yang mereduksi Tuhan menjadi sesuatu yang rasional
> belaka. Teologi
> > apofatik menunjukkan bahwa orang yang memanda
> > ng bahwa dengan nalarnya ia mempunyai pengetahuan yang memadai
> tentang Tuhan
> > adalah orang yang membatasi Tuhan dalam bentuk khusus menurut
> pengertian yang
> > ditentukan oleh akalnya. Padahal Tuhan tidak dapat dibatasi.
> Bentuk Tuhan yang
> > ditangkapnya adalah bentuk yang dicocokkan dengan "kotak"
akalnya.
> Ia menolak
> > bentuk Tuhan yang tidak cocok dengan bentuk dan ukuran "kotak"
> akalnya. Ia
> > menyalahkan orang lain yang mempercayai Tuhan dalam bentuk
lain.
> Ia tidak
> > menerima apa pun sebagai kebenaran jika bertentangan dengan
> akalnya. Ia telah
> > mempertuhankan akalnya. Orang seperti ini, kata Ibn al'Arabi,
> adalah "hamba
> > nalar" ('abd nazhar), bukan "hamba Rabb" ('abd rabb).Wa 'lLahu
> a'lamu bi
> > 'lshawab.
> >
> >
> >
> >
> > New Email names for you!
> > Get the Email name you've always wanted on the new @ymail
and
> @rocketmail.
> > Hurry before someone else does!
> > http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
> >
>
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:bali-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:bali-bali-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
bali-bali-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar