Rabu, 19 Agustus 2009

[bali-bali] Presiden SBYpuji Masyarakat Bali



 
Selamat buat masyarakat Bali yang tidak hanya mendapatkan pengakuan dari Dunia International, tapi juga dari President Indonesia yang disampaikan dalam Pidato kenegaraan di Jakarta.
 
Semoga masyarakat Bali bisa terus berbenah diri di era Globalisasi ini dengan selalu mengacu kepada Tri Hita Karana. dimana antara kemajuan teknologi, keterbukaan, pasar global, pariwisata, adat istiadat, kebudayaan, agama bisa terus berjalan beriringan tanpa ada yang merasa di langkahi satu dengan yang lainnya.
 
 
Presiden SBYpuji Masyarakat Bali
 
 
 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengapresiasi nilai Tri Hita Karana yang menjadi pedoman kehidupan masyarakat Bali. Dengan mempertahankan nilai-nilai tersebut, kehidupan masyarakat Bali dinilai makin maju dan sejahtera melalui tatanan yang ada.
 
"Kita perlu mengangkat topi kepada masyarakat Bali yang telah memberi contoh bagaimana berinteraksi dengan masyarakat dunia dan mengambil manfaat sebesar-besarnya, tanpa kehilangan jati diri," kata Presiden Yudhoyono pada Pidato Ketatanegaraan dalam Rapat Paripurna DPD RI, Selasa (19/8) kemarin.
 
Salah satu bukti nyata adalah kehidupan masyarakat Bali yang makin maju dan sejahtera dengan mengembangkan pariwisata bernuansa alam dan budaya dengan pedoman pada tata nilai Tri Hita Karana tersebut. Namun, Presiden mengingatkan bahwa tentu saja mempertahankan hal ini tidaklah mudah dan penuh tantangan. Tetapi jika masyarakat Bali bisa melakukannya, masyarakat daerah-daerah lain pun harus bisa. "Semuanya tetap dalam kerangka NKRI," pesan Presiden. (kmb4)
 
 
 
Lestarikan Bali dengan Tri Hita Karana
 
 
 
Siapa tak kenal Bali? Pulau dengan luas sekitar 5.800 kilometer persegi itu disebut juga sebagai Pulau Dewata. Tak pelak lagi, Bali menjadi ikon pariwisata Indonesia, bahkan dunia. Namun sayang, eksploitasi yang berlebihan membuat Bali seolah kehilangan jati dirinya.
 
Keprihatinan itulah yang disampaikan Anak Agung Gde Agung ketika berbincang dengan Pembaruan di Jakarta, belum lama ini. "Jangan korbankan kebudayaan Bali demi kepentingan jangka pendek pariwisata untuk menarik wisatawan sebanyak-banyaknya," ia menegaskan.
 
Setelah melihat Bali mengalami erosi kebudayaan, putra Raja Gianyar, Ida Anak Agung Gde Agung itu, merasa terpanggil menjalankan "tugas tradisional" untuk melestarikan budaya tanah kelahirannya.
 
Anak Agung Gde Agung yang selama ini menekuni dunia politik dan ekonomi, akhirnya "membelot", menekuni antropologi. Selama dua tahun (2003 sampai 2004), dia terjun langsung ke berbagai strata masyarakat Bali untuk mempelajari berbagai konsep kebudayaan. Dia bertemu banyak orang dalam upaya membuat disertasi yang harus dipertahankan di hadapan penguji di Universitas Leiden, Belanda.
 
Dengan sponsor utama, Prof Richard Leakey dan Prof Slikkerveer (dua antropolog ternama), dia berhasil mempertahankan disertasinya berjudul Bali Paradise Lost? Tri Hita Karana and the Conservation of the Island's Biocultural Diversity. Ia meraih gelar PhD dari Leiden secara gemilang dengan memperoleh dua predikat, yaitu pioneering (perintis) dan excellent (sederajat summa cum laude). Gelar PhD sebelumnya diperoleh dari Fletcher University, Amerika Serikat.
 
Karyanya dianggap fenomenal, karena melalui analisis regresi multivariat Anak Agung Gde Agung dapat mengukur kelemahan dan kekuatan kebudayaan Bali secara kuantitatif. Sementara pada umumnya, penelitian antropologi bersifat kualitatif semata.
 
Prestasi itu membuatnya menjadi satu dari delapan orang di dunia yang menorehkan tanda tangan di prasasti Universitas Leiden dalam kurun waktu 450 tahun sejarah lembaga tersohor itu. Tokoh lain yang menandatangani prasasti itu, antara lain mantan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill dan mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela. "Ini sangat luar biasa karena disejajarkan dengan tokoh-tokoh dunia," ia mengenang.
 
Bahkan, Ratu Beatrix dari Belanda tak lupa mengirim pesan khusus dan Putra Mahkota Belanda Willem-Alexander, mengesampingkan protokol kerajaan dengan menyempatkan diri datang ke hotel tempat Anak Agung menginap untuk memberi ucapan selamat kepadanya. Memang itu suatu kehormatan luar biasa bagi Anak Agung, sekaligus juga mengangkat nama baik Indonesia.
 
Dampak Globalisasi
 
Secara umum, disertasi Anak Agung Gde Agung membahas mengenai dampak globalisasi terhadap kebudayaan dan lingkungan hidup Bali, serta cara-cara mengatasinya, sehingga masyarakat dapat mempertahankan keunikan jati diri dan alam mereka.
 
Globalisasi telah mengakibatkan transformasi multidimensional dalam seluruh kehidupan masyarakat Bali. Akibatnya, terjadi pergeseran-pergeseran signifikan terhadap nilai-nilai tradisional pada aspek sosial, ekonomi-politik, dan lingkungan hidup. Globalisasi telah membawa dampak yang berbeda (differential), bahkan berlawanan (contradictory) terhadap tiga dimensi kehidupan orang Bali, yaitu dimensi ekonomi, kebudayaan, dan alam.
 
Dampak yang terjadi pada dimensi ekonomi bisa terlihat dari lahirnya peraturan-peraturan pemerintah yang salah-kaprah atau diselewengkan. Misalnya, peraturan tentang tata ruang tidak melindungi kawasan pertanian dan kekhasan arsitektur Bali. Kemudian, pembentukan desa dinas kerap bertentangan dengan desa adat, serta dikeluarkannya berbagai peraturan pertanahan yang melarang institusi tradisional, seperti desa adat untuk memiliki tanah. "Semua itu menimbulkan erosi terhadap kekhasan pola hidup orang Bali," ia menegaskan.
 
Pada dimensi kebudayaan, manifestasi globalisasi yang paling kentara adalah kehadiran turis yang membuat berbagai kalangan secara fatal mengalihfungsikan tanah-tanah pertanian untuk kepentingan pembangunan infrastruktur pariwisata. Padahal, tanah bagi masyarakat Bali melalui pura-pura (tempat persembahyangan) yang dibangun di atasnya memiliki arti sakral yang berhubungan erat dengan kepercayaan dan simbol-simbol agama serta tradisi dan adat istiadat lainnya.
 
Kenyataan itu tidak saja mengakibatkan eksodus petani dari desa ke kota, tetapi juga menyebabkan kevakuman di desa-desa. Kenyataan itu mendorong lenyapnya kehidupan komunal yang merupakan ciri khas masyarakat Bali, serta semua adat-istiadat, ritual, dan upacara terkait.
 
Besarnya proses alih fungsi itu bisa dilihat dari statistik yang menunjukkan selama beberapa dekade belakangan sekitar 1.000 hektare tanah pertanian setiap tahun berpindah tangan menjadi pusat-pusat pariwisata. Pengadaan infrastruktur pariwisata secara besar-besaran, berupa hotel, restoran, dan mal, yang mengisi tanah yang tadinya ladang pertanian, mengakibatkan perubahan gaya hidup yang makin konsumtif. Kondisi itu membawa dampak pada dimensi alam, berupa perusakan lingkungan hidup yang sangat nyata.
 
Statistik juga menunjukkan semua pantai di Bali telah tererosi rata-rata 125 meter persegi per tahun dan hilangnya 25.000 hektare hutan dalam dekade terakhir. Semua itu berdampak negatif pada dimensi alam, yang berdasarkan hasil studi ditemukan sebagai sektor yang paling parah mengalami efek globalisasi. "Setiap keinginan turis selalu dipenuhi dengan mengorbankan kekhasan Bali yang berdampak negatif pada dimensi ekonomi, budaya, dan alam," katanya.
 
Falsafah
 
Setelah melihat kenyataan itu, Menteri Negara Masalah Kemasyarakatan pada pemerintahan Abdurrahman Wahid itu mencari nilai-nilai kehidupan masyarakat Bali yang dapat menahan laju perubahan, serta mengembalikan kondisi kehidupan yang telah tercerabut dari akarnya.
 
Berdasarkan pembuktian kuantitatif melalui metode regresi multivariat, ia membuktikan falsafah hidup Bali, Tri Hita Karana, merupakan wahana terbaik untuk melestarikan tradisi, adat-istiadat, kebudayaan, dan alam Bali. Selain berporos kuat pada agama Hindu-Bali, Tri Hita Karana memiliki kepercayaan kosmologi yang jelas mengenai posisi manusia dalam alam semesta dan hubungannya dengan unsur-unsur lain dari alam semesta tersebut.
 
Dalam Tri Hita Karana, manusia terikat tiga hubungan, yaitu hubungan dengan sesama manusia (pawongan), hubungan dengan alam sekelilingnya (palemahan), dan hubungan dengan ketuhanan (parahyangan) yang saling terkait dan harus seimbang serta harmonis agar manusia dapat mencapai kesejahteraan berkelanjutan. Tri Hita Karana mengajarkan norma, nilai, dan aturan perilaku yang harus ditaati manusia dalam relasinya.
 
Dalam hubungan dengan sesama, disebutkan antara lain adanya karma pala (setiap tindakan ada pahalanya), tri kaya parisudha (kelurusan berpikir, berbicara dan bertindak), triwarga (keinginan, harta dan etika harus seimbang), desa kala patra (fleksibilitas berdasar tempat, waktu dan kondisi). Pedoman penting dalam berperilaku komunal dan saling menolong itu merupakan karakter utama masyarakat Bali.
 
Terkait hubungan dengan alam, Tri Hita Karana mengajarkan seluruh isi alam semesta, termasuk manusia dan semua lingkungan hidup, sama-sama tunduk pada hukum rta yang ditentukan Sang Hyang Widhi Wasa. Ini diperkuat oleh kepercayaan bahwa bhuwana agung (alam semesta) dan bhuwana alit (manusia dan dunianya) terbuat dari unsur yang sama, yaitu panca maha butha.
 
Semua yang ada di alam semesta itu sederajat dan manusia harus menghormati alam serta semua unsur di sekelilingnya. Sedangkan dalam hubungan dengan Tuhan, Tri Hita Karana memiliki konsep rna, yakni manusia ciptaan Sang Hyang Widi Wasa berutang budi kepada-Nya yang harus diperlihatkan dengan melakukan tindakan pengorbanan (bakti) dalam serangkaian ritual dan upacara yang disebut yadnya. Selama hidupnya, manusia harus terus-menerus melakukan yadnya dan bakti sebagai rasa terima kasih bahwa ia telah diciptakan sebagai manusia oleh Tuhan.
 
Konsep-konsep itu harus didukung institusi tradisional, seperti desa adat (desa tradisional), banjar (perkumpulan tetangga), dan subak (perkumpulan irigasi pertanian). Semua institusi itu memiliki awig-awig (rangkaian hukum) yang memuat aturan dan pengekangan yang berlaku dalam hubungan manusia dengan manusia, alam, dan Tuhan.
 
Tri Hita Karana, kata Anak Agung Gde Agung, mengajarkan pedoman hidup yang menjunjung tinggi keseimbangan dan konservasi. Melalui disertasinya, Tri Hita Karana dengan falsafah-falsafah hidup yang mengatur perilaku manusia secara harmonis, terkait dan responsif dalam segala keadaan, telah meraih angka tertinggi dengan analisis kuantitatif sebagai wahana terbaik untuk mengadaptasi secara fleksibel pengaruh globalisasi, sembari mengkonservasi secara optimum jati diri, tradisi dan kebudayaan masyarakat Bali. [Pembaruan/Anselmus Bata]
 



__._,_.___


Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Tidak ada komentar: