Selasa, 07 Oktober 2008

[bali-bali] TUHAN YANG DICIPTAKAN dan TUHAN YANG SEBENARNYA

Teman-teman semua,

Pintunya hanya satu, buka atau tutup. Buka semua masuk termasuk yang tidak kita harapkan. Tutup semuanya tidak bisa masuk termasuk yang kita haraplan.

Mari kita membuka diri, hanya denga itulah kita bisa berevolusi dengan lebih baik...

Salam,
pkesuma
---------------------------------------------------

From: "Sony Wongso"
Date: Sun Oct 5, 2008 3:03 am
Subject: Tuhan Yang Diciptakan dan Tuhan Yang Sebenarnya

Tuhan Yang Diciptakan dan Tuhan Yang Sebenarnya
Oleh Kautsar Azhari Noer Ketua Jurusan Perbandingan Agama, IAIN Jakarta, Pemimpin Redaksi Jurnal Pemikiran Islam Paramadina


PADA suatu hari di penghujung 1970an (saya tidak
ingat lagi tahun berapa persisnya) di Direktorat Urusan Agama Hindu dan Buddha,
Departemen Agama Republik Indonesia, yang pada waktu itu berlokasi di Jl. M.H.
Thamrin, Jakarta, seorang pegawai Direktorat itu yang menganut Buddhisme dan
saya sempat berdiskusi secara singkat sekitar konsep tentang Tuhan. Saya
memulai
diskusi itu dengan mengkritik ketidakjelasan konsep Buddhis tentang Tuhan. Saya
mengatakan kepadanya bahwa konsep Buddhis tentang Tuhan tidak jelas. Bukubuku
tentang Buddhisme, pada umumnya, tidak memuat uraian dan pembahasan tentang
Tuhan. Siddharta Gautama tidak memberikan penjelasan dan doktrin tentang Tuhan.
Penolakan Gautama terhadap pembicaraan tentang Tuhan telah "memiskinkan"
Buddhisme dalam pembicaraan tentang Tuhan. Buddisme
tidak mempunyai konsep yang jelas tentang Tuhan.Pegawai yang cerdas itu
berbalik mengkritik konsep Islam (atau orangorang Muslim). tentang Tuhan. Ia
mengatakan bahwa orangorang Muslim membuat suatu kesalahan besar dalam memahami
Tuhan. Kesalahan itu, menurutnya, terletak pada pemahaman dan kepercayaan
orangorang Muslim bahwa Tuhan adalah "begini" dan "begitu". Orangorang Muslim
mengatakan bahwa Tuhan mempunyai 20 sifat, atau mempunyai 99 nama. Tuhan adalah
Maha Pengasih, Maha Penyayang, Raja, Maha Suci, Pemberi bentuk, Pencipta, Maha
Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat, dan banyak lagi namanama atau
sifatsifat lain. Ini berarti bahwa orangorang Muslim membuat konsep, ide, atau
gagasan tentang Tuhan. Mereka mengungkapkan Tuhan yang tidak terbatas dengan
katakata dan bahasa manusia yang terbatas. Pegawai itu mengatakan bahwa Tuhan
dalam konsep, ide, atau gagasan bukanlah Tuhan yang sebenarnya karena Tuhan
yang
sebenarnya di luar konsep, ide, atau gagasan. Tuhan seperti it
u adalah Tuhan yang diciptakan oleh manusia, bukan Tuhan yang
sebenarnya. Tuhan
tidak dapat diungkapkan dengan katakata dan bahasa. Tuhan adalah misteri yang
tidak dapat diketahui, tidak dapat dipahami, dan tidak dapat dipikirkan oleh
akal manusia. Karena itu, Tuhan tidak dapat dikatakan "begini" dan
"begitu".Mendengar kritiknya itu, saya terdiam karena saya tidak dapat
membantahnya. Waktu itu saya memang masih menjadi mahasiswa S1 yang sedang
merampungkan penulisan skripsi tentang konsep monoteisme dalam agamaagama besar
(Yudaisme, Kristen, Islam, Hinduisme, dan Buddhisme), belum menjadi sarjana.
Tetapi itu tidak boleh menjadi alasan. Pokoknya, saya tidak berkutik terhadap
"pukulan keras" itu. Saya hanya dapat berharap agar saya dapat lebih banyak
lagi
mempelajari dan memahami persoalan yang saya diskusikan dengan orang
itu.Tulisan
yang Anda baca ini ingin mendiskusikan kembali persoalan tersebut. Maka
pertanyaanpertanyaa n yang perlu diajukan di sini adalah; Sejauh mana man
usia dapat mengetahui Tuhan yang transenden dan absolut itu? Bagaimana
pengetahuan manusia yang benar tentang Tuhan? Jika Tuhan tidak dapat dinamai,
dibicarakan, dan diungkapkan, bagaimana mungkin manusia dapat mengetahui dan
berhubungan denganNya?A. Tuhan yang Diciptakan Ibn al'Arabi (560638/11651240) ,
salah seorang Sufi terbesar, mengkritik orang yang memutlakkan, atau, jika
boleh, "menuhankan" , kepercayaannya kepada Tuhan, yang menganggap
kepercayaannya
itu sebagai satusatunya yang benar dan menyalahkan kepercayaan orang lain.
Orang
seperti itu memandang bahwa Tuhan yang dipercayainya itu adalah Tuhan yang
sebenarnya, yang berbeda dengan Tuhan yang dipercayai oleh orang lain yang
dianggapnya salah. Ibn al'Arabi menyebut Tuhan yang dipercayai manusia"Tuhan
kepercayaan" (ilah almu'taqad), "Tuhan yang dipercayai" (alilah almu'taqad),
"Tuhan dalam kepercayaan" (alilah fi ali'tiqad), "Tuhan kepercayaan" (alhaqq
ali'tiqadi), "Tuhan yang dalam kepercayaan" (alhaqq alladzi fi alm
u'taqad), dan "Tuhan yang diciptakan dalam kepercayaan" (alhaqq almakhluq fi
ali'tiqad).Kata i'tiqad data mu'taqad, yang dalam tulisan ini diterjemahkan
dengan "kepercayaan" , berasal dari akar 'qd, yang berarti merajut, membuhul,
mengikat; mengikatkan dengan sebuah buhul; memasang, mengumpulkan,
menggabungkan, mengunci; mengecilkan, menyempitkan, mengerutkan; mengarahkan,
memusatkan; melengkungkan, melekukkan; bertemu, berkumpul; mengadakan
pertemuan,
mengadakan rapat, mengumpulkan; membuat perjanjian, mengikat kontrak. Kata
i'tiqad sendiri, secara literal (harfiah) atau figuratif (majazi), berarti
menjadi terikat atau tersusun dengan kuat. Maka i'tiqad, "kepercayaan" , adalah
suatu "ikatan" yang diikat dengan kuat dalam kalbu atau pikiran, sebuah
keyakinan bahwa sesuatu adalah benar. Bagi Ibn al'Arabi, "kepercayaan" adalah
sebuah (peng)ikatan (binding) dan (pem)batasan (delimitation) Wujud Yang Tak
Terbatas, Wujud Absolut (alwujud almuthlaq), yang dilakukan oleh dan berlangs
ung dalam subyek manusiawi.Kepercaya an seorang hamba kepada Tuhannya
ditentukan
dan diwarnai oleh kapasitas pengetahuan sang hamba. Kapasitas pengetahuan itu
tergantung kepada "kesiapan partikular" (alisti'dad aljuz'i) masingmasing
individu hamba sebagai bentuk penampakan "kesiapan universal" (alisti'dad
alkulli) atau "kesiapan azali" (alisti'dad alazali) yang telah ada sejak azali
dalam "entitasentitas permanen" (ala'yan altsabitah), yang merupakan bentuk
penampakan diri (tajalli) alHaqq (yaitu Tuhan). Tuhan menampakkan diriNya
kepada
hambaNya sesuai dengan kesiapan sang hamba untuk mencapai pengetahuan tentang
Tuhan yang akhirnya "diikat" atau "dibatasi" oleh dan dalam kepercayaannya
sesuai dengan pengetahuan yang dicapainya. Dengan demikian, Tuhan yang
diketahui
oleh sang hamba adalah identik dengan Tuhan dalam kepercayaannya. Dapat pula
dikatakan bahwa Tuhan yang diketahuinya adalah identik dengan
kepercayaannya. Tuhan memberikan kesiapan (alisti'dad) , sesuai dengan firma
nNya, "Dia memberi segala sesuatu ciptaannya" [Q. s.Thaha/20:50] . Maka Dia
mengangkat hijab antara Dia dan hambaNya. Sang hamba melihatNya dalam bentuk
kepercayaannya; jadi Tuhan adalah identik dengan kepercayaannya sendiri. Baik
kalbu maupun mata tidak pernah melihat sesuatu kecuali bentuk kepercayaannya
tentang Tuhan. Tuhan yang ada dalam kepercayaan itu adalah Tuhan yang bentukNya
diliputi oleh kalbu; itulah Tuhan yang menampakkan diriNya kepada kalbu
sehingga
Dia dikenal. Maka mata tidak melihat selain Tuhan kepercayaan. 163 "Tuhan
kepercayaan" adalah gambar atau bentuk Tuhan, atau pemikiran, konsep, ide, atau
gagasan tentang Tuhan yang diciptakan oleh akal manusia atau taklidnya. Tuhan
seperti itu bukanlah Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya, Tuhan pada diriNya,
ZatNya, tetapi adalah Tuhan yang diciptakan oleh manusia sesuai dengan
kemampuan, pengetahuan, penangkapan, dan persepsinya. Tuhan seperti itu adalah
Tuhan yang "ditempatkan" oleh manusia dalam pemikiran, konsep, id
e, atau gagasannya dan "diikat"nya dalam dan dengan kepercayaannya. "Bentuk",
"gambar", atau "wajah" Tuhan seperti itu ditentukan atau diwarnai oleh
pengetahuan, penangkapan, dan persepsi manusia yang mempunyai kepercayaan
kepadaNya. Apa yang diketahui diwarnai oleh apa yang mengetahui. Dengan
mengutip
perkataan alJunayd, Ibn al'Arabi berkata: "Warna air adalah warna bejana yang
ditempatinya" (Lawn al ma' lawn ina'ihi). Itulah sebabnya mengapa Tuhan melalui
sebuah hadits qudsi berkata: "Aku adalah dalam sangkaan hambaKu tentang Aku"
(Ana 'inda zhann 'abdi bi).164 Tuhan disangka, bukan diketahui. Dengan kata
lain, Tuhan hanya dalam sangkaan manusia, bukan dalam pengetahuannya. Tuhan
tidak diketahui dan tidak dapat diketahui. Menarik untuk memperhatikan lanjutan
firman Tuhan dalam hadits qudsi yang dikutip ini, yaitu: "Maka hendaklah ia
[sang hamba] bersangka baik tentang Aku" (Falyazhunn bi khayran).Tuhan menyuruh
agar kita bersangka baik tentang Dia dalam setiap keadaan dan m
elarang kita bersangka buruk tentang Dia.165 Kita harus menjadikan sangkaan
kita sebagai pengetahuan bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha
Penolong, dan Maha Pengampun. Kita tidak boleh bersangka bahwa Tuhan adalah
"pengawas yang selalu mencari kesalahan", "petugas keamanan yang kasar dan
galak", atau "tuan besar yang bengis". Sangkaan baik tentang Tuhan mendorong
kita untuk mendekati dan mencintaiNya agar kita mendapat rahmatNya. Nabi s.a.w.
berkata: "Rahmat Tuhan mendahului (mengalahkan) murkaNya". Sangkaan buruk
tentang Tuhan membuat kita jauh dariNya, menyalahkanNya, dan akhirnya berputus
asa. Tuhan tidak menyenangi orangorang yang berputus asa.Kritik Ibn al'Arabi
terhadap orang yang memutlakkan Tuhan dalam kepercayaannya, Tuhan yang
diciptakannya dalam kepercayaannya, mengikatkan kita kepada kritik Xenophanes
(kirakira 570480 SM), seorang filsuf Yunani, terhadap antropomorfisme Tuhan,
atau tuhantuhan. Kritik tokoh dari Kolophon, Asia Kecil, ini berbunyi
sebagai berikut: Seandainya sapi, kuda, dan singa mempunyai tangan dan
pandai
menggambar seperti manusia, tentu kuda akan menggambarkan tuhantuhan menyerupai
kuda, sapi akan menggambarkan tuhantuhan menyerupai sapi, dan dengan demikian
mereka akan mengenakan rupa yang sama kepada tuhantuhan seperti terdapat pada
mereka sendiri. Orang Etiopia mempunyai tuhantuhan hitam dan berhidung pesek,
sedangkan orang Trasia mengatakan bahwa tuhantuhan mereka bermata biru dan
berambut merah.166 Sebagaimana dikatakan di atas, "Tuhan kepercayaan" adalah
Tuhan ciptaan manusia. Barangsiapa yang memuji ciptaannya memuji dirinya
sendiri. Ibn al'Arabi berkata:Tuhan kepercayaan adalah ciptaan bagi yang
mempersepsinya. Dia adalah ciptaannya. Karena itu, pujiannya kepada apa yang
dipercayainya adalah pujiannya kepada dirinya sendiri. Itulah sebabnya mengapa
ia mencela kepercayaan orang lain. Jika ia menyadari [persoalan yang
sebenarnya], tentu ia tidak akan berbuat demikian itu. Tidak diragukan ba
hwa pemilik obyek penyembahan khusus itu adalah bodoh tentang itu karena
penolakannya terhadap apa yang dipercayai oleh orang lain tentang Allah.
Jika ia
mengetahui apa yang dikatakan oleh alJunayd, "Warna air adalah warna bejana
yang
ditempatinya" , ia akan memperkenankan apa yang dipercayai setiap orang yang
mempunyai kepercayaan dan mengakui Tuhan dalam setiap bentuk dan dalam setiap
kepercayaan. 167Teori Ibn al'Arabi tentang "Tuhan kepercayaan" didasarkan pula
kepada sebuah hadits Nabi s.a.w. tentang penampakan diri Tuhan (tajalli alhaqq)
pada hari kiamat.168 Nabi menceritakan bahwa pada hari kiamat, Tuhan akan
menampakkan diriNya kepada umat manusia dalam berbagai bentuk, yang tiaptiap
bentuk akan ditolak oleh setiap orang yang tidak mengenalnya dan akan diterima
oleh setiap orang yang mengenalnya. Akhirnya, semua orang atau kelompok akan
menyadari bahwa sebenarnya Tuhan yang menampakkan diriNya dalam berbagai bentuk
itu adalah satu dan sama; itu juga, tidak lain.Pandanga
n Ibn al'Arabi ini sesuai dengan larangan Nabi s.a.w. agar para sahabatnya
tidak menyalahkan seorang awam yang pernah mengatakan kepada beliau di hadapan
mereka bahwa Tuhan berada di langit, nun jauh di atas. Para sahabat
mempersoalkan kepercayaan orang awam itu karena Tuhan berada di mana saja,
tidak
terikat oleh ruang dan waktu, dan tidak berbentuk. Tetapi Nabi memandang bahwa
"sangkaan" orang awam itu tentang Tuhan sudah memadai baginya. Nabi sendiri
pernah berkata: "Kasihilah siapa yang di bumi, niscaya engkau akan dikasihi
oleh
siapa yang di langit" (Irham man fi alardi, yarhamka man fi alsama'). Yang
dimaksud dengan "siapayang di langit" dalam hadits ini adalah Tuhan. Tuhan
berada di langit. Dengan alasan ini, dapat dikatakan bahwa Tuhan dalam
kepercayaan Islam adalah "Tuhan Langit" ("the Sky God"), "Tuhan Surgawi"
[karena
surga berada di langit] ("the Heavenly God"), atau "Wujud Tertinggi Samawi"
("the Celestial Supreme Being"). Langit adalah simbol ketinggian, keagun
gan, keindahan, dan keabadian. Karena itu, langit dijadikan simbol Tuhan.
Simbol bukan menunjukkan dirinya sendiri, tetapi menunjukkan sesuatu yang lain
di luar dirinya. Simbol Tuhan bukanlah Tuhan, tetapi menunjukkan Tuhan.Tuhan
dalam kepercayaan Islam adalah seorang "lakilaki", atau, lebih tepatnya,
disimbolkan dengan seorang "lakilaki". Tuhan dalam kepercayaan Islam, seperti
Tuhan dalam kepercayaankepercay aan Yahudi dan Kristen, adalah Huwa ("He"),
bukan
Hiya ("She"). Tuhan dalam kepercayaan Islam selalu dipahami dengan katakata
maskulin. (Pandangan yang menekankan aspek maskulin Tuhan atau memahami Tuhan
sebagai "Tuhan LakiLaki" seperti ini ditentang oleh teologi feminis radikal
yang
menekankan aspek feminin Tuhan atau memandang Tuhan sebagai "Tuhan Perempuan").
Dengan demikian, Tuhan dalam kepercayaan Islam, sebagaimana dalam
kepercayaankepercay aan Yahudi dan Kristen, adalah seorang "person," seorang
"pribadi". Itulah sebabnya mengapa dikatakan bahwa Tuhan agamaagama mo
noteistik atau teistik, termasuk Islam, adalah "personal", "berpribadi" .
Tuhan
dalam arti ini bukan "impersonal" , bukan "takberpribadi" , dan, karena itu, Dia
bukan "Itu" ("It"). Pengaruh kebudayaan terhadap bentuk atau tipe kepercayaan
kepada Tuhan, terhadap "Tuhan kepercayaan" , dibuktikan oleh sejarah agama
agama.Tuhan dalam kepercayaan orangorang yang berkebudayaan patriarkal
pastoral,
yang berkebudayaan perayahan yang hidup dengan menggembala, berbeda dengan
Tuhan
dalam kepercayaan orangorang yang berkebudayaan matriarkal agrikultural, yang
berkebudayaan peribuan yang hidup dengan bertani. Bapa Samawi atau Bapa Surgawi
adalah Tuhan tipikal orangorang nomad yang hidup dari hasil kawanan ternak
mereka; kawanan ternak itu hidup di padang rumput, dan pada gilirannya padang
rumput tergantung kepada hujan dari langit. Ibu Bumi atau Ibu Pertiwi adalah
Tuhan tipikal para petani yang hidup dari hasil tanah atau bumi.169 Dalam
kebudayaan patriarkal pastoral, biasanya bapa dan langi
t dijadikan sebagai simbol Tuhan. Dalam kebudayaan matriarkal
agrikultural, ibu
dan bumi sering dijadikan sebagai simbol Tuhan. Agamaagama Semitik lebih
cenderung kepada kebudayaan tipe pertama. Bukankah agamaagama Semitik, karena
diturunkan dari langit, sering disebut "agamaagama samawi", "agamaagama
langit?"
Dalam ketiga agama ini, karena "Tuhan berada di langit", maka ungkapanungkapan
simbolis, seperti "turun dari langit", "naik ke langit", dan "berada di
langit",
lazim digunakan untuk melukiskan peristiwaperistiwa sakral dan
pengalamanpengalama n spritual.Sekali lagi, semua deskripsi dan ungkapan ini
adalah simbol (yang menunjukkan) Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri. Di mata kaum
monoteis, kekeliruan kaum politeis terletak pada penuhanan mereka akan
simbolsimbol seperti langit, matahari, bulan, dan bumi. Kaum politeis tidak
lagi
sepenuhnya bertuhan kepada Tuhan, tetapi telah bertuhan kepada simbolsimbol. Di
mata Ibn al'Arabi, orang yang menyalahkan atau mencela kepercayaanke
percayaan lain tentang Tuhan adalah orang yang bodoh karena Tuhan dalam
kepercayaannya sendiri, sebagaimana dalam kepercayaankepercay aan yang
disalahkannya itu, bukanlah Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya, karena Tuhan
sebagaimana Dia sebenarnya tidak dapat diketahui. Orang seperti itu mengakui
hanya Tuhan dalam bentuk kepercayaannya atau kepercayaan kelompoknya
sendiri dan
mengingkari Tuhan dalam bentukbentuk berbagai kepercayaan lain. Padahal Tuhan
yang menampakkan diriNya dalam semua bentuk kepercayaankepercay aan yang berbeda
itu adalah satu dan sama. Kritik Ibn al'Arabi ini, jika harus konsisten,
tertuju
kepada setiap orang yang mencela kepercayaankepercay aan lain yang berbeda
dengan
kepercayaannya tentang Tuhan, baik dalam lingkungan orangorang yang seagama
dengannya maupun dalam lingkungan orangorang yang berbeda agama.Ibn al'Arabi
memperingatkan kita sebagai berikut: Maka berhatihatilah agar anda tidak
mengikatkan diri kepada ikatan ('aqd) [yaitu kepercayaan, doktrin, d
ogma, atau ajaran] tertentu dan mengingkari ikatan lain yang mana pun,
karena
dengan demikian itu anda akan kehilangan kebaikan yang banyak; sebenarnya anda
akan kehilangan pengetahuan yang benar tentang apa itu yang sebenarnya. Karena
itu, hendaklah anda menerima sepenuhnya semua bentuk kepercayaankepercay aan,
karena Allah Ta'ala terlalu luas dan terlalu besar untuk dibatasi dalam satu
ikatan tanpa ikatan lain, Dia berkata: "Kemana pun kamu berpaling, di situ ada
wajah Allah", [Q 2:115] tanpa menyebutkan arah tertentu mana pun.170Pengetahuan
yang benar tentang Tuhan, menurut Sufi dari Andalusia ini, adalah pengetahuan
yang tidak terikat oleh bentuk kepercayaan atau agama tertentu. Inilah
pengetahuan yang dimiliki oleh "para gnostik" (al 'arifun). Karena itu, "para
gnostik", yaitu para Sufi, tidak pernah menolak Tuhan dalam kepercayaan, sekte,
aliran, atau agama apa pun. Ini berarti bahwa Tuhan, bagi mereka, dalam semua
kepercayaan, sekte, aliran, atau agama, adalah satu dan
sama. Kata Ibn al'Arabi, "Barangsiapa yang membebaskanNya [yaitu Tuhan]
dari
pembatasan tidak akan mengingkariNya dan mengakuiNya dalam setiap bentuk tempat
Dia mengubah diriNya."171B. Tuhan Yang Sebenarnya Tuhan sebagaimana Dia
sebenarnya, Tuhan pada diriNya, Zat Tuhan, tidak diketahui dan tidak dapat
diketahui oleh akal manusia. Tuhan dalam arti ini oleh Ibn al'Arabi disebut
"Tuhan Yang Sebenarnya", "the Real God" (alilah alhaqq) "Tuhan Yang Absolut",
"the Absolute God" (alilah almuthlaq); dan "Tuhan Yang Tidak Diketahui", "the
Unknown God" (alilah almajhul). Tuhan dalam arti ini adalah munazzah (tidak
dapat dibandingkan [dengan alam], sama sekali berbeda dengan alam, transenden
terhadap alam. "Tidak sesuatu pun serupa denganNya" (Q., s. alSyura/42:11) .
"Penglihatan tidak dapat mempersepsiNya, tetapi Dia mempersepsi semua
penglihatan" (Q., s. alAn'am/6: 103). Itulah Tuhan yang tidak bisa dipahami dan
dihampiri secara absolut, yang sering disebut Dzat Tuhan. Itulah Yang Ab
solut dalam keabsolutanNya yang terlepas dari semua sifat dan relasi
yang dapat
dipahami manusia. Dia adalah "yang paling tidak tentu dari semua yang tidak
tentu", "yang palingtidak diketahui dari semua yang tidak diketahui" (ankar
alnakirat). Dia adalah selamalamanya suatu misteri, yang oleh Ibn al'Arabi
disebut "Misteri Yang Absolut" (alghayb almuthlaq) atau "Misteri Yang Paling
Suci" (alghayb alaqdas). Dilihat dari sudut penampakan diri (tajalli) Tuhan,
dikatakan bahwa Yang Absolut dalam keabsolutanNya adalah pada tingkat "keesaan"
(ahadiyah).Karena Tuhan, yaitu Dzat Tuhan, tidak dapat diketahui oleh siapa
pun,
maka Nabi s.a.w. melarang orangorang beriman untuk memikirkan Tuhan. Beliau
bersabda: "Berpikirlah, tentang ciptaan Allah, tetapi jangan berpikir tentang
Dzat Allah." Hadits ini cukup terkenal di kalangan orangorang yang mempelajari
ilmu tawhid. Larangan ini diperkuat oleh Ibn al'Arabi dengan firman Tuhan yang
berbunyi: "Allah memperingatkan kamu tentang diriNya" (
Q., s. Alu 'Imran/3:28) . Ibn al'Arabi menegaskan sebagai berikut: Berpikir
(fikr) tidak mempunyai hukum dan daerah kekuasaan dalam [mengetahui, atau
memahami] Zat alHaqq, baik secara rasional maupun menurut Syara'. Syara' telah
melarang berpikir tentang Zat Allah. Inilah yang disinggung oleh firmanNya,
"Allah memperingatkan kamu tentang diriNya," [Q., s. Alu 'Imran/3: 28] yaitu
"Jangan kamu berpikir tentangNya [ZatNya)!" Larangan ini ditetapkan karena
tidak
ada hubungan antara Zat alHaqq dan zat alkhalq.172 Dari segi diriNya, Zat Tuhan
tidak mempunyai nama, karena Dzat itu bukanlah lokus efek dan bukan pula
diketahui oleh siapa pun. Tidak ada nama yang menunjukkannya yang terlepas dari
hubungan dan bukan pula dengan pengukuhan. Namanama berfungsi untuk
pemberitahuan dan pembedaan, tetapi pintu [untuk mengetahui Zat Tuhan] dilarang
bagi siapa pun selain Allah, karena tidak ada yang mengetahui Allah kecuali
Allah.173Ibn al'Arabi mengecam orangorang yang melanggar larangan berp
ikir tentang Zat Tuhan dan menuduh mereka telah menambah kesalahan dengan
alkhawdl (melakukan upaya spekulasi besarbesaran dan serampangan) . Ia memandang
bahwa upaya mereka itu adalah siasia.Pandangan bahwa Tuhan tidak dapat
diketahui
ditemukan pula dalam Bibel. Salah satu bagian Kitab Suci ini mengatakan bahwa
Tuhan, meskipun hadir dalam alam dan manusia, adalah misteri yang tidak dapat
dipahami oleh akal manusia. Ketika Nabi Musa berada di Gunung Sinai, ia melihat
dan menyaksikan dalam semaksemak yang menyala (tetapi tidak dimakan api)
Kehadiran Tuhan yang memerintahkannya untuk menghadapi Fir'awn dan membebaskan
bangsa Israel dari raja yang zalim itu. Lalu, Musa bertanya kepada Tuhan
tentang
namaNya untuk mengetahui siapa diriNya, Tuhan menjawab:"Ehyeh asyer Ehyeh"
(Keluaran 3:14). Terjemahan yang biasa dari ungkapan Ehyeh asyer Ehyeh adalah
"Aku adalah Aku" ("I am that I am") atau "Aku akan jadi Aku" ("I will be that I
will be"). Leo Schaya, seorang sarjana terkemuka ten
tang Kabbalisme (mistisisme Yahudi), menafsirkan bahwa Kehadiran Zat
yang esa
itu menyatakan diriNya kepada Musa sebagai Ehyeh, "Wujud ('Being') yang esa dan
universal," sebagai "Wujud yang adalah Wujud" ("Being that is Being' (Ehyeh
asyer Ehyeh), di luar dan di dalam seluruh eksistensi. Tetapi Ia juga
menyatakan
kepadanya [yaitu Musa] bahwa Ia bukan hanya Zat dan Prinsip eksistensi, tetapi
secara serentak tetap dalam keadaan pada diriNya, dalam SupraWujud atau
BukanWujud Nya yang dalam Kabbalah disebut Ain, "Ketiadaan" ilahi (the divine
"Nothingness" ).174Kaum Kabbalis, dalam keinginan besar mereka untuk menekankan
ketakterpahaman (incomprehensibilty ) Tuhan pergi begitu jauh sehingga mereka
berbicara tentang Tuhan sebagai 'Ayn "Dia Yang Bukanlah", "Dia Yang adalah
Bukan" ("He Who is Not") yaitu untuk mengatakan bahwa sesungguhnya orang tidak
dapat mengatakan bahwa Tuhan ada [dan tentu pula sebaliknya tidak dapat
mengatakan bahwa Tuhan tidak ada], karena mengatakan demikian a
dalah juga suatu deskripsi tentang yang tidak dapat
dideskripsikan. 175Jawaban
Tuhan tersebut, Ehyeh asyer Ehyeh, menunjukkan bahwa diriNya tidak dapat
dipahami oleh akal manusia. Karena itu, Musa diperingatkan oleh Tuhan agar
tidak
bertanya tentang diriNya, DzatNya.Yang diketahui oleh manusia adalah
perbuatanperbuatan atau karyakarya Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri. Ini berarti
bahwa Tuhan hanya bisa diketahui melalui perbuatanperbuatanN ya, tidak pernah
diketahui sebagai Dia pada diriNya. Ketika Musa memohon kepada Tuhan agar
memperlihatkan kemuliaanNya, Dia berfirman: "Engkau tidak akan bisa memandang
wajahKu, karena tidak ada orang yang bisa memandang wajahKu dan bisa hidup."
Tuhan berfirman: "Ada suatu tempat dekatKu, tempat engkau dapat berdiri di atas
batu. Apabila kemuliaanKu lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk
batu itu dan Aku akan menutupi engkau dengan tanganKu sehingga Aku lewat. Lalu,
Aku akan menarik tanganKu, dan engkau akan melihat belakangKu, te
tapi wajahKu tidak akan terlihat" (Keluaran 33:2023). Dalam Perjanjian Baru,
tradisi mistis ini, meskipun tidak begitu tegas, mempunyai akar yang dapat
tumbuh dengan subur dan kuat. St. Yohanes mengatakan: "Tidak seorang pun
melihat
Tuhan kapan saja" (Yohanes 1:18). Surat Paulus kepada Timotius membicarakan
Tuhan "yang bersemayam dalam cahaya yang tak terhampiri. Tidak seorang pun
pernah melihatNya; dan memang tidak seorang pun bisa pernah melihatNya" (1
Timotius 6:16). Ungkapan Paulus kepada Timotius ini, yang ditemukan menjelang
akhir periode Perjanjian Baru dan menunjukkan pengaruh pemikiran Yunani,
seperti
dikatakan Bede Griffiths, menyatakan transendensi absolut Ketuhanan (Godhead).
Ini telah dikembangkan oleh para bapa Yunani dalam konteks konsep tentang
ketakterpahaman (incomprhensibility ) Tuhan.176Pandangan yang menekankan
penegasian pengetahuan tentang Tuhan dikenal dalam, bahkan sangat akrab dengan,
tradisitradisi keagamaan Timur, seperti Hinduisme dan Taoisme. Upa
nisad, Kitab Suci Hindu, mengatakan: Dia yang tidak terlihat oleh mata, yang
tidak terucapkan oleh lidah, dan yang tidak tertangkap oleh pikiran. Dia yang
tidak kita ketahui, juga yang tidak mampu kita ajari. Berbedalah Dia dengan
yang
diketahui, dan berbedalah Dia dengan yang tidak diketahui. Demikian kita
ketahui
dari sang bijak. Yang tidak dapat diungkapkan dengan katakata tetapi denganNya
lidah berbicara ketahuilah itu adalah Brahman. Brahman bukanlah wujud yang
disembah manusia. Yang tidak dipahami oleh pikiran tetapi denganNya pikiran
memahami ketahuilah itu adalah Brahman. Brahman bukanlah wujud yang disembah
manusia. Yang tidak dilihat oleh mata tetapi denganNya mata melihat ketahuilah
itu adalah Brahman. Brahman bukanlah wujud yang disembah manusia. Yang tidak
didengar oleh telinga tetapi denganNya telinga mendengar ketahuilah itu adalah
Brahman. Brahman bukanlah wujud yang disembah manusia. Yang tidak ditarik oleh
nafas tetapi denganNya nafas ditarik ketahuilah itu
adalah Brahman. Brahman bukanlah wujud yang disembah manusia. Jika engkau
mengira bahwa engkau mengetahui dengan baik kebenaran Brahman, ketahuilah bahwa
engkau mengetahui [hanya] sedikit. Apa yang anda kira sebagai Brahman pada diri
anda, atau apa yang anda kira sebagai Brahman dalam tuhantuhan [atau dewadewa]
itu bukanlah Brahman" (Kena Upanisad). Karena Brahman tidak dapat diungkapkan
oleh apa pun dan selalu di luar katakata dan di luar pemikiran, maka
Brihadaranyaka Upanisad mengatakan bahwa Brahman mustahil dibicarakan. Brahman
adalah "bukan ini, bukan ini", "bukan ini, bukan itu" ("neti, neti"). Brahman
tidak dapat dikatakan bagaimana, tidak bersifat ("nirguna"). Karena itu,
Brahman
pada tingkat ini disebut "nirguna Brahman". Pada tingkat ini Dia adalah Yang
Absolut dalam keabsolutanNya. Prolog Tao Te Ching, Kitab Suci Taois, yang
biasanya dianggap ditulis oleh LaoTze, dibuka dengan katakata: "Tao yang dapat
dibicarakan bukanlah Tao yang sebenarnya atau kekal. Namanama
yang dapat disebutkan bukanlah nama yang sebenarnya atau kekal" (Tao Te
Ching
1:1). ChuangTze, penulis Cina abad keempat SM, dengan nada yang sama
mengatakan:
Tao Yang Agung tidak dinamai/dinamakan; Diskriminasidiskrim inasi Yang Agung
tidak dibicarakan; Kemurahan Hati Yang Agung bukanlah murah hati; Kerendahan
Hati Yang Agung bukanlah rendah hati; Keberanian Yang Agung bukanlah menyerang;
Jika Tao dijelaskan, itu bukanlah Tao. (ChuangTze, Bab 2) Kutipankutipan ini
menunjukkan bahwa Tao tidak dapat diungkapkan dan dijelaskan dengan
katakata; Ia
adalah di luar bahasa. Itulah Tao yang sebenarnya, yang merupakan Yang Absolut
dalam keabsolutanNya. Yang Absolut itu oleh LaotTze disebut "Misteri di
belakang
segala misteri" ("hsuan chih yu hsuan") dan oleh ChuangTze disebut
"TiadaTiadaTiadaApa apa", "NoNoNothing" , atau "BukanBukanBukanWuj ud",
"NonNonNonBeing" ("wuwuwu"). "TiadaTiadaTiadaApa apa" adalah Tao atau
"TiadaApaapa metafisis yang bukan suatu 'tiadaapaapa' yang sederhana, tet
api suatu TiadaApaapa yang berada di seberang 'wujud' dan 'bukanwujud'
sebagaimana biasanya dipahami".177 Yang Absolut dalam kebsolutanNya seperti ini
dalam Sufisme Ibn al'Arabi disebut "Misteri Yang Absolut" dan "Misteri Yang
Paling Suci", dalam mistisisme Kristen disebut "Ketuhanan", dan dalam tradisi
Hindu disebut "nirguna Brahman".C. Teologi Apofatik Dalam konteks ini, salah
satu persoalan teologismistis yang selalu menggoda untuk dijawab adalah cara
mendekati dan mencintai Tuhan. Bagaimana mungkin kita dapat mendekati dan
mencintai Tuhan yang tidak diketahui? Bagaimana mungkin Tuhan yang sama sekali
berbeda dengan alam dan manusia dapat hadir dalam alam dan manusia? Bagimana
mungkin Tuhan yang transenden terhadap alam dan manusia adalah immanen dalam
alam dan manusia?Menurut Thomas Merton (19151968), seorang teolog dan mistikus
Katolik Roma berkebangsaan Amerika, para teolog mistis menghadapi persoalan ini
sebagai persoalan "mengatakan apa yang sesungguhnya tidak dapat
dikatakan" ("saying what cannot really be said").178 Persoalan ini dapat
pula
dideskripsikan dengan ungkapanungkapan paradoksikal lain, seperti membicarakan
yang tidak dapat dibicarakan" ("speaking of the unspeakable" ),179 "mengetahui
Tuhan Yang Tidak Dapat Diketahui" ("knowing the Unknowable God"),180 "menamai
yang tidak dapat dinamai," "menamakan apa yang tidak dapat dinamakan" ("naming
the unnamable"), 181 "mengungkapkan yang tidak dapat diungkapkan" ("expressing
the inexpressible" ),182 "memikirkan yang tidak dapat dipikirkan" ("thinking of
the unthinkable" ), "memahami yang tidak dapat dipahami" ("comprehending the
incomprehensible" ), "membayangkan yang tidak dapat dibayangkan"
("conceiving the
unconceivable" ), dan "melukiskan yang tidak dapat dilukiskan" ("describing the
indescribable" ).Salah satu cara terbaik untuk memecahkan persoalan ini adalah
dengan suatu teologi yang disebut "teologi apofatik" ("apophatic theology"),
teologi "tidak mengetahui" (the theology of "unkn
owing"), yang melukiskan pengalaman transenden tentang Tuhan dalam cinta
sebagai suatu "mengetahui dengan tidak mengetahui" ("knowing by unknowing") dan
suatu "melihat yang bukan melihat" ("seeing that is not seeing").183Seorang
mistikus dan penulis spiritual Inggris abad keempatbelas, penulis anonim The
Cloud of Unknowing, adalah salah satu contoh terbaik wakil teologi apofatik
karena kecenderungan teologinya itu menekankan bahwa Tuhan paling baik
diketahui
dengan penegasian: "kita dapat mengetahui lebih banyak tentang apa yang bukan
Tuhan ketimbang tentang apa yang adalah Dia" ("we can know much more about what
God is not than about what He is").184 Penulis The Cloud of Unknowing itu
dengan
konstan menggunakan tema paradoksikal "mengetahui" dan "tidak mengetahui."
Menjelang bagian akhir karyanya itu, ia menegaskan intisari pandangan
apofatiknya dengan mengutip katakata Dionysius orang Areopagus (St. Denis),
"Dan
karena itu St. Denis berkata, 'Mengetahui yang paling saleh [
paling tinggi] akan Tuhan adalah [mengetahui] yang dikenal dengan tidak
mengetahui'" ("And therefore St. Denis said 'The most godly knowing of God is
that which is known by unknowing'") .185William Johnston, seorang Yesuit,
memberikan sebuah komentar yang menarik tentang tema paradoksikal ini. Ia
berkata: "Kita mengetahui Tuhan, namun tidak mengetahuiNya; kita mengetahuiNya
dengan tidak mengetahui; kita mengetahuiNya dalam kegelapan; kita mengetahuiNya
dengan cinta".186 Bagi penulis The Cloud of the Unknowing, Tuhan dapat
dicintai,
tetapi tidak dapat dipikirkan. Meskipun jiwa manusia tidak dapat menembus
misteri Tuhan dengan pemahaman rasional, ia dapat bersatu denganNya dengan
cinta. "Karena mengapa, Dia [yaitu Tuhan] dapat dicintai dengan baik, tetapi
tidak dapat dipikirkan. Dengan cinta Dia dapat dicapai dan dipegang, tetapi
dengan pikiran tidak".187 Menurut mistikus Inggris anonim ini, jika sang hamba
mengosongkan pikirannya dari segala sesuatu dan segala gambaran, akan t
umbuh dalam kalbunya "getaran buta dari cinta" ("the blind stirring of
love")
yang menembus "awan tidak mengetahui", "awan ketidaktahuan" ("The Cloud of
Unknowing"), yang membawa sang hamba kepada suatu pengetahuan yang
suprakonsepsual dan gelap; itulah kebijakan tertinggi.Penulis The Cloud of
Unknowing sangat dipengaruhi oleh Diosynisius orang Areopagus, yang menurut
penelitian belakangan adalah seorang rahib Siria yang hidup pada ujung abad
kelima dan permulaan abad keenam Masehi. Dionysius memandang bahwa pengetahuan
rasional tentang Tuhan, baik dengan cara afirmatif maupun dengan cara negatif
(meskipun yang terakhir ini ditekankannya karena ia menegaskan transendensi
Tuhan), tidak memadai. Ia memilih pengetahuan mistis, yang menurut pandangannya
lebih tinggi dari pengetahuan rasional yang diperoleh melalui spekulasi
teologis
dan filosofis dengan menggunakan akal. Pengetahuan mistis adalah pengetahuan
yang diperoleh sebagai anugerah dari Tuhan. Pengetahuan mistis seperti
ini tidak ditemukan dalam bukubuku, tidak juga diperoleh dengan usaha
manusia,
karena ia adalah suatu pemberian ilahi. Bagaimana pun, manusia dapat
mempersiapkan diri menerimanya dengan doa dan penyucian.Karena indera dan
intelek manusia tidak mampu mencapai Tuhan, indera dan intelek harus
"dikosongkan" dari semua makhluk dan disucikan supaya Tuhan dapat menuangkan
cahayaNya ke dalam indera dan intelek itu. Dalam arti ini, indera dan intelek
berada dalam kegelapan sempurna dalam hubungan dengan segala ciptaan tetapi
pada
saat yang sama dipenuhi dengan cahaya dari Tuhan. Karena itu, dapat dikatakan
bahwa "Kegelapan Ilahi" (the "Divine Darkness') adalah cahaya yang tidak dapat
dihampiri yang dikatakan di dalamnya Tuhan bersemayam". Ketika semua daya
dikosongkan dari semua pengetahuan manusiawi, maka berkuasalah dalam jiwa suatu
"keheningan mistik" ("mystic silence") yang membawanya kepada klimaks, yaitu
kesatuan dengan Tuhan dan visi tentang Dia sebagai Dia pada diriNya".188 P
engetahuan seperti ini adalah pengetahuan ilahi tentang Tuhan yang
berlangsung
dengan "tidak mengetahui" ("unknowing" ) atau "ketidaktahuan" ("ignorance" ),
yang
berarti bahwa sang hamba harus mencampakkan pengetahuan konsepsual manusiawi
untuk menerima pengetahuan anugerah ilahi.Bagi Dionysius, satusatunya jalan
mengetahui Tuhan adalah dengan "tidak mengetahui", dengan menyeberang di luar
konsep, di luar pikiran rasional dan dengan menerima suatu sinar "kegelapan
ilahi". Mistikus ini menyerukan agar sang pencari Tuhan melepaskan diri dari
persepsi, imaginasi, dugaan, nama, pembahasan, pemahaman, pemikiran, dan segala
sesuatu yang membelenggu dan menjauhkannya dari jalan menuju Tuhan, agar sang
pencari memasuki "kegelapan ilahi" yang melebihi segala sesuatu dan "mengetahui
dengan tidak mengetahui". Teologi apofatik Dionysius ini menjadi dasar
mistisisme
apofatik Kristen di kemudian hari. Pengaruh mistikus ini dapat ditemukan,
misalnya, pada Maximus Sang "Confessor", Yohanes Sco
tus Erigena, Thomas Aquinas, Bonaventura, Dante, dan Penulis The Cloud of
Unknowing.Bagaimana tradisi mistis Yahudi memecahkan persoalan teologis yang
rumit ini? Kaum Kabbalis, seperti dikemukan di atas, memandang bahwa Tuhan
adalah rahasia yang tidak dapat dipahami oleh manusia. Namun, roh manusia, atau
wujud rohani manusia, mampu membenamkan dirinya dalam jurang yang dalam sekali
tanpa alas dari "Ketiadaan" ilahi. Ketika Musa melihat Kehadiran Tuhan di
Gunung
Sinai, ia mencapai pengalaman rohani seperti itu; "ketika ia naik selangkah
demi
selangkah sehingga masuk ke dalam kegelapan awan Tuhan".189 Ketika itu Musa
menutup matanya kepada semua pengetahuan positif, menyingkirkan semua pikiran
dan penglihatan, karena ia sepenuhnya milik Dia yang tidak terjangkau oleh
pikiran dan penglihatan, sehingga ia bersatu dengan Dia yang tidak dapat
ditangkap oleh pengetahuan. Itulah yang oleh kaum Kabbalis disebut bittul
hayesy, "kemusnahan eksistensi" dalam Ain, "Ketiadaan" ilahi, yang
berarti kemusnahan pikiran manusiawi dan "kontemplasi tentang Ketiadaan"190
Pengalaman spiritual seperti itu tidak dapat diperoleh melalui pikiran, tetapi
diperoleh melalui pertolongan Tuhan. Agar pertolongan itu diperoleh, seseorang
harus memusnahkan pikiran dan pada saat yang sama harus melakukan kontemplasi
tentang Ketiadaan.Bahasa apofatisme yang jauh lebih tua dapat ditemukan dalam
Upanisad. Suatu bagian Kitab Suci ini berbunyi: "Orang yang dengan benar
mengetahui Brahman adalah orang yang mengetahuiNya sebagai di luar pengetahuan;
orang yang mengira bahwa ia mengetahui[Nya] , tidak mengetahui. Orang bodoh
mengira bahwa Brahman diketahui, tetapi orang bijak mengetahuiNya di seberang
pengetahuan" (Kena). Ini berarti bahwa pengetahuan yang benar tentang Tuhan
adalah pengetahuan negatif: "mengetahui Tuhan dengan tidak
mengetahuiNya. "Menurut Ibn al'Arabi, pengetahuan tentang Tuhan sebagaimana Dia
sebenarnya, Tuhan pada diriNya, Zat Tuhan, harus diperoleh dengan "peniadaan p
engetahuan". Ini berarti bahwa mengetahui Tuhan dengan tidak mengetahuiNya;
pengetahuan positif tentang Tuhan adalah mustahil. Ia berkata: "Orang yang
tidak
mempunyai pengetahuan membayangkan bahwa ia mengetahui Tuhan, itu tidak betul",
karena "pengetahuan kita tentang Tuhan adalah mustahil". "Orang yang mengetahui
Tuhan tidak melampaui batas tingkatnya sendiri. Ia mengetahui apa yang ia
ketahui bahwa ia adalah salah seorang di antara orangorang yang tidak
mengetahui". 191Dengan berkalikali mengutip perkataan Abu Bakr r.a., Ibn
al'Arabi
berkata: "Ketidakmampuan mencapai persepsi adalah persepsi" ["Ketidakmampuan
mencapai pengetahuan adalah pengetahuan" ] (Al'ajz 'an dark alidrak idrak).192
Ungkapan ini melukiskan tingkat tertinggi pengetahuan manusia tentang Tuhan dan
segala sesuatu yang gaib yang tidak dapat diketahuinya. Orang yang mengetahui
bahwa ia tidak dapat mengetahui Tuhan adalah orang yang secara benar
mengetahuiNya; itulah orang yang bijak. Orang yang menganggap bah
wa ia mengetahui Tuhan adalah orang yang tidak mengetahuiNya; itulah
orang yang
bodoh. Bukankah Tuhan telah berfirman: "Penglihatan tidak dapat mempersepsiNya
[yaitu Tuhan], tetapi Dia mempersepsi semua penglihatan" (Q., s:
alAn'am/6:103) ?D. Catatan Akhir Teologi apofatik menegaskan kemustahilan
pengetahuan manusia tentang Tuhan sebagaimana Dia pada diriNya, Tuhan yang
sebenarnya. Pengetahuan yang benar dan tertinggi tentang Tuhan adalah
pengetahuan dengan "tidak mengetahui" atau "ketidaktahuan" karena Tuhan di luar
jangkauan pengetahuan manusia dan tidak dapat diungkapkan dengan katakata dan
bahasa manusia. Pengetahuan seperti ini tidak dapat diperoleh dengan pikiran,
tetapi adalah pemberian Tuhan kepada hambaNya yang telah mempersiapkan diri
untuk menerimanya dengan doa dan penyucian. Seperti disebut di atas,
penulis The
Cloud of Unknowing mengatakan bahwa Tuhan dapat dicintai, tetapi tidak dapat
dipikirkan. Dengan cinta Tuhan dapat dihampiri dan dipegang, tetapi dengan pi
kiran tidak. Tuhan bukan untuk dipikirkan dengan akal, tetapi untuk dicintai
dan "dirasakan" dengan Kalbu (qalb).Semua orang yang percaya kepada Tuhan tentu
saja ingin mencintai Tuhan. Cinta seorang hamba kepada Tuhan pasti dibalas.
Tuhan mencintai hamba yang mencintaiNya. Jika sang hamba mencintai Tuhan, ia
harus mengikuti Tuhan dan panutan yang diutusNya. Tuhan berfirman: "Katakanlah:
'Jika kamu benarbenar mencintai Allah, ikutilah aku, nicaya Allah mencintaimu
dan mengampuni dosadosamu'. Allah adalah Maha Pengampun dan Maya
Penyayang." (Q.
s. Alu 'Imran/3:31) . "Aku menunjukkan cintaKu kepada beriburibu generasi, yaitu
orangorang yang mencintaiKu dan mematuhi hukumhukumKu. " (Keluaran 20:6). Yesus
menyerukan: "Jika kamu menuruti perintahperintahku, kamu akan tetap dalam
cintaku, seperti aku menuruti perintahperintah Bapaku dan tetap dalam cintaNya"
(Yohanes 15:10).Cinta vertikal antara sang hamba dan Tuhannya tidak akan
terwujud jika tidak disertai dengan cinta horisontal a
ntara sang hamba dan sesamanya. Seperti disebutkan di atas, Nabi berkata:
"Kasihilah siapa yang di bumi, niscaya engkau akan dikasihi oleh siapa yang di
langit". Pada kesempatan lain beliau berkata: "Tidaklah beriman salah
seorang di
antara kamu hingga dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri".
Yesus membenarkan perkataan seorang ahli Taurat: "Cintailah tetanggamu seperti
mencintai dirimu sendiri." (Lukas 10: 27).Teologi apofatik, atau mistisisme
apofatik, adalah suatu cara berpikir atau aktivitas mental yang digunakan oleh
banyak mistikus atau Sufi untuk menempuh perjalanan menuju Tuhan dan sekaligus
untuk menyuarakan protes keras terhadap kelancangan dan keangkuhan para teolog
dan para filsuf yang menganggap bahwa mereka mempunyai konsep, ide, atau
gagasan
tentang Tuhan sebagaimana Dia pada diriNya. Teologi apofatik adalah peringatan
bagi orang yang mereduksi Tuhan menjadi sesuatu yang rasional belaka. Teologi
apofatik menunjukkan bahwa orang yang memanda
ng bahwa dengan nalarnya ia mempunyai pengetahuan yang memadai tentang Tuhan
adalah orang yang membatasi Tuhan dalam bentuk khusus menurut pengertian yang
ditentukan oleh akalnya. Padahal Tuhan tidak dapat dibatasi. Bentuk Tuhan yang
ditangkapnya adalah bentuk yang dicocokkan dengan "kotak" akalnya. Ia menolak
bentuk Tuhan yang tidak cocok dengan bentuk dan ukuran "kotak" akalnya. Ia
menyalahkan orang lain yang mempercayai Tuhan dalam bentuk lain. Ia tidak
menerima apa pun sebagai kebenaran jika bertentangan dengan akalnya. Ia telah
mempertuhankan akalnya. Orang seperti ini, kata Ibn al'Arabi, adalah "hamba
nalar" ('abd nazhar), bukan "hamba Rabb" ('abd rabb).Wa 'lLahu a'lamu bi
'lshawab.


New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bali-bali/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:bali-bali-digest@yahoogroups.com
mailto:bali-bali-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
bali-bali-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: