Senin, 29 Maret 2010

[bali-bali] Re: Sri Mulyani & Pajak



Kiriman lewat milinglis di internet:

http://www.gatra.co.id/artikel.php?pil=23&id=102573

*NASIONAL* *[ GATRA Printed Edition ]*
------------------------------
Memburu Motif Surat Sakti Sri Mulyani

Tersangka penilap pajak, Paulus Tumewu, dibebaskan setelah membayar
tunggakan plus denda sebanyak Rp 40 milyar. Menurut anggota DPR dari Fraksi
PAN Dradjad Wibowo, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berperan besar
dalam penghentian penyidikan wajib pajak atas tersangka. Komisaris Utama PT
Ramayana Lestari Sentosa itu adalah tersangka kasus penunggakan pembayaran
pajak sebesar Rp 7,99 milyar. Penyidikannya pun sudah rampung alias P 21.

Mestinya perkara itu segera bergulir ke tingkat penuntutan. Tapi, yang
terjadi, atas permintaan Menteri Keuangan, malah dimentahkan lagi oleh Jaksa
Agung. Itu terjadi setelah Paulus membayar tunggakan pajaknya tadi, plus
denda empat kali lipat.

Buntutnya, Kejaksaan Tinggi Jakarta mengeluarkan surat ketetapan penghentian
penuntutan (SKPP) untuk Paulus, 27 Januari lalu. Kenyataan ini membuat
Dradjad gusar. "Saya mengusulkan agar presiden memeriksa Menteri Keuangan
dan Jaksa Agung, serta mengklarifikasi peran penasihat Menkeu, Marsillam
Simandjuntak," kata Dradjad.

Menurut Sri Mulyani Indrawati, Departemen Keuangan telah meneliti betul
keputusannya untuk mengajukan penghentian penyidikan kasus itu kepada
Kejaksaan Agung. Dasarnya, "Yang bersangkutan (Paulus) telah memenuhi
prosedur pembayaran utang dan denda," katanya.

Awalnya, kasus Paulus tidak terkesan istimewa. Adik ipar Eddy Tansil --buron
kasus pembobolan Rp 1,3 trilyun-- ini dicokok petugas Ditjen Pajak dan
kepolisian pada 16 September 2005. Ia disangka tak melaporkan penghasilan
dari transaksi valas yang dilakukannya. Dana itu diparkir di negara
tetangga, seperti Singapura dan Malaysia.

Versi lain, Paulus diduga sengaja mengecilkan omset Ramayana, perusahan
retail yang dia dirikan. Yang pasti, Paulus disangka dengan sengaja tidak
mengisi surat pemberitahuan (SPT) tahunan pajak dengan benar, sehingga
negara dirugikan Rp 399 milyar.

Polisi tampak enggan mengupas materi pemeriksaan tersangka. Maklum,
kewenangan penyidikan ada pada PPNS Ditjen Pajak. Adapun pihak Ditjen Pajak
kala itu tidak bersedia memaparkan detail perkembangan pemeriksaan.

Kasus itu kemudian rampung disidik di tingkat PPNS, lalu dilimpahkan ke
Kejaksaan Tinggi Jakarta, 9 November 2005. Penyidikan pun dinyatakan P 21.
Nah, di sinilah mulai tercium aroma perlakuan istimewanya. Tindak lanjutnya
seperti mandek.

Selama berbulan-bulan, kasus itu belum juga terdengar bergulir ke tingkat
penuntutan. Tahu-tahu, yang terdengar justru kabar bahwa penyidikan terhadap
si tersangka pengemplang pajak dihentikan.

Fotokopian dokumen internal Departemen Keuangan tersebut diterima Dradjad
tiga hari sebelum *hearing*. Seseorang mengantarkannya kepada Dradjad dengan
pesan agar diungkap pada momen dengar pendapat dengan Ibu Ani. "Kalau saya
tidak ungkapkan, nanti orang menuduh saya macam-macam," ujar Dradjad kepada
*Gatra*.

Yang tak kalah menarik, dari fotokopian dokumen internal tersebut terungkap
pula bahwa pajak yang dikemplang Paulus merosot jadi Rp 7,99 milyar. Belum
jelas bagaimana ceritanya angka penggelapan pajak yang semula dituduhkan Rp
399 milyar bisa menciut begitu rupa.

Terhadap angka yang sudah menciut itu pun, Dradjad masih mempertanyakannya.
Pasalnya, dia mendengar bahwa surat ketetapan pajak (SKP) Paulus Tumewu
tidak pernah dikeluarkan. "Jadi, Menkeu menetapkan besaran pajak Paulus
dasarnya apa jika tidak ada SKP-nya?" kata Dradjad lagi.

Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh menegaskan, kasus itu sudah "*one hundred
percent clear*. Menurut Rudy Satrio, pakar hukum pidana dari Universitas
Indonesia, status P 21 menandakan terputusnya hubungan antara penuntut umum
dan penyidik. Jadi, tidak selalu perkara P 21 harus bergulir ke pengadilan.

*Taufik Alwie, M. Agung Riyadi, Hatim Ilwan, Alexander Wibisono, dan Deni
Muliya Barus*
[*Laporan Utama*, *Gatra* Nomor 16 Beredar Kamis, 1 Maret 2007]
------------------------------
*URL: *http://www.gatra.co.id/versi_cetak.php?id=102573




__._,_.___


Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

[bali-bali] [OOT] Menulis itu mengencangkan kulit



Kalau buat saya, 80% benar dan 20% bisa menyengsarakan. Coba kalau dikit2 diancam UU ITE? Seneng ya liat orang di penjara?
---------------------------

dari milis sebelah
"Semoga Bermanfaat"
 
Menulis Itu Sehat

"Menulislah setiap hari maka kulitmu akan segar", demikian dikatakan oleh Fatimah Mernissi, seorang penulis dan sosiolog wanita dari Maroko. Fatimah menambahkan bahwa menulis akan meningkatkan aktifitas sel. Menulis juga akan menjernihkan pikiran karena saat menulis pikiran kita akan terfokus pada tulisan tersebut sehingga kesempatan untuk berfikir tentang kegelisaan diri berkurang. Pikiran yang segar akan merangsang kesegaran kulit juga, demikian kurang lebih logikanya, sehingga menulis secara rutin akan membuat kulit menjadi segar. "Menulislah demi kecantikan kita" katanya. Fatimah yang seorang feminis ini bahkan menegaskan bahwa menulis lebih baik dari pada operasi pengencangan wajah maupun krim pelembab kulit.

Dr. James Pennebaker dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa menulis akan meningkatkan kekebalan tubuh (immune system). Pada tahun 1986 Pennebaker dan rekannya Sandra Beall mengadakan riset di University of Texas. Mereka ingin mengetahui seberapa jauh hubungan kegiatan menulis dengan kesehatan, dengan melakukan pengamatan terhadap kegiatan menulis mahasiswa. Mereka mengukur seberapa aktif mahasiswa menulis dan dihubungkan dengan seberapa sering mereka sakit, yang diukur dengan seberapa sering mereka berobat ke klinik. Dalam riset tersebut disimpulkan bahwa seseorang yang lebih sering menulis lebih jarang sakit. Dasar teori Pennebaker bermula dari pemikiran bahwa menulis akan mengurangi kegelisahan. Menulis akan membuat seseorang lebih tenang dan tidak cepat merasa lelah. Kegelisahan membutuhkan energi yang sangat banyak sehingga energi yang seharusnya digunakan untuk membangun sistem kekebalan tubuh akan tersedot untuk memerangi kegelisahaan. Akibatnya,
sistem kekebalan tubuh tidak berjalan dengan sempurna. Dengan menulis, seseorang akan lebih tenang dan kegelisahan bisa teredam. Akibatnya, energi yang sedianya digunakan untuk meredam kegelisahan bisa terkumpul untuk membangun sistem kekebalan tubuh. Dengan demikian, maka dengan menulis seseorang akan memiliki kekebalan tubuh yang semakin baik.

Pendapat dua tokoh tersebut cukup menegaskan hipotesis saya bahwa "menulis itu sehat". Sehat jasmani maupun sehat rohani. Mengapa menulis itu menyehatkan? Bagaimana cara menulis yang menyehatkan? Mari kita bahas bersama sama di sini.

Mengapa Menulis Menyehatkan?
Saat menulis, perhatian kita mau tidak mau harus terfokus kepada menyusun kalimat demi kalimat. Setelah satu kalimat selesai kita susun, kita akan menyusun kalimat selanjutnya sehingga nantinya akan membentuk paragraf, dan akhirnya akan terbentuk suatu tulisan utuh. Lihat saja ada berapa keberhasilan yang kita peroleh? Menyelesaikan kalimat pertama berarti keberhasilan yang pertama. Menyelesaikan kalimat kedua berarti kita membuat lagi keberhasilan yang ke dua. Demikian seterusnya. Jadi menulis kalimat demi kalimat sama saja sedang mengumpulkan keberhasilan demi keberhasilan. Padahal, seseorang yang sering berhasil akan meningkat kepercayaan dirinya. Orang yang percaya diri akan lebih tenang, lebih pasti langkahnya, lebih tajam sorot matanya dan lebih cerah mukanya. Dengan kata lain, menulis akan memupuk kepercayaan diri. Kepercayaan diri akan menyehatkan jiwa seseorang, sehingga dapat kita katakan menulis itu menyehatkan.

Menulis akan mendorong kita untuk berkonsentrasi kepada topik. Saat kita menulis tentang 'membangun kepercayaan diri' misalnya, secara otomatis perhatian kita akan terfokus pada masalah diseputar bagaimana membangun kepercayaan diri. Karena perhatian kita terfokus kepada masalah ini, maka kita akan sejenak melupakan kegelisahan kita, kekecewaan kita, kemarahan kita dan hal-hal negatif lainnya yang kita paksa untuk "parkir" dulu karena kita sedang mendahulukan kepada masalah yang sedang menjadi perhatian kita, yaitu topik yang sedang kita tulis. Jadi dengan menulis kita tidak perlu lagi mencari obat penenang untuk meredam kegelisahan kita. Kegiatan menulis akan membawa kita ke keasyikan tersendiri, sehingga maaf, kegelisahan dan teman-temannya harus pergi dulu dari diri kita. Bisa saja kita bahkan melupakan kegelisahan kita. Nah, menulis menyehatkan bukan?

Menulis mendorong kita untuk selalu berfikir. Mau tidak mau kita harus berpikir "Apa lagi ya yang harus aku tulis setelah ini?", "What's next?". Seperti halnya otot yang semakin dilatih akan semakin kuat, semakin kita berfikir otak kita juga akan semakin terlatih dan semakin kuat. Otak kita jadi sehat. Kita akan tidak cepat pikun. Jadi, kalau ingin tidak cepat pikun, kuncinya adalah jangan pernah malas berfikir. Biar tidak malas berfikir, menulislah. Mau gak cepat pikun? Menulislah!

Menulis sering dijadikan alat untuk mengungkapkan perasaan. Rasa marah, penyesalan, dendam, kegundahan dan perasaan negatif yang ada pada diri kita sering kita tumpahkan melalui tulisan. Dengan menumpahkan kepada suatu tulisan, kita pada prinsipnya mendapatkan teman berkomunikasi, yaitu diri kita sendiri dan calon pembaca yang kita tuju. Adanya saluran komunikasi ini akan memberikan jalan keluar dari tekanan perasaan negatif. Kalau kita ibaratkan perasaan negatif tersebut adalah air keruh yang ada dalam kantong plastik, kalau tidak kita salurkan maka kantong plastik tersebut bisa pecah dan air keruh tersebut akan mengotori batin kita. Dengan menulis, kita mendapatkan saluran pembuangan untuk membuang perasaan negatif tersebut keluar dari diri kita. Bahkan sering pula dengan menulis kita bahkan menemukan jalan keluar yang jitu, yang tidak kita pikirkan sebelumnya. Nah, dengan demikian menulis akan membersihkan batin kita. Perasaan kita menjadi
"plong", sehat dan segar sehingga kita memiliki kesempatan untuk memikirkan dan melakukan hal-hal lain yang lebih sehat. Jadi, agar perasaan menjadi "plong", menulislah.

Menulis Juga Menyembuhkan
Saya terkesima dengan sebuah tulisan yang menceritakan bagaimana seorang yang memiliki komplikasi lima penyakit bisa sembuh total dengan metoda penyembuhan yang ia yakini efektif, yaitu melalui menulis. Penderita penyakit tersebut adalah Gatut Susanta, seorang Insinyur Sipil, warga Bogor kelahiran Madiun. Pria yang saat itu berusia 43 tahun tersebut mengidap lima penyakit sekaligus yaitu hepatitis, gagal ginjal, pengentalan darah, penyempitan pembuluh otak, dan infeksi kandung kemih. Dalam wawancaranya dengan Media Indonesia (terbitan 24 Juli 2008) Gatut mengatakan bahwa penyakit yang dideritanya sejak Februari 2005 tersebut sembuh total dengan metoda penyembuhan menulis setiap hari. Menurut Gatut, menulis membuatnya tenang, menerima dengan ihlas apa yang dialaminya, mensyukuri apa yang Ia dapatkan, dan memberikan semangat yang luar biasa untuk sembuh. Penyakit yang dideritanya akhirnya sembuh dan 15 buku berhasil Ia tulis.

Pengalaman Gatut tersebut membuat hipotesis saya bahwa "menulis itu sehat" lebih ditegaskan lagi bahwa bahkan menulis tersebut bisa menyembuhkan. Banyak penyakit fisik yang bermula dari masalah psikis seperti kegelisahan, kekuatiran, ketakutan, kebencian, dan masalah psikis lainnya. Menulis akan mengurangi bahkan dapat menyembuhkan penyakit psikis. Kejiwaan yang sehat akan mendorong sel-sel tubuh kita bekerja dengan baik. Antibodi kita akan bekerja dengan efektif sehingga badan kita juga akan menjadi sehat. Jadi, memang tidak berlebihan kalau menulis itu juga bisa menyembuhkan.

Terapi Menulis
Apabila kita sefaham bahwa "menulis itu menyehatkan", atau bahkan "menulis itu menyembuhkan", maka tidak berlebihan nampaknya kalau kita menulis demi kesehatan dan kesembuhan kita. Saya kira tidak berlebihan pula apabila menulis bisa dijadikan cara alternatif untuk pengobatan. Sehingga pada suatu saat mungkin akan muncul "terapi menulis". Mau sehat? Mau sembuh dari penyakit yang Anda derita? Menulislah!

*) Agung Praptapa adalah seorang dosen, konsultan manajemen dan akuntansi, serta trainer di bidang pengembangan diri dan organisasi. Penulis buku "The Art of Controlling People" yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, tahun 2009 ini aktif menulis setelah bergabung dengan Proaktif Shoolen Network. Sampai saat ini ia aktif menjadi pembicara di dalam negeri maupun di luar negeri. Email: praptapa@yahoo.com.

New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]

 



--
Luh De Suriyani
http://lodegen.wordpress.com/



__._,_.___


Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

[bali-bali] Sri Mulyani & Pajak



Dari:

http://www.facebook.com/group.php?v=wall&ref=search&gid=260450326078

Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung BOIKOT BAYAR PAJAK untuk KEADILAN

Meskipun untuk pajak 2009 aku sudah bayar lunas, tapi aku ikut mendukung gerakan di forum facebook itu
dan menulis sbb:

"Usut harta semua pegawai pajak dimulai dari yang teratas di Jakarta! Bukankah Sri Mulyani sudah menyuarakan hal ini? Jadi, laksanakanlah, Bu! Makin cepat makin baik!

Karena pajak berada di lingkungan Menteri Keuangan, maka usut juga para petinggi departemen ini, mulai dari mengusut Sri Mulyani.

Karena itu team pengusut harta kekayaan para petinggi di Jakarta itu haruslah indipenden, bukan lewat sistem "pengawasan melekat" alias pengusutan oleh orang dalam. Kita sudah tidak percaya kepada semua petinggi di kantor pajak dan depkeu!"


Ikra.-
====




__._,_.___


Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___