Selasa, 07 Oktober 2008

[bali-bali] Re: TUHAN YANG DICIPTAKAN dan TUHAN YANG SEBENARNYA

suksma Bli PK atas copasnya,

dari dulupun tyang pernah bilang ,seperti para akhli Theology tsb,
masalahnya tyang bukan penulis , tidak bisa menulis.
Menurut tyang sudah jelas pekerjaan sia sia kalu kita mengconceptkan
sesuatu yang tidak terconceptkan , waste of time..
tyang setuju sekali dengan kata Bli Bagus Socrates :
"kalau Tuhan menciptakan kita dengan Imaginasinya , maka kita hanya
membayar hutang dengan menciptakan Tuhan dengan Imaginasi kita".

Bagaimana mungkin kita dapat bentuk atau gambar dari Acintya?
Juga bagaimana mungkin kita membatasi sesuatu yang wyapi wyapaka?

Mereka yang mengaku mengenal Tuhan , dan berkarya sesuai dengan
kehendak Tuhan , sudah jelas mengerdilkan Tuhannya sendiri ,
disamping membodohi diri sendiri. ( Tuhan punya kehendak , dan
memerintah ? apalagi menghukum ?)
Dalam Al Quran banyak dicantum " Tuhan "berkata"....
Dalam Injil ada juga tercantum " perjanjian" dengan Tuhan..??

Seperti yang sering tyang katakan :
kita sebenarnya satu , aku hanya satu , yang berasal dari satu , dan
akan kembali ke aku yang satu dan akan kembali lagi seperti ke aku
yang satu ini.
Yang membedakan kita hanya kulit dan warna dan yang memisahkan kita
hanya ego disamping dikotak kotakkan oleh agama.
Dan banyak lagi cap dan embel embel serta tembok yang memisahkan kita
untuk mengenal bahwa kita sebenarnya satu.
Sementara ini tyang sejalan dengan jalan pikiran Bapak Krisnamurti.

Agama bukan tujuan hidup , agama hanya jalan , hanya cermin dari
manusia untuk melihat dirinya sendiri , bayangan apapun yang dilihat
dalam cermin tersebut , itulah tingkatan spiritual manusia saat itu.
Bagi saya pribadi , agama hanya pelajaran tahap pertama untuk kita
semua mempelajari jati diri kita , untuk mendekati aku dalam AKU itu.

sekian dulu , karena mungkin sudah ada yang menganggap saya stress
atau bingung ,tapi dengan ijin waktu mereka akan mengerti.
It's fully your choice not to read this , but...by now it's too late.
you've read it....

aP.


--- In bali-bali@yahoogroups.com, Putu Kesuma <putukesuma@...> wrote:
>
> Teman-teman semua,
>
> Pintunya hanya satu, buka atau tutup. Buka semua masuk termasuk
yang tidak kita harapkan. Tutup semuanya tidak bisa masuk termasuk
yang kita haraplan.
>
> Mari kita membuka diri, hanya denga itulah kita bisa berevolusi
dengan lebih baik...
>
> Salam,
> pkesuma
> ---------------------------------------------------
>
> From: "Sony Wongso"
> Date: Sun Oct 5, 2008 3:03 am
> Subject: Tuhan Yang Diciptakan dan Tuhan Yang Sebenarnya
>
> Tuhan Yang Diciptakan dan Tuhan Yang Sebenarnya
> Oleh Kautsar Azhari Noer Ketua Jurusan Perbandingan Agama, IAIN
Jakarta, Pemimpin Redaksi Jurnal Pemikiran Islam Paramadina
>
>
> PADA suatu hari di penghujung 1970an (saya tidak
> ingat lagi tahun berapa persisnya) di Direktorat Urusan Agama
Hindu dan Buddha,
> Departemen Agama Republik Indonesia, yang pada waktu itu berlokasi
di Jl. M.H.
> Thamrin, Jakarta, seorang pegawai Direktorat itu yang menganut
Buddhisme dan
> saya sempat berdiskusi secara singkat sekitar konsep tentang
Tuhan. Saya
> memulai
> diskusi itu dengan mengkritik ketidakjelasan konsep Buddhis
tentang Tuhan. Saya
> mengatakan kepadanya bahwa konsep Buddhis tentang Tuhan tidak
jelas. Bukubuku
> tentang Buddhisme, pada umumnya, tidak memuat uraian dan
pembahasan tentang
> Tuhan. Siddharta Gautama tidak memberikan penjelasan dan doktrin
tentang Tuhan.
> Penolakan Gautama terhadap pembicaraan tentang Tuhan
telah "memiskinkan"
> Buddhisme dalam pembicaraan tentang Tuhan. Buddisme
> tidak mempunyai konsep yang jelas tentang Tuhan.Pegawai yang
cerdas itu
> berbalik mengkritik konsep Islam (atau orangorang Muslim). tentang
Tuhan. Ia
> mengatakan bahwa orangorang Muslim membuat suatu kesalahan besar
dalam memahami
> Tuhan. Kesalahan itu, menurutnya, terletak pada pemahaman dan
kepercayaan
> orangorang Muslim bahwa Tuhan adalah "begini" dan "begitu".
Orangorang Muslim
> mengatakan bahwa Tuhan mempunyai 20 sifat, atau mempunyai 99 nama.
Tuhan adalah
> Maha Pengasih, Maha Penyayang, Raja, Maha Suci, Pemberi bentuk,
Pencipta, Maha
> Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat, dan banyak lagi namanama
atau
> sifatsifat lain. Ini berarti bahwa orangorang Muslim membuat
konsep, ide, atau
> gagasan tentang Tuhan. Mereka mengungkapkan Tuhan yang tidak
terbatas dengan
> katakata dan bahasa manusia yang terbatas. Pegawai itu mengatakan
bahwa Tuhan
> dalam konsep, ide, atau gagasan bukanlah Tuhan yang sebenarnya
karena Tuhan
> yang
> sebenarnya di luar konsep, ide, atau gagasan. Tuhan seperti it
> u adalah Tuhan yang diciptakan oleh manusia, bukan Tuhan yang
> sebenarnya. Tuhan
> tidak dapat diungkapkan dengan katakata dan bahasa. Tuhan adalah
misteri yang
> tidak dapat diketahui, tidak dapat dipahami, dan tidak dapat
dipikirkan oleh
> akal manusia. Karena itu, Tuhan tidak dapat dikatakan "begini" dan
> "begitu".Mendengar kritiknya itu, saya terdiam karena saya tidak
dapat
> membantahnya. Waktu itu saya memang masih menjadi mahasiswa S1
yang sedang
> merampungkan penulisan skripsi tentang konsep monoteisme dalam
agamaagama besar
> (Yudaisme, Kristen, Islam, Hinduisme, dan Buddhisme), belum
menjadi sarjana.
> Tetapi itu tidak boleh menjadi alasan. Pokoknya, saya tidak
berkutik terhadap
> "pukulan keras" itu. Saya hanya dapat berharap agar saya dapat
lebih banyak
> lagi
> mempelajari dan memahami persoalan yang saya diskusikan dengan
orang
> itu.Tulisan
> yang Anda baca ini ingin mendiskusikan kembali persoalan tersebut.
Maka
> pertanyaanpertanyaa n yang perlu diajukan di sini adalah; Sejauh
mana man
> usia dapat mengetahui Tuhan yang transenden dan absolut itu?
Bagaimana
> pengetahuan manusia yang benar tentang Tuhan? Jika Tuhan tidak
dapat dinamai,
> dibicarakan, dan diungkapkan, bagaimana mungkin manusia dapat
mengetahui dan
> berhubungan denganNya?A. Tuhan yang Diciptakan Ibn al'Arabi
(560638/11651240) ,
> salah seorang Sufi terbesar, mengkritik orang yang memutlakkan,
atau, jika
> boleh, "menuhankan" , kepercayaannya kepada Tuhan, yang menganggap
> kepercayaannya
> itu sebagai satusatunya yang benar dan menyalahkan kepercayaan
orang lain.
> Orang
> seperti itu memandang bahwa Tuhan yang dipercayainya itu adalah
Tuhan yang
> sebenarnya, yang berbeda dengan Tuhan yang dipercayai oleh orang
lain yang
> dianggapnya salah. Ibn al'Arabi menyebut Tuhan yang dipercayai
manusia"Tuhan
> kepercayaan" (ilah almu'taqad), "Tuhan yang dipercayai" (alilah
almu'taqad),
> "Tuhan dalam kepercayaan" (alilah fi ali'tiqad), "Tuhan
kepercayaan" (alhaqq
> ali'tiqadi), "Tuhan yang dalam kepercayaan" (alhaqq alladzi fi alm
> u'taqad), dan "Tuhan yang diciptakan dalam kepercayaan" (alhaqq
almakhluq fi
> ali'tiqad).Kata i'tiqad data mu'taqad, yang dalam tulisan ini
diterjemahkan
> dengan "kepercayaan" , berasal dari akar 'qd, yang berarti
merajut, membuhul,
> mengikat; mengikatkan dengan sebuah buhul; memasang, mengumpulkan,
> menggabungkan, mengunci; mengecilkan, menyempitkan, mengerutkan;
mengarahkan,
> memusatkan; melengkungkan, melekukkan; bertemu, berkumpul;
mengadakan
> pertemuan,
> mengadakan rapat, mengumpulkan; membuat perjanjian, mengikat
kontrak. Kata
> i'tiqad sendiri, secara literal (harfiah) atau figuratif (majazi),
berarti
> menjadi terikat atau tersusun dengan kuat. Maka
i'tiqad, "kepercayaan" , adalah
> suatu "ikatan" yang diikat dengan kuat dalam kalbu atau pikiran,
sebuah
> keyakinan bahwa sesuatu adalah benar. Bagi Ibn
al'Arabi, "kepercayaan" adalah
> sebuah (peng)ikatan (binding) dan (pem)batasan (delimitation)
Wujud Yang Tak
> Terbatas, Wujud Absolut (alwujud almuthlaq), yang dilakukan oleh
dan berlangs
> ung dalam subyek manusiawi.Kepercaya an seorang hamba kepada
Tuhannya
> ditentukan
> dan diwarnai oleh kapasitas pengetahuan sang hamba. Kapasitas
pengetahuan itu
> tergantung kepada "kesiapan partikular" (alisti'dad aljuz'i)
masingmasing
> individu hamba sebagai bentuk penampakan "kesiapan universal"
(alisti'dad
> alkulli) atau "kesiapan azali" (alisti'dad alazali) yang telah ada
sejak azali
> dalam "entitasentitas permanen" (ala'yan altsabitah), yang
merupakan bentuk
> penampakan diri (tajalli) alHaqq (yaitu Tuhan). Tuhan menampakkan
diriNya
> kepada
> hambaNya sesuai dengan kesiapan sang hamba untuk mencapai
pengetahuan tentang
> Tuhan yang akhirnya "diikat" atau "dibatasi" oleh dan dalam
kepercayaannya
> sesuai dengan pengetahuan yang dicapainya. Dengan demikian, Tuhan
yang
> diketahui
> oleh sang hamba adalah identik dengan Tuhan dalam kepercayaannya.
Dapat pula
> dikatakan bahwa Tuhan yang diketahuinya adalah identik dengan
> kepercayaannya. Tuhan memberikan kesiapan (alisti'dad) , sesuai
dengan firma
> nNya, "Dia memberi segala sesuatu ciptaannya" [Q. s.Thaha/20:50] .
Maka Dia
> mengangkat hijab antara Dia dan hambaNya. Sang hamba melihatNya
dalam bentuk
> kepercayaannya; jadi Tuhan adalah identik dengan kepercayaannya
sendiri. Baik
> kalbu maupun mata tidak pernah melihat sesuatu kecuali bentuk
kepercayaannya
> tentang Tuhan. Tuhan yang ada dalam kepercayaan itu adalah Tuhan
yang bentukNya
> diliputi oleh kalbu; itulah Tuhan yang menampakkan diriNya kepada
kalbu
> sehingga
> Dia dikenal. Maka mata tidak melihat selain Tuhan kepercayaan.
163 "Tuhan
> kepercayaan" adalah gambar atau bentuk Tuhan, atau pemikiran,
konsep, ide, atau
> gagasan tentang Tuhan yang diciptakan oleh akal manusia atau
taklidnya. Tuhan
> seperti itu bukanlah Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya, Tuhan pada
diriNya,
> ZatNya, tetapi adalah Tuhan yang diciptakan oleh manusia sesuai
dengan
> kemampuan, pengetahuan, penangkapan, dan persepsinya. Tuhan
seperti itu adalah
> Tuhan yang "ditempatkan" oleh manusia dalam pemikiran, konsep, id
> e, atau gagasannya dan "diikat"nya dalam dan dengan
kepercayaannya. "Bentuk",
> "gambar", atau "wajah" Tuhan seperti itu ditentukan atau diwarnai
oleh
> pengetahuan, penangkapan, dan persepsi manusia yang mempunyai
kepercayaan
> kepadaNya. Apa yang diketahui diwarnai oleh apa yang mengetahui.
Dengan
> mengutip
> perkataan alJunayd, Ibn al'Arabi berkata: "Warna air adalah warna
bejana yang
> ditempatinya" (Lawn al ma' lawn ina'ihi). Itulah sebabnya mengapa
Tuhan melalui
> sebuah hadits qudsi berkata: "Aku adalah dalam sangkaan hambaKu
tentang Aku"
> (Ana 'inda zhann 'abdi bi).164 Tuhan disangka, bukan diketahui.
Dengan kata
> lain, Tuhan hanya dalam sangkaan manusia, bukan dalam
pengetahuannya. Tuhan
> tidak diketahui dan tidak dapat diketahui. Menarik untuk
memperhatikan lanjutan
> firman Tuhan dalam hadits qudsi yang dikutip ini, yaitu: "Maka
hendaklah ia
> [sang hamba] bersangka baik tentang Aku" (Falyazhunn bi
khayran).Tuhan menyuruh
> agar kita bersangka baik tentang Dia dalam setiap keadaan dan m
> elarang kita bersangka buruk tentang Dia.165 Kita harus menjadikan
sangkaan
> kita sebagai pengetahuan bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih, Maha
Penyayang, Maha
> Penolong, dan Maha Pengampun. Kita tidak boleh bersangka bahwa
Tuhan adalah
> "pengawas yang selalu mencari kesalahan", "petugas keamanan yang
kasar dan
> galak", atau "tuan besar yang bengis". Sangkaan baik tentang Tuhan
mendorong
> kita untuk mendekati dan mencintaiNya agar kita mendapat
rahmatNya. Nabi s.a.w.
> berkata: "Rahmat Tuhan mendahului (mengalahkan) murkaNya".
Sangkaan buruk
> tentang Tuhan membuat kita jauh dariNya, menyalahkanNya, dan
akhirnya berputus
> asa. Tuhan tidak menyenangi orangorang yang berputus asa.Kritik
Ibn al'Arabi
> terhadap orang yang memutlakkan Tuhan dalam kepercayaannya, Tuhan
yang
> diciptakannya dalam kepercayaannya, mengikatkan kita kepada kritik
Xenophanes
> (kirakira 570480 SM), seorang filsuf Yunani, terhadap
antropomorfisme Tuhan,
> atau tuhantuhan. Kritik tokoh dari Kolophon, Asia Kecil, ini
berbunyi
> sebagai berikut: Seandainya sapi, kuda, dan singa mempunyai tangan
dan
> pandai
> menggambar seperti manusia, tentu kuda akan menggambarkan
tuhantuhan menyerupai
> kuda, sapi akan menggambarkan tuhantuhan menyerupai sapi, dan
dengan demikian
> mereka akan mengenakan rupa yang sama kepada tuhantuhan seperti
terdapat pada
> mereka sendiri. Orang Etiopia mempunyai tuhantuhan hitam dan
berhidung pesek,
> sedangkan orang Trasia mengatakan bahwa tuhantuhan mereka bermata
biru dan
> berambut merah.166 Sebagaimana dikatakan di atas, "Tuhan
kepercayaan" adalah
> Tuhan ciptaan manusia. Barangsiapa yang memuji ciptaannya memuji
dirinya
> sendiri. Ibn al'Arabi berkata:Tuhan kepercayaan adalah ciptaan
bagi yang
> mempersepsinya. Dia adalah ciptaannya. Karena itu, pujiannya
kepada apa yang
> dipercayainya adalah pujiannya kepada dirinya sendiri. Itulah
sebabnya mengapa
> ia mencela kepercayaan orang lain. Jika ia menyadari [persoalan
yang
> sebenarnya], tentu ia tidak akan berbuat demikian itu. Tidak
diragukan ba
> hwa pemilik obyek penyembahan khusus itu adalah bodoh tentang itu
karena
> penolakannya terhadap apa yang dipercayai oleh orang lain tentang
Allah.
> Jika ia
> mengetahui apa yang dikatakan oleh alJunayd, "Warna air adalah
warna bejana
> yang
> ditempatinya" , ia akan memperkenankan apa yang dipercayai setiap
orang yang
> mempunyai kepercayaan dan mengakui Tuhan dalam setiap bentuk dan
dalam setiap
> kepercayaan. 167Teori Ibn al'Arabi tentang "Tuhan kepercayaan"
didasarkan pula
> kepada sebuah hadits Nabi s.a.w. tentang penampakan diri Tuhan
(tajalli alhaqq)
> pada hari kiamat.168 Nabi menceritakan bahwa pada hari kiamat,
Tuhan akan
> menampakkan diriNya kepada umat manusia dalam berbagai bentuk,
yang tiaptiap
> bentuk akan ditolak oleh setiap orang yang tidak mengenalnya dan
akan diterima
> oleh setiap orang yang mengenalnya. Akhirnya, semua orang atau
kelompok akan
> menyadari bahwa sebenarnya Tuhan yang menampakkan diriNya dalam
berbagai bentuk
> itu adalah satu dan sama; itu juga, tidak lain.Pandanga
> n Ibn al'Arabi ini sesuai dengan larangan Nabi s.a.w. agar para
sahabatnya
> tidak menyalahkan seorang awam yang pernah mengatakan kepada
beliau di hadapan
> mereka bahwa Tuhan berada di langit, nun jauh di atas. Para sahabat
> mempersoalkan kepercayaan orang awam itu karena Tuhan berada di
mana saja,
> tidak
> terikat oleh ruang dan waktu, dan tidak berbentuk. Tetapi Nabi
memandang bahwa
> "sangkaan" orang awam itu tentang Tuhan sudah memadai baginya.
Nabi sendiri
> pernah berkata: "Kasihilah siapa yang di bumi, niscaya engkau akan
dikasihi
> oleh
> siapa yang di langit" (Irham man fi alardi, yarhamka man fi
alsama'). Yang
> dimaksud dengan "siapayang di langit" dalam hadits ini adalah
Tuhan. Tuhan
> berada di langit. Dengan alasan ini, dapat dikatakan bahwa Tuhan
dalam
> kepercayaan Islam adalah "Tuhan Langit" ("the Sky God"), "Tuhan
Surgawi"
> [karena
> surga berada di langit] ("the Heavenly God"), atau "Wujud
Tertinggi Samawi"
> ("the Celestial Supreme Being"). Langit adalah simbol ketinggian,
keagun
> gan, keindahan, dan keabadian. Karena itu, langit dijadikan simbol
Tuhan.
> Simbol bukan menunjukkan dirinya sendiri, tetapi menunjukkan
sesuatu yang lain
> di luar dirinya. Simbol Tuhan bukanlah Tuhan, tetapi menunjukkan
Tuhan.Tuhan
> dalam kepercayaan Islam adalah seorang "lakilaki", atau, lebih
tepatnya,
> disimbolkan dengan seorang "lakilaki". Tuhan dalam kepercayaan
Islam, seperti
> Tuhan dalam kepercayaankepercay aan Yahudi dan Kristen, adalah
Huwa ("He"),
> bukan
> Hiya ("She"). Tuhan dalam kepercayaan Islam selalu dipahami dengan
katakata
> maskulin. (Pandangan yang menekankan aspek maskulin Tuhan atau
memahami Tuhan
> sebagai "Tuhan LakiLaki" seperti ini ditentang oleh teologi
feminis radikal
> yang
> menekankan aspek feminin Tuhan atau memandang Tuhan sebagai "Tuhan
Perempuan").
> Dengan demikian, Tuhan dalam kepercayaan Islam, sebagaimana dalam
> kepercayaankepercay aan Yahudi dan Kristen, adalah
seorang "person," seorang
> "pribadi". Itulah sebabnya mengapa dikatakan bahwa Tuhan
agamaagama mo
> noteistik atau teistik, termasuk Islam,
adalah "personal", "berpribadi" .
> Tuhan
> dalam arti ini bukan "impersonal" , bukan "takberpribadi" , dan,
karena itu, Dia
> bukan "Itu" ("It"). Pengaruh kebudayaan terhadap bentuk atau tipe
kepercayaan
> kepada Tuhan, terhadap "Tuhan kepercayaan" , dibuktikan oleh
sejarah agama
> agama.Tuhan dalam kepercayaan orangorang yang berkebudayaan
patriarkal
> pastoral,
> yang berkebudayaan perayahan yang hidup dengan menggembala,
berbeda dengan
> Tuhan
> dalam kepercayaan orangorang yang berkebudayaan matriarkal
agrikultural, yang
> berkebudayaan peribuan yang hidup dengan bertani. Bapa Samawi atau
Bapa Surgawi
> adalah Tuhan tipikal orangorang nomad yang hidup dari hasil
kawanan ternak
> mereka; kawanan ternak itu hidup di padang rumput, dan pada
gilirannya padang
> rumput tergantung kepada hujan dari langit. Ibu Bumi atau Ibu
Pertiwi adalah
> Tuhan tipikal para petani yang hidup dari hasil tanah atau
bumi.169 Dalam
> kebudayaan patriarkal pastoral, biasanya bapa dan langi
> t dijadikan sebagai simbol Tuhan. Dalam kebudayaan matriarkal
> agrikultural, ibu
> dan bumi sering dijadikan sebagai simbol Tuhan. Agamaagama Semitik
lebih
> cenderung kepada kebudayaan tipe pertama. Bukankah agamaagama
Semitik, karena
> diturunkan dari langit, sering disebut "agamaagama
samawi", "agamaagama
> langit?"
> Dalam ketiga agama ini, karena "Tuhan berada di langit", maka
ungkapanungkapan
> simbolis, seperti "turun dari langit", "naik ke langit",
dan "berada di
> langit",
> lazim digunakan untuk melukiskan peristiwaperistiwa sakral dan
> pengalamanpengalama n spritual.Sekali lagi, semua deskripsi dan
ungkapan ini
> adalah simbol (yang menunjukkan) Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri.
Di mata kaum
> monoteis, kekeliruan kaum politeis terletak pada penuhanan mereka
akan
> simbolsimbol seperti langit, matahari, bulan, dan bumi. Kaum
politeis tidak
> lagi
> sepenuhnya bertuhan kepada Tuhan, tetapi telah bertuhan kepada
simbolsimbol. Di
> mata Ibn al'Arabi, orang yang menyalahkan atau mencela
kepercayaanke
> percayaan lain tentang Tuhan adalah orang yang bodoh karena Tuhan
dalam
> kepercayaannya sendiri, sebagaimana dalam kepercayaankepercay aan
yang
> disalahkannya itu, bukanlah Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya,
karena Tuhan
> sebagaimana Dia sebenarnya tidak dapat diketahui. Orang seperti
itu mengakui
> hanya Tuhan dalam bentuk kepercayaannya atau kepercayaan
kelompoknya
> sendiri dan
> mengingkari Tuhan dalam bentukbentuk berbagai kepercayaan lain.
Padahal Tuhan
> yang menampakkan diriNya dalam semua bentuk kepercayaankepercay
aan yang berbeda
> itu adalah satu dan sama. Kritik Ibn al'Arabi ini, jika harus
konsisten,
> tertuju
> kepada setiap orang yang mencela kepercayaankepercay aan lain yang
berbeda
> dengan
> kepercayaannya tentang Tuhan, baik dalam lingkungan orangorang
yang seagama
> dengannya maupun dalam lingkungan orangorang yang berbeda
agama.Ibn al'Arabi
> memperingatkan kita sebagai berikut: Maka berhatihatilah agar anda
tidak
> mengikatkan diri kepada ikatan ('aqd) [yaitu kepercayaan, doktrin,
d
> ogma, atau ajaran] tertentu dan mengingkari ikatan lain yang mana
pun,
> karena
> dengan demikian itu anda akan kehilangan kebaikan yang banyak;
sebenarnya anda
> akan kehilangan pengetahuan yang benar tentang apa itu yang
sebenarnya. Karena
> itu, hendaklah anda menerima sepenuhnya semua bentuk
kepercayaankepercay aan,
> karena Allah Ta'ala terlalu luas dan terlalu besar untuk dibatasi
dalam satu
> ikatan tanpa ikatan lain, Dia berkata: "Kemana pun kamu berpaling,
di situ ada
> wajah Allah", [Q 2:115] tanpa menyebutkan arah tertentu mana
pun.170Pengetahuan
> yang benar tentang Tuhan, menurut Sufi dari Andalusia ini, adalah
pengetahuan
> yang tidak terikat oleh bentuk kepercayaan atau agama tertentu.
Inilah
> pengetahuan yang dimiliki oleh "para gnostik" (al 'arifun). Karena
itu, "para
> gnostik", yaitu para Sufi, tidak pernah menolak Tuhan dalam
kepercayaan, sekte,
> aliran, atau agama apa pun. Ini berarti bahwa Tuhan, bagi mereka,
dalam semua
> kepercayaan, sekte, aliran, atau agama, adalah satu dan
> sama. Kata Ibn al'Arabi, "Barangsiapa yang membebaskanNya [yaitu
Tuhan]
> dari
> pembatasan tidak akan mengingkariNya dan mengakuiNya dalam setiap
bentuk tempat
> Dia mengubah diriNya."171B. Tuhan Yang Sebenarnya Tuhan
sebagaimana Dia
> sebenarnya, Tuhan pada diriNya, Zat Tuhan, tidak diketahui dan
tidak dapat
> diketahui oleh akal manusia. Tuhan dalam arti ini oleh Ibn
al'Arabi disebut
> "Tuhan Yang Sebenarnya", "the Real God" (alilah alhaqq) "Tuhan
Yang Absolut",
> "the Absolute God" (alilah almuthlaq); dan "Tuhan Yang Tidak
Diketahui", "the
> Unknown God" (alilah almajhul). Tuhan dalam arti ini adalah
munazzah (tidak
> dapat dibandingkan [dengan alam], sama sekali berbeda dengan alam,
transenden
> terhadap alam. "Tidak sesuatu pun serupa denganNya" (Q., s.
alSyura/42:11) .
> "Penglihatan tidak dapat mempersepsiNya, tetapi Dia mempersepsi
semua
> penglihatan" (Q., s. alAn'am/6: 103). Itulah Tuhan yang tidak bisa
dipahami dan
> dihampiri secara absolut, yang sering disebut Dzat Tuhan. Itulah
Yang Ab
> solut dalam keabsolutanNya yang terlepas dari semua sifat dan
relasi
> yang dapat
> dipahami manusia. Dia adalah "yang paling tidak tentu dari semua
yang tidak
> tentu", "yang palingtidak diketahui dari semua yang tidak
diketahui" (ankar
> alnakirat). Dia adalah selamalamanya suatu misteri, yang oleh Ibn
al'Arabi
> disebut "Misteri Yang Absolut" (alghayb almuthlaq) atau "Misteri
Yang Paling
> Suci" (alghayb alaqdas). Dilihat dari sudut penampakan diri
(tajalli) Tuhan,
> dikatakan bahwa Yang Absolut dalam keabsolutanNya adalah pada
tingkat "keesaan"
> (ahadiyah).Karena Tuhan, yaitu Dzat Tuhan, tidak dapat diketahui
oleh siapa
> pun,
> maka Nabi s.a.w. melarang orangorang beriman untuk memikirkan
Tuhan. Beliau
> bersabda: "Berpikirlah, tentang ciptaan Allah, tetapi jangan
berpikir tentang
> Dzat Allah." Hadits ini cukup terkenal di kalangan orangorang yang
mempelajari
> ilmu tawhid. Larangan ini diperkuat oleh Ibn al'Arabi dengan
firman Tuhan yang
> berbunyi: "Allah memperingatkan kamu tentang diriNya" (
> Q., s. Alu 'Imran/3:28) . Ibn al'Arabi menegaskan sebagai berikut:
Berpikir
> (fikr) tidak mempunyai hukum dan daerah kekuasaan dalam
[mengetahui, atau
> memahami] Zat alHaqq, baik secara rasional maupun menurut Syara'.
Syara' telah
> melarang berpikir tentang Zat Allah. Inilah yang disinggung oleh
firmanNya,
> "Allah memperingatkan kamu tentang diriNya," [Q., s. Alu 'Imran/3:
28] yaitu
> "Jangan kamu berpikir tentangNya [ZatNya)!" Larangan ini
ditetapkan karena
> tidak
> ada hubungan antara Zat alHaqq dan zat alkhalq.172 Dari segi
diriNya, Zat Tuhan
> tidak mempunyai nama, karena Dzat itu bukanlah lokus efek dan
bukan pula
> diketahui oleh siapa pun. Tidak ada nama yang menunjukkannya yang
terlepas dari
> hubungan dan bukan pula dengan pengukuhan. Namanama berfungsi untuk
> pemberitahuan dan pembedaan, tetapi pintu [untuk mengetahui Zat
Tuhan] dilarang
> bagi siapa pun selain Allah, karena tidak ada yang mengetahui
Allah kecuali
> Allah.173Ibn al'Arabi mengecam orangorang yang melanggar larangan
berp
> ikir tentang Zat Tuhan dan menuduh mereka telah menambah kesalahan
dengan
> alkhawdl (melakukan upaya spekulasi besarbesaran dan
serampangan) . Ia memandang
> bahwa upaya mereka itu adalah siasia.Pandangan bahwa Tuhan tidak
dapat
> diketahui
> ditemukan pula dalam Bibel. Salah satu bagian Kitab Suci ini
mengatakan bahwa
> Tuhan, meskipun hadir dalam alam dan manusia, adalah misteri yang
tidak dapat
> dipahami oleh akal manusia. Ketika Nabi Musa berada di Gunung
Sinai, ia melihat
> dan menyaksikan dalam semaksemak yang menyala (tetapi tidak
dimakan api)
> Kehadiran Tuhan yang memerintahkannya untuk menghadapi Fir'awn dan
membebaskan
> bangsa Israel dari raja yang zalim itu. Lalu, Musa bertanya kepada
Tuhan
> tentang
> namaNya untuk mengetahui siapa diriNya, Tuhan menjawab:"Ehyeh
asyer Ehyeh"
> (Keluaran 3:14). Terjemahan yang biasa dari ungkapan Ehyeh asyer
Ehyeh adalah
> "Aku adalah Aku" ("I am that I am") atau "Aku akan jadi Aku" ("I
will be that I
> will be"). Leo Schaya, seorang sarjana terkemuka ten
> tang Kabbalisme (mistisisme Yahudi), menafsirkan bahwa Kehadiran
Zat
> yang esa
> itu menyatakan diriNya kepada Musa sebagai Ehyeh, "Wujud ('Being')
yang esa dan
> universal," sebagai "Wujud yang adalah Wujud" ("Being that is
Being' (Ehyeh
> asyer Ehyeh), di luar dan di dalam seluruh eksistensi. Tetapi Ia
juga
> menyatakan
> kepadanya [yaitu Musa] bahwa Ia bukan hanya Zat dan Prinsip
eksistensi, tetapi
> secara serentak tetap dalam keadaan pada diriNya, dalam SupraWujud
atau
> BukanWujud Nya yang dalam Kabbalah disebut Ain, "Ketiadaan" ilahi
(the divine
> "Nothingness" ).174Kaum Kabbalis, dalam keinginan besar mereka
untuk menekankan
> ketakterpahaman (incomprehensibilty ) Tuhan pergi begitu jauh
sehingga mereka
> berbicara tentang Tuhan sebagai 'Ayn "Dia Yang Bukanlah", "Dia
Yang adalah
> Bukan" ("He Who is Not") yaitu untuk mengatakan bahwa sesungguhnya
orang tidak
> dapat mengatakan bahwa Tuhan ada [dan tentu pula sebaliknya tidak
dapat
> mengatakan bahwa Tuhan tidak ada], karena mengatakan demikian a
> dalah juga suatu deskripsi tentang yang tidak dapat
> dideskripsikan. 175Jawaban
> Tuhan tersebut, Ehyeh asyer Ehyeh, menunjukkan bahwa diriNya tidak
dapat
> dipahami oleh akal manusia. Karena itu, Musa diperingatkan oleh
Tuhan agar
> tidak
> bertanya tentang diriNya, DzatNya.Yang diketahui oleh manusia
adalah
> perbuatanperbuatan atau karyakarya Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri.
Ini berarti
> bahwa Tuhan hanya bisa diketahui melalui perbuatanperbuatanN ya,
tidak pernah
> diketahui sebagai Dia pada diriNya. Ketika Musa memohon kepada
Tuhan agar
> memperlihatkan kemuliaanNya, Dia berfirman: "Engkau tidak akan
bisa memandang
> wajahKu, karena tidak ada orang yang bisa memandang wajahKu dan
bisa hidup."
> Tuhan berfirman: "Ada suatu tempat dekatKu, tempat engkau dapat
berdiri di atas
> batu. Apabila kemuliaanKu lewat, maka Aku akan menempatkan engkau
dalam lekuk
> batu itu dan Aku akan menutupi engkau dengan tanganKu sehingga Aku
lewat. Lalu,
> Aku akan menarik tanganKu, dan engkau akan melihat belakangKu, te
> tapi wajahKu tidak akan terlihat" (Keluaran 33:2023). Dalam
Perjanjian Baru,
> tradisi mistis ini, meskipun tidak begitu tegas, mempunyai akar
yang dapat
> tumbuh dengan subur dan kuat. St. Yohanes mengatakan: "Tidak
seorang pun
> melihat
> Tuhan kapan saja" (Yohanes 1:18). Surat Paulus kepada Timotius
membicarakan
> Tuhan "yang bersemayam dalam cahaya yang tak terhampiri. Tidak
seorang pun
> pernah melihatNya; dan memang tidak seorang pun bisa pernah
melihatNya" (1
> Timotius 6:16). Ungkapan Paulus kepada Timotius ini, yang
ditemukan menjelang
> akhir periode Perjanjian Baru dan menunjukkan pengaruh pemikiran
Yunani,
> seperti
> dikatakan Bede Griffiths, menyatakan transendensi absolut
Ketuhanan (Godhead).
> Ini telah dikembangkan oleh para bapa Yunani dalam konteks konsep
tentang
> ketakterpahaman (incomprhensibility ) Tuhan.176Pandangan yang
menekankan
> penegasian pengetahuan tentang Tuhan dikenal dalam, bahkan sangat
akrab dengan,
> tradisitradisi keagamaan Timur, seperti Hinduisme dan Taoisme. Upa
> nisad, Kitab Suci Hindu, mengatakan: Dia yang tidak terlihat oleh
mata, yang
> tidak terucapkan oleh lidah, dan yang tidak tertangkap oleh
pikiran. Dia yang
> tidak kita ketahui, juga yang tidak mampu kita ajari. Berbedalah
Dia dengan
> yang
> diketahui, dan berbedalah Dia dengan yang tidak diketahui.
Demikian kita
> ketahui
> dari sang bijak. Yang tidak dapat diungkapkan dengan katakata
tetapi denganNya
> lidah berbicara ketahuilah itu adalah Brahman. Brahman bukanlah
wujud yang
> disembah manusia. Yang tidak dipahami oleh pikiran tetapi
denganNya pikiran
> memahami ketahuilah itu adalah Brahman. Brahman bukanlah wujud
yang disembah
> manusia. Yang tidak dilihat oleh mata tetapi denganNya mata
melihat ketahuilah
> itu adalah Brahman. Brahman bukanlah wujud yang disembah manusia.
Yang tidak
> didengar oleh telinga tetapi denganNya telinga mendengar
ketahuilah itu adalah
> Brahman. Brahman bukanlah wujud yang disembah manusia. Yang tidak
ditarik oleh
> nafas tetapi denganNya nafas ditarik ketahuilah itu
> adalah Brahman. Brahman bukanlah wujud yang disembah manusia. Jika
engkau
> mengira bahwa engkau mengetahui dengan baik kebenaran Brahman,
ketahuilah bahwa
> engkau mengetahui [hanya] sedikit. Apa yang anda kira sebagai
Brahman pada diri
> anda, atau apa yang anda kira sebagai Brahman dalam tuhantuhan
[atau dewadewa]
> itu bukanlah Brahman" (Kena Upanisad). Karena Brahman tidak dapat
diungkapkan
> oleh apa pun dan selalu di luar katakata dan di luar pemikiran,
maka
> Brihadaranyaka Upanisad mengatakan bahwa Brahman mustahil
dibicarakan. Brahman
> adalah "bukan ini, bukan ini", "bukan ini, bukan itu" ("neti,
neti"). Brahman
> tidak dapat dikatakan bagaimana, tidak bersifat ("nirguna").
Karena itu,
> Brahman
> pada tingkat ini disebut "nirguna Brahman". Pada tingkat ini Dia
adalah Yang
> Absolut dalam keabsolutanNya. Prolog Tao Te Ching, Kitab Suci
Taois, yang
> biasanya dianggap ditulis oleh LaoTze, dibuka dengan
katakata: "Tao yang dapat
> dibicarakan bukanlah Tao yang sebenarnya atau kekal. Namanama
> yang dapat disebutkan bukanlah nama yang sebenarnya atau kekal"
(Tao Te
> Ching
> 1:1). ChuangTze, penulis Cina abad keempat SM, dengan nada yang
sama
> mengatakan:
> Tao Yang Agung tidak dinamai/dinamakan; Diskriminasidiskrim inasi
Yang Agung
> tidak dibicarakan; Kemurahan Hati Yang Agung bukanlah murah hati;
Kerendahan
> Hati Yang Agung bukanlah rendah hati; Keberanian Yang Agung
bukanlah menyerang;
> Jika Tao dijelaskan, itu bukanlah Tao. (ChuangTze, Bab 2)
Kutipankutipan ini
> menunjukkan bahwa Tao tidak dapat diungkapkan dan dijelaskan
dengan
> katakata; Ia
> adalah di luar bahasa. Itulah Tao yang sebenarnya, yang merupakan
Yang Absolut
> dalam keabsolutanNya. Yang Absolut itu oleh LaotTze
disebut "Misteri di
> belakang
> segala misteri" ("hsuan chih yu hsuan") dan oleh ChuangTze disebut
> "TiadaTiadaTiadaApa apa", "NoNoNothing" , atau "BukanBukanBukanWuj
ud",
> "NonNonNonBeing" ("wuwuwu"). "TiadaTiadaTiadaApa apa" adalah Tao
atau
> "TiadaApaapa metafisis yang bukan suatu 'tiadaapaapa' yang
sederhana, tet
> api suatu TiadaApaapa yang berada di seberang 'wujud'
dan 'bukanwujud'
> sebagaimana biasanya dipahami".177 Yang Absolut dalam
kebsolutanNya seperti ini
> dalam Sufisme Ibn al'Arabi disebut "Misteri Yang Absolut"
dan "Misteri Yang
> Paling Suci", dalam mistisisme Kristen disebut "Ketuhanan", dan
dalam tradisi
> Hindu disebut "nirguna Brahman".C. Teologi Apofatik Dalam konteks
ini, salah
> satu persoalan teologismistis yang selalu menggoda untuk dijawab
adalah cara
> mendekati dan mencintai Tuhan. Bagaimana mungkin kita dapat
mendekati dan
> mencintai Tuhan yang tidak diketahui? Bagaimana mungkin Tuhan yang
sama sekali
> berbeda dengan alam dan manusia dapat hadir dalam alam dan
manusia? Bagimana
> mungkin Tuhan yang transenden terhadap alam dan manusia adalah
immanen dalam
> alam dan manusia?Menurut Thomas Merton (19151968), seorang teolog
dan mistikus
> Katolik Roma berkebangsaan Amerika, para teolog mistis menghadapi
persoalan ini
> sebagai persoalan "mengatakan apa yang sesungguhnya tidak dapat
> dikatakan" ("saying what cannot really be said").178 Persoalan ini
dapat
> pula
> dideskripsikan dengan ungkapanungkapan paradoksikal lain, seperti
membicarakan
> yang tidak dapat dibicarakan" ("speaking of the
unspeakable" ),179 "mengetahui
> Tuhan Yang Tidak Dapat Diketahui" ("knowing the Unknowable
God"),180 "menamai
> yang tidak dapat dinamai," "menamakan apa yang tidak dapat
dinamakan" ("naming
> the unnamable"), 181 "mengungkapkan yang tidak dapat diungkapkan"
("expressing
> the inexpressible" ),182 "memikirkan yang tidak dapat dipikirkan"
("thinking of
> the unthinkable" ), "memahami yang tidak dapat dipahami"
("comprehending the
> incomprehensible" ), "membayangkan yang tidak dapat dibayangkan"
> ("conceiving the
> unconceivable" ), dan "melukiskan yang tidak dapat dilukiskan"
("describing the
> indescribable" ).Salah satu cara terbaik untuk memecahkan
persoalan ini adalah
> dengan suatu teologi yang disebut "teologi apofatik" ("apophatic
theology"),
> teologi "tidak mengetahui" (the theology of "unkn
> owing"), yang melukiskan pengalaman transenden tentang Tuhan dalam
cinta
> sebagai suatu "mengetahui dengan tidak mengetahui" ("knowing by
unknowing") dan
> suatu "melihat yang bukan melihat" ("seeing that is not
seeing").183Seorang
> mistikus dan penulis spiritual Inggris abad keempatbelas, penulis
anonim The
> Cloud of Unknowing, adalah salah satu contoh terbaik wakil teologi
apofatik
> karena kecenderungan teologinya itu menekankan bahwa Tuhan paling
baik
> diketahui
> dengan penegasian: "kita dapat mengetahui lebih banyak tentang apa
yang bukan
> Tuhan ketimbang tentang apa yang adalah Dia" ("we can know much
more about what
> God is not than about what He is").184 Penulis The Cloud of
Unknowing itu
> dengan
> konstan menggunakan tema paradoksikal "mengetahui" dan "tidak
mengetahui."
> Menjelang bagian akhir karyanya itu, ia menegaskan intisari
pandangan
> apofatiknya dengan mengutip katakata Dionysius orang Areopagus
(St. Denis),
> "Dan
> karena itu St. Denis berkata, 'Mengetahui yang paling saleh [
> paling tinggi] akan Tuhan adalah [mengetahui] yang dikenal dengan
tidak
> mengetahui'" ("And therefore St. Denis said 'The most godly
knowing of God is
> that which is known by unknowing'") .185William Johnston, seorang
Yesuit,
> memberikan sebuah komentar yang menarik tentang tema paradoksikal
ini. Ia
> berkata: "Kita mengetahui Tuhan, namun tidak mengetahuiNya; kita
mengetahuiNya
> dengan tidak mengetahui; kita mengetahuiNya dalam kegelapan; kita
mengetahuiNya
> dengan cinta".186 Bagi penulis The Cloud of the Unknowing, Tuhan
dapat
> dicintai,
> tetapi tidak dapat dipikirkan. Meskipun jiwa manusia tidak dapat
menembus
> misteri Tuhan dengan pemahaman rasional, ia dapat bersatu
denganNya dengan
> cinta. "Karena mengapa, Dia [yaitu Tuhan] dapat dicintai dengan
baik, tetapi
> tidak dapat dipikirkan. Dengan cinta Dia dapat dicapai dan
dipegang, tetapi
> dengan pikiran tidak".187 Menurut mistikus Inggris anonim ini,
jika sang hamba
> mengosongkan pikirannya dari segala sesuatu dan segala gambaran,
akan t
> umbuh dalam kalbunya "getaran buta dari cinta" ("the blind
stirring of
> love")
> yang menembus "awan tidak mengetahui", "awan ketidaktahuan" ("The
Cloud of
> Unknowing"), yang membawa sang hamba kepada suatu pengetahuan yang
> suprakonsepsual dan gelap; itulah kebijakan tertinggi.Penulis The
Cloud of
> Unknowing sangat dipengaruhi oleh Diosynisius orang Areopagus,
yang menurut
> penelitian belakangan adalah seorang rahib Siria yang hidup pada
ujung abad
> kelima dan permulaan abad keenam Masehi. Dionysius memandang bahwa
pengetahuan
> rasional tentang Tuhan, baik dengan cara afirmatif maupun dengan
cara negatif
> (meskipun yang terakhir ini ditekankannya karena ia menegaskan
transendensi
> Tuhan), tidak memadai. Ia memilih pengetahuan mistis, yang menurut
pandangannya
> lebih tinggi dari pengetahuan rasional yang diperoleh melalui
spekulasi
> teologis
> dan filosofis dengan menggunakan akal. Pengetahuan mistis adalah
pengetahuan
> yang diperoleh sebagai anugerah dari Tuhan. Pengetahuan mistis
seperti
> ini tidak ditemukan dalam bukubuku, tidak juga diperoleh dengan
usaha
> manusia,
> karena ia adalah suatu pemberian ilahi. Bagaimana pun, manusia
dapat
> mempersiapkan diri menerimanya dengan doa dan penyucian.Karena
indera dan
> intelek manusia tidak mampu mencapai Tuhan, indera dan intelek
harus
> "dikosongkan" dari semua makhluk dan disucikan supaya Tuhan dapat
menuangkan
> cahayaNya ke dalam indera dan intelek itu. Dalam arti ini, indera
dan intelek
> berada dalam kegelapan sempurna dalam hubungan dengan segala
ciptaan tetapi
> pada
> saat yang sama dipenuhi dengan cahaya dari Tuhan. Karena itu,
dapat dikatakan
> bahwa "Kegelapan Ilahi" (the "Divine Darkness') adalah cahaya yang
tidak dapat
> dihampiri yang dikatakan di dalamnya Tuhan bersemayam". Ketika
semua daya
> dikosongkan dari semua pengetahuan manusiawi, maka berkuasalah
dalam jiwa suatu
> "keheningan mistik" ("mystic silence") yang membawanya kepada
klimaks, yaitu
> kesatuan dengan Tuhan dan visi tentang Dia sebagai Dia pada
diriNya".188 P
> engetahuan seperti ini adalah pengetahuan ilahi tentang Tuhan yang
> berlangsung
> dengan "tidak mengetahui" ("unknowing" ) atau "ketidaktahuan"
("ignorance" ),
> yang
> berarti bahwa sang hamba harus mencampakkan pengetahuan konsepsual
manusiawi
> untuk menerima pengetahuan anugerah ilahi.Bagi Dionysius,
satusatunya jalan
> mengetahui Tuhan adalah dengan "tidak mengetahui", dengan
menyeberang di luar
> konsep, di luar pikiran rasional dan dengan menerima suatu
sinar "kegelapan
> ilahi". Mistikus ini menyerukan agar sang pencari Tuhan melepaskan
diri dari
> persepsi, imaginasi, dugaan, nama, pembahasan, pemahaman,
pemikiran, dan segala
> sesuatu yang membelenggu dan menjauhkannya dari jalan menuju
Tuhan, agar sang
> pencari memasuki "kegelapan ilahi" yang melebihi segala sesuatu
dan "mengetahui
> dengan tidak mengetahui". Teologi apofatik Dionysius ini menjadi
dasar
> mistisisme
> apofatik Kristen di kemudian hari. Pengaruh mistikus ini dapat
ditemukan,
> misalnya, pada Maximus Sang "Confessor", Yohanes Sco
> tus Erigena, Thomas Aquinas, Bonaventura, Dante, dan Penulis The
Cloud of
> Unknowing.Bagaimana tradisi mistis Yahudi memecahkan persoalan
teologis yang
> rumit ini? Kaum Kabbalis, seperti dikemukan di atas, memandang
bahwa Tuhan
> adalah rahasia yang tidak dapat dipahami oleh manusia. Namun, roh
manusia, atau
> wujud rohani manusia, mampu membenamkan dirinya dalam jurang yang
dalam sekali
> tanpa alas dari "Ketiadaan" ilahi. Ketika Musa melihat Kehadiran
Tuhan di
> Gunung
> Sinai, ia mencapai pengalaman rohani seperti itu; "ketika ia naik
selangkah
> demi
> selangkah sehingga masuk ke dalam kegelapan awan Tuhan".189 Ketika
itu Musa
> menutup matanya kepada semua pengetahuan positif, menyingkirkan
semua pikiran
> dan penglihatan, karena ia sepenuhnya milik Dia yang tidak
terjangkau oleh
> pikiran dan penglihatan, sehingga ia bersatu dengan Dia yang tidak
dapat
> ditangkap oleh pengetahuan. Itulah yang oleh kaum Kabbalis disebut
bittul
> hayesy, "kemusnahan eksistensi" dalam Ain, "Ketiadaan" ilahi, yang
> berarti kemusnahan pikiran manusiawi dan "kontemplasi tentang
Ketiadaan"190
> Pengalaman spiritual seperti itu tidak dapat diperoleh melalui
pikiran, tetapi
> diperoleh melalui pertolongan Tuhan. Agar pertolongan itu
diperoleh, seseorang
> harus memusnahkan pikiran dan pada saat yang sama harus melakukan
kontemplasi
> tentang Ketiadaan.Bahasa apofatisme yang jauh lebih tua dapat
ditemukan dalam
> Upanisad. Suatu bagian Kitab Suci ini berbunyi: "Orang yang dengan
benar
> mengetahui Brahman adalah orang yang mengetahuiNya sebagai di luar
pengetahuan;
> orang yang mengira bahwa ia mengetahui[Nya] , tidak mengetahui.
Orang bodoh
> mengira bahwa Brahman diketahui, tetapi orang bijak mengetahuiNya
di seberang
> pengetahuan" (Kena). Ini berarti bahwa pengetahuan yang benar
tentang Tuhan
> adalah pengetahuan negatif: "mengetahui Tuhan dengan tidak
> mengetahuiNya. "Menurut Ibn al'Arabi, pengetahuan tentang Tuhan
sebagaimana Dia
> sebenarnya, Tuhan pada diriNya, Zat Tuhan, harus diperoleh
dengan "peniadaan p
> engetahuan". Ini berarti bahwa mengetahui Tuhan dengan tidak
mengetahuiNya;
> pengetahuan positif tentang Tuhan adalah mustahil. Ia
berkata: "Orang yang
> tidak
> mempunyai pengetahuan membayangkan bahwa ia mengetahui Tuhan, itu
tidak betul",
> karena "pengetahuan kita tentang Tuhan adalah mustahil". "Orang
yang mengetahui
> Tuhan tidak melampaui batas tingkatnya sendiri. Ia mengetahui apa
yang ia
> ketahui bahwa ia adalah salah seorang di antara orangorang yang
tidak
> mengetahui". 191Dengan berkalikali mengutip perkataan Abu Bakr
r.a., Ibn
> al'Arabi
> berkata: "Ketidakmampuan mencapai persepsi adalah persepsi"
["Ketidakmampuan
> mencapai pengetahuan adalah pengetahuan" ] (Al'ajz 'an dark
alidrak idrak).192
> Ungkapan ini melukiskan tingkat tertinggi pengetahuan manusia
tentang Tuhan dan
> segala sesuatu yang gaib yang tidak dapat diketahuinya. Orang yang
mengetahui
> bahwa ia tidak dapat mengetahui Tuhan adalah orang yang secara
benar
> mengetahuiNya; itulah orang yang bijak. Orang yang menganggap bah
> wa ia mengetahui Tuhan adalah orang yang tidak mengetahuiNya;
itulah
> orang yang
> bodoh. Bukankah Tuhan telah berfirman: "Penglihatan tidak dapat
mempersepsiNya
> [yaitu Tuhan], tetapi Dia mempersepsi semua penglihatan" (Q., s:
> alAn'am/6:103) ?D. Catatan Akhir Teologi apofatik menegaskan
kemustahilan
> pengetahuan manusia tentang Tuhan sebagaimana Dia pada diriNya,
Tuhan yang
> sebenarnya. Pengetahuan yang benar dan tertinggi tentang Tuhan
adalah
> pengetahuan dengan "tidak mengetahui" atau "ketidaktahuan" karena
Tuhan di luar
> jangkauan pengetahuan manusia dan tidak dapat diungkapkan dengan
katakata dan
> bahasa manusia. Pengetahuan seperti ini tidak dapat diperoleh
dengan pikiran,
> tetapi adalah pemberian Tuhan kepada hambaNya yang telah
mempersiapkan diri
> untuk menerimanya dengan doa dan penyucian. Seperti disebut di
atas,
> penulis The
> Cloud of Unknowing mengatakan bahwa Tuhan dapat dicintai, tetapi
tidak dapat
> dipikirkan. Dengan cinta Tuhan dapat dihampiri dan dipegang,
tetapi dengan pi
> kiran tidak. Tuhan bukan untuk dipikirkan dengan akal, tetapi
untuk dicintai
> dan "dirasakan" dengan Kalbu (qalb).Semua orang yang percaya
kepada Tuhan tentu
> saja ingin mencintai Tuhan. Cinta seorang hamba kepada Tuhan pasti
dibalas.
> Tuhan mencintai hamba yang mencintaiNya. Jika sang hamba mencintai
Tuhan, ia
> harus mengikuti Tuhan dan panutan yang diutusNya. Tuhan
berfirman: "Katakanlah:
> 'Jika kamu benarbenar mencintai Allah, ikutilah aku, nicaya Allah
mencintaimu
> dan mengampuni dosadosamu'. Allah adalah Maha Pengampun dan Maya
> Penyayang." (Q.
> s. Alu 'Imran/3:31) . "Aku menunjukkan cintaKu kepada beriburibu
generasi, yaitu
> orangorang yang mencintaiKu dan mematuhi hukumhukumKu. " (Keluaran
20:6). Yesus
> menyerukan: "Jika kamu menuruti perintahperintahku, kamu akan
tetap dalam
> cintaku, seperti aku menuruti perintahperintah Bapaku dan tetap
dalam cintaNya"
> (Yohanes 15:10).Cinta vertikal antara sang hamba dan Tuhannya
tidak akan
> terwujud jika tidak disertai dengan cinta horisontal a
> ntara sang hamba dan sesamanya. Seperti disebutkan di atas, Nabi
berkata:
> "Kasihilah siapa yang di bumi, niscaya engkau akan dikasihi oleh
siapa yang di
> langit". Pada kesempatan lain beliau berkata: "Tidaklah beriman
salah
> seorang di
> antara kamu hingga dia mencintai saudaranya seperti mencintai
dirinya sendiri".
> Yesus membenarkan perkataan seorang ahli Taurat: "Cintailah
tetanggamu seperti
> mencintai dirimu sendiri." (Lukas 10: 27).Teologi apofatik, atau
mistisisme
> apofatik, adalah suatu cara berpikir atau aktivitas mental yang
digunakan oleh
> banyak mistikus atau Sufi untuk menempuh perjalanan menuju Tuhan
dan sekaligus
> untuk menyuarakan protes keras terhadap kelancangan dan keangkuhan
para teolog
> dan para filsuf yang menganggap bahwa mereka mempunyai konsep,
ide, atau
> gagasan
> tentang Tuhan sebagaimana Dia pada diriNya. Teologi apofatik
adalah peringatan
> bagi orang yang mereduksi Tuhan menjadi sesuatu yang rasional
belaka. Teologi
> apofatik menunjukkan bahwa orang yang memanda
> ng bahwa dengan nalarnya ia mempunyai pengetahuan yang memadai
tentang Tuhan
> adalah orang yang membatasi Tuhan dalam bentuk khusus menurut
pengertian yang
> ditentukan oleh akalnya. Padahal Tuhan tidak dapat dibatasi.
Bentuk Tuhan yang
> ditangkapnya adalah bentuk yang dicocokkan dengan "kotak" akalnya.
Ia menolak
> bentuk Tuhan yang tidak cocok dengan bentuk dan ukuran "kotak"
akalnya. Ia
> menyalahkan orang lain yang mempercayai Tuhan dalam bentuk lain.
Ia tidak
> menerima apa pun sebagai kebenaran jika bertentangan dengan
akalnya. Ia telah
> mempertuhankan akalnya. Orang seperti ini, kata Ibn al'Arabi,
adalah "hamba
> nalar" ('abd nazhar), bukan "hamba Rabb" ('abd rabb).Wa 'lLahu
a'lamu bi
> 'lshawab.
>
>
>
>
> New Email names for you!
> Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and
@rocketmail.
> Hurry before someone else does!
> http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
>

------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:bali-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:bali-bali-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
bali-bali-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: