Kamis, 25 September 2008

Re: [bali-bali] Mereka Dikalahkan Kesombongan Negara

Waaah...sayang sekali mbok Vieb!
 
Seseorang sekualitas mbok vieb kok takut sich untuk masuk dunia politik??!! masak tidak akan tahan godaanya, klo saya sich niatnyamasuk...sadap...bongkar.....
busuknya biar hancur sekalian...tapi untuk saat ini tiang belumsepenuhnya berani, soalnya khan ekonomi keluargamasih belum mapan. Kemarin dulu saya ditawarin jadiketua anak ranting sebuah Partai Besar (misubishi biru) ...tapi moh ah...saya masih lapar...takut juga godaanya...ntar dikirimin celana dalam sama cermin sama si gendo ...wakakaka..
Nengah
TAS MERAH
a Division of PT. SARI RAMBUT
Desa Abuan, Kec. Susut
Bangli, Bali
Indonesia
 
Tel. +62 366 92 222
Fax +62 366 93 333
 
----- Original Message -----
Sent: Thursday, September 25, 2008 12:47 AM
Subject: Re: [bali-bali] Mereka Dikalahkan Kesombongan Negara



P Putu Kesuma yang baik,
 
wah seru ya buku itu, tapi itu hanya sebagian kecil saja dari strategy 'mengawal pembangunan ekonomi indonesia pasca Gerakan 30 September', karena para elite ekonomi dunia/oligarky sempat berkumpul di Geneva untuk embuat 'indonesia economy roadmap' yang seyogianya mensejahterakan para oligarky itu sendiri dimulai mungkin dengan meluruskan jalan Pertamina Ibnu Empire (lebih besar dan kaya dari Keluarga Presiden Soeharto lo) dan pertambangan; program pakan PL480; Flourmill Bogasari; Kapas Indah, Kendari.... awal dari the Soeharto Kingdom Rezim.  Semua diatur oleh Indonesian-American Chamber of Commerce pada saat itu.
 
Kita tidak dungu, hanya kurang berdaya saja disamping itu kan jamannya kan jaman otoriter pada saat itu, jadi mana mungkin melawan? Kalau melawan di culik lo, di New York pada saat itu ketua Persatuan Mahasiswanya namanya Wijakongko adiknya Wijanarko, kita sangat kritis sekali dengan kondisi Indonesia, tapi lihat saja ketika Wijanarko pulang dan mendapat posisi di Bulog, jadinya apa?????
 
Bisa tebak kenapa saya tidak berminat masuk dunia politik????? naaaaa itu deh.
----- Original Message -----
Sent: Thursday, September 25, 2008 2:19 PM
Subject: Re: [bali-bali] Mereka Dikalahkan Kesombongan Negara

Pak Anton dan teman-teman semua,
 
Saya baru baca sebagain dari buku CONFESSION of an ECONOMIC HIT MAN yang ditulis oleh pelakunya sendiri yaitu John Perkins.
 
Banyak orang yang meragukan isi buku itu termasuk orang Amerika sendiri yang pernah saya tanya. Tapi melihat kenyataan yang terjadi di Indonesia dan pengakuan dari penulisnya Indonesia benar-benar menjadi koraban EHM. Puncaknya adalah ketika pemerintahan Orde Baru(Soehatao) dibikin tidak berdaya dengan utang yang meroket sehingga dengan mudah dijatuhkan. Dari buku itu saya sekarang tahu bahwa rezim Soeharto tidak jatuh karena aksi mahasiswa, tapi karena sudah tidak dipakai lagi oleh Amerika. Gerakan Mahasiswa hanya sebagai pemicu saja, begitu juga dengan kejatuhan Bung Karno.
 
Saya bertanya pada diri sendiri, apakah kita lebih dunggu dari keledai?

Dalam buku ini juga diceritrakan perselingkuhan keluarga Al Saud(raja Saudi) dengan penguasa Amerika.
 
pk
SEVEN SOCIAL SIN (MK GANDHI) ~ Wealth without Work ~ Pleasure without Conscience ~ Knowledge without Character ~ Commerce without Morality ~ Science without Humanity ~ Politics without Principle ~ Worship without Sacrifice


--- On Mon, 22/9/08, Anton Muhajir <antonemus@gmail.com> wrote:
From: Anton Muhajir <antonemus@gmail.com>
Subject: [bali-bali] Mereka Dikalahkan Kesombongan Negara
To: bali-bali@yahoogroups.com, akademikaunud@yahoogroups.com, baliblogger@yahoogroups.com
Date: Monday, 22 September, 2008, 1:58 PM

dear all,

sekadar berbagi pengalaman dan perasaan. maaf jika tak berkenan. tulisan agak lama. tentang wajah lain denpasar.

http://www.rumahtul isan.com/ 11/09/2008/ pikiran/mereka- dikalahkan- kesombongan- negara.html

thx

Kembali, kupenuhi janjiku dalam hati untuk menemui anak-anak itu. Hari ini adalah kali keempat aku mencari anak-anak tukang suun di Pasar Badung tersebut. Tapi kali ini pun gagal. Aku tak menemukan anak-anak yang pernah aku ajak ngobrol akhir Juli lalu itu.
Minggu lalu, bersama Bunda dan Bani, setengah mati aku ubek-ubek pasar terbesar di Bali itu untuk menemukan mereka. Tapi, seperti hari ini, aku juga tak menemukan satu di antara mereka.
Padahal, Juli lalu aku bisa ngobrol dengan setidaknya lima di antara puluhan anak-anak tukang suun itu. Informasi yang aku dapat juga sudah banyak saat itu. Anak-anak tukang suun itu memberikan jasa membawakan belanjaan orang yang belanja di pasar. Barang seberat bahkan ada yang sampai 50 kg itu diangkat di kepala. Paling banyak mereka bisa dapat Rp 5000 sekali junjung.
Berumur antara 7-10 tahun, mereka harusnya sekolah. Tapi mereka harus meninggalkan kampung halamannya, sebagian besar dari Tianyar, Karangasem, dan tinggal di Denpasar tanpa orang tua. Mereka tak sekolah. Hidup tanpa wali. Karena itu sejak awal aku berniat untuk mencari mereka ke kosnya juga. Tak hanya ngobrol di pasar.
Hari ini, janji dalam hati itu kupenuhi. Aku main ke tempat kos anak-anak itu karena tak menemukan mereka di pasar. Menurut tukang suun lainnya, anak-anak itu sudah pulang dari pukul 10 pagi lalu kembali pukul 4 sore.
Dari informasi tukang suun di pasar, aku mencari tempat kos anak-anak itu di jalan Gunung Batur. Persisnya di Banjar Penyaitan, yang awalnya aku pikir Banjar Penyakitan.
Aku tak bisa menemukan anak-anak yang dulu pernah ngobrol sama aku itu. Tempat kos itu memang untuk anak-anak tukang suun. Tapi anak-anak itu tidak ada di sana. Aku hanya ketemu dengan puluhan anak lainnya. Dan, di tempat ini pula aku mendapat cerita dan sisi lain dari gemerlap Denpasar. Inilah cerita mereka yang kalah..
Gang yang aku kunjungi hari ini adalah salah satu gang kumuh di Denpasar. Di gang itu, para pemimpi dari daerah pinggiran datang menyerbu kota. Berduyun-duyun mereka datang dari Tianyar, Karangasem untuk ikut menikmati gemerlap Denpasar. Tapi inilah mereka temui.
Mimpi itu terhenti, setidaknya sampai saat ini, di ruang tak lebih dari 3×3 meter persegi, di mana mereka tinggal. Kamar, mungkin lebih tepat bilik, berdinding bambu di mana sekaligus jadi kamar tidur, ruang keluarga, tempat bermain, nonton TV, dan semua kegiatan yang mereka lakukan di rumah. Bilik itu satu-satunya tempat di mana mereka sebut sebagai rumah.
Atapnya seng. Lantai tanah, becek di sana sini. Bilik-bilik itu berderet dengan penghuni berbeda keluarga tiap biliknya. Satu tempat kos yang aku kunjungi saja ada tiga keluarga dengan setidaknya lima kepala.
Jauh meninggalkan desa, kekalahan yang mereka dapati. Bukan karena mereka malas. Tapi karena tidak ada cukup akses pada modal yang mungkin bisa mengubah nasib mereka. Kemiskinan, kata peraih Nobel Ekonomi Amartya Sen, tidaklah terjadi karena kemalasan. Tapi karena kurangnya atau malah tidak adanya peluang untuk mereka.
Jangan bilang mereka kalah karena malas. Tiap hari mereka berjalan setidaknya 5 km selama 30 menit dari tempat kos ke pasar untuk menjajakan jasa. Lalu selama hampir 10 jam mereka bekerja, sejak pukul 6 pagi sampai –kadang-kadang- 8 malam. Beban yang mereka junjung di atas kepala bisa sampai 5 kg.
"Tapi paling banyak dapat dua puluh ribu sehari, Pak. Buat beli susu saja sudah habis," kata Bu Wayan, satu di antara mereka. Perempuan dari Tianyar ini tinggal dengan tiga anak dan satu cucu. Anak perempuannya, baru berumur 10 tahun, juga jadi tukang suun.
Inilah cerita tentang mereka yang kalah. Bukan karena mereka malas, tapi karena Negara yang tidak bertanggung jawab. Pembangunan hanya terpusat pada kota. Maka laron-laron itu datang mengerubung lampu bernama kota itu.
Ironisnya, ketika laron itu datang, Negara menganggap mereka sebagai sampar. Mereka harus dihilangkan dari pandangan. Kemiskinan tidak boleh terlihat di depan mata. Negara kadang terlalu sombong mengakui mereka. Mungkin juga karena Negara tak punya cukup akal untuk mengatasi kemiskinan itu.
Maka, tak sedikit aparat yang malah menangkap mereka untuk dikembalikan ke asalnya. Seperti menggarami air laut. "Setelah itu kami kembali lagi ke sini," kata Bu Wayan.
Laron-laron itu lalu kembali. Mengejar mimpi. Lalu terperangkap pada kekalahan yang sama. Terus berulang..
--
Anton Muhajir |  http://rumahtulisan .com


Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com.

__._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: